CINTA TANPA SPASI

CINTA TANPA SPASI
CUMA PERHATIAN PADA EYANG, BUAT AKU ENGGAK


__ADS_3

“Terima kasih ya kehadirannya,” kata Mukti kepada semua temannya.


“Untuk dua kali sidang berikutnya atau mungkin 3 kali sidang mohon maaf bila aku tidak bisa hadir karena aku akan ke Jakarta,” Mukti memberitahu teman-temannya agar mengerti.


“Iya kami mengerti,” kata Ketut. Mereka pun segera memesan makanan yang mereka ingin makan siang ini.


“Mas telepon mama dulu. Nanti mama nungguin,” kata Komang Ayu.


“Telepon sekarang sambil nungguin makanan datang kan bisa?”


Tanpa membantah Mukti langsung mengambil ponselnya di saku dia hubungi mamanya tercinta.


“Semua lancar kok Ma. Mama tenang aja,” begitu Mukti menjawab saat Ambar bertanya tentang sidang hari ini.


“Tadi Ayu ditanya sama Pak Putut, dia akan cabut gugatan apa enggak. Dan Ayu sudah jawab kok dia enggak akan mungkin cabut gugatan.”


“Iya Mama juga enggak setuju kalau cabut gugatan,” jawab Ambar.


“Iya Ma, Ayu juga sudah ngomong gitu. Mama tenang aja anak Mama itu enggak akan mungkin mengkhianati Mama kok,” kata Mukti sambil melirik pada Ayu.


“Terus kamu kapan ke sini? Besok Mama berangkat. Apa hari ini kamu akan ke sini?” tanya Ambar penuh harap.


“Enggak Ma. Mama berangkat aja duluan. Aku menyusul dua hari kemudian. Kalau lusa kan masih 4 hari pernikahan. Aku menyusul di 3 hari jelang pernikahan. Itu satu hari lebih cepat dari rencana semula yaitu aku datang dua hari sebelum pernikahan,” kata Mukti.

__ADS_1


“Aku masih harus revisi beberapa bahan Ma, mungkin juga aku enggak bisa lama di Jakarta. Aku enggak balik ke Solo dulu ya. Dari Jakarta aku langsung terbang kembali ke Bali buat menuntaskan pekerjaanku buat pameran di Solo. Nanti kan aku 3 bulan di Solo, jadi aku benar-benar harus menyelesaikan pekerjaanku.”


“Jadi berapa lama kamu akan di Jakarta?”


“Mungkin H+ 5 kami kembali Ma, tidak bisa dua minggu seperti jadwal yang Mama minta,” jelas Mukti lembut.


“Berarti kamu barengan dengan Aksa ya. Aksa juga H+ 5 akan kembali karena sekolah.”


“Iya Ma, mungkin seperti itu. Tapi kan beda pesawat.”


“Aksa bilang dia mau naik kereta malam saja, enggak mau naik pesawat,” jelas Ambar.


“Ya sudah ya Ma, aku mau makan. Kami baru keluar dari ruang sidang dan makan dulu sebelum kami pulang.”


“Ya Ma,” jawab Mukti, lalu dia berikan teleponnya pada Komang Ayu.


“Kenapa Ma?” tanya Ayu.


“Tadi Mukti bilang dia akan berangkat tiga hari dari sekarang bukan lusa. Mama besok berangkat ke Jakarta kamu ada pesanan apa yang buat Mama bawa?” tanya Ambar.


“Enggak ada yang perlu Mama bawakan, yang penting Mama sehat semua. Aku cuma ingetin jangan lupa bawa madunya eyang sama su5u buat eyang karena nanti sulit nyari di sana. Kalau yang lainnya sih enggak apa apa obat gampang didapat. Obat dan vitamin nanti pasti kak Adel akan lebih perhatian dari aku. Yang penting madu dan susunya eyang aja,” Ayu hanya ingat eyang Angga saja.


“Iya Mama akan siapin dari sekarang biar enggak lupa,” jawab Ambar.

__ADS_1


“Itu aja sih. Mama sehat selalu ya,” kata Ayu.


“Iya kamu juga. Mama kangen kamu. Mama tunggu kamu di Jakarta.”


“Aku juga kangen Mama dan semua Ma. Iya sampai bertemu di Jakarta.”


‘Ya ampun sampai segitunya dia memperhatikan keluarganya Mukti, bahkan sampai obat dan madunya eyang saja dia ingetin,’ kata Indra dalam hatinya melihat bagaimana care-nya Komang Ayu terhadap keluarga Mukti.


‘Dia perempuan idaman,’ batin Wayan.


‘Sampai urusan kakeknya Mukti aja dia perhatikan. Kalau dia jadi istri pasti lebih-lebih perhatiannya kepada suami.’


‘Buat eyangnya aja dia segitu perhatian. Bagaimana buat Mukti bila sudah jadi suaminya?’ Lingga salut akan perhatian tulus Komang Ayu.


Bertolak dari pikiran semua orang, pikiran Mukti malah terbalik. Mukti malah benci mendengar perhatian Ayya kepada eyang Angga.


‘Buat eyang aja sampai madu aja inget, giliran buat aku bahkan ngelarang ngopi aja enggak,’ protes Mukti kesal, tapi hanya dalam hati saja.




![](contribute/fiction/6969677/episode-images/1691227441751.jpg)

__ADS_1


__ADS_2