
Jangan lupa selalu tunggu update terbaru. Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.
Selamat membaca cerita sederhana ini.
“Kamu kenapa diam aja?” tanya Mukti. Saat ini mereka ber dua menggunakan mobil baru Ambar karena mobil lama akan digunakan pak Parman menjemput Sonny dan mengantar Angga.
“Aku harus bicara apa Mas?” tanya Ayya.
“Ya enggak, aku nggak nyuruh kamu bicara.”
“Kalau Mas enggak nyuruh bicara aku ngapain bicara?” Jawab Ayya. Dia melihat pemandangan di luar jendela. Sesungguhnya Ayya tak mau bicara karena takut salah salah memanggil Pak atau salah menyebut diri dengan kata saya. Ayya merasa lebih baik dia diam.
Ada notifikasi di ponselnya, Ayya langsung membaca dan membalas pesan tersebut.
“Wah kalau pacar yang kirim pesan cepet ya balesnya,” sindir Mukti.
“Iya,” jawab Ayya. Gadis manis ini tak mau ribut membantah bahwa Arjun bukan kekasihnya. Daripada Mukti selalu ribut lebih baik meng iyakan saja lah. Siapa tahu memang Arjun jodohnya.
Siapa yang menolak pemuda pintar, santun, humoris dan ganteng itu?
“Kalau boleh tahu apa katanya?” tanya Mukti dengan d@da serasa terhimpit, serasa dia cemburu mendengar Ayya meng-iyakan kalau Arjun adalah pacarnya.
“Boleh kok, dia bilang dia sudah sampai messnya di Jakarta sejak tadi dan sekarang dia sudah bersiap ke tokonya.”
“Kalau sama pacar memang selalu seperti itu ya? Lapor sedang di mana dan sedang apa,” ucap Mukti.
“Mas pasti lebih tahu saat pacaran dan punya istri jarak jauh,” jawab Ayya telak. Dia mana tahu tentang pacaran jarak jauh. Yang sudah pernah mengalami kan Mukti.
Mendapat jawaban seperti itu, Mukti jadi malas bicara lagi dengan Ayya.
__ADS_1
Hari ini pertemuannya dengan banyak orang, kemarin dengan tim khusus hanya dengan Silvana, Wayan, dan Trisno karena memang mereka 20 orang dibagi menjadi beberapa tim. Kebetulan saja Wayan, Mukti dan Silvana sama-sama dari Bali tergabung dalam satu team. Penentuan anggota kemarin adalah di kocok, ada yang satu daerah dipisah-pisah beda kelompok ada yang seperti team Bali yang berkumpul semua. Itu semua memang di kocok, jadi bukan memilih.
Mukti mengisi absen hari ini. 20 orang itu akan membicarakan rangkuman yang kemarin mereka bahas dengan tim kecil.
Nanti hasil rapat dari 20 orang ini akan dibahas lagi secara global dengan grup keseluruhan yaitu 80 orang. Memang kerja berjenjang itu akan lebih cepat daripada bicara 80 orang satu-satu semua mengeluarkan pendapat.
Ayya melihat Silvana kali ini duduk menjauh dari Trisno, Wayan maupun Mukti. Dia bingung aja karena Silvana tidak cari perhatian dari ketiga lelaki ini terutama Mukti.
Ayya duduk diam sambil mendengarkan semua yang dibicarakan, semua pendapat dia catat di laptopnya tanpa terkecuali.
Jam 10.00 coffee break pertama Ayya tak berani meninggalkan laptopnya, bukan soal hilang tapi mungkin datanya bisa diacak-acak orang. Dia tak mau hal itu terjadi. Dia matikan dulu laptopnya dia masukkan ke ransel lalu dia bawa di punggungnya. Mukti sudah meninggalkan dia sejak tadi. Bahkan mereka tak duduk bersebelahan.
“Komang kenapa kamu bawa-bawa itu laptopmu?” tanya Wayan.
“Aku takut ada yang ngacak-ngacak datanya Kak. Atau bisa juga malah hilang, lebih aman laptop aku taruh di punggungku. Ke mana pun aku bawa jadi lebih aman,” kata Komang Ayu.
“Ayo.” akhirnya Wayan dan Komang Ayu berjalan beriringan ke tempat snack dan kopi. Banyak hal yang mereka bicarakan karena sama-sama mengenal daerah yang mereka bahas.
“Kamu mau kopi atau teh?” tanya Wayan pada Komang Ayu.
“Aku mau meracik kopi aja, pakai banyak creamer. Kakak mau apa?” tanya Komang Ayu. Karena Wayan bukan orang Jawa maka Komang Ayu memanggil dengan sebutan kakak saja.
“Aku pun sama, aku lebih baik meracik sendiri,” mereka bertukar senyum. Dan semua itu dilihat oleh Mukti dari sudut lain.
“Kamu suka apa kuenya?” tanya Wayan.
“Kalau kopi begini enaknya kuenya itu yang asin atau gurih Kak, misalnya seperti kroket itu pastel. Kayanya jam segini lebih enak yang itu, jangan yang manis-manis.”
__ADS_1
“Ayo kalau gitu kita ambil kroket dan pastel aja,” ajak Wayan.
“Tapi lemper juga enggak apa apa tuh, ngenyangin,” kata Wayan selanjutnya.
“Wah aku enggak lah, kan sebentar lagi kita makan siang. Nanti malah bahaya kalau terlalu kenyang. Aku ambil kroket dan pastel aja,” Komang Ayu memutuskan mengambil kedua jenis itu saja.
Mereka mengambil snack serta kopinya lalu membawa kemeja mereka lagi.
“Mukti ke mana ya?” Tanya Wayan.
“Wah saya enggak tahu, saya kan tadi bareng kakak ke mana-mana.”
“Ya sudah. Paling dia sama Trisno,” kata Wayan.
“Bisa jadi dia sama Silvana juga,” terka Ayya.
“Enggak akan mungkin, Silvana sudah tidak berani lagi bicara dengan aku Trisno atau Mukti.”
“Ada masalah apa?” tanya Ayya.
Wayan lalu bercerita bagaimana liciknya Silvana yang akan menjebak Mukti dengan menjual namanya. Wayan bercerita orang pusat ( propinsi maksudnya ) juga sudah di laporkan kelakuan buruk Silvana dan sesama penari sudah tahu semua karena Trisno cerita ke seorang rekan penari di Bali lalu berita menggelinding tak bisa dihentikan.
“Wah untung aku waktu itu tidak mau ke toilet bareng, takutnya dia ngapa-ngapain aku tapi aku yang di tuduh. Memang orang seperti itu harus kita hindari,” jela Ayya merasa harus semakin berhati-hati.
“Iya, itu sebabnya hari ini dia duduknya menjauh dari kita walau masih satu tim,” sahut Wayan.
“Aku yakin dari mulut ke mulut nanti semua akan menyebar kok. Jadi kalau kelakuan sudah seperti itu berarti kita menggali kubur kita sendiri. Berarti kita memang menenggelamkan diri kita sendiri,” kata Ayya.
“Bener banget, orang seperti itu pasti merugikan dirinya sendiri. Andai kemarin dia tidak menipuku dan Mukti, pasti kami masih baik-baik saja. Terutama aku, walau Trisno dan Mukti sudah benci dia, tapi aku masih berupaya sabar. Aku berupaya mendekatinya, tapi begitu dia menjual namaku, aku langsung menjatuhkan hukuman, tiada maaf.”
__ADS_1
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul UNCOMPLETED STORY yok.