
Jangan lupa selalu tunggu update terbaru. Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.
Selamat membaca cerita sederhana ini.
“Langsung ke Badung Pak,” pinta Mukti pada sopir yang menjemputnya.
“Baik Mas Mukti” jawab sopir. Ayya hanya mendengar saja dia tak mengerti mengapa Mukti langsung mengubah tujuan menjadi langsung ke Badung. Padahal tadinya katanya mau ke Uluwatu dulu baru hari Rabu dan Kamis ke Badung.
“Mobil saya sudah di Badung?”
“Sudah Mas, sejak pagi sudah di sana.”
“Selamat datang pak Mukti,” sambut Sita dan suaminya yang bersiap menurunkan barnang milik boss mereka setiap pulang bepergian.
“Sita tolong siapkan ini dan jangan beritahu siapa pun,” pinta Mukti.
“Tidak juga pada Komang ya,” bisik Mukti pada orang kepercayaannya itu.
“Baik Pak akan saya lakukan,” Sita menerima kertas yang Mukti berikan. Tadi Komang sudah diantar oleh Sita ke kamar Komang di galeri itu. Kamarnya jauh dari kamar Mukti yang terletak di depan yang di ruang utama Galery.
Semua kamar karyawan ada di belakang, terpisah jauh dari ruang utama galeri.
Di Galeri hanya ada satu kamar saja yaitu kamar tidur milik Mukti. Juga ada ruang kerja Mukti untuk menerima tamu, yaitu ruang terbuka. selebihnya ruang pamer saja juga toilet untuk konsumen.
“Komang Ayu, ini kamarmu. Kemarin Pak Mukti sudah meminta dimasukkan lemari untukmu karena katanya kamu akan tinggal terus di sini. Jadi aku masukin lemari kecil untuk kamu,” jelas seorang pegawai perempuan yang mengantar Komang Ayu ke belakang atas perintah Sita.
Ayya melihat kamar mungil yang sangat rapi dan bersih sama dengan kamar pegawai lainnya yang single. Kalau kamar Sita berbeda karena dia tinggal berdua suaminya. Tempat tidurnya lebih besar tentunya tidak tempat tidur single seperti yang ditempati oleh pegawai lain yang masih sendirian.
Komang Ayu lalu langsung membereskan barang-barangnya karena katanya dia akan menetap disitu. Itu yang masih Ayya bingung karenaa yang dia dengar Mukti lebih banyak di Denpasar atau Uluwatu. Kalau dia sekretaris pribadi, tapi harus menetap di Badung aat boss-nya di Denpasar atau lokasi lain kan aneh?
‘*Bodo ah. Yang penting aku bereskan pakaian dulua aja*,’ batin Ayya. Dia bongkar semua bajunya. Langsung di bereskan keseluruhannya dan ada beberapa baju kotor yang dia bawa langsung dari Jakarta dan Solo. Komang Ayu langsung mencuci. Dia kucek di kamar mandi dalam kamar tersebut.
__ADS_1
Seperti biasa, Komang Ayu tak mau menumpuk baju kotor. Tiap hari dia selalu akan mencuci. Jadi dia tidak pernah punya beban baju kotor.
“Kalau ada yang tanya saya pergi ke mana, suruh janjian aja datang besok. Karena saya besok ada di tempat,” pesan Mukti malam ini. Dia pergi sendirian membawa mobil sport nya. Dan membawa semua barang yang tadi dia minta Sita untuk menyiapkan.
Tak ada yang tahu ke mana tujuan Mukti malam ini. Suatu misi yang sangat dia rahasiakan.
“Sita panggilkan Komang Ayu,” ucap Mukti sambil menyesap kopi yang sudah disiapkan Ayya untuknya. Semalam Mukti sudah berpesan pada Sita kalau tugas membuatkan kopi sekarang diserahkan pada Komang Ayu.
“Iya Mas,” kata Komang Ayu di ruang kerjanya Mukti. Ruang kerja di Galeri ini tidak tertutup jadi hanya ada satu meja kerja dari ukiran dan dua kursi buat tamu di depan meja tersebut tentu saja ada kursi Mukti di belakang meja itu.
“Mas mau sarapan apa? Tadi saya tanya mbak Sita, katanya Mas tak pernah disiapakan sarapan karena jarang menginap disini,” jelas Ayya.
“Tak perlu kamu siapkan sarapan. Kamu boleh pulang pagi ini dan besok sudah harus kembali ke sini,” jelas Mukti.
“Jadi Aku hanya libur hari ini?” tanya Komang Ayu.
“Hari ini kamu dari pagi, sampai besok sore berarti kan 2 hari?” kata Mukti dengan senyum kemenangan. Dia merasa sudah menang satu langkah.
“Enggak bisa. Hari Rabu dan Kamis kamu ikut saya ke Uluwatu,” tolak Mukti.
‘*Astagfirullah, bagaimana ini? Arjun sudah punya rencana akan datang hari Rabu. Dia sudah memperlihatkan foto tiket pesawat untuk hari Rabu subuh. Sedangkan hari Rabu dan Kamis aku sudah tidak ada di Badung*.’
\*‘Enggak mungkin kan Arjun ketemu papa tanpa ada aku?’ \*Komang Ayu bingung dia tak percaya Mukti mengacaukan semua rencananya.
“Baik Pak, saya permisi,” kata Komang Ayu. Saat itu ada seorang pegawai yang sedang membawakan pesanan Mukti sehingga Ayya langsung memanggil Pak pada Mukti.
“Permisi Pak. Selamat pagi,” pamit Komang Ayu dia bergegas ke kamarnya dan mempacking beberapa baju miliknya menggunakan tas plastik karena travel bag kecil masih digunakan Mukti.
“Bagaimana mungkin?” protes Arjun mendengar penjelasan Komang Ayu. Saat itu Ayya sudah di angkot. Tadi dia sudah mengabarkan pada papanya akan pulang pagi ini.
__ADS_1
“Aku juga baru denger kok, makanya aku langsung kasih tahu kamu,” jelas Komang Ayu. Dia tahu bagaimana kecewanya Arjun.
“Aku akan coba tukar tiket. Semoga aja aku bisa pulang hari ini paling tidak besok. Jadi besok aku masih bisa ketemu papamu,” kata Arjun. Lelaki muda it langsung memutus hubungan telepon tanpa pamit pada Komang Ayu dan berupaya mencari tiket ke Bali walau tiket VIP sekali pun. Arjun akan berupaya untuk bisa pulang ke Badung.
Sayangnya saat itu tiket ke Bali penuh, karena hari ini ada libur hari kejepit nasional. Jadi libur panjang libur 4 hari kerja membuat penerbangan dengan tujuan ke Bali penuh.
Arjun langsung putus asa karena kalau dia naik kereta atau bus tak akan keburu. Paling tidak dia harus berangkat ke Surabaya nanti malam itu pun tidak ada tiket ke Surabaya. Dia ingin ke Surabaya lalu naik kapal penyeberangan ke Bali. Ternyata tiket ke arah Timur semuanya sudah habis.
Bahkan Arjun berupaya terbang ke Lombok dulu nanti lalu ke Bali melalui Lombok tetap tidak ada tiket. Arjun benar-benar putus asa. Kali ini memang sangat sulit mendapatkan tiket.
“Maaf Komang, aku sudah berupaya dari tadi tak ada yang bisa. Bahkan tiket ke Lombok atau tiket ke Surabaya itu pun enggak ada,” keluh Arjun saat Ayya sudah turun dari angkot dan sedang berjalan menuju rumahnya.
“Mau apa kamu ke Lombok atau Surabaya?” tanya Ayya bingung.
“Mau aku kalau sampai Lombok atau Surabaya aku bisa lewat jalur darat ke Bali lalu menuju Badung,” jelas Arjun.
“Astagfirullah ngapain sih kamu sampai segitunya?” tanya Ayya tak percaya.
“Aku harus ketemu dengan papamu saat ada kamu di rumah. Enggak mungkin kan aku ketemu papamu kalau enggak ada kamunya,” Arjun memberitahu alasannya.
“Ya sudah lain kali enggak apa apa kan?” jawab Komang Ayu.
“Nanti kita kabar-kabarin lagi.”
“Baik aku tunggu kabar selanjutnya dari kamu,” kata Arjun dengan sangat sedih. Dia tak menyangka tiketnya sekarang harus dia cancel. Bukan soal potongan uang cancel nya, tapi kerugian dia tak bisa melaksanakan niatan untuk langsung bicara pada papa Komang Ayu yang Arjun sesalkan.
*Ada readers yang sedih enggak nih Arjun enggak bisa pulang? Ada yang tahu kenapa mas Mukti mengubah rencana? Kasih tahu di komen ya*.
*Eyank tungguin juga segelas kopi dari kalian pembaca setia*.
Biar bisa lihat promo novel yanktie, add FB dan IG yanktie yaaaa, semua nama sama dengan napen koq.
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul KESANDUNG CINTA ANAK BAU KENCUR yok.
__ADS_1