CINTA TANPA SPASI

CINTA TANPA SPASI
SPECIAL PELAYANAN UNTUK CALON SUAMI


__ADS_3

Setelah mengambilkan puding untuk eyang Angga dan eyang Soetiono Ayya pun mengambilkan untuk Mukti. tentu dengan mangkok yang berbeda. Dia memberikan dua potong puding busa dengan banyak fla di mangkok yang cukup besar untuk Mukti


Abu, Ariel dan Ambar sedang bicara di ruang depan sehingga tidak ikut bercengkrama di ruang belakang. Entah apa yang mereka bicarakan. Pasti soal bisnis karena Ambar juga ikut bicara serius.


“Kok jatahnya Mukti beda ya?” goda Pram.


“Spesial lah kalau buat Mukti,” kata istri Pram ikut menimpali canda suaminya.


“Sebenarnya sama aja kok Bude, Pakde. Ini sama aja isinya puding busa. Mas Mukti lebih senang puding busa daripada puding lumut yang bikin beda itu jumlah fla-nya aja Mas Mukti lebih suka banyak fla-nya.


“Sampai segitu hafalnya ya?” sekarang Pras yang menggoda Ayya. Dia benar-benar di plonco seperti mahasiswa baru jaman dulu.


“Namanya calon istri,” kata Bude Pras. Dia pun ikut menggoda seperti suaminya.


“Bude ini paling bisa aja sih?” kata Ayya menanggapi semua canda itu.


“Calon istri kan memang seperti itu Bude,” kata Mukti menerima mangkok yang diulurkan oleh Ayya.


“Aksa ke mana ya Mas?” tanya Ayya.


“Entah. Tadi sih dia habis telepon sama Mas Sonny. Entah apa yang mereka bicarakan. Mungkin tentang kepulangan Aksa besok. Karena Mas Sonny kan besok belum ada di sini.”


“Bukannya Mas Sonny besok sudah di sini ya? siang kan mereka check out jam 1 siang.”

__ADS_1


“Mas juga enggak tahu. Mungkin habis check out Mas Sonny mau pergi dulu ke mana. Aksa kan sudah harus menuju stasiun bersama tante Laksmi sehabis makan siang.”


“Oh begitu.”


“Kenapa kamu tanyain Aksa?” tanya Mukti.


“Mau siapin pudingnya aja kok,” jawab Ayya.


“Dia bisa ambil sendiri,” balas Mukti sedikit ketus. Dia masih saja cemburu bila berhubungan dengan Aksa.


“Bukannya Mas juga bisa ambil sendiri?”


“Buat apa punya calon istri kalau enggak ngambilin?”


“Enggak usah menghindar begitu deh. Semua di sini juga tahu calon istri Mas itu siapa,” Jawab Mukti.


“Kenalin dong sama aku. Sepertinya aku sendiri di sini yang enggak tahu calon istri Mas,” jawab Ayya.


“Kamu mau kenalan sama diri kamu sendiri itu bagaimana?”


Ayya langsung diam dijawab telak seperti itu. Tadi niatnya dia memang menggoda aja. Dia tahu siapa yang dimaksud Mukti.


“Asyik nih sore-sore pada ngemil apa?” tanya Abu yang baru datang ke teras belakang. Rupanya pembicaraan dengan Ariel dan Ambar telah usai.

__ADS_1


“Apalagi kalau bukan buatan menantumu?” jawab Vonny yang sedang menambah isi mangkuknya. Dia hendak mengambilkan untuk Ariel. Sengaja pakai mangkuk bekas dia saja.


“Ayu kamu bikin apa Sayang?” tanya Ambar lembut.


“Bikin puding busa sama puding lumut Ma. Mama mau yang mana?”


“Mama enggak usah ditanyain mau puding apa, dia pasti mau semuanya,” kata Abu


“Ya sudah Papa mau apa?”


“Kamu enggak usah repot seperti itu. Taruh aja semua di meja pasti nanti ambil sendiri-sendiri,” kata Ambar.


“Tapi aku maunya ngambilin Mama sama Papa enggak boleh ya?” rajuk Ayya.


“Boleh enggak apa apa. Ya sudah Mama puding lumut aja tapi tiga potong,” jawab Ambar.


“Puding lumut pakai fla enak lho,” kata Ariel. Dia telah menerima puding yang istrinya beri, dia mendekati meja untuk tambah lagi.


“Ih Om Ariel mah maunya double,” protes Ayya.


“Aku taruh satu mangkok penuh fla di sini aja biar ambil sendiri-sendiri lagi,” Ayya menambah 1 bowl besar fla di meja itu.


“Beda ya kalau buat Mukti diambilin banyak, tapi buat suamiku kamu suruh ambil sendiri,” goda Vonny.

__ADS_1


“Tuuuuh, Tante Vonny juga ikut godain deh,” kata Ayya dengan tersipu malu. Mukti tentu saja bahagia karena semua keluarganya mendukung hubungannya dengan Ayya.


__ADS_2