CINTA TANPA SPASI

CINTA TANPA SPASI
ANALISA AYYA


__ADS_3

“Pa, Ma, aku curiga, atau entah ini hanya pikiranku saja,” kata Ayya saat mengingat sesuatu.


“Apa?” tanya Angga.


“Aku baru tahu siang tadi dari Mas Mukti di mana lokasi kejadian tempat Mas Mukti di jebak. Aku baru tahu kejadiannya itu ada di cafe seberang gedung pameran. Padahal selama aku menyamar, aku tiap siang makan di sana Ma, Pa. Dan Mama atau Papa atau Eyang bisa bayangkan nggak misal aku mengalami trauma di kafe itu kepikiran enggak aku bakal makan siang santai di sana Pa, Ma, Yang?” kata Ayya.


“Ya nggak mungkinlah Mbak Ayu mau datang ke sana terlebih makan siang dengan santai,” jawab Aksa cepat.


“Tepat!” kata Ayya menjentikkan jarinya.


“Maksudmu apa Yank?” tanya Mukti.


“Tadi kan aku sudah cerita sama Mas. Aku pas saat kejadian Mas pingsan hari  Jumat itu. Mas pingsan saat sehabis wawancara, aku ada di cafe itu. Mas inget nggak tadi aku bilang ke Mas, aku mendengar dua perempuan korbannya Mas sama kak Made itu makan siang di sana dengan santai. Mereka membicarakan Mas dan kak Made, kalau tak ada ancaman dari kalian mereka akan menjebak Mas bagaimana caranya supaya dinikahi.”


“Kebayang nggak mereka santai duduk di situ, padahal trauma kejadian itu ada di situ. Kalau mereka benar-benar virgin dan kalau mereka benar-benar korban apa bisa santai di sana?” kata Ayya.


“Astagfirullah itu benar Yu. Benar banget. Mama nggak akan mungkin mau lihat tempat saat Mama mendapat trauma seperti kedua perempuan tersebut. Pasti mereka bukan benar-benar korban!” sahut Ambar menarik inti yang Ayya katakan.


“Ya ampun,” kata Wayan.


“Jadi kamu ada di sana?”


“Dia bahkan ada di belakangmu, kamu nggak tahu. Aku saja nggak tahu,” jelas Mukti.

__ADS_1


“Masa sih?” kata Made tak percaya.


Ayya menyerahkan ponselnya pada Mukti dan Mukti membukanya karena dia tahu password ponsel lama maupun ponsel barunya Ayya. Diantara mereka tak ada rahasia.


“Lihat perempuan ini, berdiri di belakang aku,” kata Mukti memperlihatkan foto selfie Ayya berada di belakangnya.


“Ini kan pernah kita lihat di supermarket,” jawab Made dan Wayan hampir bersamaan.


“Dan kalian tidak mengenali itu Ayu?” tanya eyang Angga sambil melihat foto tersebut,


“Enggak Eyang,” jawab Made dan Wayan.


“Sudah nggak usah bahas penyamaranku. Sekarang kita balik ke masalah dua perempuan tersebut. Intinya perempuan tersebut kemungkinan bukan korban,” jawab Ayya tegas.


“Nah itu yang poin pemikiranku yang pertama Ma.”


“Yang kedua masalah Lukas!” kata Ayya. Dia mengambil gelas teh miliknya dan meminum seteguk


“Aku janjian sama Lukas sejak di Bali. Tapi sejak aku ada di Solo dia hanya satu kali menghubungi aku. Saat itu aku bilang aku sedang ke Jogja. Setelah itu Lukas tak satu kali pun menghubungi aku.”


“Setelah kejadian tragedy mas Mukti, Carlo menghubungi aku tiap hari! Yank aku pikir sekarang apakah Carlo sudah mendapat video tentang aku dan Lukas sehingga Carlo mencari aku?”


“Perkiraanku Lukas tidak mendapat video Mas Mukti tapi video versi aku. Sehingga Carlo ingin mencari kejelasan. Makanya dia telepon satu hari bisa tiga kali,” jelas Ayya sambil memperlihatkan riwayat panggilan teleponnya.

__ADS_1


Semua mencerna dugaan Ayya itu.


“Kalau begitu kamu buka blokirnya Lukas sama Carlo Yank.  Kita temui Carlo satu kali. Kita ingin tahu bagaimana dan mengapa dia seperti itu,” usul Mukti.


“Benar. Eyang rasa kamu harus tahu apa maksud Carlo mencarimu,” Angga sependapat dengan Mukti.


“Baik Eyang. Aku akan janjian dengan Carlo. Tapi aku akan datang menyamar dulu. Aku ingin tahu dulu apa yang atau siapa yang Carlo ingin temui. Nanti sesudah itu aku baru buka penyamaran,” kata Ayya.


“Aku malah nggak ngeh loh tentang gadis tersebut makan di cafe itu, sedangkan aku dan Mukti saja sudah tidak mau ke cafe itu karena merasa trauma kejadian buruk di sana,” kata Made.


“Aku ke situ berkaitan dengan mencari rekaman CCTV. Tapi kalau untuk duduk minum dan makan di situ, sama sekali nggak ingin,” kata Made lagi.


“Aku beberapa kali menemui mereka di sana. Sayang saat itu aku tidak bikin selfie. Tapi aku dengar sekali kok mereka bilang kalau tidak ada ancaman dari kalian berdua, mereka ingin menjebak agar bisa dinikahi terlebih oleh Mas Mukti. Karena dia tahu kekayaan Mas Mukti,” ucap Ayya.


“Aku saja yang tidak kena jebakan dengan perempuan, hanya pingsan saja sudah tak ingin minum atau pun makan di sana lagi,” kata Wayan.


“Bahkan di cafe belakang saja aku takut, karena aku kena jebak lagi.”


“Benar seperti Sonny tadi bilang kita harus diskusi dulu lebih-lebih dengan pemikirannya Ayu seperti ini. Kalau Ayu tidak cerita dia pernah beberapa kali memergoki kedua gadis tersebut duduk santai di cafe tersebut pasti kita tidak curiga mereka dan mengira mereka memang benar-benar gadis lugu yang jadi korban,” kata Abu.


“Apa mereka di sana menunggu Mas Mukti dan kak Made?” tanya Ayya.


“Kalau ingin menemui kami tentu bukan di sana, karena kami pun belum tentu mau makan di sana lagi. Seharusnya mereka nyari ya di ruang pameran,” jawab Mukti.

__ADS_1


__ADS_2