CINTA TANPA SPASI

CINTA TANPA SPASI
DUA PASANG SEPATU COUPLE


__ADS_3

“Memangnya Mas tahu ukurannya kaki mereka?” tanya Ayya.


“Tadi sudah minta Aksa mendapatkan nomor kaki mereka secara diam-diam. Aksa bertanya nomor sepatu mereka tapi tidak ketahuan bahwa ingin dibelikan sepatu oleh Mas,” jawab Mukti.


“Oh ya sudah, ayo kita ke toko sepatu kalau tujuannya jelas bukan hanya window shopping, aku mau kalau tujuannya jelas,” Ayya pun keluar mobil.


Ayya dan Mukti langsung menuju ke toko sepatu  dan mencari bagian sepatu olahraga.


“Jangan satu warna, Mas,” saran Ayya.


“Kenapa?” Mukti mengernyitkan alisnya.


“Kalau terburu-buru, mereka langsung asal ambil sepatu. Kalau satu warna bisa terjadi mereka salah bawa. Nanti ketika mau pakai ternyata ukurannya enggak pas.” Ulas Ayya.


“Cerdas, Mas setuju pandanganmu,” kata Mukti sambil memberi jempol. Akhirnya Ayya memilihkan sepatu untuk Farhan dan Fahri.


“Yank, ini bagus deh Yank,” Mukti menunjuk sepatu couple. Memang tujuan dia adalah belanja untuk dirinya dan Ayya. Bukan untuk Fahri dan Farhan. Dua sepatu mahal untuk kedua adik sepupunya hanya jembatan. Tak ada ruginya membuang uang sebesar itu buat Mukti.


“Kayanya biru itu kemudaan, enggak cocok deh. Bagusan biru yang dongker,” Ayya memberi pendapat ketika melihat Mukti mencoba sepatu.


“Keren kan?” Mukti meminta pendapat Ayya.


‘Pasti keren lah. Harga sepasangnya aja dua kali gajiku di cafe dulu,’ jawab Ayya sambil menelan air liurnya, dia hanya menjawab dalam hati saja. Dia tak berani mengucapkan itu.


“Iya sih keren,” itu pujian yang keluar dari mulut mungil Ayya.


“Kamu cobain dong?” pinta Mukti.


“Kenapa aku harus cobain?” cetus Ayya.


‘Haduuu, potong gaji enggak ya?’ Ayya tentu takut semua gajinya habis bila harus membayar sepatu mahal itu.


“Kan ini sepatu couple Yank. Masak belinya satu. Harus dua pasang lah,” jawab Mukti santai.


“Kalau begitu yang coklat aja. Aku kepengin yang coklat,” Ayya pasrah bila harus potong gaji.


“Oke,” kata Mukti, dia pun mencoba yang warna coklat dan memberikan warna coklat untuk Ayya coba.


“Tapi warna birunya keren kok Mas yang dongker. Jangan yang biru tadi Mas coba,” Ayya malah bingung sendiri.


“Apa kita beli dua-duanya?” tawar Mukti.


“Enggak. Masa satu jenis dua warna?”


“Jadi maunya bagaimana?”

__ADS_1


“Ambil satu warna aja lah,” jawab Ayya.


“Mau ambil yang warna apa?”


“Bingung Mas coklat atau biru dongker ya. Terserah Mas deh,” kata Ayya membiarkan Mukti sebagai decision maker.


“Ya sudah biru dongker aja,” kata Mukti. Dia pun meminta ukuran mereka pada pegawai toko.


‘Alhamdulillah, yang penting sudah punya satu sepatu couple.’


Mereka pun keluar dari toko sepatu. ”Mas ke toilet sebentar ya,” pamit Mukti.


“Ya.”


Pada saat kembali Mukti sudah bawa satu tentengan lagi.


“Mas beli apa?” tanya Ayya. Dia lihat paper bag nya sama dengan paper bag sepatu yang tadi mereka beli.


“Enggak.” kata Mukti.


“Ayo kita makan malam dulu. Biar di rumah sudah enggak ngerepotin orang dapur bila semua sudah selesai makan malam”


Mereka pun melewati rumah makan Makasar yang terkenal.


“Mas di sini itu sop konronya enak dan iga bakarnya enak banget loh,” bisik Ayya.


“Kami di cafe itu sering bertugas mencicipi makanan dari rumah makan yang terkenal. Manajer cafe memerintah kami untuk mencicipi dan memberi penilaian juga mencoba memasak seperti itu.”


“Itu sebabnya cafe kami walaupun kecil makanannya enak-enak. Karena selalu belajar dari rumah makan besar yang terkenal.”


“Wah hebat ya manajer cafe-mu berpikiran seperti itu.”


“Ya chef dan kami memang bertugas mencicipi lalu diskusi seperti apa sampai dapat resep yang fix sesuai dengan lidah kami. karena pasti kami modifikasi sesuai dengan selera kami.”


Tentu saja Mukti baru tahu bahwa ada proses seperti itu. Mukti mengajak Ayya makan di resto itu.


Mereka pun makan iga bakar dan sop konro yang di rekomendasikan oleh Ayya tadi.


“Wah calon mempelai berikutnya baru pulang nih,” goda eyang Soetiono


 ”Eyang bisa aja deh,” kata Ayya.


“Lah Eyang beneran kan?”


“Aamiiin,” kata Mukti dan Ambar berbarengan.

__ADS_1


“Tuh Mukti dan mama Ambar aja setuju kok,” Soetiono makin suka menggoda Ayya yang pipinya memerah.


“Terserah Eyang lah,” kata Ayya.


Ayya masuk kamarnya. Dia sekarang sudah sendirian tidak ada Sri lagi.


Sepatu belum diturunkan sengaja nanti besok pagi akan diberikan pada kedua adiknya. Besok pagi mereka rencananya akan bawa anak-anak ke Monas walau tidak bersama Adelia dan Sonny karena keduanya masih berada di hotel.


Seharusnya ini adalah tugas Adelia tapi sekarang tugas itu diambil alih oleh Mukti. Jadi nanti Mukti Aksa serta Ayya dan beberapa sepupunya yang ikut jalan-jalan tentu saja para orang tua males untuk ikut ke Monas maupun tempat lainnya


“Kalian sarapan dulu lho sebelum jalan,” kata Ambar seperti biasa.


“Fahri, Farhan ini ada hadiah dari Mbak Ayu,” kata Mukti.


“Mas kok dari aku?” protes Ayya tak enak hati.


“Memang kamu kan yang pilihin kemarin?”


Ayya jadi enggak enak sendiri, dua sepatu sudah berada di tangan masing-masing adiknya.


“Kok aku pacarnya enggak dibelikan?” rajuk Aksa.


“Pacar nanti belinya bareng aku aja ya,” jawab Ayya.


“Wah Mbak Ayu tahu aja aku pengin sepatu bola,” Kata Fahri takjub akan hadiah yang dia dapatkan dari Ayya.


Aksa hanya tersenyum karena yang tahu soal ukuran sepatu yang diinginkan Mukti adalah dia. ‘Ternyata ini niat Mas Mukti kemarin,’ batin Aksa.


“Bilang apa?” kata Laksmi pada kedua putranya yang sedang sangat bahagia.


“Terima kasih Mbak Ayu. Terima kasih Mas Mukti,” kata Farhan.


“Terima kasih Mas Mukti. Terima kasih Mbak Ayu,” Fahri pun mengucap terima kasih bersamaan dengan Farhan. Hanya kalimat mereka berbeda.


Fahri dan Farhan masih sangat tak percaya baru bilang kepengen sepatu bola sekarang sepatunya sudah ada di depan mata.


“Besok begitu sampai di Surabaya aku akan langsung latihan,” ujar Fahri.


“Latihan yang rajin ya, biar kalian berprestasi,” kata Ayya memompakan semangat dua adiknya.


“Yank, ini sepatumu,” Mukti memberikan satu paper bag pada Ayya.


“Kok enggak dipisah Mas? Masih ada dua pasang kayaknya,” Ayya menerima paper bag berisi dua pasang sepatu.


“Itu memang dua pasang milik kamu,” kata Mukti santai.

__ADS_1


Rupanya kemarin Mukti bukan ke toilet tapi dia kembali ke toko sepatu tersebut dan membeli jenis lain dengan warna coklat sehingga mereka berdua punya dua pasang sepatu couple beda jenis beda warna.


Ayya hanya melotot melihat isi sepatu tersebut dia mau protes di situ enggak enak banyak orang pasti Mukti akan banyak yang belain.


__ADS_2