
“Aku ingin bicara serius,” kata Ayya setelah Wayan dan Made pergi.
“Enaknya kita bicara di mana? Di ruang tengah atau di kamar? Karena aku nggak ingin ke pending orang datang dan ngajak ngomong dan nggak ingin diganggu saat kita sedang diskusi. Kita akan diskusi bukan untuk berantem karena masalah ini tak akan selesai dengan emosi,” kata Ayya bijak.
“Terserah kamu di ruang tengah boleh, di kamar juga boleh. Mau di kamar kamu atau di kamar aku silakan,” jawab Mukti. Dia sudah pasrah. Dia juga tak mungkin bisa menghindar lagi. Semua harus mereka bicarakan dengan tuntas.
“Oke aku akan bilang sama bu Parman kita bicara di kamar. Pintu tidak kita kunci, terbuka sedikit agar orang tahu kita sedang diskusi bukan yang macam-macam,” jelas Ayya memutuskan akan bicara di kamar.
“Monggo,” jawab Mukti. Ayya masuk dan mencari bu Parman.
__ADS_1
“Ibu, aku punya persoalan sama Mas Mukti. Walau tidak ada yang cerita, aku yakin Ibu bisa meraba, Ibu bisa tahu kenapa waktu itu aku pergi. Karena itu sekarang aku mau bicara sama Mas Mukti.”
“Aku nggak mau bicara di ruang tengah lalu tiba-tiba ada orang datang. Aku takut ganggu konsentrasi diskusi. Aku akan bicara di kamarku Bu. Pintu tidak akan aku kunci, aku biarkan terbuka sedikit biar siapa pun bisa mendorong kalau memang curiga aku sama Mas Mukti ngapa-ngapain. Terus kalau ada yang datang tolong Ibu kasih tahu kami nggak mau diganggu sampai kami keluar. Kami benar-benar mau menuntaskan semuanya.” Bu PArman mendengar semua yang Ayya katakan.
“Kami tidak mau dituduh yang macam-macam, karena itu pintu akan aku buka sedikit,” jelas Ayya lagi.
“Ya ampun Mbak. Ditutup rapat dan dikunci pun kami nggak apa-apa. Kami percaya kok Mbak bisa jaga diri dan Mas Mukti juga bukan lelaki yang sembarangan. Dia pasti menjunjung tinggi harga diri Mbak. Nggak akan mungkin dia melecehkan. Mbak tenang saja.
Ayya membawa satu botol air minum dan satu gelas. Dia tak mau nanti saat sedang bicara lalu haus harus keluar dulu. Merusak konsentrasinya. Benar-benar semuanya telah dia persiapkan.
__ADS_1
Mukti sejak tadi sudah menunggu Ayya di kamar gadis itu, karena Ayya bilang mereka akan bicara di kamar Ayya saja jangan di kamar Mukti. Mungkin Ayya merasa lebih nyaman berada di kamarnya sendiri daripada di kamarnya Mukti.
“Sekarang aku minta Mas jujur dulu. Mas katakan apa yang terjadi,” Ayya menodong tunangannya untuk bicara. Sejak awal Mukti tahu pasti dia akan diharuskan memulai semuanya, karena memang pelaku utama perpisahan kemarin adalah dirinya. Mukti sadar itu.
“Pertama Mas terima kasih kamu kasih kesempatan kita bicara. Itu menunjukkan kamu berjiwa besar. Nggak perlu kamu jawab. Sekali lagi Mas ucap terima kasih,” kata Mukti sambil menarik napas panjang.
“Yang kedua Mas minta maaf kalau kejadian itu sangat menyiksa kamu. Karena sesungguhnya itu tidak hanya melukai kamu, tapi melukai diri Mas. Mencari-cabik harga diri Mas dan pasti melukai papa, mama serta keluarga besar termasuk papa Wayan juga eyang Angga. Sekali lagi, Mas atas nama pribadi dan keluarga minta maaf terhadap kejadian ini.” ucap Mukti. Ayya hanya terus melihat wajah kekasihnya.
“Tidak ada yang akan Mas tutupi. Tak ada satu titik pun. Kamu boleh cek ke mana pun kalau ada kebohongan yang Mas buat.” janji Mukti. Dia tak mau lagi kejeblos ke jurang karena berbohong.
__ADS_1
“Kamu akan dengar ini versi Mas. Termin pertama Mas akan cerita versi Mas. Semua yang Mas ketahui dari sisi diri Mas sendiri. Bukan dari sisi orang lain. Nanti dari sisi orang lain akan Mas ceritakan di termin kedua.” Ayya hanya mengangguk. Dia memang belum ingin menjawab apa pun karena belum ada cerita yang Mukti sampaikan.