
Dalam ruangan yang dipenuhi beberapa pihak, saat ini seorang wanita sudah menandatangani sebuah dokumen, untuk menyerahkan keseluruhan sahamnya kepada pihak yang bersedia membelinya.
Dengan perasaan terpaksa, dirinya akhirnya mulai menandatangi seluruh berkas pemindahan kepemilikan sahamnya, lalu mulai menyerahkan beberapa berkas yang sudah dirinya tandatangani itu menuju pihak yang akan membeli semua sahamnya itu.
“Maaf Nona Amelia, tetapi bisakah aku menanyakan sesuatu kepada anda?” tanya Vero setelah dirinya sudah menyerahkan dokumen yang sudah dirinya tanda tangani itu kepada Amelia.
“Tentu saja Nona Veronica” jawab Amel sambil tersenyum dan mempersilahkan Vero menanyakan sesuatu, yang mungkin sedang menganggu pemikirannya saat ini.
Vero memang baru pertama kali bertemu sosok dari Amelia Darkin yang merupakan pemimpin cabang pusat dari Darkness Company pada negara ini. Apalagi, pihak Darkness Company jarang menunjukan sosok pemimpin cabang mereka kepada khalayak umum.
Hanya Mira saja yang sering menunjukan rupanya dimana-mana. Jadi saat ini Mira lebih terkenal dikalangan para pebisnis, karena dirinya sering melakukan berbagai kegiatan bisnisnya tanpa melalui asistennya, tidak seperti pemimpin perusahaan cabang Darkness Company yang lainnya.
“Begini Nona Amelia, aku hanya penasaran, mengapa perusahaan anda bersedia membeli semua saham milik saya dengan harga yang cukup mahal?” tanya Vero penasaran.
Memang tidak seperti kebanyakan para penawar yang ingin membeli saham milik Vero yang ingin menawarkan harga sahamnya semurah mungkin, pihak Darkness Company malah ingin membelinya dengan harga yang menurutnya tidak masuk akal.
Satu hal yang membuat Vero terganggu saat memutuskan melepaskan seluruh sahamnya, yaitu pihak Darkness langsung menawar sahamnya dengan harga yang fantastis, dan hal tersebut jugalah yang membuat Vero memutuskan menjual sahamnya pada pihak Darkness Company karena harga yang mereka tawarkan kepadanya.
“Maafkan saya Nona Veronica, tetapi untuk permasalahan tentang sesuatu yang anda tanyakan itu, merupakan sebuah rahasia perusahaan yang tidak bisa saya ungkapkan” balas Amel yang sudah selesai menandatangani dokumen yang diserahkan oleh Vero.
“Oh... begitu ya..” ucap Vero yang memutuskan tidak meneruskan rasa keingintahuannya, walaupun sebenarnya didalam benak Vero masih menyimpan rasa perasaan tentang pembelian sahamnya yang dilakukan oleh pihak Darkness Company.
Tentu Vero tidak merasa khawatir bahwa Darkness Company akan melakukan perubahan yang sangat drastis pada perusahannya, karena memang Vero disetujui untuk dijadikan seorang CEO dari perusahaannya oleh pihak Darkness Company.
Bahkan pihak Darkness Company mempercayai dirinya sepenuhnya, tentang pengambilan keputusan yang akan dirinya lakukan pada perusahaan yang akan dipimpin olehnya. Jadi dirinya bisa mengawasi dan menjaga kembali perusahannya itu.
Walaupun sebenarnya dirinya masih bingung mengapa pihak Darkness selalu menerima usulnya, tetapi dirinya akan berusaha keras membayar kepercayaan mereka dan terus memajukan perusahaan yang dipimpinnya kelak.
“Baiklah, karena kedua belah pihak sudah setuju, mari kita akhiri pertemuan ini” ucap Amel yang menutup pertemuan itu, setelah semua urusan ditempat itu sudah terselesaikan.
__ADS_1
Dengan perasaan yang mencoba untuk ikhlas, saat ini Vero dan Kelly mulai berjalan berdampingan untuk beranjak dari ruangan tersebut, karena sudah dibimbing untuk keluar setelah semua orang yang berada di sana juga sudah beranjak dari ruang pertemuan tersebut.
Sebenarnya Vero sudah diajak untuk ikut makan bersama oleh Amel pada kantin perusahaan ini. Namun Vero menolaknya dan memutuskan untuk langsung kembali dan ingin beristirahat, karena dirinya masih merasa sedih dengan salah satu perusahaan yang sudah dirintis oleh keluarganya dari Nol, harus dirinya lepaskan.
“Z-Zen, apa yang kamu lakukan?” tanya Vero yang terkejut melihat suami bayarannya itu sedang menyantap makanan yang sangat banyak, apalagi makanan yang sedang disantapnya sudah tertata dengan rapi di atas meja tempat dirinya berada.
Memang Vero dibimbing menuju sebuah ruangan, dimana Zen sedang menunggunya di sana. Namun alangkah terkejutnya dirinya, mendapati bahwa Zen saat ini seakan sedang merayakan sesuatu, karena makanan yang dihidangkan kepadanya sangat amat banyak.
“Tentu saja aku sedang makan.” Balas Zen yang menyuapkan sebuah potongan sashimi kedalam mulutnya.
Kelly juga sangat terkejut melihat apa yang dilakukan suami sahabatnya itu, karena dirinya seakan sedang dijamu sebagai orang yang amat penting ditempat ini dengan berbagai hidangan yang terlihat sangat amat lezat dan sudah tersedia di atas mejanya.
“Siapa yang memberikanmu semua ini?” tanya Kelly kemudian.
“Tentu pihak perusahaan tempat kita berada saat ini.” balas Zen.
Memang, Darkness Company merupakan perusahaan yang mengedepankan kesejahteraaan karyawannya. Bahkan seluruh pegawai perusahaan mereka, baik yang tingkat tinggi hingga tingkat rendah, akan diperlakukan dengan baik tanpa memandang status jabatan mereka ditempat ini.
Jadi, banyak pihak memang ingin sekali bekerja pada perusahaan ini, karena mereka sangat mengedepankan kesejahteraan seluruh karyawan mereka, sehingga para karyawan akan sangat bahagia bekerja ditempat ini.
“Hah... bahkan kantin perusahaan milik sahabatku saja makanannya tidak akan semewah ini” gumam Kelly, yang mulai merasa iri dengan seluruh karyawan yang bekerja di perusahaan ini.
Pastilah Vero dan Kelly pasti menganggap bahwa makanan yang sedang dilahap oleh Zen, berasal dari kantin yang dimiliki oleh perusahaan ini. Jadi mereka tidak terlalu terkejut saat Zen berkata pihak perusahaan inilah yang memberinya semua makanan yang sedang disantapnya itu.
“Cih... kita tidak sekaya mereka Kel” ucap Vero yang mendengar gumaman sahabatnya itu, dan cukup merasa kesal ketika sahabatnya itu membandingkan perusahaan sebesar Darkness Company dengan perusahannya.
Memang, Vero juga terkejut melihat beberapa menu yang sedang disantap oleh Zen, merupakan makanan yang terlihat sangat mewah dan enak. Bahkan dirinya sudah mulai menyesal tidak menerima tawaran dari pihak Darkness Company untuk makan ditempat ini.
“Sudahlah, ayo kita kembali menuju hotel tempat kita menginap untuk beristirahat, karena kita akan kembali menuju kota Marlet malam ini juga” ucap Vero yang sudah melanjutkan langkahnya untuk keluar dari perusahaan besar tersebut.
__ADS_1
Tentu Kelly yang awalnya ingin berniat menyantap beberapa makanan yang belum disentuh oleh Zen, harus mengurungkan niatnya, karena sahabatnya itu sudah meninggalkan dirinya bersama Zen di sana dan sudah berjalan terlebih dahulu untuk keluar dari perusahaan ini.
Jadi mau tidak mau, dirinya dan suami sahabatnya itu mulai mengikuti langkahnya dan mulai meninggalkan perusahaan tempat mereka berada saat ini. Namun saat memasuki mobil yang akan mereka kendarai untuk kembali menuju hotel tempat mereka menginap, suasana kesedihan mulai terasa memenuhi mobil yang mereka sedang tumpangi tersebut.
“Tenanglah Vero, setidaknya kamu masih bisa memimpin perusahaan yang sudah tidak berada didalam genggaman milikmu itu” ucap Kelly yang mengerti mengapa sahabatnya itu sedang bersedih saat ini.
Tentu Vero merasa sedih, karena dirinya menganggap bahwa dirinya tidak bisa melindungi amanat yang dititipkan oleh Ibu dan Neneknya dahulu. Jadi dirinya cukup sedih, dan merasa sangat amat bersalah saat dirinya memutuskan melepaskan seluruh sahamnya pada salah satu perusahaan keluarganya.
“Aku tahu Kel. Lagipula akan aku pastikan bahwa aku akan mengambil kembali perusahaan itu untuk menjadi milikku kembali” ucap Vero penuh tekad.
“Yap... pasti kita akan bisa mengambilnya kembali Ver” balas Sahabatnya itu sambil mengisyaratkan bahwa dirinya akan selalu berada disisi sahabat baiknya apapun yang terjadi.
Zen sendiri hanya tenang mendengarkan percakapan mereka saja, karena sebenarnya dirinya bisa saja mengembalikan perusahaan Vero dengan mudah. Bahkan sebuah kalimat yang dirinya ucapkan saja, akan mampu melakukan hal tersebut.
Namun, karena dirinya merupakan orang yang tidak ingin ikut campur pada sesuatu yang tidak bermanfaat baginya, dan perintah dari bawahannya untuk tetap merendah, jadi Zen hanya bisa diam dan hanya mendengarkan percakapan mereka saja.
“Lalu, bagaimana jika kita berkeliling mencari oleh-oleh untuk melupakan sejenak permasalahan yang sedang kita alami?” ajak Kelly agar membuat sahabatnya itu tidak terlalu larut dalam kesedihan yang sedang dirinya alami.
“Hmmm... bukan ide yang buruk” ucap Vero yang memutuskan untuk menyetujui ajakan sahabat baiknya itu.
Akhirnya, Vero menyuruh sopir yang membawa kendaraan yang ditumpanginya, untuk mengubah tujuan mereka menjadi pusat perbelanjaan terbesar di kota ini, untuk setidaknya berkeliling dan melepaskan semua beban yang mereka alami dengan pergi berbelanja.
Zen juga memutuskan hanya mengikuti kemana mereka pergi, karena memang tugasnya untuk menjaga keberadaan Vero. Hingga akhirnya dirinya melihat bahwa jalan yang dilalui oleh mobil yang ditumpanginya, akan melewati sebuah tempat yang dimana kedua wanita yang dirinya selamatkan tadi malam sedang dirawat di sana.
“Bisakah aku berhenti disini?” ucap Zen yang meminta dirinya diturunkan disela-sela perjalanan mereka.
Tentu mendengar bahwa Zen meminta turun ditengah-tengah perjalanan mereka menuju pusat perbelanjaan, membuat kedua wanita yang bersamanya cukup bingung. Apalagi dirinya saat ini meminta berhenti tepat didepan area rumah sakit terbesar di kota ini.
“Tetapi, bukankah kamu harus melindu-”
__ADS_1
“Tenanglah, saat dirimu ada masalah, aku akan berada di sisimu”