Ex-Harem Lord

Ex-Harem Lord
Tidak Menyangka


__ADS_3

Seorang wanita saat ini sedang mencari keberadaan nona mudanya yang melarikan diri, karena kesal telah dibohongi oleh para Ibunya. Tentu karena Ibu dari nona mudanya itu tidak mempunyai kekuatan seperti dirinya, terpaksa wanita tersebut yang pergi mencari keberadaannya.


Tentu dirinya sudah merasakan aura dari nona mudanya dan mulai menuju kearahnya. Namun betapa terkejutnya dirinya menemukan bahwa nona mudanya saat ini sedang di cengkram pakaiannya dan diangkat seperti hewan oleh seorang pria.


Tentu saja melihat hal tersebut, wanita yang ditugaskan mencari nona mudanya langsung mengeluarkan sebuah pedang suci miliknya dan langsung menerjang kearah pria tersebut, dan langsung menempelkan bilah tajam pedangnya tepat dileher pria yang sedang mencengkram pakaian nona mudanya itu.


“Lepaskanlah Nona Muda Ana, atau akan aku hilangkan jiwamu seutuhnya dan akan menerima siksaan yang sangat amat berat” Kata wanita tersebut.


Pria yang sedang ditodong itu mulai merasa kesal saat ini. Pertama dirinya tidak bisa mengidentifikasi siapa mahluk kecil yang sedang dipegangnya, sekarang dirinya sedang ditodong oleh seorang malaikat dengan senjata sucinya.


“Yo... malaikat rendahan. Apakah kamu ingin kurubah dirimu menjadi seorang malaikat jatuh?” balas pria itu yang dimana matanya sudah berubah sepenuhnya menjadi hitam menyala dan mulai menengok arah wanita yang sedang menodongnya.


Aura yang menyeramkan mulai membuat gadis kecil dan wanita tersebut gemetaran. Karena aura yang sangat mengintimidasi tersebut sangat amat menakutkan jika dirasakan. Wanita yang menodong pedangnya kepada pria yang mengganggu putri tuannya juga terkejut, karena dirinya tidak menyangka sedang menodong seseorang yang tidak sepatutnya dia todong.


“T-Tuan S-Sloth” balas wanita itu gemetaran dan mulai menarik pedangnya dari leher pria yang di todongnya itu yang ternyata adalah Zen.


Karena Zen memang membelakangi dirinya, malaikat tersebut tidak sempat melihat rupanya dan lebih memfokuskan untuk menyelamatkan nona mudanya yang seperti sedang disandera oleh pria yang dilihatnya, sehingga dirinya langsung mengancamnya menggunakan senjatanya.


“M-Maafkan A-Aku tu-”


“P-Paman?” namun saat sang malaikat itu ingin meminta maaf atas tindakannya, gadis kecil yang sedang digenggam oleh Zen mulai memanggilnya Paman sambil berusaha melawan aura yang dikeluarkan oleh Zen.


Zen yang mendengar dirinya dipanggil seperti itu, mulai mengarahkan pandangan dari matanya yang berwarna hitam menyala menuju gadis kecil yang ada di genggamannya, karena dirinya cukup terkejut dipanggil dengan sebutan yang dilontarkan olehnya.


“Paman? Siapa? aku?” tunjuk Zen kearah dirinya sendiri dan mulai menghilangkan aura intimidasi miliknya saat ini.


Malaikat dan gadis kecil bernama Ana itu mulai mengeluarkan suara batuk setelah aura yang dikeluarkan oleh Zen sudah ditariknya kembali. Zen saat ini bingung mengapa gadis itu memanggilnya paman dan saat ini menatap malaikat yang saat ini sudah berlutut dibawah pasir pantai tempatnya berada, setelah lepas dari aura menyeramkan yang dirinya keluarkan tadi.

__ADS_1


“Siapa mak-”


“Paman merupakan Paman Ana bukan?!” teriak gadis kecil itu kembali setelah sudah merasa lega dari aura yang dikeluarkan oleh Zen, dan mulai memotong kembali perkataan Zen yang akan bertanya kepada malaikat yang menodongnya tadi, tentang siapa sebenarnya gadis kecil yang sedang di cengkramnya saat ini.


“Siapakah kamu mahluk kecil?” tanya Zen kemudian yang mulai menatap kembali kearah Ana.


“Ini Ana... keponakan Paman” ucapnya sambil tersenyum karena senang bertemu dengan Pamannya.


Zen semakin bingung dibuatnya karena gadis kecil itu terus memanggilnya dengan sebutan Paman. Namun saat mencoba ingin menanyakan lebih detail tentang siapa gadis itu, Mira dari balik kabut hitam mulai muncul dan membawa dua orang wanita yang dimana salah satunya menggendong seorang Bayi.


“Mengapa anda mengeluarkan aura kegelapan anda Tuan Zen” ucap Mira yang langsung menghampiri Zen.


Memang Mira tadi sedang makan siang bersama dua orang wanita yang sedang bersamanya. Namun tiba-tiba saja dirinya merasakan aura kemarahan tuannya dan langsung membuka ruang kabut hitam miliknya dan menuju ketempat tuannya berada.


Tentu kedua wanita yang bersamanya juga mengikutinya, karena mereka ingin tahu apa yang membuat Zen marah. Namun saat tiba ditempatnya, mereka dikejutkan dengan melihat Ana sedang di cengkram pakaiannya oleh Zen dan seorang malaikat sedang berlutut dibawah pasir pantai tempatnya berada.


“Ibu... aku menemukan Paman” ucap gadis kecil itu setelah melihat siapa yang datang kearahnya.


“Mira, siapa mahluk kecil ini?” tanya Zen kemudian sambil menunjukan gadis kecil yang ada di genggamannya itu kepada Mira.


“Sudah kubilang, aku adalah Ana, keponakan dari Paman!” teriak Ana kemudian yang cukup kesal bahwa pamannya masih tidak mendengarkannya.


“Diam lah mahluk kecil. Atau aku akan mengantarkan jiwamu lebih cepat menuju neraka” ucap Zen kemudian yang merasa muak terus dipanggil dengan sebutan Paman.


“Dirinya benar Tuan, Nona Muda Ana adalah keponakan Anda” ucap Mira.


Mendengar itu, Zen mulai menatap dengan lekat gadis kecil yang ada di genggamannya, yang saat ini sedang menggembungkan pipinya kesal karena dirinya tidak dikenali oleh Pamannya sendiri. Namun sedang asik memperhatikan gadis itu, seorang wanita cantik yang datang bersama Mira tadi mulai mendekati Zen.

__ADS_1


“Selamat siang Kakak Ipar. Perkenalkan aku Valana istri dari Mikhael dan Ibu dari Ana gadis kecil yang sedang ada angkat itu.” Ucap wanita itu dan membuat Zen langsung menatapnya dan menunjukkan raut wajah terkejutnya saat ini.


“Kamu Valana, Istrinya Mikhael?” ucap Zen terkejut, karena ini pertama kalinya dirinya bertemu dengan Istri dari adiknya.


“Benar Kakak Ipar, lebih tepatnya aku Istri Pertamanya” balasnya lagi.


Zen yang masih menunjukan ekspresi terkejutnya hanya mengangguk saja mendengar perkataan wanita yang bernama Valana itu dan saat ini kembali menatap gadis kecil yang terlihat ngambek di genggamannya.


“Yo... keponakanku yang cantik” ucap Zen kemudian yang mulai meraih gadis kecil itu dan menggendongnya.


“Namamu Ana bukan gadis cantik?” Ucap Zen kemudian yang akhirnya mengetahui fakta bahwa gadis yang dia genggam pakaiannya sedari tadi memang merupakan keponakannya.


“Humph... Ana kesal dengan Paman, karena Paman tidak mendengarkan Ana sedari tadi” balas Ana yang masih menggembungkan pipinya karena kesal.


“He... He... Maafkan Paman oke. Seharusnya kamu bilang Aku putri dari ayahmu Mikhael, pastilah Paman akan langsung mengenalimu” ucap Zen yang berusaha untuk menghilangkan perasaan kesal dari keponakannya tersebut.


“Humphh...” namun Ana hanya menanggapi Zen dengan cuek sambil membuang mukanya.


“Kamu mau apa... Mau Ice Cream? Paman bisa belikan.” Ucap Zen kemudian yang terus membujuk Ana yang terlihat sangat kesal kepadanya.


Tentu mendengar makanan kesukaannya disebut, pipi mengembung Ana mulai menyusut dan menatap Zen sambil menganggukkan kepalanya sambil tersenyum, yang menandakan dirinya sangat setuju dengan apa yang dikatakan Pamannya tadi.


“Mira... cepat buka portal kabutmu menuju kedai Ice Cream terdekat” ucap Zen kemudian kepada Mira.


“Ada banyak Ice Cream dikediaman kita Tuan, jadi anda tidak perlu repot-repot menuju kesebuah kedai Ice Cream” ucap Mira kemudian.


“Benarkah, kalau begitu apa yang kamu tunggu cepat bimbing aku ke sana” ucap Zen yang sudah mulai bersiap melangkah mengikuti Mira.

__ADS_1


Namun baru sebuah langkah dirinya ambil, penglihatan Zen mulai menatap bayi yang saat ini menatapnya dengan tatapan polosnya dan sedang digendong oleh seorang wanita. Zen kembali membulatkan matanya karena terkejut melihat bayi itu, karena memang Bayi itu memiliki aura yang sama dengan Ana.


“Ah... perkenalkan Aku Aghata Kakak Ipar, Istri kedua dari Mikhael. Dan ini putra kami Levon ”


__ADS_2