
Saat ini beberapa orang sudah duduk disebuah meja makan dan sedang menikmati waktu mereka bercengkrama bersama. Namun ada satu orang yang terlihat bersemangat saat ini, yaitu Zen yang sedang menggendong seorang bayi kecil yang imut dan menemani seorang gadis makan ice cream yang duduk disebelahnya.
“Aku tidak menyangka akan bertemu dengan kalian secepat ini” ucap Zen kepada kedua wanita yang sedang duduk pada meja makan yang sama dengannya.
Tentu Zen mengetahui tentang istri-istri dari semua adiknya saat diberitahukan oleh Uriel dulu. Namun Zen tidak menyangka dirinya akan bertemu dengan mereka secepat ini, karena memang rencananya Zen berniat menemui mereka di Vatikan, walaupun dirinya tidak tahu kapan dirinya akan pergi ke sana.
“Kami juga sangat senang bertemu denganmu Kakak Ipar” ucap Aghata, istri kedua Mikhael.
“Lalu, dimana Levia? apakah dirinya tidak datang bersama kalian?” tanya Zen kembali.
“Levia sedang mengandung Kakak Ipar, jadi kami memutuskan untuk tidak mengajaknya karena kehamilannya masih ditahap awal dan sangat rentan saat ini” balas Valana menjawab perkataan dari Zen.
Mikhael memiliki tiga orang istri, yang dimana dua diantaranya saat ini sedang bersama Zen ditempat ini. Istri ketiganya Levia memang sangat ingin mengikuti para Kakak-kakaknya, namun sayangnya kehamilan seorang manusia yang mengandung bayi seorang pemilik kuasa sangatlah rentan.
Jadi mau tidak mau, Levia mengurungkan niatnya untuk ikut dan memfokuskan dirinya dalam menjaga kandungannya. Lagipula dirinya sudah menanti anak kandung yang dilahirkan dari rahimnya sendiri selama ini, untuk menyusul kedua Kakak-kakaknya itu yang sudah memiliki anak dari suaminya.
“Ya... apa boleh buat. Karena kekuatan kami sangat besar, jadi sangat beresiko mengandung anak-anak dari kami bagi kalian para manusia” ucap Zen.
“Lalu, berapa umur keponakan Paman yang imut ini?” Ucap Zen yang mengalihkan perhatiannya kepada Ana sambil mencubit pipinya yang sangat imut itu.
“Aku berumur 672 tahun Paman” ucap Ana kemudian.
“Ho... Paman kira kamu masih berumur lima ratusan” ucap Zen.
Perbedaan umur manusia dengan Ana atau anak-anak para Deadly dan Heavenly sins memang sangat berbeda. Jika anak para pemilik kuasa berumur 100 tahun, maka dirinya baru akan bertumbuh menjadi seorang berumur satu tahun usia manusia.
Maka dari itu, Ana yang berumur 672 tahun saat ini, mempunyai rupa seperti anak-anak berusia 6 tahun di dunia ini.
“Lalu, pria tampan ini berumur berapa tahun?” ucap Zen kemudian sambil menggelitik balita yang sedang dia gendong itu.
__ADS_1
“312 Paman” begitulah suara tiruan anak kecil yang dibuat oleh Agatha untuk menjawab pertanyaan dari Zen, karena balita yang berada dipangkuan dari Zen sedang di gelitiki olehnya.
Zen cukup senang melihat keluarga adiknya sudah bertumbuh, karena memang Zen sangat menyayangi semua keluarganya. Bahkan saat masih tinggal di Neraka, Zen sangat disayangi oleh semua adiknya karena memang dirinya sangat baik kepada mereka semua.
Jadi, Zen cukup senang melihat ada keluarga baru yang dimilikinya dan sangat amat menyenangkan untuk bisa menyenangkan mereka, karena itulah yang diinginkan Zen selama ini, yaitu keluarganya yang hidup dengan baik dan tentram bersamanya.
“Lalu, apakah Mikhael tidak memberikan instruksi kepadaku tentang barang apa yang harus aku beli. Karena saat ini aku bergerak karena penglihatannya yang menuntunku ketempat ini” tanya Zen kepada kedua istri dari Mikhael.
“Hahh... kami juga tidak tahu Kakak ipar. Tetapi suamiku berkata pastikan untuk mendapatkan barang tersebut apapun yang terjadi” balas Aghata.
“Hm... jadi tidak ada petunjuk ya. Lalu apakah dia memberi tahu kalian tentang ciri-ciri barang yang harus aku dapatkan?” tanya Zen kembali.
“Sayangnya tidak ada Kakak ipar, karena Suami kami hanya merasakan kehancuran saat benda itu berada ditangan yang salah” ucap Valana kemudian.
Karena Mikhael merupakan seorang Chastity atau kasih, jadi dirinya sangat peka dengan namanya kehendak yang menuntun seseorang kearah kebaikan. Jadi sesuatu yang bisa membuat kehendak kebaikannya terhalang, dirinya langsung bisa merasakannya.
Benda tersebut dipastikan mempunyai aura negatif, karena dirinya bisa menyebabkan kehancuran. Dan dari semua orang yang dikenal oleh Mikhael yang paling baik mengidentifikasi aura negatif merupakan Kakaknya sendiri. Jadi Mikhael memutuskan untuk membiarkan Zen yang menangani kasus tersebut.
“Hm... jadi sebuah benda ya. Apakah itu senjata atau semacamnya?” gumam Zen sambil mencoba menerka barang apa yang harus dirinya temukan itu.
Zen memiliki banyak senjata yang berasal dari aura negatif dan semua benda itu amat sangat berbahaya jika jatuh ke tangan para manusia. Masalahnya semua senjatanya dahulu sudah hancur karena dihancurkan oleh ayahnya Sang Pencipta, jadi tidak mungkin senjata itu bisa jatuh ke dunia ini.
Jadi Zen masih bingung, benda apa yang harus dicarinya dan bisa membuat dunia ini akan mengalami kekacauan jika benda tersebut berada ditangan orang yang tidak bertanggung jawab.
“Kapan lelangnya akan dimulai Mira?” tanya Zen kepada Mira yang sedari tadi hanya memperhatikan percakapan mereka.
“Dua hari lagi Tuan” balas Mira.
“Kalau begitu besok hantarkan aku menuju tempat dimana lelang itu berlangsung, karena aku malas membuka segel yang mengekangku hanya untuk merasakan sesuatu” ucap Zen yang sudah membuat rencana untuk mencari benda itu secepat mungkin.
__ADS_1
Memang Zen saat ini sebisa mungkin tidak menggunakan kekuatan yang sedang dirinya segel, karena memang dirinya berniat menyembunyikan kekuatannya yang sebenarnya kepada siapapun.
Zen paham bahwa masih ada mahluk yang sangat kuat di dunia ini termasuk para Dewa. Namun Zen memutuskan untuk tetap tampil merendah, walaupun dirinya tahu jika dirinya membuka sepenuhnya segel yang menyegel kekuatannya, tidak ada mahluk yang bisa menandingi kekuatannya di dunia ini.
“Ana mau ikut!” teriak Ana bersemangat yang ingin melihat pamannya itu akan bekerja.
“Aku juga.. aku juga” ternyata bukan cuma Ana yang bersemangat, melainkan Balita yang sedang digendong oleh Zen mulai berucap beberapa kata, sambil menggerakkan seluruh tubuhnya menandakan dirinya juga ingin ikut dengan Zen.
“Iya... Iya... Paman akan mengajak kalian semua” ucap Zen kemudian.
Tentu perkataanya itu membuat kedua orang anak kecil yang duduk bersamanya itu langsung senang. Bahkan Balita yang sedang digendong oleh Zen terus saja tertawa menandakan dirinya juga bersemangat dengan perkataan Zen tadi.
.
.
Disisi lain, tiga pria dewasa saat ini sedang berada didalam sebuah kamar hotel yang mereka sewa dan sedang membicarakan sesuatu. Dari tampang mereka saat ini, bisa terlihat mereka cukup senang karena akhirnya mereka mendapatkan sebuah petunjuk tentang mahluk yang sedang mereka cari.
“Ya... tidak sia-sia dua bulan kita berada ditempat ini” ucap salah satu dari mereka.
“Hahahaha.. pasti pemimpin akan senang dengan hasil yang kita dapatkan saat ini” balas salah satu dari mereka.
“Yap... tetapi kita harus pastikan bahwa mahluk tersebut ada ditangan kita” ucap seorang lagi.
Mereka saat ini berhasil menemukan mahluk yang memang ditugaskan kepada mereka untuk ditemukan. Dengan susah payah mencari selama dua bulan lamanya ditempat ini tanpa petunjuk apapun, akhirnya mereka berhasil menemukannya.
Dengan perasaan bahagia, saat ini mereka bertiga mulai menyusun rencana untuk menculik mahluk tersebut, karena memang mahluk itu saat ini sedang dijaga dengan ketat oleh beberapa penjaga dimana tempat dirinya berada.
“Ya... kita harus mendapatkan dirinya”
__ADS_1