Ex-Harem Lord

Ex-Harem Lord
Keuntungan Berkah


__ADS_3

Saat ini Zen dan Angel sudah memasuki sebuah pusat perbelanjaan terbesar di kota Malet ini. Dengan Angel yang berjalan berdampingan dengan Zen, mereka akhirnya mulai menelusuri gedung yang sangat besar itu bersama.


Tentu Zen saat ini hanya mengikuti saja kemana Angel membawanya, karena dirinya sebenarnya sangat malas melakukan kegiatan seperti ini, apalagi tempat ini cukup berisik dan terlalu ramai sehingga membuat dirinya merasa tempat ini sama sekali tidak cocok untuk dirinya yang sangat menyukai ketenangan.


“Baiklah, lebih baik kita memesan tiket bioskop terlebih dahulu, lalu kita melanjutkan berkeliling ditempat ini” Kata Angel yang bersemangat dan mengajak Zen menuju kesebuah tempat pertama dari beberapa tempat yang sudah direncanakan oleh Angel saat bersama dengan Zen hari ini.


Zen hanya diam dan mengikuti perkataan Angel saja, karena memang dirinya hanya menemani dirinya disini, atas permintaan dirinya. Tetapi berbeda dengan Angel yang sangat amat bersemangat dengan apa yang sedang dia lakukan saat ini.


Sebuah eskalator akhirnya membawa pasangan itu menuju kesebuah lantai dengan bau popcorn yang khas yang bisa dicium dari sana. Angel yang bersemangat tentu saja langsung menarik Zen untuk menuju kesebuah loket dan membeli tiket untuk menonton sebuah film bersama.


“Tunggu perasaan apa ini” gumam Zen setelah merasakan sesuatu yang memasuki tubuhnya yang membuatnya sedikit nyaman.


Sesuatu yang memasuki diri Zen merupakan sebuah aura yang berasal dari Angel. Entah apa dan mengapa aura tersebut memasuki diri Zen, tetapi aura tersebut bisa membangkitkan beberapa kekuatan kemahakuasaan miliknya, walaupun apa yang dia rasakan saat ini masihlah sangat amat lemah.


“Ah sudahlah... lebih baik aku mengikuti saja alur yang sudah terjadi hari ini” gumam Zen kembali, yang cukup malas memikirkan apa yang sedang terjadi kepadanya dan membiarkannya saja hal tersebut terjadi.


Angel yang bersemangat tentu saja tidak memperhatikan ekspresi Zen yang seperti sedang memikirkan sesuatu, bahkan saat ini Angel tidak tersadar bahwa tangannya sedang menarik Zen untuk mengikutinya dengan cara menggenggamnya.


Antrian tempat itu memang masihlah pendek karena tempat itu masih pagi dan belum sepenuhnya buka, tetapi untuk penjualan tiket tempat itu sudah membukanya dan membuat beberapa orang sudah berada di sana untuk memesannya.


“Bukankah saat ini ada yang namanya pemesanan online Angel, mengapa kita repot-report melakukan ini?” tanya Zen yang kebingungan melihat dirinya yang merupakan sebuah perwujudan sifat malas saat ini sedang mengantri untuk membeli sebuah tiket bioskop.


“Bukankah ini menyenangkan Kak. Kita membeli tiket besama, lalu nonton bersama dan jalan-jalan bersama?” balas Angel kemudian yang saat ini langsung menatap Zen dengan raut wajah yang bisa terlihat sangat bahagia dengan apa yang sedang dia lakukan ini.


“Ya.. Ya... terserah kamu saja.” Balas Zen yang malas untuk beradu mulut dengan seseorang yang mempunyai aura positif memenuhi dirinya.


“Kakak mau menonton film apa?” tanya Angel kemudian sambil menunjuk beberapa poster film yang terpampang di atas tempat pembelian tiket ditempat tersebut.

__ADS_1


“Aku akan mengikuti dirimu saja” Balas Zen dengan nada malasnya, karena memang dirinya tidak berniat melakukan itu semua.


Angel tidak mempermasalahkan jawaban Zen yang menggunakan nada malasnya yang khas, karena memang dirinya sudah terbiasa mendengarnya. Tetapi dirinya cukup senang bahwa hari ini Zen akan mengikuti semua pilihannya.


“Hmmm... perasaan ini lagi” gumam Zen.


Zen akhirnya mulai paham sekarang, bahwa apa yang dia lakukan untuk menyenangkan Angel saat ini akan berdampak langsung kepadanya. Entah apa yang terjadi dan membuatnya seperti itu, tetapi menurut Zen jika ini terus terjadi akan menguntungkan bagi dirinya.


“Selanjutnya!” teriak seorang penjual tiket yang memanggil antrian selanjutnya.


Akhirnya antrian yang sedang diikuti Angel dan Zen sudah berakhir. Setelah mereka berdua maju dan ditanyai ingin memesan tiket film apa yang ingin mereka tonton, Angel memilih untuk memesan dua buah tiket film bertema zombie yang sedang populer saat ini untuk dirinya dan Zen.


Setelah membayar pesanannya, Angel memutuskan untuk mengajak Zen untuk berkeliling pusat perbelanjaan ini sejenak, karena memang waktu tayang film yang dipesannya masihlah sangat lama, dan membuat dirinya memiliki waktu untuk sekedar berkeliling ditempat ini.


“Sekarang kita kemana ya...” gumam Angel sambil memperhatikan area sekitar saat dirinya keluar dari area bioskop.


Zen tentu saja langsung mengikuti kemana arah Angel membawanya. Bukan karena kemauannya, melainkan dirinya sedang ditarik oleh Angel dan membuatnya terpaksa harus mengikuti dirinya.


“Ya... sudah lama aku tidak kemari” balas Angel yang mulai mengenang masa lalunya.


Sebenarnya Angel saat kecil hidup dengan berkecukupan hingga dirinya bisa bermain ketempat ini dahulu. Namun sayangnya, karena Ayahnya yang suka berjudi dan Ibunya meninggal, maka dari itu kehidupannya mulai berantakan saat itu.


Zen yang berdiri disebelahnya juga mulai merasakan aura negatif yang sangat aneh. Namun saat dirinya mencari asal aura negatif tersebut, Zen cukup terkejut bahwa aura itu berasal dari Angel. Tetapi untungnya, karena aura positif dari Angel lebih dominan, akhirnya aura negatif itu mulai hilang dan membuat Zen sedikit lega, karena sepertinya dirinya tidak harus melakukan apapun untuk menenangkan Angel saat aura negatif itu muncul.


“Ayo masuk Kak... kita bermain” balas Angel dan langsung menyeret Zen masuk kedalam pusat permainan yang ada di pusat perbelanjaan yang mereka masuki tersebut, tanpa mendengar jawaban Zen dari ajakan yang baru saja dia lontarkan kepadanya.


Angel yang masih menarik Zen saat ini sudah berada disebuah tempat pertukaran koin. Tentu saja Angel yang menukarkan uangnya, karena Zen masih melihat sekeliling dari tempat tersebut dan tidak menghiraukan apa yang sedang dilakukan oleh Angel.

__ADS_1


“Ayo Kak.. kita coba satu-satu permainan yang berada disini” balas Angel bersemangat yang kembali menarik Zen untuk beranjak dari sana dan mengikutinya.


Permainan pertama merupakan sebuah mesin yang banyak sekali boneka didalamnya dengan sebuah capit pada bagian atasnya. Zen bisa melihat beberapa orang sangat frustasi memainkan permainan itu dan seketika membuatnya bingung.


“Mengapa kalian terus memainkan benda itu kalau hal itu membuat kalian frustasi” gumam Zen yang merasa bingung dengan perilaku manusia yang sedang dilihatnya.


“Karena itu menyenangkan Kak” Namun kali ini Angel yang menjawab pertanyaan Zen, karena kali ini dirinya mendengar perkataannya.


Pasangan yang memainkan permainan tersebut akhirnya beranjak dari sana karena tidak mendapatkan apa yang mereka mau, dan akhirnya Zen dan Angel mempunyai kesempatan untuk memainkan permainan tersebut.


Angel yang bersemangat tentu saja mulai memasukan sebuah koin dan bersiap mengambil boneka yang dia inginkan. Setelah memasukan koinnya, saat ini Angel mencoba membidik sebuah boneka beruang berwarna cokelat yang ukuran cukup besar.


Tentu saja percobaan pertamanya gagal dan Angel kembali memasukan koinnya kembali dan memainkan permainan itu sekali lagi. Disisi lain, Zen yang berada disampingnya saat ini hanya memperhatikan saja kegiatannya, karena memang dirinya sangat tidak tertarik dengan apa yang sedang dilakukan oleh Angel.


“Cih... wajarlah dirinya tidak mendapatkan apapun, karena benda ini tidak diatur seperti semestinya” gumam Zen yang merasakan permainan capit di depanya sengaja dibuat agar banyak orang akan gagal mendapatkan apa yang mereka inginkan.


“Ah... susah sekali” kata Angel yang sudah mulai frustasi dengan apa yang sedang dia lakukan setelah menghabiskan beberapa koin permainan miliknya.


“Ini yang terakhir” gumam Angel yang saat ini menggenggam dengan erat sebuah koin yang akan dia masukan kedalam mesin capit tersebut.


“Ayolah... boneka beruang... ayolah...” gumam Angel sambil mengarahkan capit yang saat ini dia kendalikan untuk menggapai hadiah yang dia inginkan.


Tetapi bisa dibilang, karena mesin didepannya sudah disetting tidak semestinya seperti apa yang dirasakan oleh Zen, kali ini Angel kembali gagal dan memutuskan untuk menyudahi bermain permainan itu dan mencoba permainan lain.


Tetapi saat dirinya akan beranjak dari sana, seorang pria mulai mendekati dirinya dan memberikannya senyum manisnya kearah Angel.


“Boneka mana yang kamu inginkan gadis cantik”

__ADS_1


__ADS_2