
Zen mulai mencekik seorang pria yang saat ini berada pada genggamannya. Dengan langsung mematahkan lehernya dan memutuskan nyawanya, saat ini Zen mulai melihat keadaan sekitar tempat dimana dirinya berada, sebelum dirinya langsung membuang mayat yang berada di genggamannya kebawah lantai tempatnya berpijak.
Mayat-mayat bisa dikatakan mulai berserakan karena ulahnya, apalagi saat ini dirinya membunuh beberapa orang yang berada ditempat ini dengan sangat brutal. Tanpa ada rasa ampun sedikitpun, dirinya langsung membunuh semua pihak yang memang menghalangi langkahnya dalam memasuki tempat ini.
Hingga setelah dirinya membasmi seluruh pihak yang berada ditempatnya berada saat ini, Zen mulai mendekat kearah seorang gadis yang saat ini sedang terduduk ditempatnya, dan terlihat sangat ketakutan dengan semua hal yang sudah terjadi ditempat ini.
Tentu ada rasa teror dari wanita yang terlihat sedang shock tersebut. Memang kejadian tadi, merupakan kejadian yang sangat mengenaskan yang pernah dirinya alami. Apalagi dirinya tidak tahu apa yang akan terjadi kepada dirinya, jika memang Zen tidak datang menyelamatkan dirinya ditempat ini.
Maka dari itu, melihat sosoknya yang saat ini mulai mendekat kearah dirinya, wanita itu mulai bernafas dengan lega, apalagi situasi yang dirinya alami tadi hampir saja membahayakan dirinya jika Zen benar-benar tidak datang menyelamatkan dirinya tadi.
"Kamu bisa berdiri?" Dan begitulah ucapan dari Zen yang menjulurkan tangannya untuk membantu wanita yang terduduk ditempatnya tersebut, untuk membantu wanita itu bangkit dari tempatnya.
Wanita itu hanya mengangguk saja menjawab perkataan Zen. Hingga saat ini dirinya mulai meraih tangan dari pria tersebut dan mulai bangkit dari tempatnya berada. Melihatnya sudah bangkit, tentu saat ini Zen langsung memperhatikan keadaan sekitar tempat mereka berada saat ini kembali, untuk memastikan keadaan mereka.
Bisa dikatakan saat ini dirinya mulai masuk kedalam sebuah kekacauan yang sebenarnya sangat dirinya hindari. Namun karena sebuah situasi yang memaksanya untuk turun langsung menangani permasalahan tersebut, mau tidak mau Zen saat ini berada ditempat ini sendirian dalam membantu pihak yang saat ini dirinya selamatkan.
"Hmmm... ternyata masih banyak yang mengincar dirimu" ucap Zen yang saat ini mulai meraih tangan wanita yang dirinya selamatkan itu, dan langsung menyeret dirinya untuk membawanya keluar dari sana.
Zen dengan bergegas langsung mengajaknya pergi karena saat ini bisa dikatakan banyak pihak yang akan terus datang dan mungkin menyerang mereka, jika mereka tetap berada di sana dan tidak langsung melarikan diri dari tempat mereka berada saat ini.
Apalagi, Zen lebih memilih menyelamatkan wanita itu terlebih dahulu daripada harus menghadapi pihak-pihak yang jumlahnya banyak tersebut, karena bisa dikatakan dirinya sudah cukup kesusahan melawan mereka ditempat ini, apalagi kondisi keadaan wilayah tempat dimana dirinya berada saat ini sangatlah aneh bagi dirinya.
Zen tentu harus bermain dengan cermat dalam menghadapi situasi ini. Maka dari itu, dirinya lebih memilih untuk menjebak beberapa pihak yang memang saat ini datang mengincarnya, daripada turun langsung menghadapi mereka yang notabennya mengincar sesuatu dari seseorang yang sedang dirinya lindungi itu.
Dan juga menurut Zen, dirinya tidak bisa langsung bertindak sangat bar-bar dalam menghadapi mereka. Apalagi misi yang dirinya lakukan ditempat ini adalah agar keberadaannya tidak diketahui oleh siapapun. Maka dari itu, demi menyembunyikan keberadaannya, Zen memutuskan untuk bergerak dengan sangat amat berhati-hati.
"Ayo bergegaslah. Kita tidak mempunyai waktu lagi" balas Zen yang memperingati wanita yang bersamanya itu untuk terus bergerak, karena kesempatan mereka untuk bisa melarikan diri tanpa ketahuan dari tempat ini sangatlah kecil jika mereka terus mengulur waktu.
"L-Lalu bagaimana dengan P-Pamanku?" ucapnya yang bersikeras menemukan keberadaan Pamannya, yang memang menjadi pihak yang sebelumnya menyelamatkan dirinya untuk pertama kalinya.
"Maafkan aku. Tetapi, aku tidak bisa melakukan apapun dengan kondisinya" ucap Zen yang saat ini memaksanya untuk terus mengikutinya dan melarikan diri dari sana.
Karena situasi yang sangat genting itu, mau tidak mau wanita yang bersama Zen itu hanya mengikuti langkahnya saja yang akan beranjak dari sana. Apalagi suara berisik dari arah belakang mereka semakin terdengar, yang menandakan bahwa beberapa pihak kembali mendatangi mereka dan berniat menyerang mereka.
Langkah kaki mereka tentu langsung terdengar karena akhirnya mereka juga beranjak dari sana. Mayat-mayat yang sudah tidak berbentuk lagi kondisinya saat ini bisa dilihat dengan jelas dalam perjalanan mereka. Apalagi mereka melewati tempat yang memang dilewati oleh Zen sebelumnya dengan cara dirinya menerobos masuk kedalamnya.
__ADS_1
Hingga sosok kedua orang itu hanya melewati saja beberapa mayat yang sudah Zen bunuh sebelumnya, dan sampailah mereka pada sosok mayat yang sudah tergeletak tak bernyawa, yang memang langsung membuat sedih sang wanita yang diselamatkan oleh Zen keberadaannya saat ini.
Dunianya seakan runtuh saat melihat pemandangan itu, apalagi selama ini pria itu sudah dianggap sebagai Ayahnya sendiri, dan dirinya malah tewas ditempat ini dengan mengorbankan nyawanya sendiri hanya untuk menyelamatkan dirinya ditempat ini.
"Paman..." begitulah gumaman dari Jane disaat melihat orang yang selama ini melindunginya sudah tewas tak bernyawa, karena tindakannya yang mencoba menyelamatkan dirinya tadi.
Air matanya bisa dikatakan langsung menetes dengan deras dari matanya, yang menandakan bahwa dirinya sangat amat kehilangan sosok tersebut. Bahkan dirinya sempat tidak memperdulikan lagi hidupnya dan ingin mati bersama pria itu ditempat ini.
Namun dirinya mulai menyadari sesuatu. Karena jika dirinya memutuskan untuk mati ditempat ini, maka pengorbanan Pamannya ditempat ini akan sia-sia, dan dipastikan keputusannya itu akan mengecewakan banyak pihak yang memang berharap banyak kepada dirinya untuk tetap hidup dengan bebas.
"Sudahlah... kita tidak bisa melakukan apapun terhadap mayatnya. Biarkan dirinya tenang beristirahat ditempat ini" ucap Zen yang saat ini langsung menenangkan Jane dan langsung menyeret kembali sosoknya untuk keluar dari sana.
Sedih memang situasi dari Jane saat ini, karena belumlah dirinya sempat mengucapkan kalimat perpisahan pada mayat dari sosok yang sudah dirinya anggap sebagai Pamannya itu, Zen terus saja menyeretnya untuk keluar dari sana, untuk menghindari kejaran dari beberapa pihak yang sedang mengincar keberadaannya saat ini.
Apalagi jika mereka terus saja membuang waktu, bisa dikatakan apa yang mereka lakukan sangatlah sia-sia untuk dapat melarikan diri tanpa diketahui oleh siapapun. Maka dari itu, Zen dengan terpaksa terus menyeret wanita yang sudah dirinya selamatkan itu untuk terus melangkah mengikuti langkahnya yang berusaha melarikan diri itu.
"Tunggu..." Hingga akhirnya mereka berdua tepat berada di persimpangan sebuah koridor, sehingga Zen menghentikan pelarian mereka sejenak karena merasakan sesuatu dari baliknya.
Dengan mengeluarkan dager dari dalam kantongnya, saat ini Zen bersiap menyergap pihak yang dirinya rasakan kehadirannya. Hingga akhirnya dua sosok pria saat ini mulai muncul dihadapan Zen pada belokan koridor tersebut, namun mereka langsung dilumpuhkan dengan cepat oleh Zen dengan langsung membunuh mereka.
Tanpa pandang bulu, Zen langsung menancapkan dager miliknya pada bagian kepala dari kedua pria tersebut agar langsung menewaskan mereka berdua. Hingga setelah suara mayat mereka yang tergeletak dilantai mulai terdengar, Zen akhirnya kembali menggenggam tangan Jane dan langsung membawanya beranjak dari sana.
Zen terus menyusuri lorong-lorong dari koridor tempat mereka berada. Dengan menghindari jebakan dan para penjaga yang memang mengawasi tempat ini, membuat mereka memutuskan untuk dengan segera keluar dari sana, untuk melarikan diri dari tempat tersebut.
Bahkan Jane yang pada awalnya sedikit terkejut dengan semua kejadian yang sudah dirinya alami, tanpa pikir panjang terus mengikuti langkah Zen yang saat ini terus menyeretnya agar bergerak dengan cepat, karena sepertinya situasi mereka saat ini semakin gawat.
Sepertinya pelarian yang sedang mereka lakukan sudah mulai diketahui, karena bisa didengar langkah kaki yang seakan sedang bergerak dengan sangat cepat seakan menyusul mereka. Tentu tidak seperti sebelumnya, sepertinya saat ini seluruh pihak yang memang berada didalam gedung ini sudah mengetahui tentang keberadaan mereka yang sedang melarikan diri.
"Hahh... sepertinya ini ujungnya" Hingga Zen saat ini memutuskan untuk merangkul Jane, mulai membuat mereka melompat dari jendela dari gedung tempat mereka berada saat ini.
Tidak ada jalan lain lagi yang bisa mereka lewati pada pelarian yang mereka lakukan. Jadi, Zen memutuskan akan melalui sebuah jalan pintas untuk membantunya beranjak dari sana. Apalagi saat ini, keberadaan dirinya dan Jane seakan sudah terkepung dan dirinya memutuskan untuk melewati jalan pintas tersebut.
Jane cukup terkejut dengan langkah Zen yang membawanya kabur melalui jendela yang sudah mereka lompati itu, karena mereka melompat melalui sebuah jendela yang berada pada lantai 20 dan saat ini mereka mulai melompat turun kebawah untuk melarikan diri dari pihak yang memang mengejar mereka.
Jane tentu hanya mengeratkan rangkulannya kepada Zen karena saat ini mereka dengan cepat jatuh kebawah. Hingga momentum jatuh mereka saat ini mulai berhenti dan saat ini Zen langsung meraih tangannya untuk langsung melarikan diri dari sana kembali setelah mereka mendarat dengan sangat mulus tadi.
__ADS_1
Jane juga tidak sempat beraksi dengan semua tindakan yang sudah terjadi dan dialami olehnya. Karena saat ini memang fokus utama dari mereka adalah untuk melarikan diri dari sana dengan cepat, dan sebisa mungkin menyembunyikan diri mereka dari pihak-pihak yang memang mengejar mereka sedari tadi.
Apalagi mereka juga tidak ingin pelarian mereka saat ini malah ketahuan dan kejadian kejar-kejaran ini akan terus berlanjut dan membuat mereka akan mengalami sebuah kesulitan nantinya, jika mereka tidak dengan segera langsung beranjak dari tempat ini.
"Ya... setelah melewati pagar ini kita bisa bebas sepenuhnya" ucap Zen yang saat ini kembali merangkul Jane dan mulai mengajaknya melompati pagar yang sangat tinggi itu dan mulai sepenuhnya melarikan diri mereka dari sana.
Keberhasilan mereka berdua melewati pagar yang tinggi tersebut bisa dikatakan merupakan garis finis bagi mereka dalam melakukan pelarian, dari pihak-pihak yang sepertinya masih belum menyadari bahwa mereka sudah lolos sepenuhnya dari area tempat dimana Jane berada sebelumnya.
Tentu Zen dan Jane terus melarikan diri untuk menjauh dari area tempat mereka melarikan diri tersebut, karena situasi mereka belum aman sepenuhnya. Hingga saat ini mereka mulai memasuki area hutan yang sangat lebat, karena memang area tempat mereka melarikan diri tersebut berada tepat ditengah sebuah hutan.
Hingga setelah mereka sudah sangat jauh, akhirnya Zen mulai menghentikan langkahnya dan membiarkan wanita yang bersamanya itu beristirahat sejenak, karena bisa terlihat dirinya sudah sangat kelelahan dengan pelarian yang mereka lakukan sedari tadi.
Apalagi dengan keadaan aneh dari wilayah tempat dimana Zen berada sekarang, membuat dirinya dengan tepaksa tidak menggunakan kekuatan apapun dalam menyelamatkan sosok wanita tersebut. Maka dari itu, pelarian mereka saat ini tentu menjadi tantangan tersendiri bagi mereka, khususnya bagi Jane yang merupakan manusia biasa pada umumnya.
"Hahh... Hahh... Hahh..." dan begitulah tarikan nafas Jane yang terus memburu, setelah dirinya sama sekali tidak sempat beristirahat saat mereka melarikan diri tadi.
"Ini minumlah" ucap Zen yang memberikan sebotol air mineral kepada wanita yang sudah dirinya selamatkan itu.
Tentu dengan melihat sesuatu yang sangat dirinya butuhkan, Jane langsung mengambil botol air mineral tersebut dan langsung meneguknya lalu menghabiskannya secara langsung isi dari botol air mineral itu. Apalagi dirinya sangat amat kehausan setelah melakukan pelarian yang sangat amat melelahkan tadi.
Namun setelah meneguk habis minuman yang diberikan oleh Zen, saat ini wanita itu mulai menatap Zen dengan tatapan yang tajam. Namun dirinya tidak serta merta bisa menyalahkan pria tersebut dan saat ini mulai menundukkan kepalanya, lalu saat ini mulai menangis setelah mengingat kejadian yang dirinya alami tadi.
"Kenapa kamu tidak menggunakan kekuatanmu? Dan juga kenapa kamu terlambat? Jika saja kamu datang lebih cepat, saat ini Paman mungkin masih hidup" ucap Jane yang saat ini mulai menangisi kepergian Pamannya yang sudah tewas pada saat menyelamatkan dirinya.
"Pamanmu sudah tidak bisa diselamatkan lagi, walaupun aku datang tepat waktu menyelamatkannya. Apalagi dirinya sudah menjadi incaran dan dipastikan akan tewas cepat atau lambat. Maka dari itu, dirinya mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan dirimu tadi" balas Zen dan langsung membuat Jane semakin histeris dibuatnya.
Ji Shin kedoknya yang merupakan Kultivator putih sudah diketahui oleh seluruh pihak. Apalagi dirinya yang terang-terangan melindungi aset berharga yang dibutuhkan oleh sesosok pihak, semakin membuat dirinya menjadi musuh semua pihak yang mengincar dirinya.
Dengan sosoknya yang sudah ditandai oleh sebuah kemampuan pelacak dari pihak musuhnya, membuat Ji Shin tidak akan lagi bisa hidup dengan bebas karena dirinya akan menjadi buruan dari beberapa pihak. Jadi, keputusan itulah yang diambil oleh dirinya dalam membantu membuat Jane melarikan diri.
Tentu dengan menggunakan bantuan yang diberikan oleh Zen yang dirinya datangkan menggunakan kekuatannya, membuat dirinya bisa tenang untuk mengorbankan dirinya sendiri, karena menurutnya Zen bisa dengan aman membantu sosok Jane untuk keluar dari situasi yang sedang dirinya alami saat ini.
"Lalu, kamu mau membalas dendam?" ucap Zen yang saat ini melemparkan sebuah benda kepada Jane.
Jane dengan sigap menangkap benda tersebut. Apalagi pada awalnya dirinya tidak tahu benda apa yang sudah dirinya terima itu, hingga dirinya menyadari benda apa itu. Bentuknya terlihat sedikit familiar dan Jane langsung menatap Zen untuk meminta konfirmasi dari apa yang dirinya perkirakan tersebut.
__ADS_1
Zen hanya tersenyum saja melihat wanita itu akhirnya mulai menyadari benda yang dirinya berikan itu. Karena bisa dikatakan, pada sela-sela pelarian mereka tadi, Zen memang melakukan sesuatu untuk dapat membuat jejak pelarian mereka pada gedung tempat mereka berada tadi benar-benar musnah sepenuhnya.
"Ya... itu Detonator. Dan aku sudah menanamkan berbagai bahan peledak pada bangunan tadi"