
Lima orang sudah duduk pada meja makan pada sebuah Villa, dimana mereka berkumpul setelah mereka sudah kembali dari kegiatan yang mereka lakukan tadi. Namun beberapa dari mereka masih merasa terkejut dengan apa yang baru saja mereka dengar.
“Jadi, Tuan hanya menandai dirinya saja?” ucap Mira setelah mendengar perkataan dari Zen tadi.
“Ya... Karena dirinya merupakan seorang yang unik, jadi aku menandai dirinya dengan aura kegelapan milikku” balas Zen kemudian.
“J-Jadi Kakak Ipar bukan menandainya karena Kakak menyukainya?” balas Valana kemudian.
“Benar. Aku tidak sengaja bertemu dengannya dulu. Karena dirinya merupakan manusia setengah dewa jadi aku menandainya, karena aku cukup jarang menemui orang seperti dirinya” balas Zen yang cukup kebingungan kenapa ketiga wanita yang duduk pada meja makan yang sama dengannya mulai menanyakan berbagai hal tentang seorang wanita.
Yang mereka perbincangkan saat ini yaitu mereka tidak sengaja merasakan sebuah aura yang akrab dari seorang wanita yang mereka temui tadi. Aura tersebut berasal dari Zen dan mereka mengira wanita itu sangat spesial bagi Zen karena dirinya menandai wanita itu dengan aura kegelapan miliknya.
Maka dari itu, mereka menyambut baik permintaan dari wanita yang mempunyai aura dari Zen pada tubuhnya. Tetapi mereka tidak menyangka aura tersebut diberikan oleh Zen karena dirinya hanya ingin menandai dirinya saja, karena dirinya merupakan keturunan yang unik.
“Hahh... tahu begitu aku tidak akan mengiyakan permintaannya tadi” ucap Mira kemudian.
“Memangnya dirinya meminta apa?” tanya Zen kembali.
“Bukan dirinya yang memintanya Kakak Ipar, tetapi atasannya” balas Valana yang membalas pertanyaan yang dilontarkan Zen itu.
Memang karena mengetahui bahwa perusahaan hiburan terbesar di dunia ini sudah berada pada naungan perusahaan Darkness, tentu Vero langsung berhubungan dengan Mira yang merupakan pemimpin perusahaan cabang Darkness yang berada di kota ini.
Karena Mira bisa merasakan aura tuannya pada bawahan dari Vero, akhirnya dirinya mengiyakan saja permintaannya yang ingin meminta pertemuan dan menunjukan proposal kerja sama dengan perusahaan yang sedang dirinya pimpin itu.
“Sudahlah. Kalau menurutmu permintaannya tidak menguntungkan bagimu, tolak saja” ucap Zen.
“Hahh.... baiklah. Aku akan bertemu dengannya besok dan melihat proposal yang dirinya tawarkan. Kalau itu menguntungkan aku akan terima kalau tidak aku akan tolak” ucap Mira sambil menyandarkan tubuhnya pada kursi yang sedang dirinya duduki.
__ADS_1
Mira sebenarnya cukup malas untuk meladeni mereka pada awalnya kalau tidak merasakan aura dari tuannya, karena memang jika dirinya bertemu dengan mereka besok, dipastikan dirinya akan berkerja lembur kemudian.
“Kalian berdua juga sangat hebat, bisa merasakan auraku dari wanita itu” ucap Zen kemudian kepada kedua adik iparnya itu.
“Semenjak kami diberi berkah kehidupan oleh Mikhael, entah mengapa kami bisa merasakan berbagai hal yang tidak pernah kami rasakan saat menjadi manusia dulu” jawab Valana.
Berkah kehidupan merupakan berkah yang membuat roda kehidupan dari seseorang berhenti. Jadi bisa dipastikan orang yang mendapatkan berkah ini akan selalu hidup dan tidak akan pernah mati kecuali memang berkah itu dicabut dari mereka.
Beberapa saudara Zen menggunakan berkah ini untuk membuat istri mereka bisa hidup abadi, termasuk kedua wanita yang duduk dihadapan Zen saat ini. Selain itu, berkah ini mempunyai kelebihan seperti membuat orang yang menerimanya lebih kuat dari rata-rata orang pada umumnya.
Selain kekuatan, semua indra mereka lebih tajam dan mungkin bisa dibilang mereka seperti seorang manusia super, yang berbeda dari manusia pada umumnya karena kekuatan yang mereka miliki tersebut.
“Tetapi kenapa kami tidak bisa merasakan aura kedewaan miliknya Kakak Ipar?” tanya Aghata kembali.
Memang mereka bisa merasakan berbagai aura termasuk aura dewa. Jadi kedua wanita itu cukup bingung mengapa mereka tidak bisa merasakan aura dewa dari Kelly saat bertemu dengannya tadi, dan hanya merasakan aura dari Zen saja.
“Kalung dengan ruby berwana hijau, bukankah itu artefaknya tuan?” tanya Mira yang mengingat kalung yang berwarna hijau yang melekat pada leher mulus dari Kelly saat mereka bertemu tadi.
“Yap... aku tidak tahu siapa yang memberikan artefak tingkat tinggi seperti itu. Tetapi wajar saja kalian tidak merasakan aura dewa yang dimilikinya, karena artefak itu bahkan bisa menyembunyikan auranya dari seorang Dewa bahkan dari suami kalian” ucap Zen.
“Lalu, bagaimana Kakak Ipar bisa merasakannya?” tanya Valana yang kebingungan mengapa Kakak Iparnya itu tetap bisa merasakan aura dewa dari Kelly kalau memang apa yang dikatakan oleh Kakak Iparnya itu benar.
“Karena aku seorang kematian” balas Zen singkat.
Dalam kematian, apapun yang tersembunyi akan selalu bisa terlihat olehnya. Apalagi Zen merupakan orang yang ditugaskan oleh semesta untuk menghakimi seluruh manusia yang mati atas semua tindakan yang diambil oleh mereka, saat menjalani kehidupan mereka di dunia ini.
Karena Zen harus menghakimi mereka, tentu saja dirinya harus mempunyai bukti untuk menindak seluruh manusia dengan adil dan benar. Tentu saja hal itu membuat Zen mendapatkan kekuatan absolut dari dunia ini untuk melihat semua rahasia yang tersembunyi dari seseorang yang akan mati kelak.
__ADS_1
“Sama seperti suami kalian dan para saudaranya. Mereka mempunyai kekuatan absolut untuk melihat nasib seseorang, karena mereka merupakan seorang yang ditugaskan untuk mengawasi kehidupan seluruh mahluk hidup di dunia ini” balas Zen yang mengakhiri penjelasan panjangnya itu.
“Hm... jadi Kakak ipar bisa dikatakan bisa melihat rahasia kehidupan dari seorang manusia bukan?” tanya Aghata kembali.
“Yap... bisa dikatakan seperti itu” ucap Zen sambil mengangguk.
Maka dari itu, tidak akan ada yang bisa tersembunyi dari penglihatan Zen, karena dirinya mempunyai kekuatan yang absolut untuk memperhatikan seluruh jiwa yang akan dihakimi oleh seluruh bawahannya, jika mereka akan meninggal kelak.
Akhirnya pembahasan tentang kekuatan mulai berakhir dan diakhiri dengan kelima orang tersebut mulai saling berbincang. Walaupun salah satu mereka hanya mendengarkan percakapan mereka karena memang sifatnya sangat pendiam.
“Terima kasih sekali lagi Kakak Ipar karena sudah membawa anak-anak kami berjalan jalan dan memberikan mereka dan kami hadiah” ucap Aghata sambil menunjukan kalung yang dirinya beli dari lelang tadi.
“Sama-sama. Lagipula cukup menyenangkan melakukan semua itu” balas Zen yang cukup terhibur saat menyenangkan kedua keponakannya yang saat ini sudah terlelap karena kelelahan.
“Lalu, apakah Kakak Ipar yakin tidak ingin mengikuti kami kembali menuju Vatikan? Bukankah Kakak ipar sangat senang bertemu dengan seluruh keluarga Kakak?” tanya Valana.
“Aku masih mempunyai beberapa urusan. Jadi aku tidak bisa mengikuti kalian karena aku harus menyelidikinya. Lagipula pasti aku akan mengunjungi kalian kelak karena aku ingin bermain dengan semua keponakanku” ucap Zen yang sudah merasa senang saat membayangkan dirinya dikelilingi oleh semua keponakannya yang imut.
“Ya... kami akan menunggu Kakak di sana. Dan kalau bisa saat Kakak ke sana bawalah pasangan Kakak, karena memang sampai saat ini hanya Kakak Ipar dan Azrael saja yang belum menikah” ucap Aghata.
“Tuan sudah mempunyai calon istrinya. Jadi pasti dirinya akan ke sana bersamanya” ucap Mira kemudian.
“Siapa? wanita bernama Angel itu?” tanya Valana kembali dan mendapatkan anggukan dari Mira.
Memang kabar tentang Zen meminta bantuan tentang masalah percintaannya yang dikonsultasikan kepada Kelani sudah tersebar luas di semua kalangan keluarga mereka. Jadi wajar jika mereka mengetahui tentang cerita tersebut.
“Heh... dirinya hanya aku anggap sebagai manusia yang bisa membuatku terhibur saja”
__ADS_1