
Pada sebuah mansion yang megah, sebuah keluarga konglomerat sedang melakukan makan siang mereka dengan sangat tenang. Dengan berbagai hidangan yang terlihat sangat amat lezat, saat ini mereka mulai menyantap makanan yang sudah disajikan oleh mereka itu dengan sangat menikmatinya.
Tidak ada yang spesial memang yang terjadi pada meja makan tersebut, karena bisa dilihat semua pihak yang sedang makan siang di sana seakan disibukan dengan kegiatan masing-masing, bahkan bisa dikatakan tidak ada kehangatan apapun yang terjadi pada meja makan tersebut.
Apalagi sebuah percakapan saja tidak terdengar di sana, karena semua keluarga itu lebih mementingkan ponsel mereka masing-masing sambil menyantap makan siang mereka, dan tidak menghiraukan siapapun yang saat ini sedang duduk bersama mereka untuk makan siang bersama.
Memang walaupun raga mereka bisa dikatakan berada di sana dan saling menyantap makanan mereka bersama pada satu meja, jiwa mereka seakan sudah teralihkan sepenuhnya pada layar ponsel mereka masing-masing, yang dimana mereka disibukkan dengan berbagai hal pada layar ponsel mereka tersebut.
"Lalu, bagaimana rencana dirimu untuk memikat wanita pujaan hatimu itu, Richard" hingga kepala keluarga dari keluarga konglomerat itu mulai angkat bicara, setelah dirinya mengingat sesuatu yang penting didalam benaknya yang harus dirinya tanyakan kepada Putranya.
Memang percakapan yang terjadi pada keluarga tersebut, bisa dikatakan hanya dilakukan jika memang ada sesuatu yang benar-benar penting untuk dibahas. Maka dari itu, keharmonisan dalam keluarga yang bisa dikatakan sangat amat makmur itu bisa dikatakan sangat tipis.
Kesibukan semua pihak yang berada di sana bisa dikatakan yang menyebabkan mereka seperti itu. Walaupun memang mereka menyempatkan diri untuk makan siang bersama-sama, tetapi tetap saja tidak akan merubah apapun yang terjadi dalam hubungan keluarga yang sudah saling tidak memperdulikan satu sama lainnya tersebut.
"Ayah bisa tenang. Tidak akan lama lagi aku akan merebut Vero dari suaminya yang miskin itu. Jadi, Ayah hanya harus menunggu saja" balasnya yang percaya diri, atas ucapan yang dirinya lontarkan tersebut.
Keluarga tersebut merupakan keluarga dari Richard, yang dimana pria itu merupakan konglomerat yang selalu mencari masalah dengan Vero dan ingin menjadikannya sebagai Istrinya. Tetapi bisa dikatakan apa yang dirinya lakukan itu selalu gagal, karena memang sosok Zen selalu menghalanginya.
Tentu karena Vero terlihat semakin kaya, membuat rasa ambisi dari Richard kembali membara untuk mendapatkan wanita tersebut. Apalagi setelah mendapatkan dukungan dari keluarganya, membuat Richard semakin percaya diri dengan tindakan yang akan diambilnya.
Ayahnya juga sangat mendukung keputusan dari Putranya tersebut. Ambisinya menjadi orang yang terkaya di negara ini, tentu membuatnya sangat setuju bahwa putranya menikahi sosok Vero yang notabennya sudah masuk kedalam jajaran wanita yang penting, karena kerja samanya dengan perusahaan terbesar di dunia ini.
Maka dari itu, menurutnya hal tersebut harus mereka diskusikan karena ayah dari Richard sangat ingin tahu sudah sampai dimana perjuangan Putranya untuk mendapatkan wanita yang menurutnya sangat mampu untuk membantunya dalam mewujudkan keserakahannya.
"Tapi, Ayah. Kapan datangnya Kultivator baru yang akan menjadi pengawal keluarga kita? Ayah tahu sendiri kan, Suaminya itu tidak bisa dikalahkan dengan sangat mudah?" hingga Richard saat ini mulai menanyakan tentang para Kultivator, karena mereka merupakan kunci dari rencananya dalam mencoba merebut sosok Vero dari suaminya.
Pengawal pribadinya yang awalnya merupakan Kultivator, bisa dikatakan menghilang secara tiba-tiba. Bahkan semua Kultivator yang menjaga kediamannya juga menghilang secara misterius, setelah mereka meminta izin kepada kepala keluarga dari kediaman ini untuk menyelesaikan sesuatu.
Namun setelah kepergian mereka itu, bisa dikatakan mereka tidak pernah kembali lagi dan sosok mereka seakan menghilang dari tempat ini. Hingga Ayah dari Richard langsung membuat keluhan kepada pihak Kultivator yang disewa jasanya dan meminta ganti rugi.
Keluarga ini tentu cukup bingung, bagaimana bisa seluruh pengawal yang merupakan para Kultivator yang harusnya menjaga keberadaan mereka malah menghilang sepenuhnya. Bahkan hilangnya mereka cukup membuat penjagaan dari kediaman ini melemah.
__ADS_1
Dan begitulah bagaimana keadaan tempat ini bisa dikatakan tidak ada pihak yang semestinya menjaganya, karena para Kultivator yang akan menjaga tempat ini belum tiba, setelah pihak-pihak yang sebelumnya menjaga tempat ini sudah menghilang entah kemana.
Hingga belum juga Ayah dari Richard menjawab perkataan dari putranya yang menanyakan keberadaan para Kultivator, bisa dilihat saat ini pintu kediaman rumahnya mulai dimasuki beberapa pihak, yang bisa mereka pastikan secara langsung bahwa pihak-pihak itu merupakan para Kultivator.
"Nah... itu mereka." Hingga saat ini bisa dilihat beberapa pihak yang menunjukkan mereka adalah seorang Kultivator mulai memasuki kediaman dari Richard dengan santai.
Tentu keluarga konglomerat itu merasa senang, karena penjaga yang akan menjaga keamanan mereka akhirnya tiba. Namun ternyata rasa senang mereka itu tidak bertahan lama, setelah seorang pihak dari mereka dengan cepat langsung meraih leher dari Ayah Richard dan membuat terkejut semua pihak yang berada di sana.
Tubuh Ayah Richard mulai terangkat keatas oleh orang yang mereka percayai adalah pengawal baru mereka itu. Hingga akhirnya, Ayah Richard mulai merasakan kakinya sudah tidak berpijak lagi, dan membuat dirinya mulai gemetar ketakutan saat ini.
"Apa yang kamu lakukan? Apakah kamu tidak takut bahwa kami akan membuat keluhan atas perbuatan kalian ini?" Hingga Richard yang menyaksikan Ayahnya diperlakukan seperti itu, langsung meradang melihat perilaku dari sosok yang melakukan semua itu.
Namun bukan jawaban yang dirinya dapatkan atas perkataannya tadi, melainkan sebuah tendangan yang sangat kuat saat ini mulai mengarah menuju kebagian perutnya. Tentu mendapatkan serangan seperti itu membuat Richard terpental, hingga Ibunya yang masih berada di meja makan dari ruangan tersebut mulai berteriak histeris melihat keadaan yang terjadi pada kediaman mereka.
"Apa yang kalian lak-" hingga suara kalimat teriakan Ibunya yang belum selesai dirinya ucapkan itu, mulai terhalang dengan sebuah tamparan yang sangat keras menuju ke wajahnya.
Teror, itulah yang dirasakan oleh seluruh keluarga Richard saat ini. Apalagi mereka tidak menyangka bahwa mereka akan diperlakukan seperti ini. Hingga akhirnya pihak yang mencekik leher Ayah dari Richard saat ini mulai menatap penuh emosi kepada pihak yang sedang dirinya cekik tersebut.
Dengan menurunkan letak wajah dari pria yang digenggam lehernya olehnya dan membuatnya sejajar dengan wajahnya, pria yang menunjukkan senyum menyeramkan itu mulai menatap sosok Ayah Richard dengan tatapan yang sangat amat tajam dan sangat mengintimidasi baginya.
Dengan berusaha menghirup udara dari sela-sela rongga lehernya yang mulai melonggar, tentu Ayah dari Richard berusaha untuk mulai memulihkan kondisi paru-parunya terlebih dahulu, karena kadar oksigen yang berada didalamnya mulai mengurang.
Hingga sebuah genggaman yang kuat kembali dirinya rasakan dan menutup akses dari rongga tenggorokannya, yang menandakan bahwa saat ini pria yang sedang mencekik lehernya itu benar-benar membutuhkan jawaban dari dirinya sekarang juga.
"A-Apa maksudmu, t-t...tuan?" ucap Ayah dari Richard yang berusaha dengan keras melepaskan genggaman yang sangat ketat pada lehernya, dan mengalirkan suaranya melalui tenggorokannya yang menyempit itu.
"Tidak usah banyak omong. Bukankah selama ini kamu menyewa jasa Kultivator kami, dan malah membuat mereka semua terbunuh?" hingga pria yang berbicara itu semakin menggenggam dengan serat leher dari Ayah Richard dan bisa terlihat dirinya sangat amat marah.
"t..tapi T-tuan, saya t-tidak tahu den-" namun ternyata kalimat dari pria yang mulai berumur itu terhenti, setelah suara lehernya yang patah mulai terdengar memenuhi seisi ruang makan yang besar itu.
Pria yang melakukan hal itu, tentu tidak ingin membuang waktunya hanya sekedar menunggu jawaban yang dilontarkan oleh pria yang baru saja dirinya bunuh itu. Maka dari itu, karena dirinya seakan banyak omong, pria itu langsung menewaskannya karena menurutnya dirinya sangat tidak berguna.
__ADS_1
Disisi lain, melihat tindakan kejam dari pihak tersebut, tentu membuat beberapa pihak panik saat ini. Bahkan para staf kediaman ini juga ingin melarikan diri dari sana untuk menyelamatkan diri mereka, karena tentu saja mereka tidak ingin memiliki nasib yang sama dengan majikan mereka yang sudah tewas itu.
Namun sayangnya, kekejaman pihak yang mendatangi kediaman ini bisa dikatakan tidak kenal ampun. Karena semua pihak yang berada di sana sudah dibantai dengan sangat brutal, setelah keinginan mereka untuk melarikan diri dari tempat ini.
"Bawa sampah itu kemari?" hingga pria yang membunuh Ayah Richard tadi, langsung menunjuk kearah Richard agar dirinya dibawa ke hadapannya.
Dengan rasa sakit yang dirinya rasakan, saat ini Richard sudah diseret menuju kearah pria yang terlihat tak kenal ampun tersebut. Hingga sebuah tamparan saat ini mulai mendarat pada wajah dari Richard dan membuat dirinya kembali tak berdaya.
Masalahnya, tidak seperti Ayahnya tadi yang memang diberi sebuah pertanyaan dulu baru disiksa, dirinya malah langsung mengalami sebuah tindakan penyiksaan padahal dirinya belum melakukan apapun yang bisa dikatakan membuat pria itu marah kepada dirinya.
Bahkan apa yang dirinya alami itu tidak sampai di sana saja. Karena tamparan terus saja dirinya terima, apalagi pria yang melakukannya seakan meluapkan kekesalannya kepada pria yang wajahnya sudah terlihat tak berbentuk itu karena tamparan yang terus dirinya berikan.
"Berani-beraninya kalian menjebak kami." dan begitulah ucapan dari pria yang menampar Richard, disela-sela dirinya masih dengan buas menampar wajah dari Richard.
Richard tidak bisa melakukan apa-apa, hingga akhirnya suara perkelahian mulai terdengar dari luar kediaman ini. Tentu pihak yang menampar Richard langsung menghentikan tindakannya, hingga dirinya mulai menjambak rambut dari Richard dan mulai menyeretnya keluar untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi diluar kediaman ini.
Dan begitulah cerita bagaimana Zen saat ini sudah dikepung oleh para Kultivator yang seakan terlihat sangat dendam dengan dirinya. Bahkan tangan Richard yang bisa dikatakan penuh dengan darah, menggunakan kekuatan terakhirnya untuk menunjuk sosok Zen, atas pertanyaan yang diberikan oleh pria yang menyiksanya sedari tadi.
"Ho... jadi kamu yang selama ini membantai saudara-saudara kami?" hingga sebuah suara yang dipenuhi dengan aura menekan, saat ini bisa didengar oleh Zen dan Bari yang masih tenang ditempatnya.
Zen tentu tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Apalagi dirinya mulai tidak paham mengapa dirinya dituduh seperti itu. Namun sepertinya, dirinya dengan perlahan mulai mengerti, mengapa semua pihak yang mengepungnya itu seakan menaruh dendam kepadanya saat ini.
"Hmm... sepertinya anda benar, Tuan. Pria yang seakan cerewet itu lumayan kuat." Namun sayangnya, pria yang menampar Richard sedari tadi itu malah menyaksikan bahwa Zen dan Bari saat ini saling berbisik-bisik dihadapannya saat ini dan tidak menjawab perkataannya.
"Ya... tetapi sepertinya pihak yang mencari masalah ditempat ini, seakan tidak menggunakan otaknya dalam melakukan sesuatu. Jadi kamu bisa tenang, karena sepertinya dirinya merupakan sosok yang ceroboh" dan begitulah gumaman Zen setelah melihat semua kejadian yang terjadi ditempat ini.
Bisa dikatakan apa yang terjadi disini merupakan sebuah tindakan yang sangat impulsif dari pihak yang sudah mengelilingi dirinya. Karena Zen tahu dengan pasti, mereka seakan bergerak sebagai serigala liar tanpa pemimpin, apalagi mereka tidak memikirkan konsekuensi yang terjadi atas perbuatan yang mereka lakukan ditempat ini.
Zen sangat amat yakin, pergerakan mereka saat ini bahkan tidak diketahui oleh pihak Kultivator yang lainnya. Apalagi Zen sangat tahu bahwa memang dirinya sangat dibenci dan akan diincar oleh pihak Kultivator, tetapi pergerakan pihak yang membuat kacau tempat ini seakan bukan bergerak dari sebuah perintah dari pemimpin mereka.
Karena jika mereka bergerak sesuai perintah, mereka tidak akan melakukan tindakan yang menurut Zen sangat amat tidak terorganisir seperti ini. Apalagi mereka asal membantai beberapa pihak yang memang seharusnya tidak sembarangan mereka melakukan seperti itu ditempat ini.
__ADS_1
Maka dari itu, Zen bisa menebak dengan pasti bahwa orang-orang ini memang sengaja datang ketempat ini untuk mencari keberadaannya, tetapi bisa dikatakan mereka datang sebagai pihak yang bergerak sendiri dalam mencoba untuk menghabisi sosok Zen ditempat ini.
"Baiklah, kalau begitu mari kita berikan apa yang mereka mau, Bari"