
Pagi-pagi sekali, seorang gadis sudah sibuk menyiapkan sebuah hadiah yang dia buatkan khusus kepada seseorang. Dengan tekun, dirinya terus berusaha membuat benda yang dirinya buat sendiri itu, agar terlihat sempurna untuk menjadi hadiah yang akan diberikannya kepada orang yang sangat dirinya cintai.
“Akhirnya selesai” gumam gadis itu, yang melihat sebuah gelang hasil karyanya yang menurutnya terlihat sangat bagus dan sangat cocok jika dikenakan oleh orang yang akan dirinya berikan gelang tersebut.
“Sekarang tinggal menulis surat saja” kata wanita itu sekali lagi, yang langsung mengeluarkan secarik kertas untuk menuliskan sebuah pesan, untuk orang yang akan dirinya berikan hadiah hasil buatannya itu.
Akhirnya semua yang dirinya lakukan selesai. Setelah membungkus gelang buatannya pada sebuah kotak dan menaruh suratnya pada sebuah amplop, wanita itu akhirnya mulai mengenakan jaketnya dan berjalan keluar area asrama tempatnya tinggal.
“Aku sudah berada diarea halte bus didekat asramaku Kak Santi” ucap wanita tersebut melalui sambungan ponselnya kepada seseorang.
“Oke... aku akan tiba sebentar lagi” balas orang dari balik panggilannya.
Wanita yang merupakan Angel, memang sudah mempersiapkan sebuah hadiah untuk membalas pemberian yang diberikan oleh Zen kepadanya. Karena kenalannya yaitu Santi ingin kembali menuju kota asalnya, jadi Vero memutuskan untuk menitipkan hadiah yang sudah dirinya persiapkan kepadanya untuk diberikan kepada Zen.
Selang beberapa lama kemudian, sebuah mobil mulai berhenti tepat pada halte tempat Angel berada. Angel sempat melirik kearah mobil yang berhenti itu dan menemukan sosok Santi didalamnya. Melihat hal itu, tentu Angel langsung mendekat kearah mobil yang ditumpangi oleh Santi.
“Apakah kamu sudah lama menunggu?” tanya Santi yang membukakan kaca jendela dari mobilnya.
“Aku baru saja tin-Hmmppphhh”
Namun saat Angel mencoba menjawab perkataan dari Santi, seorang tiba-tiba saja menempelkan sebuah sapu tangan pada bagian mulut dan hidungnya dan membuat Angel seketika melemas. Sebuah kotak dan sepucuk surat yang dirinya pegang sedari tadi, akhirnya mulai terlepas dari tangannya yang melemah dan terjatuh kebawah aspal tempatnya berada.
Angel sudah berusaha melawan perbuatan yang dirinya terima itu. Namun sayangnya tubuhnya mulai tidak merespon, dan dirinya saat ini hanya bisa pasrah saja melihat hadiah yang sudah dirinya persiapkan untuk orang yang sangat dicintainya itu terjatuh, sebelum penglihatannya mulai menggelap.
“Hei... apa yang kalian laaaakuuuu......” namun hal yang sama terjadi dengan Santi yang masih berada didalam mobilnya.
__ADS_1
Sopir yang membawa mobil yang ditumpangi oleh Santi langsung menyemprotkan sesuatu pada wajahnya, dan membuat Santi langsung tak sadarkan diri pada tempatnya. Entah apa yang disemprotkan oleh mereka, namun Santi saat ini sudah sepenuhnya tak sadarkan diri sama seperti Angel.
Setelah itu pintu penumpang dimana Santi berada juga mulai terbuka, dan pria yang membuat Angel pingsan tadi mulai memasukan Angel kedalam mobil yang ditumpangi oleh Santi, dan meletakkannya tepat disebelah Santi berada.
“Kami sudah mendapatkan mereka berdua bos” ucap salah satu dari mereka melalui sambungan telfon yang mereka lakukan kepada seseorang, dan akhirnya mulai melajukan mobil yang membawa kedua wanita yang sudah tak sadarkan diri itu, setelah menerima instruksi lebih lanjut dari seseorang yang mereka hubungi tadi.
Sebuah kotak dan sebuah surat yang sudah dibungkus dengan amplop berwarna biru, saat ini tergeletak di jalanan setelah seorang wanita tak sengaja menjatuhkannya tadi. Sudah cukup lama kedua benda itu berada di sana.
Hingga sebuah kabut hitam mulai muncul dan memunculkan sesosok wanita keluar dari dalam kabut tersebut. Wanita itu mulai melihat area sekitar tempatnya berada, sebelum mengambil kedua benda yang tergeletak di atas aspal tempatnya berada saat ini.
“Sial... padahal aku hanya pergi sebentar mengantarkan jiwa, dan ada seseorang yang berani mencari masalah dengan calon Nyonya dari tuanku. Tunggu saja kalian, akan aku buat kalian menjadi daging cincang” balas wanita itu yang mulai mengubah kembali matanya menjadi berwarna hitam lalu beranjak dari sana.
Ditempat lain, seorang wanita mulai sadar setelah mendapatkan sebuah tamparan keras dari seseorang yang menculiknya ketempat ini. Rasa sakit mulai dirinya rasakan dan dirinya mulai menatap orang yang menampar dirinya.
Saat ini Santi sudah terikat pada sebuah kursi setelah dirinya dibius dan dibawa ketempat ini. Disebelahnya bisa terlihat Angel yang juga sudah terikat dan masih belum sadarkan diri dari efek obat bius yang dirinya terima tadi.
“Yo... Santi. Apakah tindakanku ini membuatmu mengenang masa lalu kita yang indah itu?” balas pria bernama Tio itu sambil membelai wajah dari Santi.
Namun bukannya menjawab, Santi langsung membuang ludahnya tepat kearah wajah dari Gio. Tentu saja pria itu cukup terkejut dengan tindakan dari Santi dan langsung mengusap bekas ludah dari Santi dari wajahnya.
“Sayangnya, tindakanku saat ini akan berbeda dengan tindakanku dahulu” ucap Gio yang kembali menampar wajah Santi karena dirinya merasa kesal setelah diludahi olehnya.
Tentu mendengar keributan yang mengganggunya, Angel yang masih belum sadarkan diri dan berada disebelahnya, akhirnya mulai membuka kelopak matanya. Dirinya saat ini langsung dikejutkan dengan tubuhnya yang tidak bisa bergerak karena sudah terikat pada sebuah kursi yang sedang didudukinya.
“Dan seorang gadis yang sepertinya tahu siapakah pria yang saat ini menjadi momok dari kaumku akhirnya sudah sadar” ucap Gio yang mendekatkan wajahnya kearah Angel, yang baru saja sadar dari efek obat bius yang diterimanya.
__ADS_1
Tentu Angel merasa ketakutan melihat wajah pria itu yang sangat dekat dengan wajahnya, apalagi dirinya menunjukan raut wajah yang sangat mengintimidasi kepada Angel.
“Lepaskanlah dirinya Gio. Bukannya kamu hanya ingin berurusan denganku, mengapa kamu harus menangkapnya juga?” ucap Santi kemudian.
Mendengar itu, Gio mulai memundurkan wajahnya kembali dan mulai menatap Santi yang diikat disebelah Angel. Namun senyum yang dia tunjukan saat melihat Santi, membuat kedua wanita yang sedang diikat itu semakin ketakutan.
“Baiklah, kalau begitu jawab aku dengan jujur. Berikan informasi apapun yang kalian tahu tentang Zen Gwillyn, dan aku akan melepaskan kalian jika memberikan aku informasi yang dapat membuatku puas” kata pria itu sekali lagi.
Tentu baik Santi dan Angel sangat terkejut saat pria yang terlihat menyeramkan itu menyebutkan nama seseorang yang sangat mereka kenal. Namun hanya Santi sendirilah yang mengerti arah pembicaraan pria didepannya karena pasti ada sangkut pautnya dengan perbuatan Zen sebelumnya.
“Mengapa kamu ingin mencari tahu tentang seorang pria yang bekerja sebagai kasir?” balas Santi kemudian.
“Kasir... Hahahahahaha” ucap Gio kemudian yang menertawakan perkataan dari Santi.
“Santi... Santi.... Aku tahu kamu mengetahui siapa sebenarnya dirinya. Karena kamu tidak mungkin asal mengubah hasil penyelidikan yang kamu selidiki, kalau bukan karena dirinya bukan?” kata Gio yang saat ini wajahnya mulai dirinya dekatkan kearah Santi.
“A-Aku tidak mengerti maksud perkataan dirimu itu Gio” balas Santi kemudian, sambil menghindari wajah Gio yang semakin dekat dengan wajahnya.
“Mark Talon... kamu kira aku tidak tahu siapa yang membunuhnya?” balas Gio kemudian yang menghentikan gerakan kepalanya tepat di samping wajah dari Santi, dan menjilati pipinya setelah dirinya menyelesaikan perkataannya.
Tentu kenangan masa lalu kembali memasuki pemikiran dari Santi atas perbuatan bejat pria yang saat ini menjilati pipinya itu. Namun sepertinya bukan hanya nafsu seksual saja yang sudah memenuhi diri pria yang pernah melecehkan Santi itu.
Tetapi nafsu membunuh juga sudah memenuhi dirinya, yang dimana sebuah ujung pisau saat ini sudah menusuk tepat kearah perut dari Santi, dan membuat Santi langsung terkejut dengan apa yang pria itu lakukan kepadanya.
“Jawab aku dengan jujur siapa sebenarnya pria bernama Zen Gwillyn itu, dan aku hanya akan menjadikanmu sebagai penghangat ranjang milikku saja dan bukan sebagai korban pembunuhan seperti yang aku lakukan kepada tunangan yang sangat kamu sayangi itu dulu.”
__ADS_1