
Zen cukup terkejut melihat pemandangan yang terjadi saat ini. Tentu dirinya tidak menyangka saat ini sebuah pemandangan seperti itu yang menyambut kedatangannya dengan semua pihak yang sudah kembali pada ruangan yang seharusnya menjadi ruangan perjamuan bagi dirinya.
Seorang Dewa bisa dikatakan sedang berlutut dihadapan sepasang Ibu dan anak dan saat ini sedang melakukan sebuah drama keluarga yang cukup mencengangkan, karena saat ini bisa dilihat mereka sedang saling memohon khususnya Dewa yang sedang berlutut itu kepada kedua wanita yang berada dihadapannya.
"Maafkan saya Tuan Ebisu, tetapi saya tidak bisa untuk menerima permintaan anda" hingga akhirnya Lenneth mulai angkat bicara untuk menjawab pernyataan dari Ebisu kepada dirinya.
Zen saat ini bisa dikatakan hanya menyaksikan jalannya drama itu dengan tenang, bersama semua pihak yang saat ini kembali masuk kedalam ruangan ini dan menyaksikan kejadian seorang pria seakan sedang memohon kepada pihak yang saat ini berada di depannya.
Namun sayangnya permintaan dari Dewa itu sepertinya permintaannya itu ditolak mentah-mentah oleh pihak yang berada dihadapannya. Bahkan sudah berbagai cara dirinya lakukan agar Lenneth menerima permintaannya, tetapi seperti yang semua pihak bisa lihat, bahwa kali ini Dewa itu kembali mendapat penolakan.
"Tapi, bukankah lebih baik kita melanjutkan hubungan kita, Lenneth?" Hingga Ebisu kembali memohon untuk memperbaiki hubungannya dengan sosok Lenneth yang berada dihadapannya.
"Maafkan saya, Tuan Ebisu. Saya memang datang ketempat ini hanya untuk menemani Putri saya untuk bertemu sosok Ayah kandungnya, bukan untuk memperbaiki hubungan kita" Dan begitulah balasan dari Lenneth yang kembali menolak permintaannya.
Ebisu bisa dikatakan ingin mempersunting sosok Lenneth menjadi Istrinya, karena memang wanita itu sudah melahirkan Putrinya. Maka dari itu, dirinya ingin memperbaiki hubungan mereka dengan menikahi sosok Lenneth dan juga sekaligus ingin memperbaiki hubungannya dengan dirinya dan Putrinya.
Karena jika dirinya berhasil menikahi Lenneth, tentu sosok Kelly akan langsung menganggap dirinya sebagai Ayahnya. Apalagi memang saat ini masih ada rasa kecanggungan yang terjadi antara dirinya dan Putrinya sendiri, bahkan bisa dikatakan kedatangan Kelly ketempat ini hanya ingin bertemu dan melihat sosoknya saja ditempat ini.
"Tapi, aku sangat merasa bersalah dengan kondisi kalian dan aku ingin memperbaikinya" Hingga Ebisu kembali memohon dengan tulus untuk mencoba untuk memperbaiki hubungannya dengan Lenneth dan Putrinya.
__ADS_1
Masalahnya bisa dikatakan Lenneth tidak memiliki perasaan sama sekali dengan sosok Ebisu. Maka dari itu, dirinya ingin menolak permintaan dari pria itu, apalagi dirinya sudah menemukan sosok Zen yang memang menjadi sosok yang harus dirinya layani dan membuat dirinya tidak ingin lagi memikirkan sebuah pernikahan.
Apalagi dirinya juga sudah mempunyai seorang Putri yang cantik bersamanya, jadi dirinya tidak membutuhkan apapun lagi pada kehidupan, kecuali memang dirinya berharap bahwa Zen akan menjadikan dirinya menjadi pelayannya kembali.
Sehingga dirinya langsung menolak mentah-mentah perkataan dari Ebisu yang berusaha membujuknya untuk menjadi Istrinya. Apalagi luka yang selama ini dirinya berikan kepada Lenneth, cukup membuat Lenneth tidak ingin menjalin hubungan apapun dengan pria lagi.
"Hahh... Bisakah kalian hentikan Drama ini. Aku sudah sangat lapar, dan malah harus dihalangi dengan kegiatan saling membujuk dan menolak yang sedari tadi kalian lakukan" Dan begitulah ucapan Zen yang sudah muak melihat kegiatan mereka itu tidak kunjung selesai.
Tentu tindakan itu harus dengan segera diselesaikan, karena memang tanda-tanda mereka akan menyelesaikannya permalasahan tersebut bisa dikatakan tidak kunjung terlihat. Maka dari itu, Zen langsung memotong percakapan mereka itu, karena terlihat tidak ada titik terang dalam kegiatan yang mereka lakukan itu.
"Benar, Ebisu. Lebih baik kita mendiskusikan permalasahan ini sambil kita menyantap makanan yang sudah disediakan untuk kita" ucap Izanagi, yang juga sependapat dengan Zen.
"Hahh... baiklah. Maafkan diriku karena membuat kalian melihat perdebatan yang memalukan ini" dan begitulah ucapan Ebisu yang mulai bangkit dari tempat dimana dirinya berlutut saat ini.
Hingga Lenneth dan Kelly akhirnya juga ikut duduk pada meja yang sama dengan Zen, untuk menyantap makanan mereka bersama. Apalagi sepertinya permalasahan mereka dengan Ebisu sepertinya masih harus didiskusikan kembali, karena saat ini percakapan tersebut bisa dikatakan dimulai kembali disaat mereka sedang menyantap makanan mereka.
"Berikan saja mereka waktu, Ebisu. Apalagi saat ini Putrimu baru bertemu pertama kali denganmu selama beberapa tahun ini. Jadi, jangan memaksakan kehendak dirimu kepada mereka" saran Izanami kepada Ebisu yang masih berusaha untuk membujuk sosok Lenneth untuk menikah dengannya.
Kelly sendiri saat ini bisa dikatakan cukup bingung dengan situasi yang terjadi. Memang dirinya sangat ingin melihat dan mengetahui sosok Ayah kandungnya. Namun entah mengapa bukan pertemuan seperti ini yang dirinya harapkan, karena dirinya merasa canggung saat bertemu dengan sosok yang menjadi Ayahnya itu.
__ADS_1
Karena walaupun dirinya bisa merasakan ikatan dengan pria itu, dirinya yang memang sama sekali tidak pernah terjamah dengan kasih sayang seorang Ayah merasa tidak merasakan apa-apa disaat dirinya bertemu dengan Ayah kandungnya. Memang dirinya mengharapkan sesuatu untuk terjadi kepada dirinya saat bertemu kembali dengan Ayahnya.
Namun nyatanya, pertemuan ini terasa hambar bagi dirinya, karena memang dirinya seakan tidak membutuhkan kembali sosok Ayah baginya, karena selama ini dirinya hidup dengan kasih sayang orang tua yang dirinya dapatkan dari Nenek Vero yang mengadopsi dirinya, dan saat ini dirinya juga sudah mempunyai sosok Laki-laki yang mampu memberikan kasih sayang kepadanya.
Jadi, dirinya saat ini cukup bingung dalam bersikap, karena ternyata kehilangan sosok ayahnya yang sudah bertahun-tahun itu, hampir membuat dirinya merasa tidak membutuhkan keberadaannya lagi. Karena saking lamanya perasaannya yang dirinya rasakan, memang tidak pernah memiliki kehangatan memiliki seorang Ayah pada kehidupannya.
"Aku hanya ingin semakin dekat dengan mereka saja, Kak. Maka dari itu aku berusaha untuk menikahi sosok yang sudah sangat terikat dengan ulahku" ucap Ebisu yang seakan sangat menyesal dengan perlakuannya.
Ebisu tentu merasa sangat bersalah dengan perbuatannya dahulu yang memang memperkosa sosok Lenneth. Tentu membayar perbuatannya, dirinya ingin memberikan kehidupan yang lebih baik kepada wanita itu. Namun nyatanya niat baiknya itu ditolak mentah-mentah oleh Lenneth yang memang sangat tidak menyetujui permintaannya itu.
"Sudahlah, lebih baik kamu mendekati mereka dengan perlahan. Apalagi, coba lihatlah Putrimu, yang seakan cukup kebingungan melihat tingkah laku dirimu" ucap Izanami kembali kepada Ebisu.
Dari tatapan Putrinya, Ebisu bisa melihat sebuah perasaan asing dari wanita itu walaupun mereka memang merupakan pihak yang memiliki darah yang sama. Maka dari itu, dirinya memutuskan untuk mendengarkan perkataan Kakaknya yaitu Izanami dan memutuskan untuk mendekati mereka dengan perlahan.
"Lalu, bagaimana kelanjutan hubungan dirimu dengan Putri kami, Zen?" hingga sebuah suara semburan mulai terdengar, setelah Amaterasu yang mendengar perkataan Ibunya mulai menyemburkan minuman yang dirinya minum disaat mendengarkannya.
"Tentu saja aku akan menikahinya. Namun maaf, karena aku tidak bisa melakukannya dalam waktu dekat" Hingga sebuah jawaban enteng dari Zen saat ini mulai mengejutkan beberapa pihak.
Amaterasu tentu tidak menyangka Ibunya dengan terang-terangan menyinggung tentang hubungannya dengan Zen. Apalagi dirinya memang sama sekali belum memberitahukan perasaan yang dirinya miliki itu kepada siapapun kecuali sosok Zen dan Istri-istrinya.
__ADS_1
Namun sepertinya Ibunya mengetahui perasaannya dan saat ini menanyakan secara langsung kepada Zen. Tentu sebagai wanita yang memiliki perasaan untuk Zen dirinya sangat senang, apalagi pernyataan dari Zen yang menyatakan bahwa dirinya secara langsung membalas perasaannya itu.
"Kami sangat senang mendengarkannya kalau begi-"