
Seorang pria bersama dengan seorang wanita sedang menikmati kopi yang mereka pesan pada kedai yang berada di suatu area. Mereka sengaja memilih tempat ini, dikarenakan mereka sedang menyelidiki sesuatu disekitar tempat tersebut.
“Hm... apakah pria yang agak gendut itu Tuan?” tanya Mira kepada Zen yang duduk dihadapannya.
“Yap... aku mau kamu menyelidiki secara menyeluruh pria tersebut, karena dirinya berhubungan dengan orang-orang yang membuatku sangat kesal” perintah Zen.
“Mengapa anda tidak langsung membunuh mereka Tuan?” tanya Mira kembali.
“Aku sudah berniat ingin membantai seluruh organisasinya. Jadi aku harus mengetahui dulu siapa-siapa saja anggota dari organisasi yang beraninya mengotori kediamanku” balas Zen.
Beberapa hari yang lalu, Zen tidak sengaja merasakan sebuah aura yang sudah dirinya tanamkan pada seseorang dan orang tersebut ternyata juga berada di Bali. Zen cukup bingung mengapa orang tersebut bisa berada disini dan Zen memilih untuk menyelidikinya.
Dan ternyata, pria yang dimana saat ini gerak-geriknya sedang diawasi oleh Zen, bertemu dengan pria yang sedang Zen intai saat ini dan dirinya mengetahui bahwa pria tersebut telah berhutang kepada pria yang sedang diawasi oleh Zen, hingga membuat Zen saat ini memutuskan untuk mengawasi pria itu lebih jauh.
“Ho... seseorang yang memiliki aura kegelapan milik anda sudah keluar dari Villa tersebut Tuan” Kata Mira kemudian, yang merasakan aura Tuannya mulai beranjak dari sana.
Zen tidak menjawab perkataan Mira itu dan mulai melihat seorang wanita sudah menaiki kembali kendaraannya dengan keadaan yang sangat emosi bercampur kesedihan. Dengan membanting pintu mobil yang dikendarainya dengan keras, wanita itu langsung keluar dari area yang diawasi Zen saat itu juga.
Sebenarnya, bukan hanya karena pria yang pernah bertemu dengan Pria yang Zen sedang awasi gerak-geriknya itu yang menjadi alasan Zen mengawasi pria tersebut.
Namun keberadaan kedua wanita yang entah mengapa bisa berada ditempat ini dan bertemu dengan pria yang sedang Zen intai, membuatnya semakin penasaran dengan siapa sebenarnya pria yang saat ini sedang tersungkur karena mendapatkan sebuah pukulan dari wanita yang baru saja keluar itu.
“Bukannya dirinya bertemu denganmu kemarin Mira?” tanya Zen kepada wanita dihadapannya.
“Benar Tuan. Bahkan aku menerima proposal yang dirinya tawarkan kemarin, karena menurut Bob proposal miliknya sangatlah bagus” ucap Mira.
Ya, wanita tersebut merupakan Vero yang sudah diikuti oleh Kelly sahabatnya, dan sudah memasuki kendaraan yang mereka tumpangi. Mereka saat ini memutuskan untuk kembali ketempat mereka menginap sebelumnya, setelah menyelesaikan urusan mereka ditempat ini.
“Nah... sekarang baru sang karakter utama muncul” ucap Zen yang merasakan aura dari pria yang sedang di tandainya sudah muncul diarea yang sedang dirinya bersama Mira awasi.
“Oh... jadi itu manusia setengah Vampire yang sengaja anda lepaskan” balas Mira kemudian.
Thomas, pria yang sedang diawasi oleh Zen, saat ini mulai bangkit dari tempatnya terjatuh setelah dipukuli oleh assisten putri tirinya. Bekas darah masih terlihat pada bibirnya yang sedikit terluka dan dirinya mulai duduk di atas sebuah kursi santai.
__ADS_1
“Dasar anak durhaka. Tunggu saja jika rencanaku berhasil nanti” balasnya yang mulai mengambil beberapa tisu untuk membersihkan darah yang menempel pada bibirnya.
Namun sedang asik membersihkan lukanya, sebuah moncong pistol sudah mengarah kembali kearah kepalanya dan membuat dirinya terkejut. Tentu pria itu langsung mengangkat kedua tangannya dengan ekspresi ketakutan, setelah merasakan sebuah senjata mematikan menempel di kepalanya.
“T-Tuan Black” ucap Thomas.
“Sudah tiga hari Thomas, tetapi sepertinya kamu tidak bisa melunasi hutangmu” balas Black kemudian.
“Ta-Tapi ini belum tiga hari tuan. Dan juga aku sudah membayarkan seperempat hutangku kepadamu” balas Thomas kembali.
“Aku tidak peduli. Pokoknya hari sudah berganti tiga kali, jadi menurutku waktumu sudah habis” balas Black yang sudah mengokang pistolnya dan bersiap menembak pria yang sedang dirinya bidik.
Memang saat pertama kali mereka bertemu, Black mendatangi dirinya saat subuh. Jadi sebenarnya waktu sudah berlalu satu hari menurut Black. Jadi menurutnya hari ini merupakan batas waktu yang sudah dirinya berikan kepada pria yang sedang gemetar ketakutan itu.
“B-Beri aku waktu lagi Tuan Black. A-Aku akan menikahi putriku dan pria yang akan menikah dengannya berjanji akan memberikanku sejumlah uang untuk melunasi semua hutangku kepadamu” balas Thomas yang terus memohon agar nyawanya diampuni saat ini.
“Hm... apa kamu yakin?” tanya Black kemudian.
“Te-Tentu saja Tuan Black. Aku berjanji” jawab Thomas yang masih gemetaran karena ketakutan.
“A-Aku akan menjual seluruh saham perusahaan milikku yang aku punya dan pasti akan membayarkan semua hutangku kepadamu” balas Thomas kemudian.
Mendengar itu, Black langsung menurunkan bidikan pistolnya kearah bawah. Sebenarnya dirinya tidak ingin memberikan kesempatan lagi kepada pria itu, namun karena organisasinya membutuhkan uang yang jumlahnya sangat besar, jadi dirinya mau tidak mau harus bersabar untuk mendapatkan pembayaran dari pria tersebut.
“Baiklah. Karena aku ada urusan selama tiga hari, batas waktu pembayaran hutangmu hanya sebatas itu. Dan kali ini, aku pastikan tidak ada yang namanya pengampunan kembali” balas Black.
“Baik tuan... aku berjanji akan melunasinya dalam tiga hari” ucap Thomas yang cukup lega dengan keadaannya yang berhasil meyakinkan orang yang menodongnya itu.
“Tapi, tetap saja kamu harus dihukum karena sudah terlambat membayar hutangmu kepadaku” balas pria itu yang mulai mengambil telapak tangan dari Thomas dan menaruhnya di atas sebuah meja.
“Lain kali, tepati janjimu oke” jawab Black yang sudah menaruh moncong pistolnya kearah telapak tangan dari Thomas.
“T-Tuan ma-Aahhhhhhhhhh”
__ADS_1
Teriak Thomas setelah sebuah timah panas sudah menembus telapak tangannya. Sakit, itulah yang dirinya rasakan dan membuatnya saat ini sudah meringkuk kesakitan, karena apa yang dilakukan oleh pria yang menembakan pistolnya kearah telapak tangannya tadi.
“Ingat tiga hari lagi” ucap Black yang langsung beranjak dari sana.
Thomas masih merasa kesakitan, dan darah terus keluar dari telapak tangannya yang sudah tertembus timah panas. Bahkan dirinya saat ini masih belum menyadari pria yang menembaknya sudah beranjak dari sana karena kesakitan yang dia rasakan.
“Ah... Sial sakit sekali.” Ucap Thomas.
Disisi lain, dua orang yang sedang mengawasi jalannya kejadian itu, saat ini masih tenang duduk ditempatnya. Apalagi saat ini Zen yang sudah memesan gelas kopi ketiganya, dan masih meminum kopinya dengan santai saat menyaksikan adegan yang sedang dirinya saksikan itu.
“Hm... sepertinya anda tidak perlu turun tangan dan dirinya akan mati sendiri Tuan?” tanya Mira kemudian.
“Yap... kalau begitu mari ikuti pria vampire itu dan melihat rencananya” balas Zen kemudian.
.
.
Disisi lain, seorang wanita saat ini sudah mempersiapkan barang bawaannya untuk berangkat menuju Jakarta, karena dirinya akan dilantik menjadi kepala kepolisian dari wilayah tempatnya bertugas saat ini.
Namun sedang asik mengemas barang bawaannya, dirinya mendapatkan sebuah panggilan telfon dari rekan kerjanya untuk menanyakan sesuatu. Tentu wanita itu dengan senang hati akan membantunya karena itu merupakan tugasnya.
“Kirimkan semua berkasnya menuju email milikku” kata Santi.
Santi langsung melihat beberapa berkas yang dikirimkan oleh rekannya itu melalui email. Namun saat melihat sedikit isinya, dirinya cukup terkejut melihat ada pembantaian yang sangat sadis terjadi ditempat kejadian yang sedang dirinya lihat itu.
“Tunggu... kamu bilang ini terjadi disalah satu hotel yang berada di Bali?” tanya Santi kepada rekannya itu.
“Benar Kapten. Pihak kepolisian Bali saat ini sedang meminta saran kepada kita, karena kasus ini sama sekali tidak memiliki bukti apapun tentang kematian mereka” balas rekannya itu.
Santi langsung memijat keningnya karena dirinya sepertinya mengetahui siapa yang melakukan semua itu, terlebih lagi orang yang menurutnya melakukan itu semua saat ini sedang berada di Bali.
“Baiklah, aku akan menghubungi dirimu kembali saat akan menemukan sebuah petunjuk” balas Santi yang menyudahi percakapannya dengan rekan kerjanya itu.
__ADS_1
“Apakah organisasi mafiamu sedang melakukan sesuatu di sana Zen?”