
Zen sebenarnya sudah berniat menghancurkan sebuah markas dari Vampire, akibat perbuatan mereka pada kediamannya dahulu. Tetapi karena memang jadwalnya yang padat dan dirinya harus menuju ke Bali, jadi rencananya itu dirinya tunda.
Namun setelah semua permasalahan yang harus diselesaikan olehnya di Bali sudah terselesaikan, dan kebetulan Zen mempunyai waktu, jadi saat ini dirinya memutuskan untuk langsung menuju lokasi tempat para Vampire itu berada.
Apalagi setelah membohongi Vero tadi, akhirnya dirinya sudah bersiap untuk menuju tempat para Vampire itu berada bersama bawahannya Bari, yang sudah bersiap bersama Tuannya untuk menuju ke sana dan akan menghabisi seluruh Vampire yang berada di sana.
“Baiklah Tuan” jawab Bari, setelah dirinya diperintahkan oleh Zen untuk membukakan sebuah portal, menuju tempat para Vampire yang membuat dirinya kesal itu berada.
Sebuah kabut hitam mulai muncul, yang dimana saat ini Bari mulai membuat sebuah portal untuk membawa Tuannya beserta dirinya menuju sebuah tempat. Dengan mempersilahkan Tuannya memasuki portal yang dibuatnya terlebih dahulu, akhirnya mereka mulai beranjak dari sana.
Zen melangkah dengan langkah yang santai menuju ujung dari portal yang membawanya, hingga saat ini dirinya tiba ditempat yang terlihat sangat kacau, yang dimana saat ini dirinya hanya memperhatikan debu dan asap yang menyambut kedatangannya.
“Apakah kamu membawaku ditempat yang salah Bari?” ucap Zen yang saat ini hanya melihat sekumpulan debu yang menghalangi pandangannya, pada area tempatnya berada saat ini.
“Tentu saja tidak Tuan. Arah kabut teleportasi yang saya buat sesuai dengan arah tujuan yang Tuan inginkan” ucap Bari, yang menyangkal bahwa dirinya membawa Tuannya menuju tempat yang salah.
"Hm... lalu apa yang terjadi dengan tempat ini?" kata Zen kemudian, sambil memperhatikan seluruh area yang tertutupi debu itu.
Akhirnya dua orang itu saat ini memutuskan untuk hanya menunggu debu yang terus berterbangan itu hingga hilang dengan sendirinya. Tetapi setelah jarak pandang mereka mulai semakin menjelas, saat ini penglihatan mereka disambut dengan beberapa bekas ledakan yang sangat besar yang sudah terjadi ditempat ini.
“Hm... aku merasakan aura Vampire. Berarti tempat ini merupakan tempat yang tepat” ucap Zen.
“Aku juga merasakannya Tuan. Kalau begitu, mari kita periksa tempat ini Tuan” balas Bari yang sudah menuntun Zen kearah aura yang mereka rasakan.
Memang saat ini mereka melewati beberapa tempat yang sudah hancur, yang dimana terlihat bahwa ledakan yang terjadi tempat ini cukup dahsyat dan membuat tempat ini porak-poranda.
“Apakah kamu menyuruh Malaikat Maut yang lain menyerang tempat ini Bari?” tanya Zen kepada bawahannya itu, karena dirinya mulai kebingungan melihat tempat yang ingin dirinya serang malah sudah hancur.
“Tentu saja tidak Tuan.” Balas Bari yang menyangkal perkataan Zen.
Tentu apa yang terjadi ditempat ini, tidak serta merta membuat Zen dan Bari menghiraukan apa yang terjadi diarea tempat mereka berada saat ini, dan lebih memfokuskan diri mereka untuk terus menuju arah para musuh yang harus mereka habisi ditempat ini.
__ADS_1
Namun saat mereka memasuki reruntuhan bangunan ditempat itu semakin dalam, mereka malah menemukan seorang wanita cantik sedang ditodongkan senjata oleh seorang Vampire yang sudah berubah wujudnya menjadi wujud aslinya.
Mereka mulai saling menatap saat ini, karena memang beberapa orang yang sudah berada ditempat ini sebelumnya, cukup terkejut dengan kedatangan dua orang yang juga saat ini sedang menatap mereka.
“Siapa kalian?!” teriak pria yang masih memegang pedangnya itu, kepada Zen dan Bari yang tiba-tiba muncul ditempat orang-orang sedang melakukan aksi peperangan mereka.
Tetapi sebelum Zen menjawab pertanyaan yang dilontarkan kepadanya, seorang manusia setengah Vampire yang sering ditemui oleh Zen, langsung mendekat kearah pria yang sedang menodongkan pedangnya kepada seorang wanita yang terduduk didepannya.
Tentu Vampire itu langsung memberitahukan atasannya itu tentang identitas dari kedua orang yang baru saja muncul di sana secara tiba-tiba, karena memang dirinya mengenali siapa sebenarnya kedua orang tersebut.
“Oh... jadi kamu yang membantai salah satu anak buah berhargaku..” ucap pria itu emosi, karena melihat seseorang yang membuat organisasi Vampire ditempat ini sempat kewalahan, karena kematian dari seorang Vampire yang telah dibunuh oleh Zen sebelumnya.
Namun bukannya menjawab perkataannya kembali, Zen menggunakan telepati miliknya langsung menyuruh Bari untuk membuat barier untuk mengisolasi seluruh tempat ini, agar semua Vampire yang berada ditempat ini tidak dapat melarikan diri.
Tentu Bari langsung melakukan tugasnya dengan baik, hingga akhirnya barier yang dibuatnya sudah mengisolasi tempat ini sepenuhnya. Tentu Zen cukup puas dengan perbuatan bawahannya, lalu mulai menatap kembali Vampire yang terlihat emosi dihadapannya, setelah memastikan pekerjaan dari Bari sudah selesai sepenuhnya.
“Yap... seperti apa yang akan aku lakukan kepada kalian juga” balas Zen yang mulai mengeluarkan aura hitamnya, dan bersiap untuk menghabisi seluruh ras Vampire yang berada ditempat ini.
Tentu aura hitam yang dikeluarkan Zen, langsung membuat beberapa Vampire yang berada di sana mulai gemetaran karena aura itu sangat amat menyeramkan. Tidak terkecuali pria yang saat ini membentak Zen tadi yang juga ikut merasakan aura intimidasi tersebut.
“Ayo Bari, mari kita habisi mereka semua” ucap Zen yang mulai menyerang kearah para Vampire yang berada ditempat ini.
Memang setelah ledakan yang dilakukan oleh beberapa Vampire yang gugur tadi, tidak membuat jumlah mereka ditempat ini berkurang banyak, karena memang mereka sudah merencanakan meledakan para antek Dewa ditempat ini sebelumnya.
Jadi mereka sudah menyiapkan beberapa orang yang akan menjadi korban, untuk membuat sukses rencana mereka saat ini. Dan terlihat saat ini rencana yang mereka rencanakan itu cukup berhasil dengan takluknya sebagian besar pasukan dari musuh mereka.
Tetapi sepertinya rencana yang awalnya mereka anggap sukses itu, saat ini mulai berantakan. Karena dua orang yang mulai membabi buta melenyapkan mereka mulai bertindak, yang dimana salah satu dari mereka terlihat tidak terkalahkan saat ini.
“Hati-hati Bari, pedang yang dirinya gunakan cukup berbahaya” ucap Zen memperingati bawahannya itu, untuk mewaspadai sebuah senjata yang cukup untuk menewaskan bawahannya itu seketika
“Baik Tuan.” Balas Bari.
__ADS_1
Tentu kekuatan Bari tidak akan sebesar Zen, maupun seorang Dewa. Namun kekuatannya masih sanggup melawan para Vampire rendahan dan manusia setengah Vampir. Sedangkan Zen saat ini tentu akan melawan beberapa orang yang menurutnya merupakan pemimpin dari para Vampire yang berada ditempat ini.
“Dewi Amaterasu, bukankah sebaiknya kita melarikan diri? Melihat kondisi anda saat ini, tentu bukankah pilihan bijak untuk meninggalkan tempat ini?” ucap bawahan dari Dewi Amaterasu yang masih menatap pertarungan yang terjadi.
“Jadi salah satu dari mereka masih hidup ya...” Namun bukan perkataan yang ditanyakan oleh bawahannya yang dijawab, melainkan sebuah gumaman dari Amaterasu saat merasakan sebuah aura yang pernah dirinya rasakan dulu.
“Maaf Dewi, tetapi siapa maksud anda yang masih hidup?” balas bawahannya yang tidak mengerti maksud perkataan dari Dewinya itu.
“Ah Tidak. Kalian tenanglah, sudah tidak terjadi apa-apa denganku” balas Amaterasu kepada bawahannya, dan kembali menatap pertarungan yang sedang terjadi dihadapannya.
Disisi lain, Zen saat ini sudah membunuh seorang Vampire yang merupakan salah satu pemimpin dari Vampire yang berada disini. Tentu dengan meledakkan jantungnya, saat ini Vampire itu sudah terkapar di tanah setelah dirinya kehilangan nyawanya.
Tentu melihat hal tersebut, tekad yang sudah dikumpulkan oleh seluruh Vampire yang ingin menyerang Zen langsung menurun, karena Zen bisa menghabisi salah satu pemimpin mereka dengan sangat mudah.
“Sialan! Berani-beraninya kamu membunuh saudaraku!” teriak Vampire yang memegang sebuah pedang pembunuh Dewa ditangannya, dan mulai melesat kearah tempat Zen berada.
Tentu saudaranya yang tersisa, yang merupakan pemimpin lain dari tempat ini, ikut untuk mencoba menghabisi Zen. Apalagi mereka saat ini menyerang Zen dengan menggunakan pedang Ame no Ohabari.
Namun tindakan selanjutnya yang mereka lakukan membuat semua orang yang berada di sana cukup tercengang. Karena Zen saat ini berhasil menangkap bilah pedang yang sangat tajam itu dengan tangan kosong miliknya.
"A-Apa yang terjadi?" ucap pria yang menyerang Zen, setelah dirinya merasakan serangannya saat ini sedang dihalau oleh Zen dengan mudahnya.
Tentu semua orang yang berada di sana cukup terkejut dengan perbuatan dari Zen. Karena dalam sejarah, pedang itu bisa membunuh seorang Dewa hanya dengan satu tebasan saja. Namun Zen dengan tangan kosongnya, berhasil menangkal serangan yang dirinya terima itu dengan santai.
“Hm... pedang yang bagus. Apakah kamu keberatan jika pedang ini menjadi milikku?” ucap Zen kemudian, yang merasakan bahwa pedang itu akan sangat cocok jika berada ditangannya.
Tentu mendengar hal itu, akhirnya mereka yang berada di sana langsung sadar, bahwa seorang monster saat ini sedang memasuki wilayah mereka. Apalagi Zen saat ini mulai menarik pedang yang digenggamnya itu, agar bisa terlepas dari pria yang saat ini sedang bersusah payah menahan pedangnya agar tidak direbut oleh Zen.
“D-Dewi... siapakah dirinya? Mengapa dia bisa memegang Ame no Ohabari tanpa tekena efeknya?” ucap bawahan dari Amaterasu kepadanya, karena dirinya tidak menyangka bahwa seseorang bisa memegang bilah pedang itu dan tidak mendapatkan efek samping apapun.
Pedang Ame no Ohabari mempunyai kemampuan menetralkan seluruh kekuatan dari orang yang diserangnya. Hal ini termasuk para mahluk mistik, pemilik kekuatan maupun Dewa. Namun anehnya, pedang itu seakan tidak berfungsi kepada Zen yang saat ini mencoba untuk merebut pedang itu dari tangan musuhnya.
__ADS_1
Tentu Amaterasu juga sangat terkejut dengan melihat Zen dengan mudahnya menangkap sebuah bilah pedang yang dapat menonaktifkan kedewaan dari para Dewa. Apalagi dalam legenda, pedang itu bisa memusnahkan seorang Dewa hanya dengan sebuah tebasan saja.
“Sebaiknya, kita pergi terlebih dahulu dari sini”