
Dengan langkahnya yang santai, saat ini Zen mulai memasuki sebuah gedung dari sebuah perusahaan besar di negara ini. Tentu karena perusahaan itu merupakan perusahaan perbankan terbesar di negara ini, bisa dikatakan gedung tersebut sangatlah besar untuk sebuah perusahaan.
Namun kali ini, tentu Zen datang ketempat itu bukan untuk berurusan dengan permasalahan perbankan sama sekali. Karena memang saat ini dirinya datang dengan membawa seorang gadis kecil dan beberapa barang belanjaan yang baru saja dirinya beli untuk keperluan dirinya dalam memasuki tempat tersebut.
"Ingat, apapun yang terjadi kamu tidak boleh melepaskan apa yang Ayah kenakan kepadamu" ucap Zen kepada Kileni, yang saat ini dirinya bantu pasangkan sebuah alat VR pada dirinya.
"Baik ayah" dan begitulah ucapan dari Kileni yang saat ini menjawab perkataan Zen dengan bersemangat atas perintah yang dirinya terima.
Tentu Zen tidak ingin bahwa gadis kecil itu akan melihat apa yang akan dirinya lakukan. Apalagi saat ini semua Istrinya bisa dikatakan sedang sibuk dan tidak ada pihak yang bisa dirinya mintai tolong untuk menjaga Kileni saat ini. Memang masih ada bawahannya, tetapi Zen memutuskan untuk membawanya saja untuk saat ini.
"Lalu, coba kita hidupkan." balas Zen yang saat ini akan memastikan bahwa Kileni benar-benar pandangan dan pendengarannya sudah terhalangi oleh dunia luar.
"Wah.... semuanya berubah" dan begitulah Kileni saat ini pandangannya sudah mulai berubah sepenuhnya tentang apa yang sedang dirinya lihat saat ini.
Melihat bahwa saat ini Kileni sudah teralihkan dengan apa yang dirinya lihat, Zen saat ini dengan senyum jahatnya mulai memasuki gedung yang saat ini akan menjadi tempat pembantaian bagi dirinya. Tentu dirinya terlebih dahulu menyebarkan aura negatif disana terlebih dahulu.
Tentu karena memang banyak pihak yang tidak bersalah disana, Zen harus menjauhkan mereka dari lokasi tempat kejadian yang akan dirinya gunakan sebagai lokasi pembantaian bagi dirinya. Maka dari itu, dirinya mengeluarkan aura negatifnya untuk menjauhkan semua pihak dari tempat ini dan membuat semua pihak yang ada didalamnya untuk keluar.
__ADS_1
Tentu saat ini seluruh karyawan dari Alice yang bekerja pada perusahaannya mulai berbondong-bondong keluar dari perusahaan ini. Apalagi Zen sudah mengatur pemikiran mereka saat ini untuk pulang kembali menuju kediaman mereka, agar dirinya bisa leluasa melakukan apapun yang dirinya mau ditempat ini.
"Aku jadi kucing! Ayo maju kucing, mari kita berkeliling" hingga begitulah ucapan Kileni disela-sela dirinya memainkan sebuah permainan dalam alat Virtual Reality yang sedang dirinya mainkan, disaat Zen masih fokus menyebarkan aura hitamnya ke seluruh gedung ini.
Zen hanya tersenyum saja melihat tingkah Putrinya itu, hingga saat ini dirinya mulai memasuki gedung yang bisa dikatakan sudah ditinggalkan oleh beberapa karyawan yang pulang menuju kediaman mereka masing-masing. Tentu langkah awal Zen adalah untuk mematikan kamera pengawas seluruh ruangan dari gedung ini.
Yang kedua mulai mengunci pintu masuk dari gedung perusahaan ini agar pihak yang ingin dirinya bantai tidak bisa keluar dan melarikan diri. Dan ketiga, yaitu yang paling penting adalah memastikan bahwa Kileni akan tetap memainkan permainannya dan tidak melihat apa yang akan Zen lakukan nantinya.
"Baiklah, mari mulai" ucap Zen yang saat ini masih setia menggendong Kileni dan masih asik memainkan permainannya.
Zen dengan langkah santai saat ini mulai memasuki gedung tersebut semakin dalam. Apalagi yang tersisa dari gedung tersebut hanya para karyawan yang memang bekerja dengan pihak yang menculik sosok dari Kileni. Sehingga Zen memutuskan untuk membasmi mereka semua karena berani-beraninya mencari masalah dengannya.
Dengan satu persatu tubuh dari pihak yang dirinya tembak itu mulai tergeletak dilantai, Zen tentu tidak tinggal diam dan terus memasuki perusahaan dari Alice ini lebih dalam. Memang selain para karyawan yang merupakan mata-mata untuk mengawasi perusahaan ini yang masih berada ditempat ini, pengawal dari pria yang menjadi otak dari penculikan Kileni juga ada ditempat ini.
Jadi, saat ini Zen harus membunuh mereka satu-persatu, barulah dirinya mencapai posisi tempat dimana pihak yang menyuruh beberapa orang menculik sosok Kileni berada. Dan itulah yang dilakukan oleh Zen, yang saat ini sudah membunuh beberapa pihak menggunakan pistolnya secara mengendap-endap.
"Ho... ayo lompat kucing" tentu Zen juga merasa senang, karena suara pertempuran yang dirinya lakukan ditemani dengan suara Kileni yang sedang asik memainkan sebuah permainan.
__ADS_1
Namun sedang asik melihat tingkah dari Kileni yang sedang asik memainkan permainannya, Zen sampai tidak sadar bahwa saat ini pada sebuah belokan dari sebuah koridor, dirinya malah bertemu dengan sosok pengawal yang menjaga atasannya berada ditempat ini.
Untung saja Zen bergerak lebih cepat, hingga sebuah timah panas langsung menembus kepala dari beberapa pihak yang dirinya temui dari belokan koridor tersebut. Sehingga saat ini mereka semua sudah terkapar tak bernyawa atas tindakan Zen yang bisa dikatakan sangatlah cepat dalam mengambil tindakannya.
Melihat bahwa sepertinya pihak tersebut merupakan pihak terkahir yang menjaga bagian luar dari luar ruangan Alice, membuat Zen mulai mengeluarkan Ame no Ohabari miliknya dan memutuskan kepala pihak yang baru saja dirinya bunuh itu agar terpisah dari tubuhnya, dan Zen langsung membawanya secara langsung bersamanya.
Dan begitulah cerita sebelum Zen sudah melemparkan potongan kepala manusia itu, untuk menyelamatkan Alice disaat dirinya sedang mengalami tindakan kekerasan dari pihak yang memang ingin dibunuh oleh Zen, karena pria itu merupakan dalang dari pihak yang menculik sosok Kileni tadi.
"Pergilah dari sini, dan bawa Kileni bersamamu" ucap Zen yang saat ini sudah berhasil membantu Alice untuk bangkit, dan saat ini menyerahkan Kileni yang asik menjadi seekor kucing dalam game yang dirinya mainkan.
Semua pihak yang berada disana tentu sangat terkejut dengan apa yang dilakukan Zen itu. Siapa yang tidak terkejut melihat pria membawa potongan kepala pada tangannya dan saat ini memasuki tempat ini dengan santai. Maka dari itu, mereka semua masih terpaku dengan apa yang baru saja terjadi itu.
"Sialan, siapa kamu?!" hingga suara Kian yang masih merasa pusing setelah dilemparkan sebuah potongan kepala dan mengenai kepalanya mulai bangkit dari tempatnya.
"Aku? Ah... perkenalkan aku calon suami dari Alice" dan begitulah ucapan Zen yang mengejutkan semua pihak yang berada disana disaat mendengarkan perkataannya.
Siapa yang tidak terkejut bahwa Zen merupakan pihak yang memang sedang dicari oleh mereka keberadaannya karena perbuatannya. Bahkan Alice yang memang membuat kebohongan tentang Zen yang merupakan calon suaminya saja juga cukup terkejut dengan perkataan pria itu, yang menyatakan dengan jelas bahwa dirinya merupakan calon suaminya.
__ADS_1
Ada sesuatu yang Alice rasakan disaat mendengar perkataan Zen itu, namun dirinya malah dikejutkan dengan tingkah Zen yang sudah menggiringnya keluar dari ruangan tersebut, agar dirinya bisa membawa Kileni untuk keluar dari sana karena Zen akan membereskan semua pihak yang saat ini berada didalam ruangannya saat ini.
"Cari ruangan lain, dan pastikan kamu menemani Kileni dan menjaga keberadaannya"