Ex-Harem Lord

Ex-Harem Lord
Memastikan


__ADS_3

Suara teriakan kesakitan saat ini terus terdengar dari sebuah ruangan. Bahkan disela-sela pintu ruangan yang ribut itu, pada bagian bawahnya mulai mengalir cairan berwarna mereka yang mulai mengalir keluar dari dalam ruangan yang terdengar sangat berisik itu.


Alice yang melihatnya disaat mencoba mengintip situasi yang terjadi, cukup ketakutan dengan keadaan yang saat ini dilihatnya. Karena bisa dipastikan terjadi sesuatu yang mengerikan didalam sana dan dirinya tidak ingin mengetahui apa yang sudah terjadi didalamnya.


Namun satu hal yang Alice khawatirkan disaat mendengar itu semua, yaitu bagaimana dirinya membereskan semua kejadian itu. Tentu saat ini Zen pasti membunuh beberapa pihak yang berada didalamnya, namun bagaimana jika nanti beberapa pihak kepolisan datang dan menggeledah tempat ini atas kejadian itu.


Maka dari itu, selain dipusingkan dengan keadaan yang terjadi, saat ini Alice juga dipusingkan dengan kejadian yang akan dirinya alami nantinya. Apalagi bisa dikatakan perasaannya yang dirinya rasakan kepada Zen entah mengapa mulai mengganggu pikirannya saat ini.


"Jalan kucing... jalan" hingga apa yang dirinya pikirkan itu mulai berhenti, setelah tingkah ikut dari Kileni yang sedang bermain mampu mengalihkan perhatiannya sejenak.


Tingkat Putrinya itu tentu dapat mengalihkan sejenak apa yang sedang dirinya pikirkan saat ini. Hingga, Alice mulai menyadari bahwa saat ini suara-suara teriakan yang terdengar dari dalam ruangannya pada perusahaan miliknya saat ini mulai terhenti sepenuhnya, setelah sebelumnya berbagai suara bisa didengar dari dalamnya.


Alice yang tidak mendengar apapun lagi, saat ini memutuskan untuk memasuki ruangan tempatnya berada kembali, karena sedari tadi memang dirinya hanya berniat mengintip saja dan memastikan apa yang sedang terjadi tadi. Sehingga di saat suara keributan itu tidak terdengar kembali, membuat Alice kembali menuju ruangan tempatnya berada tadi.


Tentu dirinya langsung duduk terdiam ditempatnya sambil menemani sosok Putrinya saat ini, hingga akhirnya sebuah suara pintu ruangannya yang terbuka mulai terdengar dan diikuti suara kaki yang mulai mendekat kearah ruangan tempatnya berada saat ini.


Mendengar suara itu tentu membuat Alice sedikit waspada. Memang dirinya sangat percaya diri jika Zen mampu mengalahkan mereka semua, tapi dirinya harus memikirkan sesuatu yang terjadi jikalau memang bukan Zen yang saat ini mendatangi tempat ini maka dirinya harus melakukan sesuatu.

__ADS_1


"Hahh... kamu menakutkan diriku, Tuan Zen" hingga suara pintu ruangan tempat dirinya berada itu mulai terbuka, dan memunculkan sosok Zen yang muncul dari baliknya.


Merasa senang tentu saja melihat kedatangannya, hingga tanpa sadar saat ini Alice mulai bangkit dari tempat duduknya dan saat ini memeluk sosok Zen. Tentu hal ini membuat Zen terkejut, hingga sosok Alice yang menyadari sikapnya itu juga terkejut dengan perbuatannya.


Hingga menyembunyikan wajahnya yang terlihat memerah mulai menunduk dan saat ini melepaskan perlahan pelukannya dari tubuh Zen dan saat ini mulai mundur sedikit demi sedikit kebelakang, dan mencoba untuk menjauhi sosok Zen yang tanpa sadar dirinya peluk tadi.


"Ma-maafkan aku Zen" begitulah ucapan Alice yang merasa sangat malu dengan tindakannya.


Zen hanya tersenyum saja mendengarnya, hingga saat ini dirinya mulai melewati sosok Alice yang masih menunduk dan saat ini menuju sosok Kileni yang masih asik memainkan game virtual yang masih melekat di kepalanya dan mulai menggendong gadis kecil itu pada gendongannya dan akan beranjak dari sana.


"Kamu ingin tetap menunduk saja, atau ikut kami untuk keluar dari sini?" ucap Zen yang saat ini kembali menuju ketempat dimana Alice berdiri.


"Kalau begitu, ayo" dan begitulah ucapan Zen yang saat ini mulai meraih tangannya dan mengajaknya keluar dari sana.


Tentu tindakan Zen itu sangatlah membuat terkejut sosok Alice yang saat ini tidak menyangka, bahwa tangan Zen mulai menggenggam tangannya dan mulai mengajaknya bersama keluar dari sana dengan menggandeng tangannya untuk keluar dari sana bersamanya.


Jadi, mau tidak mau Alice saat ini hanya mengikuti langkahnya saja dan mulai ikut dengan Zen yang keluar dari sana bersama Putrinya, karena memang apa yang dilakukan Zen ditempat ini bisa dikatakan sudah terselesaikan sepenuhnya dan mereka bisa keluar dengan aman dari gedung perusahaan dari Alice saat ini.

__ADS_1


"Tunggu, apakah anda membiarkan mereka kabur, Tuan Zen?" tanya Alice yang melihat ruangannya bisa dikatakan cukup bersih, walaupun memang keadaan didalamnya terlihat kacau.


Bisa dilihat, bekas darah yang sebelumnya dirinya lihat mulai menghilang sepenuhnya. Bahkan seluruh sosok yang sebelumnya terkurung bersama Zen pada ruangannya, bisa dikatakan tidak terlihat lagi didalamnya, sehingga Alice langsung bertanya kepada Zen apa yang sebenarnya terjadi ditempat ini.


"Tenanglah, aku sudah membereskan mayat mereka. Tapi, maafkan aku karena tidak mampu membereskan kerusakan yang terjadi pada ruangan mu" balas Zen yang memang sudah memanggil Bari dan menyelesaikan semua hal yang memang dirinya lakukan ditempat ini.


Mendengarnya tentu saja membuat Alice terkejut, karena memang dirinya tidak menyangka bahwa Zen bisa melakukan semua itu. Memang dirinya sangat tahu bahwa Zen bukankah seorang manusia, namun tetap saja dirinya belum mengetahui sama sekali identitas dari Zen sebenarnya yang merupakan Deadly Sins.


Maka dari itu, dirinya cukup tercengang melihat itu semua, hingga pemikirannya tentang kejadian itu mulai teralihkan dengan Zen yang masih menggenggam tangannya mulai menariknya untuk beranjak dari sana, meninggalkan kekacauan yang sudah terjadi di kantor perusahaan miliknya yang bisa dikatakan sudah kacau sepenuhnya.


"Lalu, apa yang harus aku lakukan selanjutnya, Tuan Zen?" ucap Alice disela-sela mereka berjalan keluar dari perusahaan ini.


Bisa dipastikan bahwa perusahaannya sudah hancur sepenuhnya. Beberapa pihak yang bekerja pada perusahannya bisa dikatakan merupakan pihak suruhan dari beberapa pihak yang mencoba mengendalikan perusahaan ini, agar tetap bisa melakukan bisnis yang selama ini perusahaan ini lakukan.


Tentu banyak hal yang memang tersembunyi didepan mata Alice, walaupun dirinya merupakan pemilik perusahaan ini. Karena beberapa bawahannya sudah mencoba menyembunyikan kebusukan mereka dihadapannya, sehingga Alice saat ini tidak mampu melihat apa yang sedang terjadi pada perusahannya sendiri.


Bisa dikatakan beberapa transaksi dilakukan oleh pegawainya yang memang bekerja ditempat ini karena mereka merupakan mata-mata dari pihak yang mencoba mengendalikan perusahaan ini. Bahkan Alice bisa dikatakan ikut terseret, karena memang saking percaya dirinya dengan beberapa pegawainya, dirinya berani menyerahkan tanggung jawab perusahannya kepada mereka.

__ADS_1


Dan hal itulah yang saat ini menjadi kekhawatiran bagi sosok Alice, karena semua yang dirinya perbuat selama ini akan percuma, karena perusahannya sudah sangat kacau sepenuhnya. Apalagi beberapa karyawan yang dirinya percayai ternyata sudah mengkhianati dirinya dan membuat perusahaan ini akan hancur kedepannya.


"Tenanglah. Bukankah diriku merupakan calon suamimu?"


__ADS_2