
Dua hari akhirnya berlalu dengan cepat dan saat ini seorang pria sedang mentraktir seorang wanita untuk makan malam bersamanya, karena malam ini merupakan hari terakhir wanita yang sedang dirinya traktir berada di kota ini.
“Hahh... coba saja kita tidak dipanggil oleh pihak kepolisian” kata Angel.
“Sudahlah, bukankah minggu lalu kita sudah bersenang-senang?” balas Zen yang saat ini langsung menyuapkan sepotong daging ayam bakar kedalam mulutnya.
“Tetapi aku ingin menghabiskan waktu bersama Kakak dihari terakhirku” ucap Angel yang masih terlihat sangat sedih.
Karena Zen dipanggil oleh pihak kepolisian dua hari yang lalu, maka dari itu libur Zen jadinya harus dipindahkan dan hari ini yang sebenarnya dirinya akan berkencan kembali bersama Angel, harus dibatalkan karena hari ini dirinya harus bekerja.
Angel cukup sedih memang, karena rencana yang dia sudah persiapkan untuk menghabiskan hari ini bersama Zen harus diurungkan karena kejadian tersebut. Namun sebagai gantinya, Zen saat ini membawa Angel untuk mentraktir dirinya makan malam.
“Tenanglah, lagipula besok aku bisa mengantarkan dirimu menuju terminal” balas Zen.
“Kakak tidak bekerja besok?” tanya Angel yang cukup terkejut mendengar bahwa Zen akan mengantarkan dirinya.
“Aku sudah bertukar sif dengan Deki” Kata Zen yang membuat Angel sangat senang mendengarnya.
Entah mengapa aura yang dikeluarkan oleh Angel ketika dirinya senang sangat membuat Zen sangat senang saat mendapatkannya. Walaupun aura tersebut tidak menaikan kekuatannya secara signifikan, tetapi Zen cukup senang untuk setidaknya mencoba mengeluarkan aura kebahagiaan itu dari Angel.
“Benarkah?” tanya Angel yang mencoba mengkonfirmasi perkataan Zen.
“Iya... besok aku akan masuk sif siang, jadi paginya aku masih sempat mengantarkan dirimu menuju terminal” balas Zen.
Angel akhirnya mulai tersenyum setelah sedari tadi wajahnya terlihat sangat murung karena batalnya rencana mereka hari ini. Namun satu yang membuat Angel bingung saat ini, apakah Zen mempunyai sebuah perasaan untuknya.
Cukup aneh memang seorang pria yang sebelumnya sangat cuek, tiba-tiba saja sangat perhatian kepadanya. Walaupun Angel tidak berani memastikannya, tetapi didalam hati kecilnaya ingin sekali mengetahui apa sebenarnya perasaan yang dimiliki Zen untuknya.
__ADS_1
Namun satu yang menjadi kendala saat Angel mencoba menanyakan perasaan Zen, yaitu sikap cueknya akan tiba-tiba muncul dan hal itu cukup membuat Angel kebingungan dengan sikap yang ditunjukan Zen kepadanya.
“Apa yang sedang kamu lamunkan, cepat habiskan makananmu” Kata Zen yang saat ini memperhatikan Angel yang sedari tadi menatapnya sambil melamun.
“A-Ah... iya Kak” balas Angel sambil tersenyum, setelah mendengar teguran dari Zen.
Seperti biasa, Zen akan memesan banyak makanan untuk disantap oleh dirinya sendiri. Sedangkan Angel hanya setia memperhatikan Zen makan karena memang makanan yang dipesannya pasti selalu habis terlebih dahulu.
Namun satu hal yang membuat Angel terganggu saat ini setelah kejadian dirinya diperiksa di kantor kepolisian sehari sebelum Zen diperiksa, dan membuat dirinya memutuskan untuk menanyakan langsung kepada Zen.
“Kak... bisakah Kakak menjelaskan kejadian setelah Kakak menyelamatkanku saat hampir diperkosa dulu?” tanya Angel.
Memang Angel sudah mengetahui bahwa pria yang memperkosanya ternyata sudah meninggal dikarenakan rumahnya terbakar dan dirinya ikut terpanggang di sana. Angel juga tidak melaporkan pria itu kepada pihak kepolisian karena Zen berkata itu akan percuma saja, karena pria itu tidak akan bisa lagi mengganggunya.
Namun Angel masih terganggu karena cukup aneh rumah tersebut tiba-tiba terbakar dan membuat Angel takut karena mungkin saja Zen yang melakukan semua itu. Tetapi Angel langsung saja membuang pemikirannya itu karena menurutnya Zen tidak mungkin melakukan hal seperti itu.
“Tetapi kenapa Kakak tidak membawaku menuju rumah sakit dan melarang diriku melaporkan kejadian itu kepada pihak kepolisian, bahkan memaksaku untuk menyembunyikan semua kejadian yang aku alami kepada siapapun termasuk pihak kepolisian?” tanya Angel kemudian.
“Sebenarnya aku ingin membiarkanmu untuk melaporkannya Angel, tetapi apakah kamu ingat berita tentang rumah seorang konglomerat yang terbakar setelah dirimu masuk kerja di pagi harinya?” Tanya Zen yang membuat Angel kembali mengingat-ingat kejadian yang dia alami setelah dirinya bekerja tepat keesokan hari setelah kejadian pelecehan yang dialaminya.
Setelah dirinya berpelukan dengan Zen pada hari dirinya masuk kerja, memang Angel mulai bekerja seperti biasa. Seperti biasa sebuah saluran televisi akan menemani dirinya bekerja dan tepat saat itu berita yang sedang hangat adalah kebakaran rumah dari seorang konglomerat.
“Ya... Tentu saja aku mengingatnya. Rumah itu menjadi saksi kejadian paling kelam yang pernah aku alami.” balas Angel.
“Maka dari itu, aku melarang dirimu melaporkan kejadian tersebut kepada pihak kepolisian” balas Zen dan membuat Angel mulai semakin bingung dengan perkataan Zen.
Memang Angel diberitahukan bahwa pria yang menculiknya terpanggang bersama rumahnya saat pemeriksaan yang dilakukan oleh Santi. Namun saat itu Angel menyembunyikan semua fakta tentang pria tersebut, karena memang Angel berusaha menutupi semua kejadian yang dialaminya seakan dirinya tidak mengenal pria yang ditanyakan oleh Santi kepadanya.
__ADS_1
“Lalu apa hubungannya dengan tidak boleh memberitahukan kepada siapapun tentang apa yang aku alami itu?” tanya Angel yang masih bingung.
“Hahh... bayangkan saja. Aku menyelamatkanmu saat dirimu akan perkosa malam itu. Lalu tiba-tiba saja beberapa waktu kemudian rumah itu terbakar dan menewaskan orang yang berada didalamnya. Sekarang aku tanya, siapa yang akan dicurigai pertama kali jika kamu menceritakan kejadian yang kamu alami itu kepada pihak kepolisian?” tanya Zen yang sebenarnya sedikit kesal bahwa Angel sedari tadi tidak mengerti dengan perkataannya.
Mendengar itu Angel akhirnya paham. Alasan sebenarnya Zen melarangnya tidak memberitahukan siapapun tentang permasalahan tersebut, karena Zen tidak ingin dirinya ikut terseret dalam kasus yang sedang terjadi dan mungkin bisa menjeratnya menjadi seorang tersangka.
“T-Tetapi, Kebakaran itu bukanlah perbuatan Kakak bukan?” tanya Angel yang sebenarnya sedikit takut jika memang benar Kakaknya itu yang membakarnya.
“Tentu saja tidak.” Jawab Zen singkat.
Angel mulai bernafas lega, karena dirinya mendengar Zen tidak melakukan semua itu. Bukan karena dirinya takut Zen menjadi seorang pembunuh, dirinya hanya takut Zen menjadi seorang pembunuh karena menyelamatkan dirinya.
“Syukurlah kalau beg-” namun gumaman Angel itu mulai terhenti setelah dirinya mengingat kembali apa yang dikatakan Santi kepadanya saat pemeriksaan yang dia jalani.
Pria yang mencoba membeli dirinya dari Ayahnya mati, orang yang hampir memperkosanya mati, bahkan pria yang membuatnya menjadi bahan taruhan juga mati. Dan semua itu terjadi saat Zen datang membelanya.
Angel mulai kembali memandang kearah Zen yang saat ini sedang makan makanannya dengan lahap dan tidak memperdulikan Angel yang saat ini sedang menatap Zen dengan tatapan penuh selidik.
“Bukan seperti itu bukan Kak?” tanya Angel yang membuat Zen langsung menghentikan aktivitas makannya karena mendengar pertanyaan aneh yang dilontarkan oleh Angel.
“Bukan seperti apa?” tanya Zen yang sangat bingung dengan kalimat yang dilontarkan oleh Angel.
“Apakah Kakak mengetahui keberadaan Ayahku?” tanya Angel kemudian yang saat ini sedang menatap Zen dengan tatapan yang intens.
Zen yang mulutnya masih penuh dengan makanan hanya mengangkat kedua bahunya dan menandakan bahwa dirinya tidak mengetahui keberadaan Ayahnya. Namun Angel saat ini masih menatap Zen dengan tatapan penuh selidiknya.
“Jawab aku dengan jujur Kak, Kakak tidak membunuh mereka karena diriku bukan?”
__ADS_1