Ex-Harem Lord

Ex-Harem Lord
Rasa Kesukaan Baru


__ADS_3

Seorang pria saat ini sedang berlutut didepan istrinya, karena bisa dikatakan dirinya baru saja melanggar perkataan Istrinya yang dimana sudah mereka sepakati sebelumnya. Sambil menghela nafasnya, sang istri saat ini hanya bisa memijit keningnya yang terasa pusing itu akibat ulah suaminya.


Memang pada awalnya dirinya sudah memprediksi kejadian ini akan terjadi. Namun dirinya tidak menyangka bahwa akan secepat ini semua itu mulai terjadi, sehingga dirinya harus menambahkan satu lagi pihak yang harus dirinya awasi atas perbuatan suaminya yang baru saja menceritakan apa yang terjadi tersebut.


"Hahh... padahal masalah keempat wanita yang lainnya saja belum terselesaikan, dan kamu sudah menambah satu, Zen" ucap Vero frustasi, karena saat ini bertambah satu lagi wanita yang mungkin akan menjadi saudarinya kelak.


Vero cukup terkejut pada awalnya, dikarenakan suaminya itu tiba-tiba saja berlutut didepannya. Tentu awalnya Vero tidak tahu mengapa pria itu melakukan hal tersebut kepada dirinya, namun sesaat kemudian akhirnya suaminya itu mulai menjelaskan semuanya.


Mendengarkan perkataan suaminya itu, tentu ada perasaan kesal didalam hatinya. Karena bisa dikatakan dirinya berharap wanita yang saat ini sedang dijelaskan bahwa memiliki perasaan kepadanya, untuk tidak terlebih dahulu mengeluarkan aura tersebut.


Namun nyatanya, saat ini suaminya sudah berlutut dan mulai membeberkan semua hal yang sangat dirinya tidak harapkan untuk terjadi. Apalagi semua hal itu akan semakin memusingkan dirinya dalam mencoba mengendalikan situasi atas hubungan suaminya kelak.


"Maafkan aku, Istriku. Aku tidak sengaja melakukannya" balas Zen yang berusaha menjelaskan apa yang terjadi tadi, dan berusaha sebisa mungkin untuk terlihat merasa bersalah saat ini.


Siapa yang mengira bahwa Santi akan mengeluarkan aura kebahagiaan untuk Zen. Karena bisa dibilang, selama ini wanita itu tidak menunjukkan gelagat bahwa dirinya akan mempunyai aura tersebut, dan membuat Zen bisa santai untuk menghadapi dirinya.


Namun dirinya sama sekali tidak menyangka, bahwa perbuatan terakhirnya yang ingin menyelematkan dirinya malah memicu wanita tersebut untuk menyukai dirinya. Maka dari itu, permalasahan itu sedang dirinya beritahu kepada Istrinya, dan membuat Zen mulai berlutut dihadapannya saat ini.


"Lalu, apa tanggapan dari dirinya?" tanya Vero kepada suaminya tersebut, setelah mulai mencerna semua perkataan suaminya tersebut.


"Masih bersikap seperti biasa. Tapi dipastikan dirinya sudah menunjukkan berbagai tingkah bahwa dirinya memang menyukai diriku" jawab Zen dan membuat Vero mulai menghela nafasnya kembali setelah mendengar perkataannya.


Bisa dikatakan Vero ingin menyelesaikan terlebih dahulu permasalahan wanita yang mengeluarkan aura kebahagiaan untuk Zen. Karena saat ini sudah ada empat yang harus dirinya perhatikan, karena mereka mengeluarkan tahap pertama dari berkah ikatan dengan Zen.


Walaupun dirinya bisa berfokus kepada dua pihak saja untuk saat ini, tetapi dirinya ingin fokus dalam mencoba memahami kedua wanita tersebut yang mungkin akan menjadi saudarinya nanti. Maka dari itu, dirinya tidak berharap Zen untuk terburu-buru menambah wanita yang menyukai sosoknya.

__ADS_1


Namun saat ini Zen sudah menambah satu dan membuat Vero harus bekerja ekstra untuk memperhatikan perilaku dari wanita-wanita itu yang kelak akan menjadi Istri suaminya. Maka dari itu dirinya mulai menghela nafasnya karena saat ini sudah semakin bertambah jumlah wanita yang mengeluarkan aura kebahagiaan tersebut.


"Baiklah, yang sudah terjadi biarlah terjadi. Dan juga, mengapa kamu harus berlutut untuk mengatakan semua itu?" ucap Vero karena memang dirinya sama sekali tidak menyuruh Suaminya itu untuk berlutut dihadapannya.


Memang berlutut adalah inisiatif dari Zen, karena dirinya takut bahwa Istrinya akan marah dengan kekakuannya. Apalagi bisa dikatakan dirinya sudah melanggar janji mereka yang sudah mereka buat sebelumnya, sehingga untuk menunjukkan rasa penyesalannya, Zen saat ini mulai berlutut dihadapan dirinya.


Bahkan disaat dirinya sedang mengungkapkan itu semua, bisa terlihat raut wajah dingin Istrinya tadi mulai menatap sosoknya, seakan ingin menghabisi sosok Zen yang memang sudah melanggar perkataannya. Maka dari itu, dirinya memikirkan bahwa berlutut adalah solusi agar Istrinya tidak terlalu merasa marah kepada dirinya.


Namun sepertinya Istrinya itu tidak perlu diperlakukan seperti itu. Karena bisa dikatakan, dirinya hanya merasa sedikit terbebani saja jika saat ini jumlah wanita yang memiliki aura kebahagiaan untuk Zen akan bertambah sangat banyak, karena dirinya harus mengurus permasalahan mereka untuk memeriksa kepribadian mereka jika ingin bergabung menjadi Istri dari Zen kedepannya.


Memang cinta mereka jika mengeluarkan aura tersebut bisa dikatakan sangat amat tulus kepada Zen. Tetapi dirinya tidak mau bahwa nanti salah satu pihak akan berusaha bersikap dominan dalam keluarga mereka, dan malah membuat retak hubungan mereka yang sudah terbangun sehingga membuat kehidupan mereka kelak akan hancur sepenuhnya.


Maka dari itu, Vero ingin memastikan terlebih dahulu bagaimana tanggapan mereka dengan hidup saling berbagi nantinya, agar hubungan keluarga yang sudah mereka bangun tidak akan runtuh apapun yang terjadi dan hal tersebutlah yang tidak diinginkan oleh Vero.


Apalagi dirinya juga berharap, hubungan keluarga mereka akan seperti hubungan para saudari-saudarinya yang lain, yang menikahi saudara dari Zen dan bisa dikatakan kehidupan mereka sangat harmonis satu sama lainnya dan tidak terlihat sedang berkonflik satu sama lainnya.


"Ini adalah hanya bentuk penyesalanku, Istriku." Hingga begitulah balasan yang Vero terima dari perkataan Suaminya, yang memang menjawab pertanyaannya tadi.


"Cih... kamu tidak perlu menyesal karena aku tahu kamu juga menginginkannya, Jadi bangkitlah. Apalagi, wanita itu sudah lama kenal dengan dirimu, jadi wajar jika dirinya mengeluarkan aura tersebut kepadamu" balas Vero yang sebenarnya tidak mempermasalahkan tentang perilaku dari Zen pada awalnya setelah mendengar bahwa Santi memiliki perasaan kepadanya.


Memang yang membuat Vero benar-benar pusing jika Zen memancing seorang wanita yang sangat asing bagi dirinya untuk memiliki aura tersebut. Maka dari itu, dirinya tidak mempermasalahkan jika memang seorang wanita yang sudah kenal dan mengetahui sosok Zen sudah lama akan mengeluarkan aura tersebut.


Dirinya tidak mau bahwa suaminya itu akan tebar pesona sembarangan dan memikat sosok wanita yang benar-benar tidak dikenalnya. Maka dari itu, dirinya membuat peraturan agar suaminya itu tidak menambah lagi beberapa wanita secara terburu-buru.


Contohnya Freya yang merupakan seorang Dewa. Tentu Vero tidak ingin Zen membangun hubungan dengan wanita asing terlalu cepat, karena bisa dikatakan wanita itu langsung jatuh cinta kepada Zen hanya dengan sekali pertemuan saja. Karena bisa dikatakan Zen belum sempat mengetahui watak dan sifat dari wanita tersebut.

__ADS_1


Maka dari itu kedepannya dirinya berharap ada sebuah tahap yang akan terjadi sebelum seorang wanita akan mengeluarkan aura tersebut, karena terasa sangat aneh jika tiba-tiba saja sosok seorang wanita akan langsung mengeluarkan aura tersebut tanpa ada sesuatu yang spesial terjadi antara mereka dan suaminya.


Apalagi hal itu akan membuat buruk hubungan rumah tangga mereka, jika sosok asing akan langsung masuk kedalam sebuah keluarga yang sudah akan dibentuk dengan sangat harmonis kedepannya. Maka dari itu, Vero selalu menjaga bahwa suaminya itu tidak sekedar sembarangan mencari seorang wanita.


"Dan juga, pastikan kamu tidak menambah lagi wanita yang mengeluarkan aura itu dengan sangat cepat, termasuk seorang wanita yang akan kamu temui nanti" Hingga akhirnya Vero yang masih berdiri dihadapan Zen mulai menyerahkan sebuah undangan kepada Zen yang masih berlutut ditempatnya.


Zen yang masih merasa bersalah tentu masih setia berlutut untuk menunjukkan rasa bersalahnya. Namun tetap saja, dirinya mulai bersikap dengan santai saat ini dan menerima pemberian Istrinya tersebut dan saat ini mulai melihat apa yang diberikan kepadanya itu.


Tentu dirinya cukup dibuat bingung dengan berbagai kertas semacam pamflet dan sebagainya yang saat ini diserahkan kepadanya, sehingga dirinya mulai membaca isi dari semua itu. Cukup kebingungan memang mengapa Istrinya itu memberikan hal seperti itu kepadanya.


"Tiket konser?" gumam Zen yang membaca salah satu dari apa yang diberikan kepada Vero kepadanya itu.


Saat ini ditangan Zen terdapat sebuah tiket konser, tiket pesawat dan sebuah surat yang diberikan oleh Vero kepadanya. Pada awalnya Zen bingung mengapa Istrinya itu memberikan semua itu kepadanya, sebelum Zen benar-benar membaca semua itu dan mulai mengerti dengan apa yang sebenarnya yang sudah dirinya terima saat ini.


"Siapa yang mengirimkan ini semua, Vero?" tanya Zen kepada Istrinya, karena dirinyalah yang memberikan ini semua kepada dirinya.


"Sepertinya wanita itu yang mengirimkan secara langsung kepadamu, Zen. Karena memang, dirinya mengirimkannya tepat pada kediamanku ini" ucap Vero membalas perkataan suaminya itu.


Memang Bibi Leni sendirilah yang menerima kiriman itu pertama kali, karena bisa dikatakan semua itu dikirimkan secara langsung menuju kediaman ini. Maka dari itu, dipastikan bahwa pihak yang ingin membuat Zen hadir pada konsernya tersebut yang mengirimkan secara langsung kepada Zen saat ini.


Namun yang membuat mereka kebingungan saat ini, mengapa wanita itu mengetahui tempat tinggal dari Zen bakan mengirimkan secara langsung semua itu kepada dirinya. Maka dari itu, dengan tatapan yang penuh kecurigaan, Vero kembali ingin mengusut sesuatu yang sedang terjadi saat ini.


"Tapi Zen, apakah kamu yakin bahwa kamu tidak pernah bertemu dengannya?" tanya Vero kembali kepada suaminya itu, yang masih berlutut ditempatnya saat ini.


Karena cukup aneh jika seorang publik figur paling terkenal di dunia ini akan mengundang suaminya jika mereka tidak saling kenal. Apalagi tiket konser yang akan terlaksana di Korea Selatan itu bisa dikatakan tiket konser dengan tingkat VIP. Bahkan tiket pesawat yang diberikan kepada Zen untuk mengantarkannya kesana juga merupakan tiket pesawat First Class.

__ADS_1


Maka dari itu cukup aneh jika Zen tidak mengenal sosok publik figur paling terkenal itu, karena semua hal yang saat ini sudah terjadi seakan menandakan bahwa mereka memang saling kenal. Namun nyatanya, bisa dikatakan Zen memang sama sekali tidak mengenal pihak tersebut.


"Aku benar-benar tidak mengenalnya, Istriku. Bahkan aku bingung, mengapa dirinya mengirimkan ini semua kepadaku"


__ADS_2