Ex-Harem Lord

Ex-Harem Lord
Hadiah


__ADS_3

Zen langsung menunduk kebawah untuk mengambilkan boneka yang dia menangkan itu. Setelah mengambilnya, tentu Zen langsung memberikannya kepada Angel yang saat ini masih diam terpaku ditempatnya dan sedang memperhatikan Zen sedari tadi.


Angel masih sangat terkejut, karena Zen berhasil mengambil sebuah boneka yang sedari tadi sangat dia inginkan hanya dengan satu kali kesempatan. Tetapi setelah boneka itu disodorkan oleh Zen kepadanya, Angel langsung menerimanya dan memeluknya erat.


“T-Terima kasih Kak” balasnya setelah menerima boneka beruang yang dia inginkan itu.


Angel memeluk boneka itu sambil menyembunyikan setengah wajahnya pada pelukan bonekanya, karena bisa dilihat saat ini wajahnya mulai merona setelah mendapatkan sebuah hadiah yang berasal dari Zen.


Zen yang tidak memperdulikan keadaan Angel, mulai mengubah pandangannya menuju seorang pria yang saat ini masih terlihat sangat terkejut dengan kejadian yang baru saja dia alami. Namun Pria yang masih terpaku ditempatnya itu akhirnya tersadar bahwa saat ini beberapa orang sedang menatapnya karena kekalahan yang dia terima tadi.


“Mana?” Balas Zen dengan santai kepada pria yang saat ini masih belum bisa menerima kekalahannya itu.


Tetapi karena pria itu sedang ditatap oleh beberapa orang yang menonton apa yang dirinya bersama Zen lakukan tadi, mau tidak mau dirinya mulai mengeluarkan kembali dompetnya dan memberikan semua isinya kepada Zen.


Walaupun jumlahnya hanya satu setengah juta dengan pecahan seratus ribuan, namun Zen tetap menerimanya dengan senang hati. Namun anehnya Zen masih mengulurkan tangannya untuk meminta sesuatu kepada pria yang saat ini ingin beranjak dari sana.


“Kenapa? Bukankah aku sudah memberikanmu semua uang yang kubawa” tanya pria itu sekali lagi.


“Ho... bukankah kamu akan memberikan semua harta yang sedang kamu bawa bersamamu saat ini kepadaku?” tanya Zen kemudian yang mencoba mengulang isi perjanjian mereka tadi.


Tentu saja pria itu mengingat apa yang dia katakan untuk taruhan yang dia lakukan tadi. Tetapi dia masih bingung mengapa pria yang sudah menerima uang darinya itu, masih meminta sesuatu kepadanya.


“Aku sudah mem-”


“Jam tanganmu” balas Zen kemudian yang memotong perkataan pria itu lebih lanjut.


“Apa? Mengapa aku harus memberikan jam tanganku?” balasnya kembali.


“Bukankah kamu bilang akan memberikan semua harta yang berada ada dirimu kepadaku?” tanya Zen kemudian.


“Tetapi tid-”

__ADS_1


“Cih... dasar penipu”


“Baru kali ini aku melihat pria yang tidak menepati janjinya”


“Sampah”


“Dasar pembual”


Dan begitulah perkataan pria itu kembali terpotong, setelah dirinya mendengar kata cemoohan dari beberapa orang yang sedang menonton perdebatannya dengan Zen. Bahkan anehnya, temannya yang dia tugaskan untuk menjadi provokator, jika orang yang dia ajak taruhan tidak mau menepati janjinya malah ikut mengejeknya.


“Cepat tepati janjimu sampah” balas seorang lagi.


Memang pria yang sedang terpojok itu sering melakukan taruhan kepada beberapa orang, terlebih lagi beberapa pasangan yang wanitanya sangat cantik. Modusnya akan sama sepeti apa yang dirinya lakukan kepada Zen, yaitu mengajak taruhan kepada pria dari wanita yang dia incar.


Untuk memuluskan rencananya, tentu dirinya perlu beberapa orang provokator, jika sang pria tidak menepati janjinya. Namun kali ini anehnya semuanya malah berbalik kepadanya, bahkan orang yang sudah dia bayar malah mengejek dirinya terang-terangan.


“Lihatlah gesss... orang ini membuat taruhan namun tidak ditepati”


“Cih... baiklah-baiklah” balas pria itu yang masih menunjukan ekspresi angkuhnya, walaupun didalam hatinya merasa sangat tidak rela dan emosi saat ini.


Dirinya dengan terpaksa memberikan jam Rolex miliknya kepada Zen dengan perasaan tidak rela. Walaupun jamnya bukan edisi yang langkah, tetapi tetap saja harganya puluhan juta dan dirinya harus mengikhlaskannya untuk diberikan  kepada Zen.


Namun setelah Zen menerima jam tangannya, Zen masih mengulurkan tangannya untuk meminta sesuatu dan membuat pria itu kembali membulatkan matanya karena terkejut, karena menurutnya dirinya sudah memberikan semua hartanya kepada Zen.


“Bukankah aku sudah memberikan semuanya?” tanyanya sekali lagi.


“Pakaianmu” tunjuk Zen kearah pakaian yang sedang digunakan pria itu.


Pria itu saat ini memang menggunakan pakaian kasual dari merek ternama, bahkan logo dari produsen pakaian itu tertera dengan jelas pada pakaian yang sedang dia kenakan. Tetapi pria itu tidak menyangka, bahwa Zen akan meminta pakaiannya juga saat ini.


“Apa maksudmu..!” teriaknya yang sudah tidak bisa menahan emosinya saat ini.

__ADS_1


Namun sorakan pendukung Zen mulai menggema dan membuat dirinya semakin terpojok. Bahkan orang-orang yang sebelumnya berkerumun di sana yang jumlahnya hanya sedikit, sekarang sudah mulai banyak dan ikut menyorakinya.


“Sudahlah Kak, biarkan saja dia pergi” kata Angel yang melihat keadaan tempat itu semakin ramai dan saat ini mereka menjadi bahan tontonan karena kekacauan tersebut.


“Apa kamu yakin... Bukankah kamu menjadi bahan taruhannya. Bagaimana jika aku kalah, memangnya dirinya akan bersikap seperti dirimu saat ini yang membiarkan dirimu pergi begitu saja?” balas Zen.


“Aku tahu... tetapi Kakak tidak akan membiarkannya bukan, jika aku dipaksa dibawa pergi olehnya” Balas Angel sambil tersenyum memohon kepada Zen untuk menyudahi pertikaian yang sedang terjadi itu


“Hahh... Baiklah.. Baiklah” Gumam Zen.


Zen lalu menarik semua aura negatifnya dari semua orang yang berada di sana, agar keadaan tempat itu kembali kondusif dan membuat gestur agar pria itu pergi dari sana. Tentu saja melihat hal itu, pria itu mulai beranjak dari sana, namun perasaan emosinya karena dipermalukan masih tertanam dengan subur didalam dirinya.


“Tunggulah dirimu... aku akan membalaskan semua penghinaan ini” gumam pria itu yang saat ini sudah menghilang dari pandangan orang-orang yang berada di sana.


Saat pria itu sudah pergi, beberapa orang mulai merasakan sedikit keanehan dengan tindakan mereka tadi. Mereka merasa bahwa emosi mereka tiba-tiba saja meledak dan membuat mereka berperilaku seperti tadi.


Setelah sosok pria tadi sudah menghilang dari pandangan semua orang, barulah beberapa orang juga mulai membubarkan diri dan tidak menghiraukan apa yang mereka alami tadi, terutama Zen dan Angel yang memutuskan untuk tidak melanjutkan berkeliling ditempat itu dan memilih pergi mencari kedai makanan untuk tempat mereka akan makan siang.


“Tetapi Kakak sangat hebat, aku saja berulang kali mencoba mengambil boneka ini tetapi aku tidak bisa mendapatkannya” kata Angel yang saat ini sedang memuji keterampilan Zen yang dapat memberikannya sebuah boneka incarannya.


“Heh.. itu perkara yang mudah” balas Zen santai dan entah mengapa merasa bangga dengan perkataan dari Angel.


Yang Angel tidak tahu, Zen sebenarnya sedikit menggunakan kekuatannya untuk memuluskan kemenangan taruhannya tadi, karena Zen bisa merasakan bahwa pria tadi mencoba untuk curang demi memuluskan kemenangannya.


Tentu saja karena Zen merupakan perwujudan sifat negatif, dirinya pasti tidak akan membiarkan beberapa orang yang menggunakan trik kotor untuk mengalahkannya dan mencoba mengelabuinya.


“Dan terima kasih sekali lagi atas Hadiahnya Kak” balas Angel sambil tersenyum bahagia sambil memeluk bonekanya dengan erat.


Ya.. aura kekuatan mulai memasuki tubuh Zen walaupun jumlahnya sedikit. Namun hal itu membuat Zen sedikit senang karena sebuah aura yang membuatnya nyaman perlahan memasuki tubuhnya.


“Ya... lagipula kapan lagi diriku akan memberikanmu hadiah kembali. Bukankah dirimu akan pergi dari kota ini bukan?”

__ADS_1


__ADS_2