
Hari akhirnya mulai berganti, yang dimana sepasang suami istri saat ini sudah duduk di meja makan tempat dimana mereka berada saat ini. Memang tidak seperti biasanya mereka seperti itu, yang dimana pagi mereka bisa dianggap selalu terburu-buru saat mereka menjalaninya.
Namun saat ini, mereka seakan lebih santai menjalani pagi hari mereka, karena bisa dikatakan hari ini merupakan akhir pekan bagi mereka. Dengan hari yang dimana mereka sedang libur, akhirnya mereka bisa menikmati waktu mereka lebih santai saat ini.
“Jam berapa kalian akan menuju ke perancang busana?” tanya Bibi Leni disela-sela sarapan pagi yang sedang dirinya lakukan bersama Anabelle, Zen dan Vero.
“Mungkin agak siangan, Bibi” jawab Vero yang menyahuti pertanyaan yang dilontarkan oleh wanita tersebut kepada dirinya dan suaminya.
Karena hari ini merupakan hari libur bagi dirinya, Vero memutuskan untuk mengajak Zen menuju ketempat perancang busana untuk membuatkan setelan formal untuk Zen, agar dirinya bisa menghadiri sebuah acara yang formal yang akan mereka hadiri itu bersama.
Apalagi, Vero sudah memantapkan tekadnya, yang dimana dirinya akan memperkenalkan Zen sebagai suaminya pada acara yang akan mereka hadiri tersebut. Namun ada satu masalah yang terus menghantui dirinya hingga saat ini.
Karena seperti yang diketahui, pria itu sama sekali belum membalas perasaannya hingga saat ini, yang dimana hal itu membuat Vero sangat risau. Tentu dirinya tidak tahu isi hati pria itu terhadap dirinya, karena memang dirinya belum menjawab pernyataan cinta yang dilakukan oleh Vero kepadanya.
Maka dari itu, sedari tadi Vero mulai uring-uringan menanggapi keresahannya, yang dimana dirinya merasa perasaanya mulai digantung oleh Zen. Apalagi bisa dilihat, pria itu masih bersikap seperti biasa, bahkan tidak menyinggung sama sekali tentang perasaannya itu.
“Ah... benarkah. Berarti sekalian saja kalian pergi berkencan” ucap Bibi Leni, yang langsung membuat Vero membulatkan matanya mendengar perkataan bibinya itu.
Memang selama ini bisa dikatakan pasangan suami istri itu selalu mempunyai kesempatan untuk menghabiskan waktu berdua saja. Tetapi, waktu yang mereka habiskan hanya berdua saja itu, hanya sebatas perihal pekerjaaan yang mengharuskan mereka selalu bersama.
Karena bisa dikatakan, mereka bukan melakukan sesuatu yang bisa dikatakan untuk bersenang-senang, karena mereka selama ini hanya sibuk mengurusi perusahaan Vero yang selalu terkena masalah dan harus segera diselesaikan.
Maka dari itu, disaat Vero mendengar perkataan Bibinya tadi, dirinya menganggap bahwa inilah waktu yang tepat untuk dirinya menghabiskan waktu berdua dengan suaminya, selain urusan pekerjaan. Jadi, dirinya langsung merasa bersemangat dengan usulannya tersebut.
“B-Benar juga kata Bibi” ucap Vero dengan nada yang sangat sangat bersemangat, karena mungkin dengan mereka berjalan berdua nanti, Vero akan bisa mengetahui perasaan pria itu kepadanya.
Memang tempat perancang busana yang mereka akan datangi nanti, akan terdapat pada sebuah mall terbesar di kota ini. Jadi, setelah mereka sudah menyelesaikan urusan mereka ditempat tersebut, mungkin mereka akan langsung bisa menghabiskan waktu dengan berkencan di sana.
“B-Bagaimana menurutmu, Zen?” tanya Vero yang ragu-ragu, menanyakan apakah Zen bersedia mengikuti ajakan kencannya atau tidak.
__ADS_1
“Tentu saja. Apa salahnya jika kita berjalan-jalan berdua” balas Zen yang membuat Vero langsung merasa bahagia.
Tentu sebenarnya Vero tinggal memerintahkan saja Zen untuk menemaninya, dan membuat pria itu dipastikan akan langsung mengikuti perkataanya. Namun karena dirinya ingin mengembangkan hubungan mereka, jadi Vero berniat untuk selalu memperlakukan Zen dengan baik.
Memang jika dirinya seakan memaksa dan memberi perintah kepada pria yang sudah dirinya anggap sebagai suaminya itu, dimata pria itu pasti akan menganggap hubungan mereka masih sebatas suami istri bayaran sepeti awal mereka menjalani hubungan mereka.
Dan hal itulah yang tidak diinginkan oleh Vero, karena dirinya ingin hubungan dirinya dan Zen harus berkembang dan dirinya ingin membuat Zen menganggap dirinya sebagai Istrinya mulai sekarang. Jadi, Vero akan mewujudkan hal tersebut mulai sekarang.
“Baiklah, kalau begitu aku akan bersiap” ucap Vero yang langsung berdiri dari kursinya dan langsung masuk kedalam kamarnya.
Tentu pemandangan dirinya yang terkesan terburu-buru itu mengejutkan beberapa pihak yang masih dengan nyaman menyantap makanan mereka. Apalagi Anabelle yang selama ini mengetahui sifat wanita itu yang kabarnya bertebaran dimana-mana tentang dirinya, merasa sikapnya saat ini sangatlah aneh.
Karena bisa dibilang, Anabelle tidak menyangka wanita sedingin Vero bisa menunjukan sikap bersemangat hanya karena dirinya ingin berkencan dengan suaminya. Apalagi, bisa dikatakan sosok Vero selama ini sangatlah anti dengan seorang pria. Maka dari itu, Anabelle tidak menyangka dengan pemandangan yang sedang dirinya lihat itu.
Bukan hanya Anabelle yang merasa demikian. Bibi Leni juga merasa aneh dengan sikap nona mudanya itu. Karena bisa dikatakan, perilaku yang dirinya tunjukan oleh wanita itu kepada mereka, sangatlah berbeda dari apa yang dirinya baru saja ucapkan tadi.
Bagaimana Bibi Leni tidak merasa aneh dengan sikapnya. Karena bisa dikatakan waktu yang dijanjikan oleh mereka menuju tempat mereka tuju nanti masihlah lama. Namun entah mengapa wanita itu seakan mulai bersiap mulai sekarang, seakan keberangkatan mereka akan segera dilakukan.
“Ya... apakah aku juga harus bersiap kalau begitu, Bibi?” balas Zen kemudian menanggapi perkataan dari Bibi Leni.
Tentu dengan perasaan bersemangat, Vero dengan cepat langsung bergegas untuk mempersiapkan diri untuk berkencan dengan suaminya. Bahkan dirinya sampai melupakan bahwa waktu keberangkatan mereka menuju tempat tujuan mereka nanti, masihlah beberapa jam lagi.
Maka dari itu, sikapnya itu membuat Zen hanya tersenyum saja melihatnya. Karena sepertinya, hubungan antara dirinya dan Vero bisa dikatakan mulai berkembang sedemikian rupa, dan Zen mungkin sudah siap untuk mengesahkan hubungan dirinya itu bersama Vero.
Apalagi, dirinya juga tidak ingin berlama-lama membuat Vero tidak mengetahui identitas dirinya yang sebenarnya. Apalagi wanita itu sudah resmi menjadi Istrinya disaat mereka sudah saling menerima perasaan masing-masing, yang mereka resmikan dalam sebuah berkah ikatan.
“Sepertinya, Tuan. Apalagi, jika dilihat dari sikapnya yang sudah tidak sabar” balas Bibi Leni.
"Benar, Zen. Kalau dilihat, Istrimu benar-benar memang sudah tidak sabar menghabiskan waktu berdua denganmu" ucap Anabelle yang juga menyambung perkataan Bibi Leni itu.
__ADS_1
Zen hanya mengangguk saja mendengar perkataan Bibi Leni dan Anabelle yang masih berada pada meja makan yang sama dengan dirinya. Apalagi dirinya mulai dengan cepat menghabiskan makanannya. Karena memang, bisa dikatakan dirinya juga tidak sabar menghabiskan waktunya dengan Istrinya itu.
Apalagi setelah Zen sudah menyambut ketulusan dari Vero kepada dirinya, membuat dirinya seakan sudah menganggap wanita itu sebagai Istrinya, yang harus dirinya perlakukan seperti orang yang sangat spesial bagi dirinya mulai saat ini.
“Terima kasih atas masakannya Bibi. Kalau begitu aku juga akan bersiap” ucap Zen yang mulai berpamitan kepada Bibi Leni dan Anabelle yang masih dengan tenang memakan makan mereka, untuk meninggalkan meja makan tersebut dan kembali menuju kamarnya.
Bibi Leni hanya mengangguk senang atas perkataan dari Zen, karena memang dirinya sangat bahagia melihat keakraban yang ditunjukan oleh kedua pasang suami istri itu. Bahkan dirinya juga merasa terharu, bahwa akhirnya Nona Mudanya mendapatkan kebahagiaannya saat ini.
Karena bisa dikatakan, dirinya sudah lama menemani Vero bahkan sedari dirinya masih kecil. Selama ini, bisa dikatakan ekspresi Vero tidak pernah menunjukan sesuatu yang membuatnya sangat bahagia, sebelum dirinya mengenal sosok Zen.
Bisa dilihat Nona mudanya itu lebih sering tersenyum sekarang, setelah dirinya menikah dengan Zen. Dan hal itulah yang membuat Bibi Leni sangat senang, dan dirinya sangat bahagia karena dirinya sudah menantikan momen tersebut sejak lama.
“Coba saja anda masih disini, Nyonya besar” ucapnya yang mengingat sosok dari mendiang Nenek Vero, yang mungkin akan sangat bahagia melihat cucunya akhirnya mendapatkan kebahagiaannya.
Bisa dikatakan dirinya dan Nenek dari Vero, menjadi saksi bahwa wanita itu mulai tumbuh dengan sebuah bayang-bayang kesedihan mengikuti dirinya. Bahkan jarang sekali, mereka melihat Vero bisa bahagia akan sesuatu yang dirinya lakukan.
Seluruh pencapaiannya yang selama ini selalu dirinya kejar selama hidupnya, sama sekali tidak membuat Vero berbahagia. Karena bisa dibilang, dirinya lebih menganggap apa yang dirinya lakukan itu sebatas sebuah kewajiban yang harus dirinya lakukan.
Menjadi juara kelas, lulus pada semua tingkat sekolah dengan nilai tertinggi, bisa lulus dari perkuliahan dengan nilai yang terbaik walaupun dirinya melakukannya sambil mengurus perusahannya, dan berhasil memajukan perusahaan orang tuanya. Seakan tidak membuat wanita itu berbahagia dengan semua pencapaian yang selama ini dirinya berhasil lakukan.
Namun bisa dikatakan semua itu berubah semenjak Zen hadir pada kehidupannya. Bisa dikatakan banyak pria yang selalu ingin dekat dengan Vero, apalagi dirinya sangat cantik dan kaya. Namun selama ini hanya Zen yang sanggup menahan semua perbuatan wanita itu terhadapnya.
Bahkan bisa dikatakan, sebenarnya watak Zen lebih buruk dari Nona Mudanya itu. Sehingga Bibi Leni bisa melihat bahwa Nona mudanya itu berusaha berubah untuk bisa merubah sikap suaminya itu. Maka dari itu, Bibi Leni merasa senang bahwa pasangan yang terlihat sangat cocok itu, sangat bahagia menjalani pernikahan mereka.
“Bagaimana penampilanku ini, Bibi, Anabelle?” ucap Vero yang langsung membuyarkan lamunan yang sedang dilakukan oleh Bibi Leni tadi.
Seorang wanita yang sudah berdandan sangat cantik, saat ini sedang menunjukan rupanya kepada Bibinya dan temannya untuk meminta pendapatnya tentang penampilannya. Bahkan dirinya sudah menunjukan berbagai pose agar kedua wanita yang masih duduk ditempat mereka, bisa menilai penampilan dirinya.
"Kamu sudah terlihat cantik, Vero" ucap Anabelle yang menyetujui penampilan sahabatnya itu, yang akan dirinya gunakan untuk pergi berkencan dengan suaminya.
__ADS_1
Mendengarnya, tentu Vero merasa sangat senang. Namun tetap saja, dirinya masih ingin mendengar pendapat dari Bibinya. Bahkan dengan ekspresi yang menuntut jawaban, wanita itu seakan mulai menunjukan seluruh penampilannya kepada Bibi Leni untuk menunjukan apakah penampilannya itu sudah tepat atau belum.
“Karena kamu sudah sangat cantik, Nona Vero. Jadi, penampilan dirimu saat ini sangat luas biasa”