Ex-Harem Lord

Ex-Harem Lord
Kisah Seorang Arkeolog


__ADS_3

Seorang wanita yang sudah memegang sebuah sekop kecil dan kuas saat ini dengan hati-hati sedang menyisikan tanah dari sebuah peninggalan prasejarah yang sudah dirinya temukan. Tentu dengan perlahan dirinya mulai membersihkan debu-debu yang menempel pada peninggalan berjenis patung itu agar tidak merusaknya.


Dengan tekun dirinya beserta beberapa orang yang bekerja di sana, terus mencoba untuk mengidentifikasi peninggalan apa yang berhasil mereka temukan itu. Apalagi dirinya harus memperlakukan sesuatu yang dirinya itu dengan baik agar kondisinya tidak rusak disaat dirinya akan mengambilnya.


Karena memang saat ini peninggalan yang mereka temukan ditempat itu, mungkin bisa dikatakan akan menguak sejarah yang sampai saat ini berusaha untuk dicari tahu oleh beberapa pihak, yang memang bertugas untuk mengungkapkannya.


Wanita itu sendiri memang tergabung dalam salah satu kelompok arkeolog ternama yang memang bertugas mencari dan menemukan benda-benda seperti peninggalan dan mengidentifikasinya untuk keperluan mengungkapkan beberapa sejarah yang masih belum diketahui.


Maka dari itu, dengan giat mereka semua berusaha untuk mengamankan aset yang berhasil mereka temukan itu, dan akan mengidentifikasinya secara langsung untuk keperluan pengetahuan yang memang sedang mereka cari kebenarannya hingga saat ini.


"Cih... Ini bukan peninggalan dari para Deadly Dan Heavenly Sins" Namun wanita yang berhasil mengidentifikasi patung yang dirinya temukan itu mulai merasa frustasi, setelah dirinya berhasil membersihkan apa yang dirinya temukan itu sepenuhnya.


Rasa kecewa memang dirinya rasakan disaat upayanya gagal lagi dalam menemukan jejak pihak-pihak yang dicarinya. Maka dari itu rasa frustasi saat ini mulai dirinya rasakan dan membuatnya dengan terpaksa harus bersabar kembali, karena apa yang dirinya cari hingga saat ini belum juga dirinya temukan.


Karena memang yang dirinya butuhkan hanyalah bukti atau jejak bagaimana dirinya bisa menemukan sosok yang sedang dirinya cari itu. Apalagi yang dirinya tahu bahwa mereka masih hidup, namun wanita itu hingga saat ini sama sekali tidak mengetahui keberadaan mereka yang sebenarnya ada dimana, dan hal itulah yang coba untuk dicari oleh dirinya.


"Cath, mengapa kamu melamun?" Hingga suara seorang pria yang menghampirinya, saat ini mulai menyapa dirinya yang terlihat sedang melamun kan sesuatu.


"Ah... aku hanya memikirkan berbagai hal, Pimpinan" balas wanita yang mempunyai nama Catherine yang menjawab pertanyaan pemimpin operasi mereka ditempat ini.


"Cih... sudah kubilang bukan, kamu bisa memanggilku dengan namaku saja. Kamu tidak perlu memanggilku dengan sebutan hormat seperti itu" ucap pria itu yang saat ini menegur perilaku dari Catherine kepada dirinya.


Catherine hanya mengangguk sambil tersenyum saja saat menjawab perkataan pria itu, hingga akhirnya mereka mulai melanjutkan lagi pekerjaan mereka ditempat ini, untuk terus mengeksplorasi area tempat mereka berada dan terus mencari keberadaan peninggalan sejarah yang berada ditempat ini.


Sudah seharian mereka melakukan pekerjaaan mereka, hingga akhirnya malam akhirnya tiba. Dengan semua pihak yang bekerja di sana sudah masuk ke tenda mereka masing-masing untuk beristirahat sejenak dan membersihkan diri setelah bekerja, saat ini satu persatu area yang menjadi tempat ekplorasi mereka sudah kosong sepenuhnya.


Catherine yang juga sudah menyelesaikan pekerjaannya dan sudah membersihkan dirinya, saat ini lebih memilih beristirahat pada sebuah tempat yang tidak jauh dari tendanya dan saat ini sedang menatap luasnya langit berbintang ditemani dengan sebuah kopi yang hangat ditangannya.

__ADS_1


Apalagi saat ini mereka memang berada disebuah gurun yang jauh dari perkotaan, sehingga mereka harus tinggal didekat lokasi tempat mereka sedang mengeksplorasi tempat yang terdapat berbagai peninggalan sejarah, sehingga mereka saat ini bisa berada disana.


"Kemana aku harus mencari keberadaan mereka Ibu. Bahkan hingga saat ini aku belum berhasil menemukan mereka" ucap Catherine yang saat ini merasa sedih bahwa keinginannya belum tercapai.


Sudah beberapa tahun dirinya mencoba mencari jejak dan keberadaan yang mengarahkan dirinya untuk mencari keberadaan Deadly atau Heavenly Sins. Namun naas, hingga saat ini dirinya belum mampu menemukan jejak mereka bahkan keberadaan mereka yang kata Ibunya memang berada di dunia ini.


Namun terus dirinya mencari, terus juga dirinya mendapatkan hasil yang tidak dirinya inginkan. Hingga dirinya tidak tahu, apakah benar mereka semua ada ditempat ini atau apa yang dirinya lakukan selama ini hanya kesia-siaan semata karena sampai saat ini dirinya tidak mendapatkan apapun.


"Tetapi, siapakah sebenarnya pria yang pernah aku temui saat berada di makam para Deadly Sins itu" gumam Catherine kembali yang mengingat dengan jelas kejadian satu tahun yang lalu.


Dalam ingatannya, dirinya dengan jelas menyaksikan seorang pria keluar dari makam salah satu Deadly Sins yang berada pada peninggalan prasejarah yang pernah dirinya kunjungi. Mustahil rasanya jika pria itu tiba-tiba keluar dari sebuah situs yang memang hingga saat ini tidak berhasil untuk dibuka oleh siapapun pada dunia ini.


Apalagi kasus itu malah ditutup dengan pernyataan bahwa ada seseorang yang berusaha merusak situs tersebut. Dan hal itulah yang semakin membuat aneh kejadian yang dirinya alami, karena pernyataan yang dirinya berikan itu bisa dikatakan dinyatakan halu oleh beberapa pihak yang memeriksa dirinya, setelah kejadian yang terjadi setahun yang lalu itu.


Bisa dikatakan perkataan Catherine sama sekali tidak dipercaya oleh semua pihak, yang dimana dirinya mengatakan melihat seseorang keluar dari makam tersebut. Dan juga, yang lebih membingungkan lagi, hingga saat ini pelaku yang merusak makam tersebut hingga saat ini tidak ditemukan keberadaannya oleh siapapun.


"Oh... kami disini, Cath" Namun sedang asik dirinya menikmati waktunya sendiri, sosok Catherine malah dikejutkan dengan kemunculan seorang pria yang saat ini mendatanginya dan membuat Catherine langsung menghentikan perkataannya.


Seorang pria yang memang menjadi pemimpin ekspedisi mereka ditempat ini, mulai mendekat kearah Catherine yang memang duduk sendirian. Maka dari itu, pria yang saat ini melihatnya ditempat ini langsung menghampiri dirinya, yang memang tidak ikut bergabung dan bercengkrama dengan beberapa rekan-rekannya yang sedang berkumpul.


"Halo, Pemimpin" dan begitulah sapaan Catherine yang saat ini menyapa pria yang mendatanginya tersebut.


"Hahh... mengapa kamu selalu bersikap formal kepadaku Cath? Apakah karena pengakuan cintaku tempo hari yang membuatmu memperlakukan diriku seperti ini?" tanya pria itu yang saat ini menatap kearah Catherine yang memang sampai saat ini tidak menatap keberadaan dirinya.


"Bukankah selama ini saya selalu bersikap seperti ini, Pemimpin. Jadi, maafkan saya karena tidak memperlakukan Anda seperti keinginan yang anda mau" balas Catherine kemudian yang bisa dikatakan membuat pria yang mendatanginya itu hanya tersenyum kecut mendengar perkataannya itu.


Pria yang dipanggil pemimpin itu bisa dikatakan memiliki perasaan cinta kepada Catherine. Namun sayangnya perjuangannya untuk memperjuangkan cintanya harus kandas, karena penolakan yang dilakukan oleh Catherine atas pengakuan cintanya beberapa hari yang lalu.

__ADS_1


Namun sepertinya dirinya tidak lelah untuk terus berusaha mendekatinya. Apalagi memang pria itu mengetahui dengan pasti bahwa hingga saat ini, Catherine sama sekali tidak pernah dekat dengan siapapun dan bisa dianggap bahwa dirinya masih berstatus sendirian.


"Bukan begitu maksudku, Cath. Tetapi bukankah seharusnya kam-"


"Maafkan aku pemimpin, sepertinya apa yang kita perbincangkan harus berkahir, karena ini waktunya makan malam" hingga Catherine yang diajak berbincang oleh pria itu seakan menjauh dari pria yang mendekatinya itu.


Ada rasa kecewa yang dirasakan oleh pria yang mencoba mendekati Catherine itu, namun dirinya tidak bisa berbuat apa karena wanita yang saat ini sudah menjauh dari dirinya dan seakan tidak menghiraukan keberadaannya yang berinisiatif mendekati sosok Catherine.


Catherine juga merasa kecewa sebenarnya dengan dirinya sendiri, karena sosoknya yang seakan tertutup itu. Namun memang karena dirinya lebih fokus untuk menemukan sosok yang harus dirinya temukan, barulah dirinya bisa tenang menjalin sebuah hubungan kedepannya.


Apalagi, ada sesuatu yang ada didalam dirinya yang membuat dirinya bis bercengkrama dengan bebas dengan beberapa pihak. Karena dirinya sangat amat takut, jika apa yang ada didalam tubuhnya itu akan lepas kendali dan malah melukai pihak yang memang benar-benar dekat dengan dirinya.


"Maafkan aku..." dan begitulah gumaman Catherine disaat dirinya berjalan untuk kembali menuju tendanya.


Malam akhirnya tiba, seluruh pihak yang menjadi arkeolog yang berada ditempat ini mulai beristirahat pada tempat mereka masing-masing setelah hari semakin larut. Catherine salah satunya yang sudah berada di tenda pribadinya dan akan beristirahat sebelum melanjutkan aktivitasnya keesokan harinya.


Matanya yang sudah sedikit mengantuk, akhirnya membuat wanita itu mulai memejamkan matanya dan akan memasuki alam mimpinya. Namun disaat dirinya sedikit lagi memasuki alam mimpinya, matanya langsung terbuka dengan lebar setelah dirinya mendengar suara berisik dari luar tendanya.


Tentu dirinya langsung bergegas keluar dari dalam tendanya dan saat ini memastikan apa yang sebenarnya terjadi. Apalagi ada suara teriakan bisa dirinya dengar saat ini. Hingga saat dirinya berada diluar tendanya, sesuatu yang tidak terbayangkan mulai dirinya saksikan didepan matanya.


Seluruh arkeolog yang bersamanya saat ini mulai terbunuh satu persatu oleh beberapa orang yang mendatangi tempat ini. Tentu hal itu langsung membuat Catherine terkejut dengan apa yang terjadi, hingga dirinya menyaksikan sendiri pria yang selama ini sangat baik kepadanya sudah tewas didepan matanya.


"Tidak!!" teriak Catherine yang melihat itu semua.


"Akhirnya kita berhasil menemukannya" hingga begitulah suara salah satu pihak yang menyerang tempat ini, saat mereka menyaksikan sosok Catherine berada disini.


Namun Catherine yang melihat mereka langsung murka dibuatnya dan saat ini dari dalam tubuhnya bisa dilihat dirinya mulai mengeluarkan sebuah api berwarna keemasan. Dengan perasaanya yang sangat amat marah, bisa dipastikan dirinya akan membalas semua perbuatan para pihak-pihak yang berani-beraninya menyerang tempat ini dan menewaskan seluruh rekannya.

__ADS_1


"Akan aku pastikan bahwa kalian akan menjadi abu saat ini"


__ADS_2