Ex-Harem Lord

Ex-Harem Lord
Kabar


__ADS_3

Seorang pria saat ini masih dengan sabar mendengarkan apa yang sedang dikatakan oleh bawahannya, tentang status tuannya yang saat ini sedang berkencan bersama seorang wanita. Pria itu yang merupakan bawahan setia dari tuannya, tentu ingin sesuatu yang terbaik bagi tuannya termasuk tentang pasangan hidupnya kelak.


“Benarkah seperti itu?” tanya pria paru baya itu kepada bawahannya yang sudah menyelidiki wanita yang sedang mengencani tuannya.


“Benar tuan Alfred, dan aku pastikan wanita yang saat ini sedang berkencan dengan Tuan Zen saat ini memang tulus menyukainya tanpa memandang siapa tuan Zen atau harta yang dimilikinya” balas bawahannya yang merupakan Bari.


Bari memang menyelidiki secara menyeluruh seluruh data latar belakang dari Angel secara detail, untuk memastikan apakah wanita itu akan pantas jika bersama Tuannya, jika memang mereka akan menikah di masa depan.


“Ya... kamu benar juga. Bahkan Tuan Zen tidak pernah sekalipun menyinggung tentang statusnya yang ada di Dunia ini kepada siapapun” balas pria yang dipanggil Alfred itu.


“Memangnya Tuan Zen mengetahui tentang semua hartanya Tuan Alfred?” tanya Bari karena dirinya merasa Zen tidak mengetahui sama sekali tentang harta yang ditinggalkan oleh adik-adik kandungnya.


“Saat aku mencoba menjelaskan semuanya, Tuan Zen malah langsung pergi karena dirinya menolak mengambil alih semua peninggalan adiknya dan menyerahkan seluruhnya kepadaku untuk dikelola. Jadi hingga saat ini Tuan Zen tidak mengetahui semua harta yang dimilikinya” balas Alfred dengan nada frustasinya.


Memang Alfred akan selalu setia kepada tuannya, namun dirinya juga berharap tuannya itu menikmati semua yang sudah ditinggalkan oleh adik-adiknya dan tidak hidup dengan keadaan yang tidak jelas.


Tetapi karena Alfred selalu mendapatkan laporan bahwa Tuannya itu hidup dengan bahagia, dirinya tentu tidak mempermasalahkan keputusannya untuk tidak mengelola harta miliknya sendiri, dan lebih memilih mengurus semua harta milik tuannya dengan benar.


“Lalu untuk status Nona Angel yang akan pergi menuju Jakarta bagaimana Tuan?” tanya Bari kemudian.


Memang informasi tentang Angel yang akan pergi menuju Jakarta untuk menempuh pendidikannya sudah diperoleh oleh Bari dan sudah dilaporkan kepada Alfred. Jadi saat ini Bari ingin sekalian mencari tahu apa rencana yang akan dilakukan oleh Alfred tentang permasalahan tersebut.


“Untuk itu kamu tenang saja. Aku sudah menghubungi salah satu malaikat maut yang bekerja di sana, untuk mendaftarkan dirinya pada universitas yang sama dengan Nona Angel untuk menjaganya” balas Alfred.


“Baguslah kalau begitu tuan, jadi keamanan Nona Angel pasti akan terjaga” balas Bari yang cukup puas dengan tindakan yang akan diambil oleh atasannya itu.

__ADS_1


“Tetapi apakah Tuan Zen akan ikut pindah menuju Jakarta juga Bari?” balas Alfred kemudian karena jika benar Zen berkencan dengan Angel dan memulai hubungan baru, bukankah Zen seharusnya mengikuti dirinya.


“Mengapa anda berfikiran seperti itu Tuan? Bukankah tuan Zen hidup dengan nyaman ditempat ini. Bukankah dulu beberapa Istri dari tuan juga tidak tinggal bersamanya di Istana Neraka, mengapa dirinya harus meninggalkan tempat ini?” balas Bari kemudian.


“Pernahkah kamu melihat tuan mengajak satu saja Istrinya dulu untuk berkencan. Bahkan membelikan mereka sesuatu dan terlebih lagi mengajak mereka nonton bioskop?” tanya Alfred kemudian, walaupun sebenarnya di Neraka tidak ada yang namanya Bioskop.


Memang perkataan bahwa Zen hanya menikahi istrinya karena malas memilih salah satu dari mereka memanglah benar. Karena pernikahan itu, Zen bahkan tidak melirik mereka sama sekali apalagi memperdulikan mereka seperti apa yang dilakukan Zen bersama Angel hari ini.


Jadi wajar Alfred berfikiran seperti itu, karena menganggap tuannya saat ini sudah menemukan seseorang yang dia cintai, tidak seperti wanita-wanitanya dahulu yang hanya memanfaatkan nama besar dan status dari Zen.


“Benar juga kata anda Tuan. Kalau begitu saya akan menanyakan permasalahan ini kepada Tuan Zen dan melaporkannya kepada Anda jawaban yang Tuan Zen berikan” Balas Bari.


“Baiklah kalau begitu. Dan juga bisakah kamu berkordinasi dengan tunanganmu yang bekerja di Bali tentang kebutuhan Tuan Zen” Tanya Alfred kemudian.


“Memangnya mengapa saya harus berkordinasi dengan tunangan saya Tuan?” tanya Bari yang bingung dengan perkataan Atasannya itu.


“Ya.. sebulan lagi Tuan Zen ada urusan di Bali. Jadi aku ingin kamu memberitahukan semua kebiasaan Tuan Zen kepadanya agar Tuan Zen bisa tinggal di sana dengan nyaman” balas Alfred.


“Jadi begitu... baiklah Tuan, saya akan menghubungi tunangan saya dan menjelaskan detailnya kepadanya” Balas Bari.


Akhirnya setelah semua permasalahan sudah mereka bicarakan, akhirnya panggilan telfon itu mulai berakhir dan saat ini Bari sudah memasukan ponselnya kedalam saku celananya dan mulai mengeluarkan sebuah kertas usang dari kantong jas bagian dalam yang dikenakannya.


“Haa... sepetinya aku akan lembur hari ini” gumam Bari sambil melihat kertas usang itu yang bertuliskan beberapa nama orang didalamnya.


Karena tugas mengantarkan nyawanya ditunda karena dirinya harus mencari informasi tentang Angel, jadi Bari mau tidak mau harus bekerja lembur hari ini. Dengan berubah menjadi sebuah kabut hitam, akhirnya dirinya mulai menghilang dari sana dan bersiap memulai tugasnya.

__ADS_1


.


.


Ditempat lain, saat ini seorang wanita masih dengan raut wajah terkejutnya sedang menatap sebuah nominal harga dari barang yang sudah dipilihkan untuknya tadi. Tetapi seorang pria yang bersamanya hanya mengeluarkan kartunya dan memberikan kepada kasir yang saat ini sedang melayani mereka.


“Tanda tangannya tuan” balas kasir itu dan membuat Zen langsung menandatangani penggunaan kartunya untuk membayar belanjaan dari Angel.


“Bukankah ini berlebihan Kak?” tanya Angel kemudian setelah melihat beberapa bungkusan yang berisi pakaian, sepatu, tas dan sebagainya yang dibelikan oleh Zen.


“Apanya yang berlebihan? Tiga setel pakaian kasual, sebuah dress, satu setel pakaian dalam, sebuah sepatu kasual, dan sebuah tas apakah berlebihan?” tanya Zen kemudian.


Tidak dipungkiri memang Angel merasa senang dibelikan barang-barang seperti itu, namun dirinya merasa tidak enak kepada Zen karena melihat harga dari semua barang yang saat ini diberikan kepada Zen untuknya bahkan hingga Zen membelikannya pakaian dalam untuknya.


“Sudahlah, anggap ini hadiah untuk kelulusan sekolahmu dan diterimanya dirimu untuk masuk kesebuah universitas” balas Zen sambil menepuk ringan kepala dari Angel.


Angel tidak bisa berkata apa-apa dengan perlakuan dari Zen itu dan hanya mulai merona saja. Namun yang dia bingungkan, dari mana Zen mendapatkan uang sebanyak itu untuk membelikan semua barang ini untuknya.


Namun lamunanya itu mulai terhenti setelah Zen sudah mengambil kembali kartu debitnya dan mulai mengambil boneka milik Angel yang sedari tadi dipeluk olehnya dan mulai membawanya.


“Aku akan membantumu membawa benda ini. Karena pasti tanganmu tidak muat memegang itu semua” balas Zen sambil tersenyum dan menunjuk beberapa tas belanjaan yang berisi barang yang dibelikan Zen untuk Angel.


Kasir, Angel dan staf yang membantu Angel tadi langsung tercengang dengan perkataan Zen, karena Zen lebih memilih untuk membantu Angel dengan membawa sebuah boneka miliknya dan tidak membantunya membawa semua barang yang sudah dibeli olehnya tadi.


Angel tentu saja hanya menunjukan wajah pasrahnya saja mendengar perkataan Kakaknya itu, karena menurutnya sifat Kakaknya itu memang tidak berubah. Tetapi sesaat kemudian, Zen sudah beranjak dari sana dan Angel mau tidak mau langsung mengambil semua barang yang sudah dibelikan oleh Zen untuknya dan membawanya mengejar Zen yang sudah berjalan terlebih dahulu.

__ADS_1


“Kalau begitu kita kemana sekarang?” tanya Zen kemudian setelah melihat Angel sudah menyusulnya dan terlihat sangat kebingungan saat ini.


“Hah?”


__ADS_2