
Langit malam yang gelap, tidak dapat membuat tempat dimana Zen dan Vero berada tidaklah terlihat indah. Karena dibantu dengan berbagai pencahayaan yang cantik, beberapa bagian dari tempat yang mereka masuki semakin indah dimata mereka.
Apalagi dengan pandangan penuh takjub, saat ini Vero mulai memperhatikan area sekitar tempatnya berada dengan hati yang sangat berbunga, seperti tempat yang dirinya datangi saat ini yang bisa dikatakan dipenuhi dengan bunga yang mewakili suasana hatinya.
Dengan genggaman tangan yang menghangatkan dari Zen yang masih setia menggenggam tangannya dengan erat, membuat hatinya yang berbunga itu seakan lengkap, dengan kehangatan yang diciptakan oleh tindakan mereka yang saling menghangatkan perasaan mereka masing-masing.
“Aku baru tahu ada tempat seperti ini, pada lantai paling atas dari gedung ini, Zen” ucap Vero yang sudah melupakan perasaan malunya atas tindakannya tadi didalam bioskop, karena sudah terpukau dengan keindahan tempat dimana dirinya berada saat ini.
“Benarkah? Padahal aku mengetahui tempat ini dari sebuah brosur yang pernah aku baca” ucap Zen yang berbohong.
Tentu tidak mungkin jika tempat seindah ini, berada dilantai atas dari gedung pusat perbelanjaan terbesar di kota ini. Karena jika memang ada, dipastikan bukan mereka berdua saja yang berada ditempat ini. Karena dipastikan beberapa pihak juga akan dipastikan berkumpul ditempat yang dibuat secara indah tersebut.
Apalagi Vero merasa terkejut melihat tempat ini pada awalnya. Karena bisa dikatakan, Vero yang sudah tinggal cukup lama di kota ini, tidak mengetahui bahwa tempat seindah ini berada di atas dari pusat perbelanjaan terbesar di kota ini.
“Tetapi, mengapa tempat seperti ini terlihat sangat sepi?” tanya Vero disela-sela mereka sedang menelusuri tempat yang indah tersebut.
“Karena aku sudah menyewa tempat ini untuk menghabiskan waktu bersama dengan dirimu” ucap Zen yang membuat Vero mulai membulatkan matanya karena terkejut mendengar perkataannya itu.
Mendengar perkataan dari suaminya, tentu membuat Vero langsung menghentikan langkahnya dan mulai menghadap sosok Zen yang masih setia menemaninya. Dengan senyum yang ditunjukan oleh pria itu kepadanya, Vero tidak menyangka bahwa Zen sudah mempersiapkan sesuatu seperti ini untuk dirinya.
Apalagi, dirinya tidak mengetahui untuk apa Zen melakukan ini semua untuknya, dan membuat wanita itu semakin berbunga-bunga dibuatnya disaat dirinya melihat apa yang sudah Zen lakukan kepada dirinya saat ini. Bahkan dirinya tidak percaya, bahwa pria itu sudah menyiapkan sebuah tempat yang indah seperti ini untuk mereka berdua.
“Benarkah? Bukankah tempat seperti ini akan sangat mahal jika dirimu memang menyewanya?” tanya Vero sekali lagi, karena dirinya tahu bahwa sosok Zen tidak mungkin mampu untuk bisa menyewa tempat seindah ini untuk mereka berdua.
“Ho... apakah kamu lupa bahwa selama ini kamu menggaji diriku dengan gaji yang sangat tinggi?” ucap Zen yang menjawab perkataan dari Vero, yang saat ini langsung membuat wanita itu tersenyum kepada dirinya.
Tentu siapa yang menyangka bahwa pria yang bersamanya saat ini, sudah menyiapkan tempat seperti ini untuk menghabiskan waktu mereka bersama ditempat ini. Namun ada satu hal yang membuat Vero bingung atas perbuatan Zen yang menyewa tempat ini untuk mereka. Yaitu, mengapa Zen melakukan ini semua untuk dirinya.
Memang seluruh tindakan Zen yang dirinya lakukan setelah mereka tiba ditempat ini, belum menjawab sepenuhnya perasaan pria itu kepada dirinya. Bahkan walaupun mereka sempat hampir saling berciuman tadi, Vero hingga saat ini belum mendengar balasan pernyataan cinta yang pernah dirinya sampaikan kepadanya.
Walaupun dirinya merasa bahagia dengan semua ini, tetapi dalam perasaannya yang berbunga itu masih ada sesuatu yang mengganjal didalam hatinya. Karena memang, yang dibutuhkan oleh Vero hanya sebuah jawaban dari perasaan yang dirinya tunjukan kepada Zen.
__ADS_1
“T-Tetapi mengapa kamu melakukan semua ini untukku, Zen?” tanya Vero kembali, yang mulai menuangkan keraguannya yang mengganggunya itu kedalam sebuah pertanyaan untuk Zen.
Mendengar pertanyaan tersebut, tentu Zen hanya menunjukan sebuah senyuman saja untuk Vero. Karena memang, dirinya sangat menikmati ekspresi dari Istrinya yang mulai berubah-ubah itu, yang saat ini sepertinya pikirannya kembali berkelana kemana-mana.
Apalagi didalam benak dari Vero, sepertinya pria yang ditanyainya itu tidak berniat menjawab pertanyaannya. Vero bahkan sempat menghentikan senyumannya yang mulai terukir pada wajah cantiknya itu atas perbuatan Zen kepadanya. Hingga beberapa detik kemudian, pria itu mulai menuntunnya kembali untuk menelusuri tempat itu lebih dalam.
Memang didalam hati Vero masih tersimpan tanda tanya besar tentang apa yang akan dilakukan oleh pria itu. Hingga akhirnya mereka melanjutkan melangkah pada tempat yang dipenuhi bunga tersebut, dan mulai menelusuri sebuah jalan setapak dimana beberapa lilin sudah menyala di setiap sisinya.
Dengan langkah mereka yang santai, mereka mulai mengikuti jalan setapak yang mereka lalui dan akhirnya mereka tiba pada sebuah panggung kecil yang berada dipusat dari tempat tersebut. Dengan lilin yang masih memenuhi sekeliling tempat mereka berada, Zen saat ini mulai menghentikan langkahnya tepat dipanggung tersebut dan mulai menatap sosok Istrinya.
“Lalu, apakah kamu ingin mendengar jawabanku atas pertanyaanmu sebelumnya?” ucap Zen yang saat ini sudah berdiri saling berhadapan dengan Vero yang masih kebingungan dengan sikap dari pria tersebut.
Mendengar perkataan Zen, Tentu saja Vero yang saat ini sedang menatap wajah dari Zen yang tidak pernah berhenti menunjukan senyumnya, hanya mengangguk untuk menjawab perkataannya. Karena memang, sedari tadi dirinya sangat penasaran dan ingin mendengarkan secara langsung alasan dari dirinya.
Tetapi entah mengapa, disaat dirinya menantikan jawaban dari mulut pria itu, jantung dari Vero kembali berdetak sangat cepat. Karena memang, ekspresi yang ditunjukan oleh Zen kepada dirinya saat ini, seakan bisa menunjukan semua hal yang ingin dirinya ungkapkan kepada Vero.
Bahkan, disaat dirinya melihatnya saja, rona merah pada wajah dari Vero sudah kembali muncul menghiasi wajahnya yang seakan tidak sabar mendengarkannya. Apalagi, perkataan Zen selanjutnya kepada dirinya, membuat wanita itu kembali menunjukan senyuman paling menawannya kepada sosok pria yang sedang berada dihadapannya saat ini.
Sebuah kalimat yang keluar dari mulut Zen, seakan mulai membuat suasana ditempat tersebut mulai sunyi. Bahkan pernyataan yang dirinya lontarkan itu, membuat Vero yang awalnya sudah memprediksinya sangat terkejut dan tidak menyangka bahwa jawaban yang selama ini dirinya tunggu akhirnya keluar dari mulut suaminya.
Apalagi setelah Zen selesai mengucapkan perkataan seperti itu, sebuah hembusan angin yang lembut mulai berhembus disekitar area tempat mereka berada, dan mulai menerbangkan berbagai kelopak bunga yang berada di sana, hingga kelopak bunga yang terbawa hembusan angin tersebut mulai berterbangan disekitar mereka.
Kelopak-kelopak bunga yang mulai berterbangan itu, saat ini seakan menjadi saksi bahwa sebuah hubungan baru akhirnya mulai terbentuk ditempat tersebut. Bahkan, Vero yang awalnya terkejut mendengar pernyataan cinta dari Zen, saat ini seakan mulai terbawa suasana yang sedang terjadi ditempat tersebut.
“Veronica Safira, apakah kamu bersedia menjadi Istriku?”
Namun Vero yang masih terbawa suasana atas apa yang terjadi ditempat dimana dirinya berada saat ini, kembali dikejutkan dengan sebuah perkataan dari Zen. Yang dimana saat ini Zen juga sudah mulai meraih kedua tangannya dan seakan mulai menantikan jawaban yang akan diberikan oleh Vero kepadanya.
Dengan air mata haru yang mulai keluar dari matanya yang indah, dan sebuah senyuman yang terukir cantik pada wajahnya dan terdapat sedikit rona merah muda pada pipinya. Vero yang dikelilingi oleh kelopak bunga yang berjatuhan disekitarnya mulai menatap lekat mata dari pria yang saat ini sangat dirinya cintai itu sebelum dirinya memberikan jawabannya.
“Aku bersedia menjadi Istrimu, Zen Gwillyn” ucapnya dengan lantang, dan membuat hembusan yang menyejukkan dan membawa serta beberapa kelopak bunga yang berada di sana semakin berhembus dengan keras.
__ADS_1
Susana yang berbunga saat ini bisa dirasakan secara langsung oleh mereka berdua. Yang dimana kedua pasangan yang saling menatap itu, mulai saling memberikan senyum bahagia mereka, atas apa yang baru saja mereka ungkapkan ditempat ini.
Bahkan tanpa ada yang mengkomandoi, saat ini kegiatan mereka yang tertunda didalam bioskop tadi, sepertinya akan terlaksana di sana. Dengan suasana yang cukup menghangatkan, dan kelopak bunga yang terus berterbangan, saat ini kedua wajah mereka mulai saling berdekatan.
Hingga akhirnya nafas mereka yang mereka hembuskan, pada akhirnya mulai bisa dirasakan oleh wajah mereka yang semakin mendekat, yang dimana sedikit lagi bibir mereka akan mulai menyatu. Namun sebelum itu, seluruh tempat dimana mereka berada, tiba-tiba saja mulai terlihat aneh.
Waktu pada seluruh area tempat mereka berada seakan mulai terhenti. Angin sejuk yang terus berhembus sedari tadi seakan mulai berhenti berhembus, dan kelopak bunga yang dibawanya saat ini melayang dengan diam di atas udara.
Kupu-kupu, lebah dan beberapa serangga yang berada di sana juga seakan berhenti ditempatnya, karena efek penghentian waktu yang terjadi di sana juga berdampak kepada mereka. Tetapi, hal tersebut tidak bisa menghentikan pergerakan dari seseorang yang masih bisa bergerak dari keanehan yang terjadi ditempat tersebut.
“Ah... sepertinya aku melupakan sesuatu” ucap Zen yang mulai bergerak sendiri dari area yang dimana waktu ditempat tersebut mulai terhenti.
Dengan menatap rupa calon istrinya yang saat ini sedang menutup matanya dan menantikan ciuman yang akan mereka lakukan ditempat ini. Zen mulai mengubah pandangannya kearah langit yang penuh dengan bintang-bintang di atas dirinya.
Tanpa menghentikan senyuman yang terus terukir pada wajahnya, Zen saat ini menatap dengan lekat seluruh area dari langit malam yang indah, dan akan menjadi saksi atas pernyataan yang akan dirinya lakukan kepada hukum dunia yang saat ini sedang menyaksikan dirinya.
“Aku, Zen Gwillyn, sang penguasa Neraka dan Anak tertua dari sebuah Keagungan. Dengan ini menyatakan bahwa aku memilih Veronica Safira sebagai Istriku. Dengan izin dari hukum dunia, aku akan membatalkan semua hukum dunia yang berlaku kepadanya, dan membuatnya menjadi Istri dari Sang Pemilik Kuasa utama dari semesta ini”
Dan begitulah pernyataan Zen yang menyatakan dengan lantang kepada hukum dunia, bahwa hubungannya dengan Vero sudah disahkan dan tinggal menunjukan bukti bahwa hubungan mereka berdua merupakan sebuah kebenaran bagi hukum dunia.
Maka dari itu, Zen mulai kembali ke tempatnya seperti semula, hingga hembusan angin, kelopak bunga, berbagai serangga yang sebelumnya terhenti, akhirnya mulai bergerak kembali dan menjadi saksi bahwa saat ini sebuah pasangan sedang membuktikan cinta mereka kepada hukum dunia yang menyaksikan mereka saat ini.
Dengan ciuman yang mereka lakukan ditempat itu, akhirnya secara resmi hubungan mereka akan diakui oleh hukum dari dunia ini. Bahkan tangan mereka yang masih saling berpegangan, saat ini mulai muncul sebuah cincin yang indah yang sudah terpasang dengan rapi pada jari manis mereka masing-masing.
Bahkan kembang api yang saat ini mulai berterbangan pada langit malam di atas mereka, tidak mampu mengganggu kegiatan mereka yang masih menunjukan rasa cinta mereka masing-masing, pada ciuman hangat yang mereka lakukan ditempat yang indah ini.
“Aku mencintai Zen” ucap Vero yang saat ini sudah melepaskan ciuman mereka.
Senyum terus saja terukir pada wajah mereka asing-masing saat ini. Bahkan Vero tidak sanggup untuk memalingkan sejenak pemandangannya dari wajah suaminya yang masih tersenyum dengan manis kepadanya, setelah Vero baru saja menyatakan perasaannya sekali lagi kepada suaminya.
Bahkan, semua hal yang sudah terjadi ditempat mereka berada saat ini, tidak mampu membuat mereka berpaling untuk sekedar melihat semua keindahan yang sudah terjadi ditempat mereka berada. Apalagi, hal itu disempurnakan disaat Zen juga akan menjawab perkataan dari Vero kepadanya.
__ADS_1
“Aku juga mencintaimu Ve-”