
Bisa dikatakan apa yang Zen katakan kepada Alice merupakan sebuah kebenaran. Putri semata wayangnya bisa dikatakan mengalami trauma yang sangat amat parah setelah kejadian yang dimana dirinya diculik oleh beberapa orang dan dirinya mengalami sebuah penganiayaan oleh mereka.
Alice merasa sangat sedih melihat kondisi putrinya tersebut, bahkan dirinya semakin merasa bersalah dengan semua hal yang sudah terjadi dan akhirnya malah menjadikan Putri semata wayangnya harus mengalami sesuatu yang sangat menyedihkan seperti itu.
Untung saja Zen menyembuhkan luka-luka lebam dan sebagainya pada tubuh Putrinya pada saat itu. Karena jika Zen mengembalikannya tanpa melakukan semua itu, dipastikan Ibunya juga akan mengalami trauma yang sama dengan apa yang dialami oleh putrinya saat ini.
"Aku mau bertemu Ayah!" dan begitulah apa yang sering diucapkan oleh putrinya disaat dirinya mulai merasa panik dengan keadaannya.
Bisa dikatakan Kileni sering ketakutan akan sesuatu setelah kejadian mengenaskan yang dirinya alami. Dirinya kadang mulai takut dengan tempat yang terang, kadang dirinya tiba-tiba takut tempat yang gelap, bahkan sesekali dirinya takut melihat keberadaan Ibunya yang tiba-tiba masuk kedalam ruangan kamarnya.
Namun ada satu lagi yang sering dilakukan oleh Kileni dalam masa dirinya mengalami trauma tersebut, yaitu sering memanggil sosok yang dirinya sebut Ayah olehnya. Satu hal yang pasti dan bisa diyakinkan oleh Alice, putrinya itu tidak sedang memanggil sosok Ayah kandungnya sendiri.
Karena memang selama ini hubungan mereka berdua dengan Ayah kandung Kileni bisa dikatakan sangatlah buruk, sampai Kileni benar-benar tidak menyukai sosok yang seharusnya menjadi sosok orang tuanya tersebut, karena berbagai hal yang sudah mereka alami selama ini.
"Ayah?" dan begitulah akhirnya Alice menanggapi perkataan putrinya itu, disaat dirinya terus memanggil sosok yang dirinya sebut sebagai Ayahnya.
"Iya. Ayah Kileni. Dirinya yang menyelamatkan Kileni dan memperlakukan Kileni dengan sangat baik" balasnya dan membuat Alice hanya menghela nafasnya saja disaat dirinya mendengarkan perkataan Putrinya itu.
Tentu dari penjelasannya dari Putri semata wayangnya itu, Alice bisa dengan jelas menebak siapa sosok Ayah yang selalu disebutkan oleh Kileni. Karena sepertinya berkat sosok itu sudah menyelamatkan dirinya, Kileni seakan langsung menganggap dirinya sebagai Ayahnya.
Maka sudah dipastikan sosok yang dimaksud oleh Putrinya tersebut, merupakan pihak yang menyelamatkan dirinya dari penculikan yang dirinya alami. Jadi, Alice saat ini hanya menghela nafasnya saja setelah mengetahui sosok tersebut yang membuat Putrinya mulai bergantung dengan sosoknya.
"Tapi, dia bukan Ayahmu Kileni" balas Alice kembali, karena memang dirinya sama sekali tidak ingin merepotkan pihak yang sudah membantunya itu. Jadi dirinya ingin mencoba agar putrinya tidak bergantung kepadanya.
"Aku tidak mau tahu. Ayah tetap Ayah, dan Kileni ingin bertemu dengan dirinya" teriak gadis kecil itu yang saat ini mulai histeris dan ingin bertemu dengan sosok yang dirinya anggap sebagai Ayah tersebut.
Tentu Alice terus mencoba menenangkan putrinya tersebut, karena memang dirinya menganggap mungkin Putrinya akan melupakan sosok tersebut, jika dirinya sudah menjalani terapi pada psikiater tempat dimana dirinya akan mengalami perawatan atas permasalahan mentalnya.
Hingga beberapa hari sudah berlalu dengan sangat cepat, Namun apa yang diharapkan oleh Alice ternyata tidak berjalan seperti apa yang dirinya inginkan, karena bisa dilihat kondisi putrinya semakin hari semakin memburuk. Tentu dirinya sudah membawa putrinya itu untuk bertemu psikiater, namun bisa dikatakan hasilnya nihil.
__ADS_1
Walaupun sudah dipastikan bahwa trauma yang dialami Putrinya atas kondisi penculikan yang dirinya alami sudah mulai berkurang karena dirinya sudah tidak mengalami perasaan takut lagi didalam beberapa situasi, tetapi ketergantungannya dengan sosok yang dirinya anggap Ayahnya semakin menjadi.
Hingga bisa dikatakan dirinya mulai sakit saat ini karena bersikeras ingin bertemu sosok yang dirinya anggap sebagai Ayahnya. Tentu sebagai Ibunya, Alice sangat khawatir dengan kondisi Putrinya, maka dari itu dirinya berusaha untuk bertemu kembali dengan sosok Zen dan meminta bantuan sekali lagi terhadap dirinya.
Walaupun dirinya merasa berat bahwa harus merepotkan pihak itu sekali lagi, tetapi mau tidak mau demi membaiknya kondisi Putri semata wayangnya, dirinya akan meminta tolong kepada Zen sekali lagi untuk setidaknya bertemu dengan putrinya sejenak agar apa yang dirinya inginkan bisa terkabul dan kondisinya bisa membaik.
"B-Bulan madu?" namun kenyataannya, keberadaan Zen tidak bisa dirinya temui karena keberadaannya diketahui sedang berbulan madu dengan Istrinya.
Dan hal itulah yang semakin membuat Kileni terpuruk karena dirinya tidak dapat bertemu sosok yang ingin dirinya temui. Apalagi atas kejadian tersebut, Kileni sampai masuk rumah sakit karena memang kondisinya melemah akibat dirinya yang masih bersikeras bertemu dengan sosok Zen hingga saat ini.
Hingga waktu akhirnya berlalu dengan cepat yang dimana Alice berhasil meminta tolong kepada Zen untuk menjenguk keberadaan Putrinya yang sedang sakit dan ingin bertemu dengan dirinya. Tentu Zen akhirnya mengiyakan permintaannya dan saat ini sosoknya mulai mengunjungi gadis kecil tersebut
"Ayahhhh" Dan begitulah teriakan kebahagiaan dari seorang gadi kecil, yang dimana sosok yang dirinya anggap sebagai Ayahnya itu akhirnya muncul dihadapannya dan menjenguk keberadaannya ditempat ini.
Tentu dirinya merasa sangat senang dengan kemunculan Zen ditempat ini, karena entah mengapa dirinya seakan sangat bahagia melihat kemunculannya. Apalagi kehangatan dari perlakuan Zen yang dirinya rasakan tempo hari, seakan membuat gadis kecil itu akhirnya bisa merasakan kembali sebuah kehangatan memiliki seorang Ayah yang mampu melindungi dirinya.
Tentu karena hal itu dirinya sangat bahagia. Apalagi pada awalnya gadis kecil itu mengira bahwa Ibunya akan berbohong bahwa Ayahnya akan datang hari ini, karena memang Ibunya sering mengatakan kebohongan seperti itu kepadanya. Namun kali ini, sepertinya Ibunya tidak berbohong karena sosok yang dirinya anggap sebagai Ayahnya, saat ini sudah muncul dihadapannya.
"Terima kasih sudah meluangkan waktu anda menjenguk keadaan putri saya Tuan Zen, Nyonya Vero" ucap Alice yang merasa sangat senang bahwa akhirnya sosok yang ingin ditemui putrinya bisa datang dan menemuinya.
Tentu Alice merasa berbalas budi dengan semua perbuatan Zen kepada dirinya serta Putrinya selama ini. Karena memang sosoknya itu bisa mengeluarkan mereka dari gelapnya genggaman yang menjerat mereka dan perbuatan tersebut disebabkan oleh beberapa pihak yang sama sekali tidak bisa mereka lawan keberadaannya.
Maka dari itu, dirinya akan memastikan bahwa semua hutang ini akan dirinya bayar dengan tuntas dimasa depan, jika memang pria itu membutuhkan apapun terhadap dirinya untuk membantunya akan sesuatu. Walaupun sebenarnya, Zen tidak akan pernah atau sama sekali akan membutuhkan bantuannya.
"Sama-sama Nyonya Alice." Dan begitulah jawaban yang diberikan Vero yang saat ini semakin memeluk dengan erat lengan suaminya, disaat Alice menyambut mereka didalam ruangan Putrinya yang sedang dirawat saat ini.
Disisi lain, Zen hanya memperhatikan sosok yang saat ini sepertinya mulai bergantung kepada dirinya. Tentu karena ulahnya tempo hari, dipastikan gadis kecil itu tidak akan bisa lepas dari dirinya yang bisa dikatakan menjadi sosok yang sangat penting bagi gadis kecil tersebut.
Jadi, dirinya harus melakukan sesuatu agar gadis kecil itu tidak terlalu bergantung kepada dirinya, dan bisa sedikit terlepas dari bayang-bayang Zen yang mungkin masih terpaku didalam benaknya, karena masa trauma yang masih dirinya alami hingga saat ini.
__ADS_1
"Ayah, aku sangat merindukan dirimu. Mengapa Ayah tidak mau bertemu dengan diriku?" ucapnya kepada sosok Zen yang masih memperhatikannya sosoknya tersebut.
Dengan menunjukkan raut wajah bahagia, bisa dikatakan Kileni merasa senang dengan keberadaan Zen yang saat ini muncul dihadapannya. Bahkan dirinya mulai merasa bersemangat untuk setidaknya bisa berbincang dengan sosok yang sudah dirinya anggap sebagi Ayahnya tersebut.
Jujur beberapa pihak yang melihat kondisi Kileni akan sangat kasihan melihatnya. Karena seperti yang diketahui, kondisinya saat ini bisa dikatakan diakibatkan oleh sebuah trauma yang dirinya alami dan membuat dirinya seperti itu.
Vero juga sudah mengetahui kondisi dari gadis kecil itu, karena sebelum mereka berkunjung ketempat ini bisa dikatakan Vero meminta penjelasan kepada Zen secara detail, tentang apa yang terjadi kepadanya hingga Vero akhirnya mengetahui semua hal yang dialami oleh gadis kecil itu.
Prihatin tentu saja, apalagi sampai membuat kondisinya seperti itu. Maka dari itu, Vero mengijinkan Zen untuk menjenguk gadis kecil tersebut, walaupun bisa dikatakan Ibu dari gadis itu adalah rival dari dirinya yang hingga saat ini ingin dirinya kalahkan sepenuhnya.
"Karena Ayah tidak ingin bertemu denganmu" Namun jawaban dari Zen itu langsung membuat beberapa pihak yang berada di sana mulai terkejut dengan jawaban yang dirinya berikan atas pertanyaan yang dilontarkan oleh Kileni tadi.
Siapa yang tidak terkejut bahwa Zen membalas perkataan gadis kecil yang sedang terbaring lemas itu dengan jawabannya yang bisa dikatakan sangat amat jahat menurut mereka. Bahkan Vero saat ini mulai mencubit sedikit pinggang suaminya itu, karena menurutnya tindakan suaminya tersebut sudah sangat salah dan sangat keterlaluan.
Bahkan Kileni yang mendengar perkataan Zen mulai meneteskan air matanya karena dirinya tidak menyangka bahwa sosok yang dirinya ingin temui ternyata tidak mau bertemu dengan dirinya. Alice sebagai ibunya tentu ingin menenangkan putrinya melihat keadaannya yang seperti itu, namun Zen memberikan kode kepada wanita itu agar dirinya diam ditempatnya.
Tentu Alice bingung dengan apa yang akan dilakukan oleh pria yang sudah sering menolongnya itu. Namun dirinya hanya percaya saja dengan tindakannya dan memutuskan untuk diam ditempatnya sambil memperhatikan putrinya yang saat ini mulai menangis.
"K-Kenapa Ayah tidak i-ingin bertemu d-denganku? A-Apakah ayah tidak m-merindukan diriku?" dan begitulah suara terisak yang keluar dari mulut Kileni yang mulai bertanya sesuatu kepada Zen.
Tentu dirinya merasa terpukul dengan jawaban yang diberikan oleh Zen tadi. Maka dari itu dirinya ingin bertanya kepadanya, mengapa sosok yang dirinya anggap sebagai Ayahnya itu tidak ingin bertemu dengan dirinya, yang bisa dikatakan sangat amat merindukan sosoknya tersebut.
Zen tentu saja tidak langsung menjawab perkataan gadis kecil tersebut. Hingga akhirnya, Zen mulai membungkukkan sedikit tubuhnya agar wajahnya bisa sejajar dengan posisi dari gadis kecil yang sedang menangis tersebut.
"Karena kamu sedang sakit. Bukankah Ayah pernah berkata, bahwa jika kamu ingin bertemu dengan Ayah, dirimu harus selalu ceria dan bahagia?" ucap Zen yang membuat gadis kecil itu mulai menghentikan tangisnya.
Sebelum Zen mengembalikan sosok Kileni kepada ibunya, gadis kecil itu sering sekali mengigau tentang apakah dirinya boleh bertemu dengan Zen lagi atau tidak. Tentu Zen menjawab seperti apa yang dirinya ucapkan tadi, dan dibalas anggukan oleh gadis kecil itu yang masih terlelap pada lengan dari Zen pada saat itu.
Zen tidak tahu apakah gadis kecil itu benar-benar bisa mendengarkan perkataannya atau tidak pada saat itu. Tetapi hal tersebutlah yang akan digunakan Zen untuk membuat gadis kecil dihadapannya untuk cepat pulih dan bisa membantunya kembali ceria seperti sebelumnya.
__ADS_1
"Ayah hanya ingin bertemu jika dirimu benar-benar sehat dan selalu berbahagia. Maka dari itu, cepatlah sembuh dan kamu bisa bertemu dengan Ayahmu ini kapanpun dirimu mau"