Ex-Harem Lord

Ex-Harem Lord
Menjadi Ayah


__ADS_3

Zen dengan terpaksa mulai melangkahkan kakinya menuju sebuah kediaman, setelah dirinya baru saja turun dari mobil yang dibawanya. Dengan langkahnya yang terlihat sedikit malas, akhirnya dirinya sampai disebuah kediaman yang ditujunya.


Bel kediaman itu mulai dirinya tekan hingga saat ini seorang wanita mulai muncul dihadapannya. Dengan menunjukkan senyuman yang menunjukkan dirinya senang dengan kedatangan sosok Zen ditempat ini, wanita itu berniat menyambut sosok Zen dengan sangat ramah.


Namun belum juga wanita itu sempat menyapanya, seorang gadis kecil yang sudah berdandan dengan sangat imut dan menggendong sebuah tas, saat ini berlarian dengan cepat untuk keluar dari kediamannya dan saat ini langsung menuju ketempat dimana Zen berada yang saat ini sudah menjemput keberadaannya pada kediamannya saat ini.


Tentu suara langkah kaki yang berlarian itu langsung menjadi bahan perhatian dari kedua belah pihak yang saat ini bertemu didepan pintu kediaman tersebut. Karena bisa dikatakan langkah dari gadis kecil yang sedang berlari itu, sanggup mengalihkan perhatian mereka berdua dan membuat mereka mulai memandangi kedatangannya.


"Ayah..." Dan begitulah sebuah suara panggilan mulai terdengar, setelah suara langkah kaki dari gadis kecil itu mulai mendekat kearah tempat dimana Zen berada.


Mahluk kecil itu akhirnya berhenti tepat didepan Zen dan saat ini mulai memeluk Kakinya. Hingga Zen yang awalnya terlihat malas, mulai sedikit bersemangat melihat keberadaanya dan saat ini mulai berjongkok didepan gadis kecil itu dan mulai mengelus lembut kepalanya yang terlihat merasa senang dengan tindakan Zen saat ini.


Tentu Zen terlihat sedikit terhibur dengan sikap menggemaskan dari gadis kecil tersebut. Maka dari itu, dirinya sedikit melupakan rasa kesalnya yang harus menepati janjinya dalam menemani gadis kecil yang sedang dirinya jemput saat ini.


"Maafkan saya karena merepotkan Anda sekali lagi, Tuan Zen" hingga begitulah ucapan Alice disaat dirinya merasa sedikit tidak enak untuk terus merepotkan sosok Zen, apalagi saat ini dirinya meminta tolong kepadanya untuk menitipkan putri semata wayangnya itu kepada Zen.


Hari ini merupakan hari yang sangat sibuk bagi Alice. Dengan kesibukannya itu, bisa dipastikan dirinya tidak bisa untuk sekedar mengantar Putri semata wayangnya itu untuk menuju ke sekolah, bahkan dirinya tidak bisa menemani dirinya seharian menghabiskan waktu bersama Putrinya itu.


Bisa dikatakan setelah semua permasalahannya sudah diselesaikan oleh Zen atas permasalahan Vampire, dirinya mulai mengambil alih lagi situasi Perusahaan yang bergerak dalam bidang Perbankan miliknya, dan mulai memperbaiki semua hal yang sudah dirinya tinggalkan selama dirinya bersembunyi bersama Putrinya.


Maka dari itu, beberapa hari ke depan akan sangat menyibukkan bagi Alice, dan dirinya tidak bisa untuk menghindari semua permasalahan tentang perusahaannya tersebut. Sehingga mau tidak mau dirinya harus mengorbankan waktunya untuk mengurus semua itu sementara.


Dengan kesibukkan barunya, tentu saja Alice harus mengorbankan waktu untuk bisa bersama Putrinya, termasuk kebiasannya yang akan mengantarkan putri kecilnya itu ke sekolah. Tentu pada awalnya Alice masih sempat untuk sekedar mengantarkan putrinya dan menjemputnya disekolah dan akan membawanya kembali menuju kantornya.


Tetapi hari ini bisa dikatakan sangat berbeda karena bisa dikatakan Alice akan sangat sibuk selama seharian penuh dalam hari ini. Maka dari itu, dirinya pada awalnya ingin mencoba mencari seseorang pengasuh untuk merawat sementara Putrinya itu pada hari yang paling menyibukkan baginya itu.


Namun ternyata Kileni mempunyai ide yang lebih baik, yaitu dirinya menyarankan Ibunya untuk meminta tolong kepada Zen atau pria yang dirinya anggap sebagai Ayahnya untuk menjaganya. Tentu pada awalnya Ibunya tidak menyetujui perkataan Putrinya karena dirinya takut merepotkan sosok Zen yang memang selalu mereka repotkan.


Tetapi karena Putrinya memaksa, membuat Alice akhirnya memberanikan diri untuk mencoba meminta tolong kepada Zen, hingga akhirnya pria itu ternyata menyetujuinya karena memang Zen sudah berjanji kepada mereka berdua.


Tentu Zen merupakan sosok yang akan selalu menepati janji yang sudah dirinya buat. Apalagi saat Kileni sedang dirawat, dirinya memperbolehkan gadis kecil itu untuk menganggap dirinya sebagai Ayahnya, tetapi gadis kecil itu harus selalu bahagia dan harus sembuh pada saat mereka bertemu pada pertemuan mereka sebelumnya.

__ADS_1


Maka dari itu, saat ini Zen yang sudah mengusap kepala Kileni sudah bersiap mengantarkannya menuju ketempat dimana dirinya menuntut ilmu, menggantikan Ibunya yang terlihat cukup sibuk hari ini dan terpaksa meminta Zen untuk menolong dirinya menggantikan sosoknya untuk mengantarkan Kileni sekolah.


"Tidak apa-apa. Lagi pula aku sudah berjanji" ucap Zen yang saat ini mulai bangkit, dan bersiap untuk beranjak dari sana untuk mengantarkan Kileni untuk bersekolah.


Namun sebelum itu, Alice saat ini mulai merendahkan tubuhnya sejenak dan mulai mengecup kening Putrinya itu sebelum dirinya akan meninggalkannya bersama Zen, lalu akan berangkat menuju ketempat kerjanya dan akan berpisah dengan Putrinya itu selama seharian.


"Ingat kamu tidak boleh nakal. Dan tidak boleh membantah perkataan Ayahmu" ucap Alice yang memperingati Putrinya tersebut, sebelum dirinya berpisah dengan dirinya.


Kileni hanya mengangguk menjawab perkataan Ibunya tersebut, hingga akhirnya sebuah ciuman sudah mendarat di pipi dari Ibunya, yang dimana Kileni saat ini menunjukkan rasa cintanya kepada Ibunya yang sudah menepati janjinya kepadanya. Hingga akhirnya mereka sudah berpisah dan saat ini mulai beraktifitas sendiri-sendiri.


Dan begitulah bagaimana Zen bisa terjebak bersama seorang gadis kecil, yang baru saja dirinya jemput dari tempat dirinya menuntut Ilmu. Apalagi, Zen yang sudah mengencangkan sabuk pengaman dari Kileni saat ini, mulai bersiap menaiki mobilnya dan akan beranjak dari sana menuju kesebuah bandara.


"Hmm... Ibu ya... Ayah tidak tahu. Tetapi kamu bisa menanyakannya nanti disaat kalian bertemu" balas Zen atas pertanyaan yang dilontarkan oleh Kileni kepadanya tadi, yang menanyakan apakah dirinya boleh menanggap Vero sebagai Ibunya juga.


"Baiklah, Kileni akan bertanya kepada Istri Ayah nanti." Ucap Kileni bersemangat yang saat ini sedang menikmati perjalanannya mereka menuju bandara menggunakan mobil yang dikemudikan oleh Zen.


Memang saat ini mereka berdua akan langsung menuju bandara, karena memang keberangkatan Vero menuju Ibukota akan berlangsung sebentar lagi. Dengan menerobos jalanan yang padat, sepasang Ayah dan anak yang tidak sedarah itu mulai menuju kearah bandara untuk melepaskan kepergian Vero.


Namun disaat dirinya mulai menggandeng Kileni untuk menjelajahi area tersebut, Zen mulai merasakan sesuatu yang memang sangat sering dirinya rasakan selama ini. Apalagi, dirinya mulai merasa kesal dengan perilaku mereka, yang seakan tidak pernah berhenti untuk mengganggu dirinya.


"Hmmm.. ternyata belum kapok juga para kecoa-kecoa yang mengikuti diriku sedari tadi" ucap Zen yang bisa merasakan ada beberapa sosok yang saat ini sedang mengikuti dirinya.


Semenjak dirinya menjemput Kileni dari kediamannya tadi hingga dirinya berada ditempat ini, Zen bisa merasakan ada beberapa pihak yang mengawasi dan mengikuti gerak-geriknya. Zen merasakan bahwa mereka merupakan kelompok baru yang entah siapa yang menugaskan mereka untuk mengikutinya.


Maka dari itu, Zen mulai membiarkan saja apa yang akan mereka lakukan saat ini, hingga nantinya mereka sendiri yang akan muncul dihadapannya dan Zen mulai menghabisi mereka secara langsung. Sebenarnya Zen ingin langsung membereskan pihak-pihak tersebut agar permasalahannya tidak membesar seperti sebelum-sebelumnya.


Namun masalahnya, Zen bisa merasakan bahwa mereka hanya mengincar sosok Zen saja untuk saat ini. Tidak seperti sebelumnya yang dimana mereka mulai mengincar keberadaan pihak-pihak yang disekitar Zen. Maka dari itu, dirinya masih bersikap santai saat ini, hingga akhirnya dirinya akan membereskan mereka nanti.


Apalagi Zen disibukkan dengan berbagai hal tadi, sehingga dirinya cukup malas untuk langsung mengurus mereka, dan Zen mungkin akan membereskan mereka semua disaat dirinya nanti memiliki waktu senggang, dan dirinya mungkin akan langsung membuat mereka akan kapok untuk mengikuti keberadaannya.


"Oh... kalian sudah tiba" Hingga akhirnya Vero, Kelly dan Loa saat ini sudah tiba di terminal tempat dimana Zen dan Kileni berada saat ini.

__ADS_1


Tentu mendengar suara wanita yang membuat Zen senang mendengarnya, membuat Zen mulai menghiraukan pihak yang sedari tadi mengintainya dan saat ini mulai memfokuskan dirinya untuk menyapa keberadaan Istrinya yang sudah tiba ditempat ini.


"Ya... aku menjemput gadis pengganggu ini terlebih dahulu, barulah aku datang kesini" ucap Zen yang masih menggandeng tangan mungil dari Kileni, dan saat ini dirinya mulai mengajaknya untuk mendekat kearah rombongan yang bersama Vero itu.


Namun setelah Zen mengucapkan perkataan itu, Kileni yang berada di genggamannya saat ini mulai melepaskan tangannya dan saat ini mulai menghampiri Vero. Dengan menjulurkan tangannya, saat ini sepertinya gadis kecil itu ingin menyapa sendiri sosok Vero yang memang cukup terkejut dengan sikap gadis kecil itu kepadanya.


"Halo Tante Vero" Dan begitulah Kileni yang menggemaskan mulai menyapa sosok yang dirinya hampiri terebut.


Melihat tingkahnya yang imut itu, siapa yang tidak terbuai dibuatnya. Apalagi Vero yang notabennya menjadi saingan Ibu dari gadis kecil itu, saat ini mulai berjongkok dihadapannya dan mulai membalas sapaan gadis kecil itu sambil mengusap kepalanya dengan lembut, karena Vero merasa gemas dengan tingkah gadis tersebut.


Apalagi dirinya juga merasa senang, bahwa sosok yang imut itu mendatangi dirinya dan menyapanya secara langsung. Jadi, sangat tidak mungkin Vero akan mengabaikan keberadaan sosok yang terlihat sangat menggemaskan itu dan mulai menyapanya balik.


"Tante Vero, bolehkah aku memanggil Tante sebagai Ibuku?" ucap Kileni kemudian yang akhirnya menanyakan kesediaan Vero untuk dianggap sebagai Ibunya, seperti keinginannya yang dirinya tanyakan tadi kepada Ayahnya.


Bukan tanpa alasan dirinya melakukan itu. Karena bisa diketahui Zen merupakan Ayahnya, jadi bisa dikatakan Istri Ayahnya saat ini akan menjadi Ibunya. Maka dari itu, dirinya juga ingin menganggap Vero sebagai Ibunya, apalagi menurutnya akan menyenangkan jika dirinya memiliki banyak Ibu menurut dirinya.


Maka dari itu, dirinya ingin menanyakan secara langsung tentang kesediaan wanita yang dirinya sapa itu, apakah dirinya boleh menganggap Vero saat ini sebagai Ibunya. Mendengar perkataanya, tentu membuat Vero terkejut, jadi dirinya tidak langsung menjawabnya karena dirinya masih tercengang dengan kata-kata yang dilontarkan oleh gadis kecil itu kepadanya.


"T-tentu saja. Kamu bisa memanggil Tante dengan panggilan apapun yang kamu mau" ucap Vero yang merasa ragu pada awalnya menjawab perkataan gadis itu, namun akhirnya dirinya mengiyakan saja perkataannya.


Mendengar jawabannya membuat Kileni tentu merasa senang. Bahkan gadis kecil yang imut itu langsung memeluk sosok Vero yang saat ini juga senang hati membalas pelukannya. Apalagi tidak ada ruginya jika Vero akan menganggap gadis kecil yang berada di pelukannya itu merupakan Putrinya sendiri.


Vero akan sangat senang hati menganggap Kileni sebagai putrinya sendiri, apalagi ada sesuatu yang memang menjadi keresahan bagi Vero, tentang hubungan rumah tangga dirinya dengan suaminya. Hubungan Zen dan Vero tentu sangat membahagiakan, tetapi ada satu hal yang saat ini kurang lengkap dalam kehidupan rumah tangga mereka.


Memang ada kelebihan khusus menjadi Istri seorang pemilik kuasa seperti Zen. Namun Vero baru menyadari bahwa ada sedikit kekurangan dalam kehidupan bahagia yang sedang dirinya jalani itu. Salah satunya mereka akan susah mempunyai keturunan pada rumah tangga mereka.


Sebagai pasangan yang akan hidup abadi, bisa dikatakan mereka tidak bisa secara langsung mempunyai keturunan dan bisa dikatakan akan susah mendapatkannya. Karena bisa dikatakan hal itu akan membuat kacau kehidupan dunia, jika mereka bisa terus membuat keturunan semasa mereka hidup di dunia ini.


Bisa dikatakan hukum dunia ini yang bisa menentukan apakah mereka sudah boleh memiliki keturunan atau tidak. Apalagi hal ini bisa dilihat bahwa saudara dari Zen yang sudah hidup berpasangan ratusan bahkan ada yang ribuan tahun dengan pasangan mereka masing-masing, tidak mempunyai banyak keturunan karena Hukum dunia sangat menjaga ketat tentang permasalahan itu.


Jadi disaat gadis kecil yang imut menawarkan dirinya menjadi Putrinya, Vero tentu akan dengan senang hati menerimanya. Karena bisa dikatakan mungkin dirinya tidak akan mempunyai keturunan dalam kurun waktu beberapa tahun ke depan nanti karena status yang dimiliki oleh dirinya.

__ADS_1


"Kalau begitu, Tante Vero saat ini merupakan Ibuku"


__ADS_2