
Seorang pria yang terlihat tangannya sudah dibalut dengan penyangga yang menopangnya, saat ini berteriak seperti orang gila tepat didepan salah satu kediaman mewah pada komplek perumahan yang didatanginya. Dirinya terus berteriak seperti itu, hingga seseorang yang tinggal dikediaman yang dirinya teriaki itu mulai terganggu dengan perbuatannya.
Tentu dengan perasan yang sangat kesal karena kegiatannya terganggu, pemilik kediaman yang didatangi pria yang berperilaku seperti orang gila itu, saat ini langsung keluar dari dalam kediamannya dan langsung mencari tahu siapa orang yang saat ini mulai mengganggu pagi harinya itu.
“Apa yang kamu inginkan?” ucap Vero yang dimana saat ini melihat keberadaan Ayah tirinya yang berada didepan kediamannya.
“Cih... dasar pelacur! Cepat kembalikan hartaku!” teriak pria yang merupakan ayah tiri dari Vero, yang kembali berteriak melihat putri tirinya itu muncul dari pintu kediaman miliknya yang cukup besar itu.
Memang bisa dikatakan keadaan pria itu terlihat sangat mengenaskan. Karena tidak seperti biasanya, pria itu saat ini mengenakan pakaian yang bisa dikatakan tidak layak untuk dikenakan oleh pria seperti dirinya. Bahkan Vero sedikit bingung dengan keadaan pria yang saat ini mendatangi kediamannya itu.
Dirinya tahu, walaupun perusahaannya bisa dikatakan diambang kehancuran, tetapi sahamnya tetap saja mahal harganya. Jadi cukup aneh jika Ayah tirinya yang menjual semua sahamnya, bisa terlihat seperti seorang pengemis saat datang menuju kediamannya.
“Hartamu? Bukankah kamu sudah menjualnya?” teriak Vero yang membalas perkataan Ayah tirinya itu.
“Jangan berucap omong kosong kepadaku. Aku tahu, kamu yang menyuruh orang-orang itu untuk membuatku menjual semua saham milikku bukan!” teriaknya kembali yang menyahuti perkataan dari Vero.
Tentu mendengar perkataan Ayah tirinya, Vero sangat tidak mengerti apa yang sedang dirinya ucapkan hingga saat ini. Apalagi tentang perkataannya yang berkata bahwa dirinya mengirimkan beberapa orang kepadanya untuk memaksanya menjual hartanya.
Tentu Vero tidak pernah melakukan hal seperti itu. Walaupun dirinya sangat membenci pria yang saat ini berada dihadapannya, dan berniat melakukan apa yang dirinya katakan tadi, tetapi memang bukan dirinyalah yang membuat pria yang berada dihadapannya menjual semua hartanya.
“Apa maksudmu?” balas Vero kembali.
“Jangan berpura-pura bermain peran denganku wanita hina. Aku tahu bahwa itu merupakan perbuatanmu” ucap pria itu kembali sambil mendekat kearah tempat sampah didepan kediaman Vero, dan mulai menendangnya untuk menunjukan kekesalannya saat ini.
Vero sedikit takut dengan tindakan Ayah tirinya itu, karena bisa dikatakan dirinya saat ini seperti seseorang yang sedang lepas kendali dan bisa saja melukai dirinya kapan saja, jika dirinya terus membuat pria itu semakin emosi.
“Cih... dimana Kelly dan pria yang sudah aku bayar itu?” gumam Vero yang mengharapkan kedua orang tersebut bisa tiba dikediamannya lebih cepat, karena dirinya takut jika dia terus meladeni pria yang sedang mengamuk didepan kediamannya ini, dirinya akan mengalami sesuatu yang tidak diinginkan olehnya.
“Cepat kembalikan!” teriak Ayah tiri dari Vero kembali, setelah selesai menendang tempat sampah didepan rumah Vero, dan kembali membentak Vero saat ini.
Sebenarnya apa yang dilakukan oleh pria itu merupakan perbuatan yang dirinya sengaja lakukan. Tentu dengan menunjukan bahwa ada seseorang putri yang menelantarkan Ayahnya sendiri, pasti akan membuat beberapa pihak akan berada disisinya.
Termasuk saat ini, saat ayah tiri dari Vero sengaja untuk membuat gaduh area perumahan Vero. Tentu dirinya melakukan hal tersebut agar tetangga dari Vero bisa bersimpati untuknya, atas perbuatan yang dirinya sengaja lakukan itu, untuk membuat nama putrinya itu jatuh dan langsung menyebarkan rumor yang bisa menekan dirinya.
__ADS_1
“Sudah kubilang, aku tidak tahu apa yang sedang kamu katakan!” teriak Vero yang juga mulai emosi karena dirinya terus merasa dipojokan.
Tentu mendengar putri tirinya itu mulai emosi dibuatnya, membuat pria itu merasa senang didalam hatinya. Karena saat ini memang dirinya hanya menunggu tetangga dari Vero yang nanti akan melihat perdebatan itu, agar membuat rencananya itu akan berjalan dengan mulus.
Apalagi setelah mendengar jawaban yang diberikan oleh putri tirinya itu, dirinya saat ini mulai kembali membuat ekspresi emosi dan bersiap untuk melanjutkan aksinya, agar membuat apa yang dirinya lakukan saat ini menjadi bahan perhatian dari orang-orang yang tinggal pada komplek perumahan dari Vero.
Tetapi karena memang hari masih sangat pagi, saat ini para tetangga dari Vero masih berada dengan nyaman pada kediaman mereka masing-masing. Tentu yang harus dilakukan oleh Ayah tiri dari Vero saat ini, adalah untuk membuat kegaduhan yang lebih besar untuk menarik perhatian.
Namun sebelum dirinya melakukan hal tersebut, alangkah terkejutnya dirinya saat sebuah telapak tangan saat ini sudah mendarat dengan mulus dilehernya. Tentu saat ini tangan yang mendarat dilehernya itu bukan sekedar menyentuhnya saja, melainkan langsung menggenggam dengan erat bagian lehernya saat ini.
“Ternyata kamu tidak tobat juga ya...” ucap seorang pria yang saat ini sudah menghalangi tindakan pria yang terlihat sedang mencari masalah dengan Vero itu, dengan langsung meraih tengkuk lehernya dari belakang.
Vero mulai merasa lega dengan kedatangan pria tersebut. Karena sebenarnya dirinya juga sudah sangat ketakutan, dengan tindakan nekat yang sedang dilakukan oleh ayah tirinya itu, yang sepertinya berniat seakan ingin mengamuk didepan kediamannya.
Tentu bukan hanya Vero saja yang merasa lega, tetapi beberapa pekerja yang bekerja dikediaman Vero juga mulai menghela nafas mereka, karena saat ini sepertinya keributan yang terjadi didepan kediaman majikan mereka, mulai mereda saat kedatangan sesosok pria yang menghalangi keributan tersebut.
“Anda tidak apa-apa Nona Vero?” tanya seorang wanita yang terlihat sangat khawatir, dan mulai menghampiri Vero saat ini, untuk memastikan apakah wanita itu baik-baik saja.
“Aku tidak apa-apa Bibi” balas Vero kemudian, untuk menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh wanita yang menghampirinya itu.
Apalagi dirinya tidak menyangka bahwa pria itu bisa berada disini, dan akan menggagalkan rencana yang sudah dirinya lakukan sedari tadi. Apalagi kedatangannya saat ini dipastikan tidak hanya akan membatalkan rencananya saja, melainkan akan memberikan sebuah pelajaran kepada dirinya.
“Sekarang kamu memilih tangan atau kaki?” ucap pria yang ternyata Zen, yang kembali membuat sebuah pilihan kepada pria yang terlihat sangat ketakutan itu.
Memang Zen sebenarnya tidak ingin ikut campur dengan permasalahan Vero tadi. Namun saat melihat bahwa pria yang sedang bertengkar dengannya tadi mulai mengambil sebuah tindakan, tentu Zen harus menghalangi tindakannya itu.
“T-Tuann...” ucap Ayah tiri dari Vero yang saat ini sudah gemetar ketakutan melihat keberadaan Zen saat ini.
Tentu teror yang dimana tangannya dipatahkan oleh Zen masih membekas dengan rapi dibenaknya. Bahkan dengan keadaan tidak sadar saat ini, pria itu mulai mengompol dan sudah membasahi celana yang dirinya kenakan.
Bahkan sebelum Zen bertindak lebih lanjut, ternyata teror yang diingat oleh pria itu berhasil membuatnya tak sadarkan diri ditempatnya. Tentu Zen langsung terkejut dengan apa yang terjadi, karena memang dirinya belum melakukan apapun untuk membuat pria itu takut.
“Cih... kencingnya mengenai sepatuku” ucap Zen yang kesal, melihat tetesan air seni pria yang berada di genggaman tangannya, mulai mengalir menuju sepatu yang dikenakannya.
__ADS_1
Karena merasa kesal, Zen akhirnya mulai membawa pria itu menuju seberang jalan dari kediaman Vero berada, dan meletakan pria yang sudah tak sadarkan diri itu pada sebuah tempat penampungan sampah dari komplek perumahan mewah tersebut.
Setelah memastikan pria itu sudah berbaring dengan nyaman pada sebuah popok bayi bekas di kepalanya, akhirnya Zen mulai menutup penampungan sampah tersebut dan meninggalkan dirinya yang seperti sampah di sana.
“Sialan, mengapa pagi-pagi sekali wanita itu sudah mempunyai sebuah masalah” gumam Zen yang entah mengapa sudah mulai merasa lelah, dalam tugasnya untuk melindungi wanita yang harusnya dirinya lindungi itu.
Dengan sebuah helaan nafas, Zen yang mulai tidak memperdulikan pemikiran yang baru saja muncul di kepalanya itu, mulai kembali menyebrang kearah kediaman Vero dan mulai mendekat kearah kedua wanita yang masih menyaksikan perbuatannya sedari tadi.
“Terima kasih Tuan” ucap seorang wanita setelah Zen sudah mendekat kearah tempat dimana Vero dan wanita yang dipanggilnya Bibi itu berada.
Tentu wanita yang dipanggil Bibi oleh Vero itu, yang mengucapkan terima kasih kepada Zen, setelah dirinya sudah menyelesaikan permasalahan yang terjadi didepan kediaman milik Vero. Apalagi memang terlihat wanita itu seakan sangat antusias dengan keberadaan dirinya ditempat ini.
“Anda Tuan Zen bukan, suami dari Nona Vero?” namun belum juga Zen menyahuti perkataannya, wanita itu kembali menanyakan sesuatu kepadanya.
“Benar.. dan anda?” ucap Zen kemudian.
“Ah... nama saya Leni, Panggil saja Bibi atau Bibi Leni. Saya pelayan dari Nona Vero.” Ucap Wanita itu kepada Zen dengan ramah.
“Salam kenal Bibi Leni” balas Zen ramah.
Memang karena merasakan bahwa wanita yang saat ini sedang menyambutnya itu sangat ramah, tentu Zen menyambutnya dengan baik. Karena sepertinya wanita itu akan bertugas seperti pelayannya kelak saat tinggal dikediaman dari Vero.
“Sudahlah Bibi, bawa dirinya masuk dan perkenalkan tentang setiap sudut kediaman kita kepadanya” ucap Vero kepada wanita yang saat ini sedang berkenalan dengan Zen itu.
“Dimana sopan santun mu Nona Vero? Seharusnya anda tidak boleh berkata seperti itu kepada Suamimu” ucap Leni yang menegur tata cara Nona mudanya itu dalam berkomunikasi dengan Suaminya.
“Cih.. walaupun dirinya suamiku, tetap saj-”
“Nona Vero...” namun belum juga Vero menyelesaikan kalimatnya, pelayan yang sudah mengabdi sedari dirinya kecil, bahkan saat Neneknya masih hidup itu, kembali menegurnya dengan menatap dirinya dengan tatapan yang menyudutkan dirinya.
“Hahh... baiklah-baiklah. Mari masuk Suamiku” ucap Vero yang terpaksa bersikap ramah kepada Zen, untuk menuruti kemauan dari orang yang sudah dianggapnya sebagai orang tuanya itu.
Memang Vero sangat menghormati wanita yang merupakan pelayan kediamannya tersebut. Bahkan dirinya pernah memaksanya untuk tidak bekerja lagi sebagai pelayannya dan menyuruhnya menikmati harinya saja pada kediamannya, namun wanita itu menolak dengan tegas idenya itu.
__ADS_1
Bukan tanpa alasan Vero melakukan hal itu. Karena Leni memang sudah mengasuhnya sedari kecil, dan dirinyalah orang terdekat yang dimiliki oleh Vero yang masih setia menemaninya hingga saat ini, setelah orang-orang yang dicintainya sudah pergi meninggalkan dirinya.
“Kalau begitu, mari masuk Tuan Zen”