
Beberapa orang sudah berkumpul dibawah sebuah gedung apartemen tempat mereka tinggal, yang dimana mereka saat ini sedang diungsikan dari unit apartemen mereka masing-masing, karena terjadinya beberapa penembakan pada lantai paling atas dari gedung apartemen yang mereka tinggali.
Namun tidak jauh dari sana. Seorang pria yang saat ini yang sedang berpura-pura kesakitan sedang berbaring didalam sebuah ambulan dan mencoba untuk terlelap dengan tenang didalamnya. Apalagi saat ini dirinya hanya sendirian ditempat ini karena dirinya sudah menggunakan kekuatannya untuk mengusir sopir dan perawat dari ambulan tempatnya bersantai itu.
Tetapi saat pria itu mencoba terlelap, suara pintu ambulan bagian belakang yang digunakan untuk memasukan pasien mulai terbuka. Sesosok wanita yang kondisinya sangat berantakan mulai masuk kedalamnya dan tidak lupa menutup pintu dari ambulan tersebut kembali setelah dirinya masuk kedalamnya.
“Siapa sebenarnya anda Tuan Zen?” tanya wanita itu yang sudah duduk disebuah bangku di samping tandu yang sedang ditiduri oleh pria yang dipanggil Zen tersebut.
Zen yang mendengar perkataan dari wanita yang berbicara kepadanya itu mulai membuka kelopak matanya sejenak dan melihat siapa yang sebenarnya masuk kedalam ambulan tempatnya beristirahat. Namun setelah memastikan siapa orang yang sedang melontarkan sebuah pertanyaan kepadanya, Zen kembali menutup matanya dan mulai menjawab pertanyaan dari wanita tersebut.
“Hanya warga biasa Nona Santi” balas Zen menjawab pertanyaan Santi sambil berbaring dalam posisi yang sangat nyaman menurutnya.
Santi kemudian hanya diam saja mendengar jawaban dari Zen. Tangannya juga masih gemetaran karena mengingat kejadian yang baru saja dialaminya, yang mengingat bahwa anak buahnya hampir meninggal atas kejadian tadi.
Entah apa yang terjadi jika Zen tidak menolongnya tadi. Bahkan membayangkannya saja membuat Santi merasa sangat amat menyesal, karena dirinya hampir menyeret anak buahnya kedalam sebuah kematian.
“Terima kasih” begitulah gumaman pelan dari Santi, yang entah mengapa mulai mengesampingkan perasaannya yang menganggap Zen merupakan seorang kriminal pembunuh atas kasus yang sedang diselidikinya.
“Untuk apa kamu berterima kasih. Seharusnya kamu mulai waspada sekarang, karena kelompok yang aku bunuh tadi pasti akan mengincar dirimu juga setelah kejadian tadi” Ucap Zen.
“Apa maks-” namun sebelum Santi menyelesaikan perkataannya, pintu ambulan tempat mereka berada kembali terbuka dan memunculkan sesosok pria yang mengenakan seragam polisinya.
“Komandan.” Kata Santi yang terkejut dan mulai berdiri pada tempatnya dan memberi hormat setelah melihat kepala kepolisian kota ini berada dihadapannya.
__ADS_1
“Sudahlah, istirahatlah Santi. Pasti kamu sangat terguncang dengan kejadian yang baru saja terjadi. Kedatanganku hanya akan bertanya beberapa hal dengan saksi mata kejadian ini saja” kata pria tersebut yang mulai menatap Zen.
“Hmmm... menarik. Aku tidak perlu mencari susah-susah dalang dari ini semua” gumam Zen setelah melihat tatapan yang diberikan pria yang akan memasuki ambulan tempatnya berada saat ini.
Pria itu mulai duduk di samping Santi dan sedang menatap Zen yang masih terbaring di atas matras dari tandu didalam mobil ambulan ini.
“Baiklah, perkenalkan saya Bagus Haryanto. Pemimpin kepolisian wilayah Malet ini. Kedatangan saya saat ini hanya ingin mengetahui dengan detail tentang apa yang terjadi dan menyebabkan beberapa anak buah saya meninggal” kata pria yang dipanggil Bagus itu memperkenalkan dirinya kepada Zen.
“Salam kenal Pak Bagus. Nama saya Zen, seorang warga negara biasa” balas Zen yang membalas perkenalan diri pria memperkenalkan dirinya tadi.
“Lalu, bisakah anda menceritakan secara detail tentang apa yang anda alami tadi Tuan Zen?” kata pria itu sekali lagi, dan berniat mencari tahu tentang apa yang sebenarnya terjadi.
“Hm.. Jadi begini. Saat saya sudah bersiap dan hendak untuk tidur, saya mendengar suara berisik yang tiba-tiba saja terdengar. Tentu saja saya ingin melihat asal suara berisik itu berasal. Namun ternyata saya melihat beberapa pria yang menggunakan setelan hitam dan masker untuk menutupi wajah mereka dan juga membawa senjata sedang memasuki kediaman saya. Tentu melihat hal itu saya langsung kembali menuju kamar saya dan bersembunyi dibawah tempat tidur milik saya” Jelas Zen yang mencoba membuat sebuah skenario tentang sebuah kejadian yang dialaminya.
“Ya... saya bersembunyi dibawah tempat tidur dan melihat mereka mulai memasuki kamar saya. Tentu saya sangat ketakutan dan sebisa mungkin untuk tetap tenang, hingga akhirnya mereka keluar dari kamar tempat saya bersembunyi” lanjut Zen.
“Lalu, setelah itu?” kata pria itu sekali lagi, karena dia penasaran dengan apa yang dialami oleh Zen selanjutnya.
“Lalu setelah mereka keluar, tidak lama kemudian suara tembakan mulai terdengar. Dor... Dor... Dor... begitulah yang saya deng- tunggu... dor, dor, dor, dor, dor, dor, dor, dor... ya, delapan suara tembakan saya dengar dari dalam tempat saya bersembunyi” kata Zen yang masih terlihat kedua tangannya menunjukan delapan buah jari yang terbuka karena dirinya menghitung suara tembakan yang didengarnya.
“Lalu, kapankah anda keluar dari tempat persembunyian anda. Karena yang saya dengar, anda ditemukan terbaring didepan unit apartemen milik anda” tanya pria itu sekali lagi.
“Benar sekali Pak. Saya keluar dari tempat persembunyian saya saat suara tembakan sudah berhenti dan keadaan kediaman saya mulai sunyi. Setelah saya mengendap keluar, saya melihat beberapa orang tergeletak diruang tamu milik saya dan membuat saya ingin meninggalkan kediaman saya saat itu juga untuk melarikan diri” ucap Zen sebelum melanjutkan perkataannya setelah menarik nafasnya sejenak.
__ADS_1
“Lalu, saat saya tiba didepan kediaman saya, saya melihat beberapa mayat dan darah, dan langsung membuat saya langsung merasa pusing dan mual setelah melihat kejadian itu dan tentu saja saya langsung pingsan” balas Zen mengakhiri ceritanya.
“Hmm... begitu ya. Anda berkata mendengar suara tembakan bukan, tetapi mengapa semua korban yang berada didalam unit apartemen anda semuanya tidak mempunyai bekas luka tembak pada tubuh mereka?” tanya pria itu penuh selidik kepada Zen.
“Mana saya tahu Pak Polisi. Memang saya tidak melihat kondisi orang-orang yang pingsan didalam kediaman saya, dan saya lebih memilih untuk melarikan diri dari kediaman saya untuk menyelamatkan diri” balas Zen.
Zen terus diinterogasi dengan berbagai pertanyaan yang dilontarkan kepadanya. Namun Zen dengan tenang menjawab itu semua, dan akhirnya pria yang menginterogasinya itu merasa sudah cukup untuk bertanya kepada Zen dan mengakhiri sesi tanya jawab tersebut.
“Baiklah, semua keterangan anda sudah saya dapatkan, jadi saya akan mengusut tuntas kejadian ini” kata pria itu yang meyakinkan Zen bahwa dia akan menyelesaikan kasus ini secepat mungkin.
“Dan Santi. Aku akan memastikan anak buahmu untuk sembuh dan bisa beraktivitas seperti biasa lagi” kata pria itu dan akan beranjak dari sana.
“Terima kasih Komandan” balas Santi yang merasa cukup lega, karena kesembuhan anak buahnya akan terjamin.
Pintu dari ambulan tempat Zen berada sudah kembali ditutup setelah pria yang menginterogasinya mulai pergi dari sana. Namun setelah dirinya pergi, Santi yang masih duduk disebelahnya mulai menatap Zen dengan tatapan penuh selidik.
“Bagaimana kamu melakukannya?” tanya Santi kepada Zen, setelah hanya tersisa mereka berdua saja didalam ambulan tersebut.
“Melakukan apa?” tanya Zen yang masih bingung dengan arah pembicaraan dari Santi.
“Berbohong” Ucap Santi singkat.
Selama interogasi yang sedang dijalani Zen, Santi cukup terkejut karena semua yang dikatakan oleh Zen adalah kebenaran. Dirinya sama sekali tidak merasakan sebuah kebohongan apapun dari semua perkataan yang dilontarkan olehnya.
__ADS_1
“Hmm... Dari mana kamu tahu aku berbohong?”