
Keesokan harinya setelah kejadian yang terjadi pada sebuah goa. Sebuah kerajaan yang dipimpin oleh beberapa pihak yang sangat berkuasa, saat ini mulai melakukan sebuah pertemuan, untuk mengetahui lebih detail tentang apa yang terjadi.
Apalagi salah satu anggota kerajaan mereka, hampir saja tewas atas kejadian tersebut dan membuat mereka memutuskan untuk membuat pertemuan, agar kejadian yang sama tidak terulang kembali dan mulai mendiskusikan rencana mereka selanjutnya atas kejadian tersebut.
“Apakah kamu tidak apa-apa Amaterasu?” ucap seorang pria yang saat ini langsung mendekati seorang wanita yang sangat dirinya khawatirkan keadaannya.
“Aku tidak apa-apa Tsukoyomi.” Balas Amaterasu kepada orang yang mengkhawatirkan dirinya itu.
Memang hasil yang didapatkan saat penyerangan yang dilakukan oleh Amaterasu kemarin, sudah tersebar ke seluruh pihak Dewa Shinto, hingga akhirnya sebuah pertemuan antara mereka akan dilaksanakan hari ini.
Tentu sebagai aktor utama dalam kejadian kemarin, saat ini Amaterasu sudah menuju area lokasi pertemuan yang akan dilaksanakan, untuk membeberkan apa yang sebenarnya terjadi saat dirinya menyerang sebuah markas Vampire kemarin.
“Apakah kamu yakin, dirimu tidak apa-apa?” ucap pria itu yang masih tidak mempercayai bahwa wanita yang saat ini dia khawatirkan itu keadaannya baik-baik saja.
Tentu dirinya tidak mempercayai sepenuhnya perkataan wanita tersebut, karena memang dirinya mendengar dengan telinganya sendiri, bahwa wanita itu hampir saja tewas kemarin. Jadi dirinya merasa khawatir dan ingin benar-benar memastikan kondisinya apakah benar baik-baik saja.
“Sudah kubilang, aku tidak apa-apa Tsukoyomi” balas Amaterasu kemudian, yang mulai jengah dengan sikap dari pria yang masih menghalangi dirinya itu.
Namun sebelum perdebatan itu berlanjut, seorang pria mulai mendekati tempat mereka berada dan langsung memperingatkan mereka bahwa pertemuan yang harus mereka hadiri akan dimulai sebentar lagi, dan menyuruh mereka untuk bergegas menuju lokasi pertemuan.
Tentu pria yang bernama Tsukoyomi itu terpaksa harus membatalkan niatnya untuk memastikan kondisi Amaterasu baik-baik saja, dan mulai memasuki sebuah ruangan pertemuan yang sudah dipersiapkan untuk mereka, karena memang benar bahwa pertemuan itu akan segera dimulai.
“Sepertinya yang lain sudah berada disini” gumam Amaterasu yang melihat hampir semua Dewa Shinto sudah berada ditempatnya.
Memang Dewa Shinto yang tersisa di dunia ini hanya tersisa 12 Dewa saja, setelah beberapa dari mereka sudah tewas melawan musuh mereka beberapa ribu tahun yang lalu. Jadi bisa terlihat beberapa pihak sudah menempati tempat duduk mereka untuk menunggu pemimpin dari pertemuan ini tiba ditempat ini.
“Apakah kamu tidak apa-apa Kakak?” ucap seorang pria yang mulai mendekati Amaterasu dan terlihat sangat mengkhawatirkan keadaannya itu.
“Aku tidak apa-apa Susano, jadi kamu tidak perlu mengkhawatirkan diriku” balas Amaterasu kepada adiknya itu.
“Maafkan aku yang tidak langsung menemui dirimu kemarin Kak” balas Susano kemudian yang merasa bersalah, karena tidak langsung melihat keadaan Kakaknya, setelah berita besar tentang apa yang dialami oleh Kakaknya sudah menyebar.
__ADS_1
“Sudahlah tidak apa-apa. Lagipula aku mengetahui apa yang kamu lakukan, sehingga dirimu tidak bisa menemui diriku dan menjenguk keadaanku kemarin” balas Amaterasu yang menenangkan kekhawatiran dari adiknya tersebut.
Susano cukup lega karena Kakaknya kembali dengan kondisi yang baik-baik saja, dan itu terlihat saat dirinya menemuinya dengan keadaan yang baik ditempat ini. Tentu sebagai adik, dirinya sangat amat khawatir dengan keadaannya kemarin saat mendengar berita tentang Kakaknya.
Bahkan dirinya ingin bergegas untuk langsung memeriksa kondisinya, tetapi hal itu dirinya urungkan, karena memang sebuah tanggung jawab besar juga harus dirinya selesaikan. Jadi, dirinya tidak sempat untuk menjenguk keadaan Kakaknya kemarin.
“Sudahlah, lebih baik kamu langsung duduk di kursimu, karena sebentar lagi Ayah dan Ibu akan segera datang” balas Amaterasu kepada adiknya itu.
“Baiklah Kak” balasnya dan mulai menuju tempat duduk yang sudah disediakan untuknya.
Bisa terlihat semua Dewa Shinto sudah duduk di kursinya masing-masing, kecuali dua orang pemimpin mereka yang belum tiba ditempat dimana mereka sedang berkumpul itu. Hingga akhirnya, pintu pertemuan tempat mereka berada mulai terbuka dan memunculkan seorang pelayan yang mengantarkan dua orang pasangan paru baya memasuki tempat tersebut.
Tentu semua Dewa yang berada di ruangan tersebut mulai berdiri untuk menyambut kedatangan kedua orang tersebut, hingga akhirnya mereka mulai membungkuk setelah kedua orang itu tiba ditempat mereka.
“Kalian semua bisa duduk kembali” ucap sang pria paru baya yang baru muncul itu, kepada seluruh Dewa yang selesai memberikan penghormatannya kepada dirinya beserta istrinya.
Semua Dewa yang mendengarkan perintahnya mulai duduk kembali di kursi mereka masing-masing. Saat ini, mereka mulai duduk dengan tenang ditempat mereka, sambil menantikan pertemuan yang akan mereka lakukan itu akan dimulai.
“Jelaskan dengan detail apa yang kamu alami kemarin Amaterasu” ucap sang wanita kepada Amaterasu.
“Baiklah Ibu” balas Amaterasu dan mulai menjelaskan apa yang terjadi dengannya kemarin.
Tentu semua pihak mulai mendengar penjelasan yang dilontarkan oleh Amaterasu tentang penyerangan yang dirinya lakukan kemarin. Tentu Amaterasu menjelaskan seluruh kejadian yang dirinya alami tanpa menutupi apapun kepada seluruh dewa yang menghadiri pertemuan tersebut
Bahkan Amaterasu juga menjelaskan tentang keterlibatan Zen yang bisa dibilang menyelamatkan nyawanya, saat dirinya kemarin hampir saja tewas ditangan seorang Vampire, dan tidak lupa juga dengan sebuah informasi tentang pedang dari Ame no Ohabari yang saat ini sudah berada ditangan Zen.
“Apakah kamu yakin dirinya merupakan salah satu Deadly Sins putriku?” tanya sang pria kepada putrinya, setelah Amaterasu selesai menceritakan keseluruhan ceritanya.
“Aku sangat yakin Ayah, bahkan dirinya mengkonfirmasi sendiri identitasnya” balas Amaterasu.
Ruang pertemuan itu mulai sedikit berisik saat ini, setelah mendengar akhir dari apa yang dijelaskan oleh Amaterasu. Bukan karena sang Vampire yang mereka ributkan saat ini, melainkan seorang yang mungkin akan menjadi ancaman bagi mereka dimasa depan.
__ADS_1
Tentu mereka memahami sepenuhnya tentang sentimen yang mungkin akan diungkit oleh Zen, karena memang bisa dikatakan seluruh saudaranya tewas ditangan para Dewa, termasuk beberapa dari mereka tewas ditangan Dewa Shinto.
“Bukankah kita harus bertindak saat ini, Tuan Izanagi. Apalagi dengan permasalahan pria tersebut?” ucap seorang Dewa yang merupakan Tsukoyomi kepada pria paru baya yang memimpin pertemuan ini.
“Tetapi menurut Amaterasu, dirinya tidak menimbulkan ancaman saat ini, Tsukoyomi” balas pria yang dipanggil Izanagi tersebut.
“Tetapi Tuan Izanagi, dirinya merupakan seorang Deadly Sins dan sudah memegang harta kita yang hilang yaitu Ame no Ohabari. Jadi saya setuju dengan perkataan Tsukoyomi untuk bertindak saat ini” balas salah satu Dewa yang mendukung perkataan dari Tsukoyomi.
“Lalu, apakah kalian lupa apa yang baru saja diceritakan oleh putriku tadi. Putriku bisa merasakan kekuatannya sangat berbeda dengan para Deadly Sins yang beberapa dari kalian pernah hadapi dulu, dan dirinya memegang Ame no Ohabari” balas seorang wanita yang duduk disebelah Izanagi.
“Benar kata Istriku. Kita saat ini tidak boleh mengambil keputusan yang gegabah, atas permasalahan seorang Deadly Sins yang memegang Ame no Ohabari itu” balas Izanagi
Tentu mendengar hal itu, semua yang berada di sana sempat bungkam saat ini. Memang mereka sangat khawatir dengan keberadaan sebuah senjata yang mampu membunuh seorang Dewa, dan keberadaannya saat ini sudah berada ditangan seorang yang mungkin menjadi musuh mereka dimasa depan.
Apalagi saat ini pemimpin mereka tidak ingin mengambil tindakan yang gegabah, karena mungkin tindakan yang mereka ambil itu mungkin akan membimbing mereka menuju arah yang cukup buruk. Apalagi memang pria tersebut belum menimbulkan sebuah masalah yang membuat mereka harus turun tangan untuk mencegah tindakannya saat ini.
“Tetapi Nyonya Izanami, menurut saya dirinya merupakan sebuah ancaman yang patut kita waspadai. Jadi, menurut saya lebih baik kita langsung menyerang dirinya secara bersama-sama, untuk menghilangkan sesuatu yang mungkin akan menjadi ancaman yang nyata bagi kita kelak.” Kata Tsukoyomi kembali.
“Maafkan diriku karena menyela perdebatan kalian. Aku mengetahui ambisi dirimu untuk melindungi pihak kita Tsukoyomi, tetapi benar kata Tuan Izanagi tadi, bahwa kita tidak boleh gegabah untuk mengambil sebuah keputusan” ucap seorang pria yang menyela perdebatan mereka.
Tetapi tetap saja, perkataan Dewa tersebut tidak dapat membuat Tsukoyomi untuk berhenti untuk memaksakan idenya pada pertemuan tersebut. Menurutnya, ancaman yang bisa mencelakai mereka, saat ini harus dilenyapkan secepatnya.
“Maafkan aku Tsukoyomi, tetapi aku setuju dengan perkataan Ebisu. Bahkan tugas utama kita mencari putrinya yang hilang saja kita lakukan dengan cara perlahan. Jadi kita tidak boleh gegabah untuk mengambil keputusan menangani permasalahan tersebut.” balas Izanagi.
“Tetapi Tuan, kita sampai saat ini tidak mengetahui keberadaan Putrinya. Sedangkan sebuah ancaman nyata sudah muncul dihadapan kita, dan bisa saja dirinya akan memusnahkan kita satu persatu, jika kita terlambat bertindak” ucap Tsukoyomi kembali.
Tentu bukan alasan utama Tsukoyomi ingin melenyapkan ancaman seperti Zen sebenarnya. Dirinya hanya ingin membuat senjata yang dipegang oleh Zen, harus ada ditangannya untuk dapat membuktikan kemampuan dirinya dalam menangani sebuah permaslahan.
Tentu Amaterasu tahu ambisi dari Tsukoyomi tersebut, karena memang ambisinya itu mungkin dikarenakan oleh dirinya. Karena memang Tsukoyomi sangat mencintai Amaterasu dan sudah mengejarnya sudah sangat lama.
Tetapi, Amaterasu selalu menolak cintanya dan memberikan sebuah tugas yang menurutnya akan mustahil untuk diselesaikan oleh Tsukoyomi agar pria itu tidak mengejarnya kembali. Namun yang dirinya tidak ketahui, keputusannya itu membuat pria yang saat ini sedang berdebat dengan beberapa Dewa Shinto yang lainnya, menjadikan dirinya menjadi seseorang yang sangat berambisi.
__ADS_1
“Tidak perlu Tsukoyomi. Biar diriku sendiri saja yang menyelesaikan urusan tentang pedang Ame no Ohabari dan Deadly Sins itu"