Ex-Harem Lord

Ex-Harem Lord
Menjenguk


__ADS_3

Santi akhirnya sudah berada di ruangan bangsal perawatan biasa, setelah keadaan kritisnya sudah teratasi dengan baik. Santi saat ini sudah sadar sepenuhnya dan sudah ditemani oleh Angel yang masih setia menemaninya, di ruangan tempat dirinya berada saat ini.


“Terima kasih Angel, karena kamu masih setia menemaniku” ucap Santi yang melihat seseorang yang sudah dianggap sebagai sahabat baiknya itu, masih setia menemaninya hingga saat ini.


“Sama-sama Kak Santi” balas Angel yang merasa sudah lega karena keadaan Santi baik-baik saja, dan tidak mengalami sesuatu yang buruk dengan keadaannya.


Sebenarnya, pihak dokter yang merawat Santi sangat kebingungan karena luka yang diterimanya bisa dibilang sangatlah fatal, namun kondisinya sangat cepat untuk pulih. Bahkan para dokter sangat kebingungan, karena Santi tidak kekurangan darah sedikitpun saat sedang dirawat tadi.


Tetapi karena pasien sudah selamat dan bisa dirawat dengan baik, akhirnya permasalahan tersebut hanya dibiarkan saja oleh pihak dokter. Jadi, saat ini Santi sedang menjalani perawatan untuk kesembuhan luka yang diterimanya saja saat ini.


“Lalu, apakah kamu yakin teman satu kamarmu yang menyelamatkan kita tadi?” tanya Santi yang mencoba mengorek informasi dari Angel, tentang siapa yang menyelamatkan mereka berdua tadi.


“Benar Kak, dan itulah yang membuatku kebingungan saat ini, karena aku tidak tahu mengapa dirinya bisa menyelamatkan kita” balas Angel.


Tentu, mereka berdua sudah memikirkan identitas sebenarnya dari Amel, teman sekamar dari Angel tersebut. Bahkan hipotesa mereka bisa dikatakan tepat, saat sesosok pria saat ini sudah memasuki sebuah bangsal tempat Santi sedang dirawat.


“Apakah kalian tidak apa-apa?” tanya seorang pria berpakaian setelan jas memasuki ruangan tempat Santi dirawat, dan mengejutkan kedua wanita yang saat ini sangat terkejut dengan kedatangannya.


“K-Kak Zen?” ucap Angel yang masih tidak menyangka pria yang selama ini dirinya rindukan saat ini bisa berada dihadapannya.


“Kenapa? Apakah kamu mengalami sesuatu?” tanya Zen yang melihat Angel yang menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan itu, dan mulai memeriksa keadaannya.


“B-Bukan begitu Kak, tetapi mengapa Kakak bisa berada disini?” tanya Angel kemudian, yang masih tidak menyangka kedatangan sosok pria yang sangat dirinya cintai itu.


Setahu Angel bahkan Santi, mereka mengetahui bahwa Zen sedang berada di Bali hingga saat ini. Jadi cukup membingungkan juga, bagaimana bisa pria yang saat ini sudah muncul dihadapan mereka berdua, bisa berada ditempat ini.


“Apakah aku tidak boleh berada disini?” tanya Zen yang masih kebingungan dengan perkataan yang baru saja dilontarkan Angel kepadanya itu, seakan dirinya tidak mengharapkan kehadiran Zen ditempat ini.


“Maksud Angel, mengapa kamu berada di Jakarta saat ini, sedangkan kami mengetahui bahwa dirimu berada di Bali” ucap Santi yang memperjelas maksud perkataan Angel tadi.


“Ah... aku memang baru tiba di Jakarta kemarin, dan mendapatkan kabar bahwa kalian sedang diculik. Jadi aku akhirnya memutuskan untuk menjenguk kalian kesini” balas Zen.


Tentu saja Zen tidak menceritakan bahwa dirinya sebenarnya juga ikut menghabisi orang yang menculik mereka, termasuk mahluk apa yang sebenarnya yang melakukan hal tersebut kepada mereka, karena dirinya tahu penjelasan seperti itu akan semakin membuat dirinya kerepotan kelak.


“Lalu, Apakah Kakak mengetahui berita penculikan kami dari Amel?” tanya Angel memastikan.

__ADS_1


“Amel? maksudmu Amelia? Tentu saja, dirinya merupakan kenalanku” ucap Zen.


Tentu mendapatkan jawaban seperti itu, membuat kedua wanita yang hanya memiliki hipotesa tentang identitas Amel di kepala mereka, semakin yakin bahwa sahabat sekamar dari Angel itu, merupakan salah satu anggota mafia yang dimana Zen menjadi anggotanya.


Entah sejak kapan kedua wanita tersebut memutuskan bahwa identitas dari Zen merupakan seorang mafia. Namun karena Zen tidak mempermasalahkan bahwa kedua wanita itu akan menganggapnya seperti itu, Zen hanya membiarkannya saja dan membiarkan mereka menganggap dirinya seperti apa yang mereka pikirkan itu.


“Lalu, apakah kalian benar-benar tidak apa-apa?” tanya Zen kemudian, yang memang sedari tadi pertanyaan yang dirinya lontarkan itu, tidak mendapatkan balasan dari kedua wanita yang saat ini sedang dipenuhi dengan berbagai pemikiran di kepala mereka.


.


.


Disisi lain, Vero bersama Kelly sudah berada pada sebuah pusat perbelanjaan terbesar di kota ini. Niat mereka saat ini adalah menghabiskan waktu mereka ditempat ini untuk berbelanja, untuk sekedar membuat kesedihan Vero bisa teralihkan.


“Apakah kamu yakin tidak ingin menemani Suamimu, Ver? karena dirinya tadi sepertinya berhenti tepat didekat sebuah rumah sakit” ucap Kelly kepada sahabatnya itu.


Menurut Kelly, jika benar bahwa Zen memasuki rumah sakit tempat dirinya pergi tadi, dipastikan pria itu akan menjenguk seseorang di sana atau memeriksakan keadaan dirinya ditempat tersebut. Maka dari itu, Vero yang merupakan Istrinya seharusnya menemaninya, jadi Kelly saat ini dibuat bingung dengan tindakan dari Sahabatnya tersebut.


“Sudahlah, lebih baik kita membeli beberapa barang ditempat ini” ucap Vero yang langsung beranjak ditempatnya, dan memasuki pusat perbelanjaan tersebut lebih dalam, tanpa memperdulikan perkataan dari sahabatnya itu.


"Apakah mereka sedang bertengkar?" gumam Kelly kemudian, disela-sela langkahnya yang sedang menyusul langkah dari Vero.


Tentu sebagai wanita, kedua sahabat itu saat ini mulai serius mencoba berbagai hal yang akan mereka beli. Termasuk Kelly yang sudah menggunakan ponselnya dan menggunggah aktivitasnya saat ini menuju media sosial pribadi miliknya.


“Kamu ingin mencari apa lagi Vero?” tanya Kelly kepada sahabatnya yang sudah membeli beberapa barang, setelah menyelesaikan aktivitasnya pada media sosial yang baru saja dirinya lakukan itu.


Memang walaupun Vero bisa dikatakan akan bangkrut, tidak serta merta membuat harta dari wanita cantik itu akan hilang sepenuhnya. Maka dari itu, dirinya bisa dengan bebas berbelanja saat ini, apalagi dirinya sudah menemukan solusi dari permasalahan perusahaannya yang terancam bangkrut tersebut.


“Hm... mungkin beberapa pakaian lagi” balas Vero, yang masih belum puas dengan semua belanjaan yang dirinya beli hingga saat ini.


“Lalu, apakah kamu tidak ingin membelikan sesuatu untuk suamimu?” tanya Kelly kemudian, yang saat ini mulai melewati tempat pakaian pria didalam mall tersebut.


“Untuk apa aku membelikan dirinya barang” ucap Vero kemudian yang membuat Kelly langsung mengerutkan keningnya.


Tentu perkataannya itu membuat Kelly semakin bingung, karena menganggap Vero dan suaminya sedang bersitegang dan saat ini sedang mengalami apa yang namanya masalah rumah tangga. Tetapi Vero yang baru saja berkata seperti itu, akhirnya menyadari kesalahannya.

__ADS_1


“Ah... t-tentu saja aku harus membelikannya bukan” Ucap Vero kemudian yang mencoba meralat perkataannya tadi.


Tentu Kelly masih mencurigai ada yang tidak beres dengan hubungan Vero dan suaminya. Tetapi karena Vero sudah memasuki sebuah tempat yang dipenuhi dengan pakaian pria, akhirnya Kelly hanya mengikuti langkahnya saja.


“Lalu, apa yang membuatmu bingung sekarang?” tanya Kelly kemudian, yang menatap sahabatnya itu yang terlihat bingung saat melihat beberapa pakaian yang terpampang dihadapannya.


“A-Aku tidak tahu ukuran pakaian dari suamiku” ucap Vero, karena memang dirinya tidak mengetahui ukuran tubuh dari Zen.


Tentu perkataan Vero kembali membuat Kelly kebingungan. Namun karena menurutnya itu masihlah wajar, bahwa seseorang tidak mengetahui ukuran pakaian pasangannya. Apalagi Vero dan Zen merupakan seorang pengantin baru.


Dan juga, Kelly sangat mengetahui bahwa hubungan Zen dan Vero tidak diawali dengan namanya masa pacaran yang panjang. Karena dirinya selalu berada disisi sahabatnya itu, dan hanya mengetahui bahwa benih cinta mereka bermula saat Vero diselamatkan olehnya.


“Ah.. aku mengingat sesuatu. Karena aku yang membelikan setelan untuknya tadi, sepertinya aku mengetahui ukurannya” ucap Kelly kemudian.


Memang saat Kelly menyiapkan setelan khas bodyguard yang akan dikenakan Zen tadi, dirinya hanya menerka-nerka ukurannya saja. Tetapi saat Zen mengenakan pakaian yang sudah dirinya siapkan itu, ternyata pakaian itu sangat cocok untuknya bahkan ukurannya juga pas. Jadi, Kelly saat ini bisa menerka ukuran tubuh dari suami sahabatnya itu.


Dan begitulah akhirnya, setelah kedua wanita itu mulai sibuk mencari beberapa pakaian yang menurut mereka cocok, untuk seorang pria yang saat ini keberadaannya tidak diketahui oleh mereka berdua.


.


.


Pada sebuah ruangan dengan pencahayaan yang kurang, saat ini seorang pria yang terlihat lusuh sedang memperhatikan layar komputernya. Matanya dengan serius menatap sebuah video yang terpampang di layar komputernya dengan tatapan penuh kenafsuan.


Dengan sebelah tangannya yang sudah menyentuh sesuatu yang berada dibawah perutnya, pria itu dengan merasa kenikmatan mulai melanjutkan kegiatannya itu hingga beberapa cairan berwarna putih, mulai mengenai keyboard komputer yang digunakannya.


"Sial... malah mengenai Keyboard baruku" ucap pria itu yang dengan cepat mengambil beberapa lembar tisu, dan mulai membersihkan bekas-bekas aksi bejatnya di ruangan tersebut.


Walaupun apa yang dirinya lihat bukan jenis video yang memperlihatkan kedua insan sedang beradu kenafsuan, melainkan seseorang yang sedang membersihkan dirinya dikamar mandi, entah mengapa pria itu merasa sangat puas melakukan tindakan yang baru saja dirinya lakukan itu, dengan hanya menatap video yang baru saja dirinya saksikan di layar komputernya.


“Ah... ternyata malaikatku sudah menggunggah sebuah foto baru” ucap pria itu yang sudah membuka aplikasi media sosial yang dikhususkan untuk berbagi foto, saat dirinya memutuskan untuk memeriksa ponselnya.


“Hm... dirinya sedang berbelanja saat ini ya...” ucap pria itu lagi dengan sebuah senyuman yang terukir pada wajah tak terawat miliknya, sambil mengecup layar ponselnya itu seakan sedang berfantasi sedang mencium seseorang yang baru saja dirinya lihat fotonya di layar ponselnya tersebut.


Setelah puas melakukannya, tentu dirinya langsung memberikan like pada foto yang sedang dirinya lihat itu, dan terus menatap foto dari sosok wanita yang dilihatnya itu, seakan wanita yang sedang berpose itu merupakan sesuatu yang sangat berharga bagi dirinya.

__ADS_1


“Lalu, kapankah kamu akan pulang bidadariku?”


__ADS_2