
Tertegun, terpana, terkejut, dan sebagainya, saat ini mulai muncul pada ekspresi yang sedang ditunjukan oleh Vero yang terus saja berubah sedari tadi. Sebuah kalimat yang keluar dari mulut suaminya tadi, memang membuatnya cukup terkejut.
Namun semua itu mulai semakin membuatnya shock disaat sosok yang sangat besar, dihormati dan diperhitungkan namanya di muka bumi ini, malah menjawab perkataan suaminya, dan menjelaskan dengan pasti status mereka yang bisa dikatakan cukup berbeda.
Memang, pada awalnya dirinya akan mengetahui bahwa status suaminya bahkan dirinya, sangatlah jauh berbeda dari sosok yang saat ini sedang duduk didepan mereka. Namun nyatanya, sosok pria yang duduk disampingnya lah yang ternyata lebih dominan didalam pertemuan tersebut.
Karena Vero bisa melihat dengan mata kepalanya sendiri, bahwa saat ini pria yang duduk didepannya menunjukan ekspresi yang terlihat sangat menghormati sosok suaminya, yang masih duduk dengan tenang ditempatnya dan sedang merangkul dirinya yang masih tidak mempercayai apa yang baru saja terjadi ditempat ini.
“Kenapa kamu tidak memberitahukan diriku, jika kamu akan kemari Alfred?” ucap Zen yang dengan santainya mengajak berbicara sosok yang sangat dikenal oleh Vero sebagai sosok yang sangat besar.
“Kejutan, Tuan. Apalagi, aku tidak ingin menggangu waktu anda dengan Istri Anda, jika anda menyibukkan diri anda untuk menyambut kedatangan saya” ucap Alfred yang menjawab pertanyaan yang dilontarkan kepada Tuannya itu.
Vero disisi lain, kepalanya seakan tidak pernah berhenti untuk berdiam saat ini. Karena dirinya dengan cepat mengubah pandangannya dari Zen menuju Alfred dan begitu seterusnya, karena dirinya masih belum mengerti sepenuhnya dengan situasi yang terjadi.
Apalagi kepalanya seakan mulai pecah saat ini, disaat dirinya memikirkan apa yang sedang terjadi ditempat ini. Berbagai pemikiran tentang apa yang terjadi, memang sudah mulai berputar didalam otak dari Vero, namun dirinya tidak kunjung menemukan keterkaitannya.
Tentu dirinya tidak akan menemukan kecocokan antara kejadian Zen yang berbicara dengan satai dengan sosok Alfred. Dan juga dirinya masih bingung, mengapa suaminya bisa bersikap seperti itu dengan sosoknya yang sangat besar tersebut.
“Cih... Lalu, maksud kedatangan dirimu ketempat ini untuk apa?” tanya Zen kembali kepada bawahannya itu.
“Tentu saja untuk menjemput Nyonya Veronica untuk menuju Kerajaan milik anda, dan memperkenalkan dirinya kepada seluruh keluarga anda, Tuan.” Ucap Alfred yang langsung membuat Vero membulatkan matanya saat mendengar perkataannya itu.
“Nyo-Nyonya, ke-keluaraga? Ap-apa sebenarnya y-yang kalian b-bicarakan saat ini” ucap Vero yang masih terpana dengan apa yang saat ini terjadi dihadapannya.
Setelah berkata seperti itu, tentu seluruh pihak yang berada di ruangan yang sama dengan dirinya mulai menatapnya, karena sepertinya sosoknya sudah menjadi bahan perhatian didalam ruangan ini. Bahkan Vero yang awalnya masih terkejut dengan kenyataan yang dirinya alami langsung merasa gugup saat ini.
Namun sosoknya yang sudah gugup itu, mulai ditenangkan oleh Zen yang saat ini sudah menggenggam tangannya dengan lembut, dan berusaha untuk membuatnya tidak terlalu tegang dengan kenyataan yang perlahan dirinya akan terima nanti tentang identitas sebenarnya dari Zen.
“Bukankah aku pernah berkata, bahwa keluargaku akan menemui dirimu?” ucap Zen, yang saat ini akan menjelaskan dengan perlahan tentang siapa sebenarnya dirinya.
__ADS_1
“B-Betul, tetapi apa h-hubungannya dengan yang terjadi ditempat ini?” tanya Vero kembali, yang saat ini masih belum bisa menguasai dirinya dengan kenyataan yang sedang terjadi dihadapannya.
“Pelayanku Alfred, saat ini akan menjemputmu dan membawamu menuju ketempat dimana keluargaku berada” ucap Zen yang langsung membuat sesuatu didalam diri Vero seakan runtuh secara tiba-tiba.
Tentu Vero masih tidak mengerti tentang kata pelayan yang baru saja diucapkan oleh Zen kepadanya. Karena saat ini sepertinya Vero mulai kehilangan dirinya yang masih belum memproses sepenuhnya apa yang sedang diucapkan oleh Zen.
Namun sentuhan lembut pada punggungnya, saat ini perlahan membuat Vero sedikit demi sedikit kembali memulihkan akal sehatnya. Bahkan setelah akal sehatnya mulai pulih, keterkejutan dari apa yang dikatakan oleh Zen tadi langsung membuatnya menatap sosok suaminya yang saat ini mencoba menenangkan dirinya.
Tentu dirinya seakan seperti dipermainkan dalam sebuah drama yang sedang diperankan oleh Zen dan Alfred saat ini. Karena bisa dikatakan, dirinya mulai mengaggap suaminya dan orang yang sangat penting dan sedang duduk dihadapannya sedang bermain peran di sana.
Tetapi, pemikirannya itu tentu saja langsung membuat kepalanya pusing, karena tidak mungkin bukan pria yang sangat berkuasa di dunia ini mau melakukan permainan peran dengan suaminya yang bukan siapa-siapa. Maka dari itu, saat ini dirinya masih berusaha dengan keras mencari tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi.
“Apa maksudmu tentang perkataan darimu sebelumnya, Zen?” Ucap Vero yang sudah mulai tenang, dan mencoba menggali dengan serius semua hal yang terjadi ditempat ini.
“Alfred, saat ini akan menjemputmu dan membawamu menuju kediaman dimana seharusnya aku tinggal, dan akan bertemu dengan keluargaku di sana” balas Zen, yang sekali lagi mengatakan perkataannya tadi dengan jelas, agar Istrinya itu paham dengan perkataannya.
Bahkan dirinya langsung menatap sosok Alfred dengan gestur yang sedikit ketakutan, karena dirinya masih menganggap bahwa suaminya sudah bersikap lancang kepadanya, dengan sedang berbuat ulah kepada pihak yang berada dihadapan mereka saat ini dengan mengajaknya bermain peran.
Namun, ternyata ekspresi dari Alfred bisa dikatakan tidak sesuai dengan ekspetasi yang sudah dirinya bayangkan tadi. Karena bisa dibilang, pria itu masih saja menunjukan senyum pada wajahnya, dan seakan tidak menunjukan ekspresi yang terlihat tersinggung dengan semua hal yang sudah terjadi ditempat ini.
“Benar kata Tuan Zen, Nyonya Vero. Sebagai Istri beliau, saya selaku pelayan pribadinya akan membawa anda untuk bertemu dengan seluruh keluarga dari suami anda pada kerajaan miliknya” lanjut Alfred, disaat tatapan Vero saat ini mengarah kepada dirinya.
Mendengarnya, tentu sesuatu yang sebelumnya runtuh didalam diri Vero, saat ini seakan runtuh kembali, karena dirinya tidak sanggup menerima kenyataan yang baru saja dirinya dengar. Bahkan otaknya yang mulai tidak bekerja itu, menganggap bahwa Zen dan Alfred masihlah sedang bermain peran hingga saat ini.
Apalagi, ekspresi yang ditunjukan oleh Vero kepada seluruh pihak yang berada di ruangan tersebut, memperlihatkan bahwa seakan arwah yang mendiami tubuhnya sudah hilang dari tubuhnya dan sedang berkelana entah kemana, karena saking terkejutnya dirinya mendengar kenyataan tentang status suaminya.
“Sepertinya dirinya membutuhkan sedikit waktu, Alfred” ucap Zen, yang melihat ekspresi dari Vero yang mulai berubah-ubah dengan kenyataan yang baru saja terima itu.
“Saya paham, Tuan. Apalagi, sepertinya anda sangat senang dengan perilaku Istri dari anda.” ucap Alfred yang merasa bahagia, bahwa Tuannya sudah menemukan sosok yang tepat sebagai pendampingnya.
__ADS_1
Sebagai bawahan setianya, Alfred tidak peduli tuannya itu akan menikah dengan siapa. Bahkan dirinya tidak mempermasalahkan bahwa orang yang dirinya nikahi itu mempunyai masa lalu yang buruk dan kelam pada kehidupannya.
Yang dirinya inginkan, tentu saja Tuannya akan merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya dari sesosok pihak yang sangat tulus mencintai dirinya. Apalagi Alfred tentu sangat mengenal sosok Tuannya itu, karena bisa dikatakan dirinya sudah melayani Zen sudah sangat amat lama.
Tentu keinginan tuannya yang selama ini dirinya impikan sudah sejak lama, juga sangat diketahui oleh Alfred. Jadi, disaat Tuannya itu berhasil menggapai kebahagiaannya itu, dirinya merasa sangat amat bahagia, karena dirinya bisa menyaksikannya sendiri bahwa semua itu akhirnya bisa dirinya capai.
“Ya... dirinya terlihat menggemaskan saat ini” balas Zen, yang cukup senang melihat ekspresi Vero yang masih terlihat kebingungan dengan perbincangan yang sedang mereka lakukan saat ini.
Alfred juga terlihat menyetujui hubungan Tuannya dan tentu saja sangat senang bahwa sosok manusia seperti Vero yang saat ini menjadi pendamping dari dirinya. Karena dirinya bisa dikatakan sangat berbeda dengan seluruh Istri dari Zen yang pernah dirinya nikahi dahulu.
Karena seperti yang dirinya lihat, wanita itu bahkan sangat mencintai Tuannya tanpa memandang status yang digunakan oleh Tuannya untuk hidup di dunia ini. Apalagi, cinta mereka seakan mulai terbentuk dengan perlahan, dari yang awalnya bisa dikatakan jalan cinta mereka bisa dikatakan cukup berliku.
Cinta yang awalnya kepura-puraan diantara mereka, saat ini sangat jelas terlihat bahwa kepura-puraan itu sudah terhapus sepenuhnya dan saat ini seakan menunjukan wujud sebenarnya dari cintai yang mereka miliki satu sama lainnya.
Dengan pembuktiannya kepada hukum dunia yang sudah dirasakan oleh semua pihak yang bisa merasakannya, tentu saja hal itu menjadi bukti bahwa perjalanan cinta mereka yang awalnya berliku itu, akhirnya sudah masuk kesebuah jalan yang tepat untuk membina hubungan yang baru diantara mereka.
Jadi, Alfred tidak akan khawatir lagi bahwa wanita yang akan mendampingi Tuannya nanti, akan melakukan sesuatu yang sama, seperti seluruh Istri yang pernah dinikahinya dahulu dan membuat kekacauan atas status yang mereka miliki disaat menikahi sosok yang agung seperti Zen.
Karena dirinya mengetahui dengan pasti, bahwa sosok Vero yang merupakan Istri dari Tuannya saat ini, bukanlah sosok yang seperti itu. Maka dari itu, dirinya merasa sangat bahagia, bahwa hubungan mereka sudah berjalan dengan sangat lancar.
“Lalu, apakah kamu akan terus melamun, atau menjawab permintaan dari Alfred tadi, Vero?” ucap Zen yang saat ini mencoba menyadarkan Istrinya yang masih terlihat kebingungan dengan situasi yang terjadi.
Seperti sebuah mimpi, begitulah apa yang sedang dirasakan oleh Vero. Karena saat ini, dirinya melihat bahwa suaminya Zen merupakan sosok yang sangat berkuasa, dengan memiliki seorang pelayan pribadi yang merupakan sosok yang paling berpengaruh di dunia ini.
Maka dari itu, Vero masih belum bisa mempercayai sepenuhnya kejadian yang dirinya alami, dan menganggap semua yang dirinya alami saat ini merupakan sebuah dunia mimpi yang sangat indah dan saat ini sedang dirinya masuki.
Apalagi, kenyataan seperti itu sangatlah tidak mungkin bisa dirinya cerna dengan baik. Karena dirinya tahu, identitas asli dari suaminya, yang bisa dianggap oleh dirinya merupakan seorang yang sederhana dan tidak mempunyai apa-apa.
“Zen, cepat cubit aku agar aku bisa keluar dari mimpi ini”
__ADS_1