Ex-Harem Lord

Ex-Harem Lord
Mengejar


__ADS_3

Siapa yang tidak mengenal sosok Veronica Safira, yang merupakan salah satu pengusaha wanita yang sangat sukses di negara ini. Bukan hanya kesuksesan dirinya yang membuat dirinya menjadi sosok yang cukup dikenal, tetapi kecantikannya juga yang membuat dirinya semakin terkenal.


Namun rupa wajahnya yang sangat menawan merupakan sebuah kekurangan menurut Vero. Karena memang dengan rupa dan kekayaan yang dimilikinya, tentu saja banyak yang mencoba mendekati dirinya. Jadi, jangan heran jika banyak pria yang mencoba untuk berlomba-lomba menjadikan dirinya sebagai seorang calon Istri ideal bagi mereka.


Termasuk seorang pria yang saat ini sudah berada dihadapan Vero yang baru saja keluar dari dalam lift. Dengan rasa percaya diri yang dimiliki olehnya, dirinya akan mencoba keberuntungannya kembali untuk mencoba merayu wanita yang sangat sempurna menurutnya itu.


Apalagi dirinya akan menggunakan kesempatan dari kabar keterpurukan perusahaan Vero, untuk mencoba mendekatinya. Dengan menawarkan bantuan berkedok siasat untuk mendekati dirinya dan mencoba merebut hatinya, membuat pria itu saat ini langsung berinisiatif menemuinya.


“Hahh... mengapa dirinya sangat menyukai memeluk lenganku, disaat dirinya sedang bertemu dengan beberapa orang?” gumam Zen yang merasa sedikit kesal dengan perbuatan dari Vero kepadanya saat ini.


Tentu Zen tidak mempermasalahkan Vero yang memeluknya dan dadanya menempel dengan erat pada bagian lengannya itu. Tetapi wanita itu lupa, bahwa saat ini merupakan waktu makan siang dan dipastikan waktu makan siang dari Zen mulai tertunda karena tindakan dari dirinya yang memeluk lengannya itu.


“Iya, ada yang bisa saya bantu, Tuan Indra?” ucap Vero yang menyapa balik seorang pria, yang saat ini sedang menyapanya setelah dirinya keluar dari dalam lift.


Namun bukannya menjawab, pria yang saat ini dipanggil Indra oleh Vero itu, entah mengapa cukup terkejut dengan perilaku dari wanita yang dikejarnya. Karena memang saat ini dirinya tidak menyangka bahwa Vero sedang memeluk lengan dari seorang pria.


Apalagi ketidaksukaan yang sering dirinya tunjukan kepada sosok pria, sepertinya sudah terhapus kan saat dirinya sedang memeluk lengan dari pria yang memiliki ekspresi wajah yang sangat datar itu. Maka dari itu, entah mengapa pria bernama Indra itu mulai tersenyum kecut saat melihat adegan tersebut.


Tentu dengan tatapan penuh selidik, saat ini pria itu mulai memperhatikan Zen dari atas hingga kebawah. Tetapi setelah dirinya melakukan itu, dirinya langsung merasa tidak percaya diri dengan penampilannya, karena bisa dilihat dirinya dengan Zen sangat berbeda jauh jika disandingkan dalam hal penampilan.


Walaupun dirinya bisa dikatakan cukup tampan, tetapi dirinya tidak bisa menyaingi ketampanan dari Zen. Apalagi pakaian bodyguard yang dikenakan olehnya, seakan tidak memperlihatkan dirinya sebagai seorang Bodyguard yang merupakan pekerjaan yang sedang dirinya lakukan saat ini.


“Ah... aku hanya khawatir dengan keadaan perusahaan milikmu saja saat ini, Vero. Makanya aku langsung datang melihat keadaanmu” balasnya, yang memutuskan untuk tidak ingin kalah, dan mencoba menggunakan sebagai siasat untuk merebut Vero dari pria yang sedang dipeluknya saat ini.


Tentu satu hal yang dirinya yakini bisa membuatnya dekat dengan Vero, adalah dirinya merupakan pemilik dari perusahaan yang bergerak di bidang yang sama dengan Vero. Jadi, dirinya mencoba mendekatinya dengan cara memberikan sebuah bantuan kepada wanita tersebut.


“Terima kasih atas rasa perhatian anda, Tuan Indra. Tetapi anda tidak perlu terlalu khawatir, karena perusahaan saya bisa menangani permasalahan tersebut” balas Vero kemudian.


Mendengar jawaban penolakan dari Vero, tentu membuat pria itu kembali tersenyum kecut. Tentu dirinya mulai merasa kesal bahwa niat baiknya akan ditolak oleh wanita yang sangat dicintainya itu. Apalagi penolakan dari Vero tadi merupakan kali kedua dirinya diperlakukan seperti itu oleh wanita tersebut.

__ADS_1


Tentu dirinya tidak langsung menyerah. Dengan memasang muka tebal miliknya, dirinya mulai menghiraukan beberapa pihak yang sedang memperhatikan dirinya saat ini, dan ingin terus berusaha terlihat seperti dirinya merupakan sosok yang tepat untuk membantu keadaan Vero yang sedang terpuruk.


“Aku tahu Vero. Tetapi ingatlah, bahwa perusahaan ku akan selalu bersedia membantumu” balas pria itu kemudian.


“Baiklah, Tuan Indra. Kalau begitu, saya mohon permisi karena saya mau makan siang saat ini” balas Vero yang sudah mulai muak untuk menanggapi pria tersebut, dengan langsung menyeret Zen, untuk mengikuti langkahnya beranjak dari sana.


Zen yang semula menunjukan ekspresi kesal, akhirnya mulai tersenyum setelah akhirnya perdebatan itu sudah berakhir. Apalagi bisa dipastikan dirinya bisa menikmati makan siangnya yang tertunda itu. Bahkan dirinya tidak menghiraukan lagi aura negatif dengan sifat kecemburuan, yang saat ini sedang diarahkan kepadanya.


"Ah... maafkan kalau aku mengganggu waktumu, Vero" ucap pria itu kembali, namun sayangnya keberadaanya sudah tidak dihiraukan oleh Vero yang sudah menjauh dari keberadaan pria tersebut.


Tentu sepeninggalan Vero beserta rombongannya, membuat pria bernama Indra itu semakin kesal dibuatnya. Apalagi saat ini dirinya seakan tidak dianggap oleh Vero dan hanya dianggap angin lalu yang sedang menghalangi perjalanannya.


“Ya... kamu tunggu saja Vero. Akan aku pastikan kamu bertekuk lutut di hadapanku” balas Pria itu yang akhirnya memutuskan untuk beranjak dari sana.


Disisi lain, Vero mulai bernafas lega setelah dirinya berhasil menghindar dari pria yang mendatangi perusahannya itu. Tentu dirinya tahu maksud sebenarnya dari pria yang datang dengan niat memberikan bantuan kepadanya. Maka dari itu, dirinya memutuskan untuk sesegera mungkin menghindar dari dirinya.


Apalagi kedok yang dirinya gunakan sudah sering digunakan oleh beberapa pihak yang juga melakukan hal yang sama, untuk sekedar mencari perhatian kepada dirinya agar mereka bisa semakin dekat dan mungkin bisa merebut hatinya.


Mendengar perkataan Kelly, tentu Vero langsung tersadar bahwa dirinya masih memeluk lengan dari Zen saat ini. Tentu dirinya mulai memperhatikan keadaan sekitar tempatnya berada baru mulai melepaskan pelukannya, setelah memastikan bahwa pria yang mengejarnya tadi sudah hilang dari pandangannya.


“Hahh... aku terpaksa melakukannya, Kel. Karena aku tahu apa yang dirinya inginkan dariku” ucap Vero kemudian, yang mulai memimpin kedua orang yang bersamanya itu untuk menuju area kantin dari perusahaannya.


Mereka bertiga akhirnya mulai memasuki area kantin dari perusahaan milik Vero. Dengan masuk kedalam sebuah ruangan khusus untuk dirinya, Vero saat ini mulai duduk bersama Kelly dan Zen, lalu sedang menunggu pelayan dari kantin perusahaannya untuk datang melayani mereka.


Walaupun kantin perusahaan dari Vero tidak semewah kantin dari Darkness Company, tetapi apa yang disediakan ditempat ini bisa dijamin kebersihan dan rasanya. Jadi, Vero cukup puas untuk makan pada kantin perusahaannya sendiri saat ini.


"Seperti biasa, oke" Tentu saja bukan Vero yang memberikan perintah kepada pelayan yang sedang melayani mereka saat ini. Karena memang Zen sudah mengambil alih perannya tersebut.


Pelayan yang mendengar permintaan dari Zen, langsung mengangguk dan mulai menyiapkan semua yang akan dirinya pesan. Bahkan Vero dan Kelly hanya diam saja setelah Zen yang membuat pesanan, karena memang pria itu terlalu bersemangat jika disangkut pautkan dengan namanya makanan.

__ADS_1


Hingga akhirnya pelayan yang tadi menerima pesanan dari Zen, akhirnya kembali dengan membawakan banyak sekali makanan, dan mulai meletakkannya di atas meja tempat Zen, Kelly dan Vero berada.


Tentu jika Kelly dan Vero saja yang datang ketempat ini, makanan yang mereka pesan tidak akan sebanyak ini. Karena memang, pesanan Zen yang dirinya sebut pesanan seperti biasa itu, adalah istilah yang dirinya gunakan untuk memesan seluruh menu yang ada di kantin ini.


“Ini, makanlah. Kamu terlihat seperti tidak bertenaga hari ini” ucap Zen yang menyerahkan sedikit makanan yang disantapnya kepada Kelly.


Tindakannya itu, tentu membuat Vero dan Kelly cukup terkejut. Karena mereka berdua tahu bahwa Zen sangat jarang memberikannya makanannya kepada siapapun. Tetapi karena memang Vero juga sependapat dengan perkataan Zen itu, jadi dirinya hanya menghiraukannya saja.


“Iya Kel, kamu harus makan yang banyak. Agar dirimu mempunyai tenaga untuk bekerja sambil menjaga Ibumu” kata Vero, yang menimpali tindakan Zen tadi.


“Baiklah, Ver. Dan terima kasih Zen” balas Kelly kemudian.


Zen hanya tersenyum saja menjawab perkataan dari Kelly. Karena memang aura yang dikeluarkan oleh wanita itu membuat Zen sangat senang saat ini. Memang Zen tidak melakukan hal itu dengan maksud untuk menawarkan makanan pada Kelly saja.


Melainkan dirinya mencoba memanen beberapa aura kesenangan dari Kelly atas perilakunya. Karena memang saat Vero memeluk lengannya tadi, Zen bisa merasakan aura kesedihan dari wanita yang saat ini sedang menyantap makanan pemberiannya itu.


“Hmm... Dan ini, makanlah juga sayuran agar tubuhmu tetap sehat” ucap Zen kemudian yang mulai menunjukan perhatiannya kepada wanita tersebut.


Vero mulai mengerutkan keningnya melihat interaksi dari suami bayarannya itu. Namun dirinya langsung mencoba berpaling dari tindakannya, karena menurutnya tindakan Zen termasuk hal yang masih wajar, karena memang sahabatnya itu sedang mengalami hari-hari yang sangat berat.


Mereka bertiga akhirnya mulai makan dengan perlahan, yang dimana saat ini Zen memang memakan makanannya dengan sangat lahap. Bahkan Vero sudah terbiasa dengan sikap suami bayarannya itu, sehingga dirinya mulai tidak mempermasalahkan lagi dirinya menyantap makanannya seperti itu.


“Ah... Iya, Kel. Pastikan besok kita sudah mempunyai sutradara yang akan menggarap projek kita. Agar aku bisa memperkenalkan dirinya saat aku akan melakukan konferensi pers besok” ucap Vero yang sudah menyelesaikan makan siangnya.


Memang Vero dan Kelly mulai saling berbincang mengenai permasalahan perusahaan, sambil menunggu Zen yang belum selesai menyantap makanannya. Jadi sambil menunggu dirinya, mereka memutuskan untuk mendiskusikan tentang rencana konferensi pers yang akan terlaksana keesokan harinya.


Namun sedang asik berbincang, mereka mulai terganggu dengan suara ponsel yang mulai berbunyi. Tentu suara ponsel tersebut bukan berasal dari kedua wanita yang sedang asik berdiskusi tersebut, karena memang suara tersebut berasal dari Zen yang masih menyantap makanannya dengan lahap.


"Cih... mengganggu saja" ucap Zen, yang mulai merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel pintarnya.

__ADS_1


Kelly dan Vero tidak melanjutkan lagi perbincangan mereka, dan saat ini entah mengapa mereka mulai memperhatikan apa yang sedang dilakukan Zen. Apalagi pria itu dengan ekspresi kesalnya, mulai mengangkat panggilan yang dirinya terima itu.


“Zen, bisakah kamu membantuku”


__ADS_2