
Zen saat ini sudah berada disebuah toko perhiasan yang berada disebuah pusat perbelanjaan. Saat ini dirinya bersama Bari sedang menatap seorang wanita yang mencoba memakai sebuah kalung untuk melihat apakah kalung itu terlihat bagus atau tidak jika dipakainya.
“Bagaimana Tuan Zen?” tanya wanita itu kemudian, sambil menunjukan kalung yang sudah terdapat pada leher putih mulusnya.
“Hm... bagaimana menurutmu nona?” tanya Zen kemudian kepada staf yang memberikan kalung tersebut kepadanya untuk dimintai pendapatnya.
“Menurut saya kalung itu sangat cocok untuk teman wanita anda tuan” kata staf tersebut yang memberikan pendapatnya terhadap kalung yang sudah dikenakan oleh seorang wanita yang berdiri di samping Zen.
“Hm... baiklah, aku akan membeli kalung itu” balas Zen yang sudah mengeluarkan kartu debitnya.
“Apakah anda tidak ingin membelikan diriku kalung juga Tuan Zen, sebagai bayaran untukku setelah menerima panggilan anda?” tanya wanita yang baru saja melepaskan kalung yang dicobanya itu.
“Kamu menginginkan sebuah kalung Marci... Kalau begitu pilihlah. Aku yang akan membayarnya” balas Zen kepada wanita tersebut.
Mendengar itu, malaikat yang saat ini sudah merubah wujudnya menjadi seorang manusia yang sedang membantu Zen tadi, mulai tersenyum dan mulai memilih sebuah kalung yang dirinya inginkan. Kapan lagi bukan, dibelikan sebuah benda oleh seorang yang terkenal sangat malas memberikan sebuah hadiah kepada siapapun.
Wanita yang bersama Zen itu memang seorang malaikat yang sengaja Zen hubungi untuk membantunya memilih sebuah kalung, sebagai hadiah untuk Angel atas saran dari Kelani, istri dari Uriel. Jadi saat ini Marci membantu Zen untuk mencoba berbagai kalung yang menurutnya cocok untuk diberikan kepada Angel sebagai hadiah.
“Bolehkan saya juga membelikan sebuah kalung untuk tunangan saya Tuan Zen?” tanya Bari.
“Tentu saja boleh. Lagipula dirinya adalah salah satu bawahanku. Dan pilihlah satu untuk istri dari Tenma, karena aku lupa memberikan mereka hadiah pernikahan” kata Zen kepada Bari.
Tentu Bari langsung memilih sebuah kalung yang menurutnya bagus untuk diberikan kepada tunangannya. Sedangkan Zen saat ini tidak menghiraukan bawahannya itu dan masih fokus untuk melihat kalung yang dipilihnya tadi sedang dibungkus oleh staf toko perhiasan yang sedang dia datangi itu.
“Hm... berapa banyak aura kebahagiaan yang aku dapatkan ya...” gumam Zen yang sudah membayangkan berapa banyak aura yang akan dirinya terima.
Akhirnya Bari dan Marci sudah memilih kalung yang mereka inginkan. Tentu saja Zen membayar belanjaan mereka semua dan saat ini mereka mulai beranjak dari sana dan berencana untuk keluar dari toko perhiasan tersebut.
__ADS_1
“Ini Bari. Taruhlah didalam koper milik Angel, dan buatlah seolah aku menyelipkan kalung ini didalam kopernya” perintah Zen dan membuat Bari langsung mengambil kalung yang sudah berada disebuah kotak dari Zen dan mulai berubah menjadi kabut hitam.
“Terima kasih Tuan Zen atas hadiahnya. Pasti semua temanku akan iri kepadaku karena aku satu-satunya malaikat yang pertama diberikan hadiah oleh seorang Tuan Sloth” kata Marci yang terlihat sangat senang dibelikan sebuah kalung oleh Zen.
“Apakah adikku tidak pernah memberikan kalian hadiah?” tanya Zen yang sangat bingung mengapa bawahan adiknya itu sangat senang diberikan hadiah olehnya.
“Tentu saja mereka sering memberikan hadiah kepada kami Tuan. Tetapi hadiah dari anda sangat spesial, karena kami jarang menerimanya dari anda” balas Marci menjawab pertanyaan dari Zen.
Zen hanya mengangguk saja mendengar jawaban dari Angel, hingga sebuah kabut hitam mulai muncul dan Bari akhirnya keluar dari dalamnya sambil menunjukan senyum puas setelah menyelesaikan tugasnya.
“Saya sudah menyelesaikan tugas saya tuan” kata Bari dan mendapatkan anggukan apresiasi dari Zen.
“Hmmm... baiklah. Tinggal tunggu saja dirinya menemukan hadiah yang kuberikan kalau begitu” balas Zen yang sudah tidak sabar menerima aura kebahagiaan dari Angel setelah apa yang dia lakukan itu.
“Ah.. sepertinya aku akan bertugas tuan” kata Bari yang memperhatikan jam tangannya, karena memang waktu penjemputan jiwa yang akan dirinya terima akan segera datang.
Bari langsung mengeluarkan sebuah kertas usang dari dalam kantong jas bagian dalamnya. Setelah mengeluarkannya, beberapa nama dan informasi mulai muncul didalamnya dan membuat Bari cukup terkejut dengan apa yang dilihatnya.
“Jiwa yang harus aku bimbing berlokasi di gedung apartemen anda tuan” kata Bari.
Memang seorang malaikat maut hanya mendapatkan informasi tentang jam kematian dari seseorang. Setelah waktu yang ditentukan itu sudah dekat, barulah malaikat maut akan mendapatkan semua informasi dari jiwa yang harus mereka bimbing menuju akhirat.
“Hm... aku juga merasakan akhir dari roda kehidupan dari beberapa orang sekaligus ditempat itu Tuan. Bahkan aku merasakan sendiri bahwa anda yang menghentikan roda hidup mereka” kata Marci yang saat ini matanya sudah berubah menjadi bercahaya.
.
.
__ADS_1
Ditempat lain, setelah salah satu anak buahnya terkena sebuah timah panas yang mengenai tubuhnya, kedua anak buah dari Santi yang lainnya langsung menodongkan senjata yang mereka bawa kearah pria yang menjadi dalang dalam menembak salah satu rekan mereka.
Namun naas. Saat mereka mulai menodong, beberapa suara tembakan kembali terdengar dan membuat kedua anak buah Santi yang tersisa juga sudah tergeletak dilantai karena mereka sudah terkena tembakan.
“Apa yang kamu lakukan senior!” teriak Santi kembali setelah menyaksikan bawahannya yang tersisa sudah terkapar dilantai dan bersimbah darah.
“Hahh... seharusnya kamu tidak usah ikut campur permasalahan ini Santi” balas pria yang dipanggil senior itu oleh Santi yang merupakan Tio.
Tio yang bersama anak buahnya memang masih setia menunggu informasi dari kelompok yang ingin menyerang Zen tadi. Namun selang beberapa lama kemudian, mereka mendengar suara sirine dan membuat mereka memutuskan untuk memeriksa keadaan tempat tersebut.
Namun karena lift yang mereka gunakan tadi sudah tidak berfungsi dan orang yang bertanggung jawab atas masalah kelistrikan pada gedung ini tidak bisa dihubungi, akhirnya mereka memutuskan untuk melewati tangga darurat saja.
Tetapi saat memasuki tangga darurat yang mereka masuki, mereka dikejutkan dengan suara tembakan yang berasal dari atas, dan membuat mereka memutuskan untuk memeriksa kejadian tersebut dan menemukan bahwa kelompok yang bekerja sama dengan mereka sudah terpojok didalam sebuah apartemen.
“A-Apa maksudmu senior” tanya Santi yang tidak menyangka akan terjadi seperti ini. Karena sebuah moncong pistol sudah diarahkan tepat kepadanya.
Santi saat ini tidak tahu harus berbuat apa. Anak buahnya saat ini sedang sekarat dan dirinya sedang ditodongkan sebuah pistol oleh seorang atasan bahkan senior pembimbingnya yang seakan ingin menghabisinya ditempat ini.
“Hahh... padahal aku sangat menyukai hasil kerjamu Santi, tetapi maaf bahwa kamu harus berakhir ditempat ini” kata Tio yang siap menarik pelatuk pistolnya.
Suara tembakan mulai terdengar, namun anehnya suara itu bukan keluar dari pistol yang sedang digunakan oleh Tio. Suara tembakan itu berasal dari dalam apartemen dimana beberapa orang yang dikejar Santi tadi bersembunyi.
“Ahhhhhh.... tanganku” teriak seseorang dari dalamnya setelah suara tembakan itu berakhir.
Tentu saja suara teriakan, tembakan dan suara benturan membuat Tio yang akan menembak Santi mulai menghentikan tindakannya dan menatap bingung pintu yang saat ini sedang tertutup dan bisa terdengar berbagai suara dari baliknya.
Namun belumlah Tio bertindak, suara-suara tersebut mulai menghilang dan digantikan dengan suasana yang mulai sunyi dari dalam unit apartemen milik Zen tersebut.
__ADS_1
“Cepat periksa apa yang sedang terjadi didalam”