Ex-Harem Lord

Ex-Harem Lord
Musuh


__ADS_3

Tidak ada kejadian spesial setelah kedatangan Zen kedalam kediaman Vero hari itu, hingga hari sudah berganti dan kedua pasangan baru itu sudah berada dimeja makan dan bersiap menyantap sarapan mereka.


Dengan berbagai hidangan yang sudah tertata dengan rapi di atas meja makan tempat mereka berdua berada, saat ini Zen dengan lahapnya mulai menyantap berbagai makanan yang sudah disediakan untuknya, yang menjadi sarapannya pagi ini.


“Hahh... bisakah anda memakan makanan anda Nona Vero” ucap Leni saat melihat sekali lagi Nona Mudanya sangat sulit untuk disuruh sarapan.


“Aku sudah kenyang Bibi” balas Vero yang memang hanya memakan sepotong roti yang diolesi sebuah selai strawberry saja untuk sarapannya tadi.


Masalahnya, bukannya Leni melarang Vero untuk hanya sarapan dengan sebuah roti, tetapi wanita itu kadang-kadang sering melupakan untuk makan siang saat dirinya sudah berada dikantornya, karena dirinya sudah disibukan dengan berbagai hal yang harus dirinya kerjakan.


Jadi sering kali, Vero terlihat sangat kelelahan dan kelaparan saat dirinya pulang dari kantornya, karena dirinya lupa untuk makan siang, padahal saat sarapan saja dirinya hanya makan sepotong roti saja.


Bahkan sahabatnya Kelly juga bingung untuk mengingatkan temannya itu, karena jika dirinya sudah bekerja, maka apa yang Vero lakukan seakan tidak bisa diganggu dan dirinya akan sangat marah jika ada yang melakukan hal tersebut.


“Tolong ingatkan dirinya untuk makan siang Tuan Zen” ucap Leni yang saat ini menatap Zen, yang sedang menyantap makannya dengan lahap.


“Tentu saja Bibi, saat dirinya tidak mau makan, akan aku menyuapkan secara langsung makanan pada mulutnya” ucap Zen kepada wanita yang sudah membuatkan berbagai makanan untuknya itu.


Tentu sebagai seorang yang tahu berbalas budi, Zen akan mendengarkan perkataan dari wanita yang sudah menyiapkan banyak sekali makanan yang sangat enak untuknya itu. Jadi dirinya memutuskan untuk mendengarkan permintaannya tentang mengingatkan Vero untuk makan.


Apalagi, dirinya tidak boleh membuat orang yang memiliki sebuah kekacauan didalam dirinya, mengalami sesuatu yang akan menyebabkan nyawanya terancam. Jadi, Zen akan selalu menjaga keberadaan wanita yang harus dijaganya itu, agar dirinya tidak menghilangkan nyawanya dengan sengaja.


“Lalu, apakah kamu belum selesai?” ucap Vero kemudian dengan nada kesalnya, karena saat ini dirinya mulai kesal menunggu Zen yang belum menyelesaikan sarapannya sedari tadi. Apalagi Vero juga masih merasa emosi dengan tindakan Zen tadi pagi.


Bukan tanpa alasan dirinya merasakan emosi semenjak mereka berdua turun dari kamar mereka, karena memang Zen tidak sengaja melihat Vero mengenakan pakaian tidur yang menurut Vero sangat memalukan bagi dirinya, saat dilihat oleh seseorang.


Zen yang lupa untuk mengetuk pintu kamarnya saat hendak keluar dari dalamnya, tidak sengaja melihat Vero yang baru bangun tidur dan mengenakan baju tidur dengan bermotif mikey mouse memenuhi seluruh bagian baju tidurnya.


Tentu Vero merasa malu bahwa seseorang yang baru dikenalinya itu, saat ini mengetahui kebiasaannya. Namun anehnya, Zen bingung dengan perilaku wanita yang terlihat sangat malu itu, karena dirinya malah melampiaskan perasaan malunya dengan sebuah kekesalan kepada dirinya.


“Kita tidak boleh menyia-nyiakan makanan yang sudah dipersiapkan untuk kita, Vero” ucap Zen kemudian, saat mendengar Vero saat ini sedang menegurnya dan menyuruhnya untuk dengan cepat menghabiskan makanannya.


“Betul itu Tuan Zen. Karena memang percuma saja Bibi memasak makanan setiap hari, tetapi tidak ada yang memakannya” balas Leni yang menyetujui perkataan Zen, sambil menatap Vero saat ini.

__ADS_1


“Cih... apakah kalian berdua saat ini sudah membuat sebuah kubu bersama untuk membuatku emosi?” balas Vero kemudian, yang merasa kesal dengan sikap kedua orang tersebut.


“Tentu saja tidak Nona Muda." Kata Leni yang langsung menatap Zen kembali. "Lalu, apakah anda ingin menambah nasi goreng anda Tuan Zen?” tanya Leni yang lebih memilih mengelak perkataan Vero dan lebih memilih melayani suami Nona mudanya saat ini.


Tentu karena ditawari makanan, Zen dengan senang hati mengiyakan perkataan dari wanita yang terlihat senang, karena saat ini ada orang yang akan menyantap makanan yang sudah susah payah dirinya buat. Hingga akhirnya Leni mulai memanggil seorang pelayan lagi untuk membawakan makanan untuk Zen.


Memang selain Leni, ada beberapa pelayan lagi dikediaman ini. Vero sengaja melakukan itu, agar orang yang sudah dirinya hormati itu, tidak terlalu repot dalam mengurus kediamannya yang cukup besar ini sendirian. Jadi saat ini ada beberapa orang pelayan lagi, yang bekerja didalam kediaman ini membantu Leni.


“Terima kasih Sari, kamu bisa kembali” ucap Leni kepada pelayan yang sudah mengambilkan makanan yang masih ada di dapur, untuk dihidangkan dihadapan Zen saat ini.


Pelayan yang dipanggil Sari itu hanya mengangguk saja dan tidak lupa membungkuk hormat kepada Vero dan Zen sebelum dirinya kembali menuju tempatnya. Namun sebelum dirinya melakukan itu, tindakannya dihentikan oleh Zen.


“Ah... sepertinya aku tidak kuat memakan ini semua, jadi makanlah sebagian dari makananku oke” ucap Zen yang sudah menyisihkan nasi goreng yang diberikan kepadanya, untuk diberikan kepada pelayan tersebut.


“T-Tapi Tuan, sa-”


“Sudahlah, kamu belum makan bukan? Jadi jangan sungkan” ucap Zen yang memaksa wanita bernama Sari itu, untuk memakan makanan yang sudah dirinya berikan kepadanya.


Tentu wanita bernama Sari itu ingin menolak memakan makanan yang diberikan kepadanya. Namun karena Leni juga sudah menyuruhnya untuk memakan nasi goreng pemberian Zen itu, mau tidak mau dirinya melakukannya.


“Bagaimana, enak?” tanya Zen kepada pelayan itu, yang saat ini sudah duduk disebelahnya.


“E-Enak Tuan” balasnya, yang entah mengapa saat ini merasa sangat merisaukan sesuatu, setelah menelan makanan yang dirinya santap itu.


Hingga akhirnya kegiatan sarapan itu sudah berakhir, yang dimana Zen saat ini sudah naik kedalam sebuah mobil bersama Vero, untuk menuju ke perusahaan milik Vero. Setelah berpamitan dengan Leni, akhirnya kedua orang itu mulai berangkat menggunakan mobil yang dikemudikan oleh seorang supir.


“Apa yang dirinya taruh kedalam makananmu Zen?” tanya Vero kepada Zen, setelah mobil yang mereka kendarai sudah memasuki jalanan umum yang mulai padat dengan kendaraan yang melewatinya.


“Apa maksudmu?” tanya Zen kemudian yang masing bingung dengan perkataan dari Vero.


“Aku memang belum lama mengenalmu Zen. Tetapi orang seperti dirimu, memberikan seseorang makanan yang kamu makan, merupakan hal yang cukup aneh bagiku Zen” ucap Vero kemudian yang mulai menatap Zen yang duduk disampingnya.


Zen cukup kagum bahwa wanita yang menjadi istri bayarannya itu mengetahui apa yang dirinya lakukan. Karena memang, Vero pernah sekali meminta makanan dari Zen saat mereka makan bersama sebelumnya, dengan niat untuk mencicipinya.

__ADS_1


Namun tindakannya itu tidak diperbolehkan oleh Zen, karena memang dirinya tidak mau berbagi makanan miliknya kepada orang asing, apalagi apa yang dirinya makan saat itu adalah makanan yang bisa dibilang sangat enak.


Jadi, cukup aneh bukan melihat pria yang sepertinya sangat tamak dengan namanya makanan, tiba-tiba saja dengan sukarela memberikan makanannya kepada seseorang. Apalagi saat Bibi Leni menawarkan makanan tadi, dirinya terlihat sangat menginginkan makanan yang ditawarkan kepadanya itu.


“Berapa orang?” tanya Vero kemudian tanpa basa-basi.


“Tiga orang” balas Zen kemudian.


“Lalu, apa yang akan kamu lakukan?” tanya Vero kembali.


“Biarkan saja dulu, apalagi pergerakan mereka belum membahayakan kita saat ini. Biarkan mereka melakukan apa yang mereka mau, hingga kita mengetahui siapa yang menyuruh mereka untuk melakukan hal tersebut” balas Zen santai.


Sebenarnya Vero sangat tidak menyetujui perkataan Zen tersebut, karena menurutnya sebuah masalah harus diselesaikan dengan cepat. Namun ketika melihat bahwa Zen yang akan menyelesaikan permasalahan tersebut, dirinya hanya mengangguk saja saat ini.


Entah mengapa, Vero merasa sangat mempercayai suami bayarannya itu dan semua keputusan yang diambil olehnya. Tentu dirinya tidak tahu mengapa dirinya seperti itu, tetapi dirinya beranggapan mungkin karena pria itu menyelamatkan dirinya berkali-kali. Jadi Vero sangat mempercayakan permasalahan tentang keamanan dirinya kepada Zen.


“Baiklah kalau begitu. Yang terpenting kamu harus memastikan keberadaan diriku dan Bibi Leni akan aman” balas Vero.


Zen bisa merasakan aura para pelayan yang dianggapnya sebagai musuh dalam selimut itu. Aura mereka bukanlah aura yang akan mengancam sebuah nyawa, jadi Zen memutuskan untuk membiarkannya saja hingga dirinya menemukan siapa dalang yang memperkerjakan mereka itu.


"Baiklah" balas Zen kemudian sambil mengangguk, menjawab perkataan dari Vero itu.


Tidak ada pembicaraan lanjutan dari kedua orang tersebut, hingga akhirnya mereka berdua sudah tiba pada sebuah gedung perusahaan yang cukup besar milik Vero. Kelly juga sudah terlihat didepan perusahaan milik sahabatnya itu, dan saat ini sedang menunggu kedatangannya.


Hingga akhirnya Kelly sudah membukakan pintu mobil dari Vero setelah mobilnya itu berhenti didepan dirinya, dan mulai menuntun sahabatnya itu menuju kesebuah ruangan, diikuti oleh Zen yang saat ini mulai mengikuti langkah kedua wanita tersebut.


“Sepertinya pemilik saham yang lain terlihat sangat marah saat ini, Ver” ucap Kelly kepada Vero, disela-sela perjalanan mereka menuju keruang pertemuan dari perusahaan miliknya saat ini.


“Walaupun mereka marah, tetapi tetap saja semua kendali perusahaan milikku ini, saat ini berada di tanganku” ucap Vero yang menanggapi dengan santai perkataan yang dilontarkan oleh sahabatnya itu.


Hingga akhirnya mereka bertiga saat ini sudah berada disebuah ruangan yang cukup besar, dan terlihat beberapa orang sudah berada didalamnya, termasuk Ayah tiri dari Vero yang dengan seenaknya duduk pada tempat yang dikhususkan untuk pemimpin perusahaan ini untuk duduk.


Tentu Vero hanya menanggapi perilaku pria itu dengan santai. Apalagi jika pria itu berbuat sesuatu yang nekat, ada dua orang yang sangat dirinya percayai untuk melindunginya dan saat ini datang bersamanya ketempat ini. Dan juga, dirinya membiarkan saja pria itu menikmati waktunya ditempat ini, sebelum dirinya tidak akan bisa melakukannya lagi.

__ADS_1


“Hahh... ternyata ada orang yang bosan hidup berada disini” Namun kesunyian yang muncul karena kedatangan mereka, saat ini sudah dipecahkan oleh Zen, yang memulai mengeluarkan aura intimidasi kepada pria yang cukup terkejut melihat keberadaannya ditempat ini.


“Maaf, tetapi siapa yang membawa sampah ketempat ini”


__ADS_2