
Dua orang wanita saat ini masih saling menguatkan satu sama lainnya, yang dimana salah satu dari mereka mencoba dengan sabar untuk menanti hasil operasi, yang sedang dijalani oleh orang yang paling dirinya cintai di dunia ini.
“Hahh... dimana si brengsek itu? mengapa dirinya sangat lama?” ucap Vero yang mulai kehausan saat ini, setelah titipan belanjaannya saat ini tidak kunjung tiba.
Memang Zen sudah beranjak dari tempat mereka berada cukup lama. Tetapi setelah Vero berkata seperti itu, sosok Zen akhirnya mulai muncul dan sedang menuju kearah mereka, yang dimana saat ini dirinya sudah membawa beberapa kantong plastik yang berisi berbagai makanan ringan dan minuman dingin.
“Maaf lama, aku tidak sengaja melihat seekor anjing yang terlantar dan kelaparan tadi” ucap Zen beralasan.
Tentu mendengar perkataannya, kedua wanita yang saat ini duduk ditempatnya mulai menatap Zen dengan tatapan aneh. Tentu mereka mengira Zen sedang membuat alasan yang tidak masuk akal, walaupun sebenarnya hal itulah yang dilakukan oleh Zen tadi dan membuatnya lama kembali ketempat ini.
“Kalung yang dikenakan oleh wanita itu berbau sangat aneh Tuan” ucap sebuah suara yang terdengar oleh Zen saat ini.
Ya, suara tersebut berasal dari Fenrir yang memutuskan untuk menjadikan Zen sebagai Tuannya. Tentu Zen sangat senang hati menerima serigala tersebut menjadi anak buahnya, apalagi dirinya sudah memastikan bahwa serigala itu akan selalu setia untuknya.
“Aku tahu.” Balas Zen kemudian.
Fenir memutuskan untuk menjadikan Zen sebagai Tuannya, karena memang Zen menurutnya sangat murah hati dari pada Ayah angkatnya. Untuk sebuah informasi yang menurutnya tidak seberapa dan dirinya berikan kepada Zen tadi, dirinya mendapatkan aura kegelapan yang sangat banyak sebagai hadiahnya.
Maka dari itu, dirinya langsung meminta Zen untuk mengangkatnya menjadi anak buahnya. Karena dirinya tahu bahwa Zen bisa memenuhi seluruh kebutuhannya, bahkan bisa memberikan kebutuhannya tersebut secara melimpah kepadanya, jika dirinya memenuhi perintahnya dengan baik.
“Sudahlah, mana minuman dingin yang sudah aku pesan?” ucap Vero yang meminta kantong plastik yang berisi banyak cemilan yang sedang dipegang oleh Zen.
“Ah... aku sampai lupa” Balas Zen yang langsung memberikan kantong plastik belanjaannya kepada Vero, agar wanita itu bisa mengambil apa yang dirinya inginkan di sana.
Zen juga sudah duduk ditempatnya dan mulai menunggu proses operasi dari Ibu kandung Kelly berakhir, yang dimana dirinya saat ini mulai menikmati beberapa cemilan sambil menunggu bawahannya itu menyelesaikan urusannya diruang operasi saat ini.
Bahkan berbeda dengan dua wanita yang sedang bersamanya saat ini, ekspresi Zen bisa dikatakan yang paling santai diantara mereka. Apalagi saat ini cemilan yang dirinya beli cukup banyak itu, dirinya coba santap sendiri karena kedua wanita yang berada bersamanya seakan tidak berselera memakannya.
“Terima Kasih Zen, nanti akan aku ganti uangmu” ucap Kelly kemudian, yang menunjukan minuman dingin yang diminumnya.
“Tidak perlu, Kelly. Lagipula Istriku sangat kaya, jadi aku bisa meminta uang kepada dirinya saja nanti, untuk menggantikan uangku” balas Zen kemudian.
__ADS_1
“Oh... akhirnya kamu mengakui bahwa diriku kaya saat ini Zen?” tanya Vero kemudian yang menyahuti perkataan dari Zen itu.
"Tentu saja. Kalau begitu cepat ganti uangku" balas Zen, sambil menjulurkan tangannya untuk meminta uang kepada Vero.
Dan begitulah bagaimana Kelly sangat bersyukur dengan keberadaan dua orang tersebut, yang saat ini cukup menghiburnya dengan perdebatan mereka yang sangat receh menurutnya itu. Bahkan Zen saat ini kembali mencemooh istrinya itu, karena wanita itu tidak bisa mengganti uangnya, dikarenakan dirinya tidak memegang uang tunai saat ini.
Perdebatan itu terus berlanjut, hingga akhirnya selang beberapa lama kemudian tanda lampu operasi dari ruangan dimana Ibu dari Kelly berada mulai mati. Melihat itu, tentu Zen dan Vero mulai menyudahi perdebatan mereka dan mulai menantikan hasil dari operasi yang dilakukan oleh Ibu dari Kelly.
Pintu ruangan operasi dimana Ibu dari Kelly memasukinya tadi, mulai terbuka dan memunculkan Ibunya yang akan dipindahkan menuju ruang ICU. Dengan dibantu oleh para perawat yang membimbing tempat tidur pasien tempat Ibu dari Kelly berada, saat ini mereka dengan perlahan mulai beranjak dari sana.
Bahkan dokter yang merawat penyakit dari Ibu kandung Kelly tadi, saat ini juga mulai ikut keluar dari ruangan tersebut dan saat ini mulai mendekati kearah tempat Kelly, Vero dan Zen berada, dengan niat untuk menghampiri mereka.
“Nona Kelly, bisakah anda mengikuti saya menuju ruangan saya?” ajak dokter tersebut agar Kelly mengikutinya, karena dirinya akan menjelaskan hasil operasi yang baru saja dirinya lakukan tadi.
“Pergilah Kel, biar aku dan Zen yang akan mengantar Ibumu menuju ruang ICU” balas Vero.
Kelly mulai mengangguk dan mulai mengikuti langkah dari dokter yang bernama Bara itu. Sedangkan Zen dan Vero saat ini mulai mengikuti arahan dari beberapa suster yang sedang membawa Ibu dari Kelly menuju ruang ICU.
“Sepertinya operasinya berjalan dengan Baik” ucap Vero kemudian dan mendapatkan anggukan dari Zen saat ini, yang dimana mereka mulai menyaksikan Ibu dari Kelly mulai dimasukan kedalam ruang ICU.
Akhirnya karena memang Ibu dari Kelly sudah masuk keruang ICU. Zen dan Vero saat ini hanya bisa menunggu diruang tunggu saja saat ini. Karena memang jika mereka ingin masuk kedalam, ruangan tersebut memiliki aturan jenguk yang ketat. Jadi, saat ini mereka hanya menunggu saja di sana saat ini.
.
.
Suasana gelap yang sangat mencekam, saat ini mulai dirasakan oleh seorang wanita. Pandangannya saat ini hanya menatap kegelapan dan mencoba mencari secercah cahaya yang muncul dari kegelapan tersebut, agar dirinya bisa keluar dari tempat ini.
Tentu karena dirinya sangat giat mencari, akhirnya sudut pandangannya menemukan setitik cahaya yang cukup jauh dari tempat dirinya berada. Tetapi karena dirinya ingin keluar dari tempat yang sangat gelap ini, tentu saja dirinya langsung mengambil langkahnya untuk menuju ke cahaya tersebut.
Namun naasnya, baru saja dirinya mengambil beberapa langkah, langkah kakinya saat ini seperti sedang dihadang oleh sesuatu. Tentu dengan pandangan yang sangat gelap, wanita itu tidak bisa melihat dengan jelas apa yang sedang tersangkut dikakinya saat ini.
__ADS_1
“Teganya dirimu, Santi. Meninggalkan diriku ditempat ini”
Tetapi sebelum dirinya mencoba mencari cara agar apa yan menyangkut dikakinya itu terlepas, sebuah suara yang sangat akrab mulai terdengar oleh dirinya. Wanita itu langsung membeku mendengar suara tersebut dan beberapa bulir keringat dingin mulai keluar dari tubuhnya.
Tidak hanya itu, cahaya yang sebelumnya hanya setitik dan jaraknya sangat jauh dari wanita itu, mulai mendekat dan mulai membesarkan wujudnya kearah wanita tersebut. Tentu wanita itu mulai menyipitkan matanya atas kedatangan cahaya tersebut, karena memang sinarnya sangat amat silau.
Namun yang membuat dirinya terkejut setelah matanya bisa menyesuaikan dengan cahaya yang menerpanya. Cahaya itu mulai menerangi area sekitar dirinya berada dan dirinya menemukan bahwa saat ini yang menyangkut dikakinya adalah sebuah tangan yang sedang menggenggam pergelangan kakinya itu.
“F-Faris?” ucap wanita itu gemetaran, karena dirinya melihat sosok pria yang sangat dikenalnya, namun wujudnya saat ini menyerupai seorang Zombie dan sedang menangkap kakinya.
“Mengapa kamu meninggalkanku Santi?” ucap Zombie tersebut dan membuat wanita yang dipanggil Santi itu mulai gemetaran.
Dirinya langsung berteriak histeris karena sangat ketakutan. Bahkan pria itu terus saja mengulangi perkataannya yang semakin menggema didalam telinganya. Hingga akhirnya wanita itu sudah tidak kuat, mendengar perkataan pria itu yang semakin keras masuk kedalam telinganya.
“M-Maafkan aku...” dan begitulah kalimat yang dirinya keluarkan, saat Santi mulai terbangun dari tidurnya saat ini.
Dengan nafasnya yang memburu, wanita itu mencoba menenangkan dirinya saat ini karena baru saja dirinya mengalami sebuah mimpi yang sangat buruk. Sambil mencoba mengambil nafas yang panjang, akhirnya wanita itu mulai menyandarkan dirinya kembali di atas kursi tempat dirinya duduk.
Dengan mengusap wajahnya menggunakan kedua tangannya, saat ini Santi merasa sangat amat kelelahan setelah mentalnya cukup terguncang dengan mimpi yang baru saja dirinya alami tadi. Dengan mengambil botol plastik berisikan air mineral didalamnya, Santi mulai meneguk habis isinya sambil menenangkan dirinya saat ini.
“Hahh... Mengapa aku ketiduran, dan malah memimpikan mimpi itu lagi” ucap Santi kemudian, setelah membuang botol plastik bekas air mineral yang diminumnya itu, kedalam tempat sampah.
Saat ini dirinya memang berada di ruangan miliknya pada kantornya dan sedang bekerja. Namun karena dirinya sangat kelelahan dengan tugas yang sangat banyak yang harus dirinya selesaikan, membuatnya malah tertidur di ruangannya itu karena kelelahan.
“Hahh... dan mengapa kamu selalu muncul didalam mimpiku Faris” ucapnya kemudian.
Semenjak dirinya mengetahui penyebab kematian dari tunangannya, Santi entah mengapa selalu memimpikan sesuatu yang aneh tentang tunangannya itu. Bahkan selain memimpikan dirinya, Santi juga merasa tidak terlalu bersemangat dalam menjalani harinya beberapa hari ini.
Tentu saja hal itu disebabkan oleh pemikirannya yang tidak pernah lepas dari penyebab kematian tunangannya, sehingga dirinya masih merasa bersalah dengan apa yang terjadi dengan dirinya, dan menganggap semua itu adalah perbuatannya.
“Baiklah, mari lanjut bekerja” ucap Santi kemudian yang memutuskan untuk mulai menyelesaikan beberapa berkas yang belum sempat dirinya selesaikan, agar dirinya bisa melupakan sejenak apa yang baru saja dirinya alami tadi.
__ADS_1
Namun belum juga dirinya melakukan tugasnya, anak buahnya saat ini meminta izin untuk masuk kedalam ruangannya. Tentu Santi mempersilahkan dirinya masuk dan menanyakan maksud kedatangan bawahannya itu ke ruangannya.
“Komandan, ada laporan orang hilang kembali”