
Sebuah kediaman cukup mewah, terlihat sangat sepi tidak seperti biasanya. Karena memang beberapa orang yang tinggal didalam kediaman tersebut, saat ini sedang melakukan perjalanan liburan keluar wilayah dari tempat kediaman mewah itu berada.
Bahkan seluruh pekerja yang seharusnya bekerja pada kediaman itu, terlihat juga meliburkan diri setelah majikan mereka yang memutuskan untuk tidak ikut liburan bersama keluarganya, mempersilahkan mereka untuk mengambil jatah libur mereka masing-masing.
Jadi, didalam kediaman yang cukup besar dan sepi tersebut, masih ada seseorang pemuda yang tinggal didalamnya. Tentu dirinya mempunyai alasan tersendiri untuk tidak ikut liburan bersama keluarganya dan memutuskan untuk berdiam diri pada kediamannya saja.
“Iya, Ayah. Aku masih banyak tugas yang harus aku selesaikan saat ini” ucap pria yang berada dikediaman mewah tempatnya tinggal, yang saat ini sedang mengobrol dengan Ayahnya dan kembali membuat sebuah alasan untuk dirinya.
“Baiklah. Ingat, kamu tidak boleh nakal di sana” ucap Ayahnya, yang memberikan peringatan kepada putranya itu, sebelum dirinya mengakhiri panggilan yang sedang dirinya lakukan itu.
“Iya. Ayah.”
Akhirnya panggilan yang mereka berdua lakukan langsung diakhiri, setelah bahan obrolan mereka sudah berakhir. Namun saat obrolan itu terjadi, berbeda dengan nada Ayah dari pemuda tadi yang terlihat sangat senang saat berbicara dengannya. Pemuda itu langsung merasa depresi setelah dirinya mengakhiri panggilan dari ayahnya tadi.
Dengan mengigit kuku jempol tangannya saat ini, dirinya seakan mulai panik atas tindakan yang dirinya lakukan tadi pagi. Yang dimana dirinya merasa cukup paranoid, karena dirinya takut perbuatannya itu akan diketahui oleh pihak kepolisian dan dirinya akan diamankan.
“Ya... mereka tidak mungkin mengetahuinya bukan?” gumam pemuda itu kemudian, yang masih merasa takut atas perbuatannya tadi.
Walaupun dirinya sering melakukan sebuah tindakan kriminal kepada beberapa orang, tetapi apa yang dirinya lakukan tadi merupakan kali pertama kalinya dirinya melakukan tindak kejahatan yang bisa dikatakan menjadikannya dirinya seorang pembunuh.
Rasa takut yang dirinya rasakan saat ini, langsung membuat dirinya kalang kabut. Bahkan dirinya tidak menyadari bahwa saat ini perutnya sudah kelaparan karena dirinya sama sekali belum mengisinya sedari tadi, karena fokus dirinya masih mencoba menenangkan dirinya yang merasa risau sedari tadi.
Tentu karena rasa lapar yang membuat perutnya sedikit nyeri, akhirnya pemuda itu memutuskan untuk pergi ke dapur dari kediamannya ini, untuk mencari beberapa makanan yang mungkin bisa dirinya makan untuk mengganjal perutnya yang kosong itu.
“Sial hanya ada mie instan” ucapnya, yang hanya menemukan makanan instan tersebut dari dalam laci yang berada di dapur dari kediamannya tersebut.
Karena memang tidak ada makanan lagi yang ada di sana, dengan terpaksa pemuda itu mulai memasak mie instan yang didapatkannya itu, untuk setidaknya mengatasi rasa lapar yang sedang dirinya rasakan saat ini. Apalagi perbuatannya saat ini, dapat mengalihkan sejenak apa yang sedang dirinya pikirkan sedari tadi.
Setelah semuanya siap, dan dirinya sudah berhasil memasak makanannya untuk dirinya santap. Pemuda itu langsung membawa hasil masakannya menuju meja makan tempatnya berada. Dengan rasa lapar yang sudah dirasakannya, saat ini dirinya hanya ingin langsung menyantap hasil masakannya yang terlihat sangat menggiurkan itu.
__ADS_1
“Kamu hanya membuat satu, lalu bagaimana denganku?” Namun sebelum dirinya memasukan mie intan yang dirinya masak itu kedalam mulutnya, sebuah suara pria yang mengajak dirinya berbincang langsung mengejutkannya.
Pemuda itu dengan perlahan mulai mencari tahu asal suara tersebut. Hingga akhirnya seorang pria yang bisa dikatakan sangat tampan, saat ini sedang menatapnya dan menunjukan ekspresi wajah datar miliknya. Bahkan keberadaan pria tersebut, langsung membuat pemuda itu sangat terkejut dibuatnya
Tentu melihat sosok yang saat ini tiba-tiba saja sudah duduk dihadapannya, membuat pria itu langsung menjatuhkan sendok garpu yang dirinya gunakan untuk menyantap makanannya tadi, karena dirinya tidak menyangka pria yang menjadi korban tindakannya tadi pagi bisa berada dihadapannya.
Pemuda itu juga mulai panik saat ini, hingga akhirnya dirinya langsung tersandung kursi yang didudukinya, saat hendak bangkit dari tempat duduknya setelah melihat keberadaan sosok pria itu. Dengan dirinya yang sudah tersungkur dilantai, pemuda tersebut saat ini hanya bisa menatap sosok tersebut dengan wajah pucat pasihnya saat ini
“Kalau kamu tidak mau makan, biar aku saja yang memakan hasil masakan darimu.” Ucap pria itu kemudian, yang mulai mengambil mangkok yang berisikan mie instan rasa soto itu, dan bersiap memakannya.
Suara seruputan orang memakan mie langsung terdengar setelah pria itu mulai menyantap makanannya. Tentu dengan rasa puas dengan rasa makanan yang sedang dimakan olehnya, membuat pria itu semakin lahap memakan makanannya saat ini.
"Ah... seharusnya kamu merebusnya lebih lama lagi. Karena mienya masih belum matang sepenuhnya" kata pria tersebut, yang memberikan keluhannya atas hasil masakan dari pemuda yang masih ketakutan melihat tindakannya itu.
“K-Kenapa kamu berada disini?” namun saat disela-sela pria itu menyantap makanan yang dirinya keluhkan tingkat kematangannya itu. Pemuda yang tadi tersandung dan terjatuh dari tempatnya, saat ini mencoba memberanikan diri untuk bangkit dan menanyakan mengapa pria itu bisa menemukan keberadaanya.
“Apa susahnya menemukan dirimu?” balas pria itu kemudian, yang mulai menjawab pertanyaan dari pemuda yang berada dihadapannya.
“Duduklah” ucap pria itu, sambil membuat gesture agar pemuda itu duduk kembali pada tempatnya.
“T-Tapi tuan, a-ak-”
“Duduklah!” teriak pria itu kemudian, yang memancarkan aura penindasan miliknya.
Entah aura apa yang dirasakan pemuda yang ingin melarikan diri itu saat ini. Karena memang saat dirinya merasakannya saja, membuat dirinya mulai gemetaran. Apalagi tatapan yang dirinya dapatkan saat ini juga sangat amat menyeramkan.
“B-Baiklah, Tuan” balas pemuda itu yang mulai duduk kembali ditempatnya.
Setelah dirinya duduk dengan kondisi yang masih sangat ketakutan, Pemuda itu hanya menatap orang yang seharusnya sudah mati karena perbuatannya tadi, dan sekarang sedang menikmati santapan yang sedang dirinya makan.
__ADS_1
Hingga akhirnya, pria didepannya saat ini mulai mengangkat mangkok yang berisi mie instan yang disantapnya, dan menghabiskan kuahnya sekaligus untuk menyelesaikan acara menyantap makanannya itu. Tentu pemandangan itu membuat pemuda yang sedang menatap pria yang menyelesaikan makanannya, mulai merasa ketakutan karena dirinya tahu sebuah badai akan datang menimpa dirinya setelah pria itu menyelesaikan kegiatannya.
“Jadi, bisa jelaskan siapa yang menyuruhmu untuk menikam diriku tadi?” tanya pria tersebut yang ternyata merupakan Zen, yang saat ini sudah meletakan lagi mangkok yang baru saja dirinya habiskan isinya.
Ya, pria yang berada didepan Zen saat ini merupakan pria yang menusuk Zen menggunakan pisau didepan perusahaan Vero dan memanfaatkan kerumunan para wartawan tadi. Saat ini, Zen memutuskan untuk langsung menghampiri dirinya dan mencari tahu mengapa pria itu melakukan hal tersebut.
Namun saat Zen melihat sosok yang menusuk dirinya saat berhasil menemukannya, dirinya mulai paham bahwa pria itu hanya merupakan serang pion. Jadi dirinya memutuskan untuk mencari tahu siapa yang berani-beraninya mencari masalah dengan dirinya.
“A-Aku tidak tahu, Tuan” balas pemuda itu, yang saat ini masih gemetar ketakutan.
Untuk orang lain, mungkin mereka akan langsung mendesak pemuda tersebut untuk mengatakan yang sebenarnya, karena perkataannya bisa dikatakan sebuah kebohongan. Bahkan mungkin beberapa dari mereka akan menggunakan cara kekerasan untuk mengorek informasi dari dirinya
Namun Zen bisa merasakan pria itu mengatakan yang sebenarnya. Karena memang Zen bisa merasakan pria itu tidak berbohong saat ini. Namun, hal itu semakin membuat Zen merasa cukup aneh, karena mengapa pria itu mengikuti perkataan dari orang yang tidak dikenalnya.
“Hahh.... Apa maksudmu bahwa kamu tidak tahu?” tanya Zen kemudian, yang mencoba mengorek informasi dari pemuda yang berada didepannya.
“A-Aku diancam, u-untuk mencelakai anda, T-Tuan. Makanya d-diriku melakukan hal t-tersebut kepada anda” balasnya terbata-bata.
“Tunggu... Kamu diancam oleh seorang pria asing, dan kamu langsung menerima perintahnya?” ucap Zen kemudian, yang masih tidak mengerti jalan pikiran dari pria yang berada didepannya.
“B-Bukan begitu, T-Tuan” balas pria itu, yang mulai mengeluarkan ponsel pintarnya dan menyerahkannya kepada Zen untuk memperlihatkan sebuah ruang obrolan yang pemuda itu lakukan dengan seseorang.
Didalamnya, Zen bisa melihat riwayat obrolan yang dilakukan pemuda yang berada dihadapannya, dengan orang yang menyuruhnya melakukan hal tersebut. Tentu Zen akhirnya paham mengapa pria didepannya mau melakukan yang disuruh oleh pihak tersebut.
Karena memang pihak yang menyuruhnya untuk menikam Zen, memiliki sebuah rahasia dari pemuda tersebut. Apalagi rahasia yang dimilikinya bisa dikatakan sangat amat buruk jika hal itu tersebar kemana-mana. Maka dari itu pria yang dihadapan Zen dengan terpaksa melaksanakan perintahnya untuk menusuk Zen tadi.
“Cih.... nomornya sudah tidak aktif” balas Zen kemudian, yang memang langsung menghubungi nomor tersebut, agar mengetahui siapa yang berni-beraninya menggunakan cara pengecut untuk melukai dirinya.
“A-Aku juga sudah m-menghubungi dirinya tadi Tuan. Tetapi m-memang dirinya seakan menghilang” balas pemuda yang berada didepan Zen kembali, setelah melihat Zen yang terus saja gagal menghubungi kontak yang berada di ponsel pintar pemuda tersebut.
__ADS_1
Dengan menghela nafasnya, Zen saat ini mulai membuang ponsel pintar tersebut kearah meja yang berada dihadapannya. Tentu dirinya pasti akan mencari tahu, siapa dalang dari perbuatan tersebut. Namun sebelum itu, dirinya mulai menatap pemuda yang jaraknya hanya terhalang oleh sebuah meja yang berada dihadapannya.
“Baiklah. Walaupun kamu hanya pion, tetapi tetap saja tindakanmu tidak bisa dibenarkan. Jadi, apakah kamu mempunyai sebuah penyakit jantung?”