
Dengan perasaan yang bahagia, saat ini Kileni meminta di gendong oleh sosok pria yang dirinya anggap sebagai Ayahnya, dan Zen dengan senang hati menuruti keinginannya itu sehingga membuat gadis kecil itu semakin bahagia dibuatnya.
Alice yang bersamanya juga hanya tersenyum saja melihat perilaku putrinya itu yang terlihat sangat manja kepada Zen. Apalagi dirinya sangat memahami mengapa gadis kecilnya itu berperilaku seperti itu, karena selama ini dirinya tidak merasakan kehangatan dari sosok yang bisa dirinya anggap sebagai Ayahnya.
Namun yang menjadi bahan perhatian selain putrinya yang saat ini sudah berada di gendongan dari Zen, adalah seorang wanita cantik yang saat ini tangannya mulai digenggam oleh Zen, seakan mereka sedang menunjukan status mereka yang bisa dikatakan terlihat seperti sepasang kekasih.
"Kileni memangnya dari mana?" tanya Zen kemudian, yang saat ini bertanya sesuatu kepada gadis kecil yang sudah berada di gendongannya itu.
"Kileni bersama Ibu sedang berbelanja Ayah" hingga begitulah jawaban yang diberikan Kileni kepada Zen.
Kana yang melihat tingkah Suaminya itu pada awalnya cukup kebingungan dengan apa yang terjadi. Tentu dirinya bingung mengapa gadis kecil yang ada di gendongan pada Suaminya itu memanggil suaminya itu dengan sebutan Ayah, bahkan Zen menerima panggilan itu dengan baik.
Tentu Kana bisa mencium aura kegelapan milik Zen pada diri sosok Ibu dari gadis kecil itu. Tetapi dirinya memastikan bahwa itu merupakan aura yang ditanamkan agar Zen bisa memantau dirinya, karena memang dirinya tidak memiliki ikatan apapun dengan Zen sehingga suaminya itu harus menanamkan auranya kepada dirinya.
Jadi, keberadaan Kileni yang menganggap Zen sebagai Ayahnya dan Zen menerima saja perkataannya itu membuat Kana cukup kebingungan, karena dirinya tidak mengerti hubungan apa yang dimiliki oleh suaminya itu dengan kedua wanita yang merupakan pasangan Ibu dan Anak itu.
"Maafkan karena kami selalu membuat dirimu kerepotan, Tuan Zen" balas Alice yang saat ini mulai ikut dalam percakapan mereka saat ini.
"Tidak masalah. Apalagi Istri-istriku sangat senang dengan keberadaannya" balas Zen kemudian atas perkataannya.
Mendengar perkataan Zen yang menjawab perkataannya, tentu membuat Alice terkejut. Apalagi dirinya tidak menyangka bahwa Zen sudah memiliki Istri kembali. Memang dari cerita putrinya, Zen diketahui memiliki kekasih yang lain selain Vero dan hal itu sangat mengejutkan bagi Alice.
__ADS_1
Hingga dari mulutnya sendiri Zen langsung mengkonfirmasi secara langsung bahwa Zen sudah menikah lagi, dan hal itu bisa dikatakan cukup membuat Alice tidak menyangka bahwa pria yang memang menjadi sosok yang dianggap Ayah oleh putrinya itu memiliki Istri yang lain.
"Memangnya, siapa gadis kecil ini, Suamiku?" tanya Kana yang memang belum mengenal sosok Kileni.
"Ah... gadis ini. Dirinya merupakan seorang gadis kecil Pengganggu yang aku anggap sebagai putriku" balas Zen yang saat ini sudah mulai mengakui sosok Kileni sebagai putrinya sendiri.
Tentu percakapan dari Zen dan Kana itu membuat Alice terkejut. Karena memang dirinya tidak menyangka bahwa wanita yang bersama Zen itu merupakan Istrinya. Karena memang yang dirinya kira menjadi Istri dari Zen merupakan Kelly yang memang sudah mereka tunjukan kedekatan mereka didepannya.
"Kalau begitu, berarti aku Ibumu, Gadis Pengganggu" ucap Kana yang ramah dan mulai mengelus lembut rambut dari Kileni.
Kileni yang polos dan tidak mengerti apa-apa hanya tersenyum senang dengan perlakuan yang dirinya terima. Apalagi memang perlakuan dari Kana itu akan otomatis membuatnya nyaman, karena ras dari Kana bisa dikatakan mempunyai kemampuan membuat nyaman sosok yang ingin dirinya buat nyaman.
"Hehehe... Ibuku bertambah banyak" balas Kileni yang merasa senang dan saat ini masih bahagia dengan perlakuan dari Kana.
Cemburu tentu saja, itulah yang dirasakan oleh Alice saat ini. Tentu bukan cemburu terhadap sosok lawan jenis yang disukainya, tetapi dirinya merasa cemburu dengan putrinya yang memang membutuhkan kasih sayang, namun sepertinya dirinya mendapatkan dari pihak lain karena dirinya memang sibuk.
Lebih merasa bersalah memang, karena selama ini sosoknya sangat sibuk. Jadi melihat kedekatan putrinya dengan orang lain dan terlihat merasa nyaman, tentu membuat Alice merasa bersalah dengan sikapnya yang masih belum bisa memberikan sesuatu kenyamanan sebuah keluarga kepada putrinya sendiri.
"Lalu, bagaimana kabarmu, Alice?" hingga lamunan dari Alice itu terhenti disaat Zen tiba-tiba saja mengajaknya berbicara.
"A-Ah... Kabarku baik Tuan Zen" hingga dengan sedikit terkejut mendapatkan pertanyaan dari Zen, Alice menyempatkan dirinya untuk menjawab perkataannya.
__ADS_1
Memang dirinya sangat tidak menyangka bahwa Zen akan menegur sapa dirinya, bahkan sampai menanyakan kabarnya. Maka dari itu, Alice yang masih tidak menyangka dengan sikap pria itu, sedikit terkejut dan saat ini berusaha untuk mengendalikan dirinya atas keterkejutannya itu.
"Hmm... benarkah. Tetapi kamu tidak terlihat seperti itu." Balas Zen kepada wanita itu.
Raut wajah kelelahan bisa dilihat dengan jelas dari wajahnya. Bahkan kecemburuan yang dirinya tunjukan atas perlakuan yang diterima Putrinya tadi, menjelaskan semua hal tentang tertekannya sosok Alice yang bisa dikatakan sedang berada dalam tekanan sebuah masalah.
"Mungkin aku hanya kelelahan saja, Tuan Zen. Apalagi belakangan ini aku banyak kerjaan" ucap Alice yang mulai mengakui bahwa memang dirinya kelelahan.
"Hmm... lalu mobil yang mengikuti keberadaan dirimu itu termasuk pihak yang membuatmu kelelahan?" tanya Zen kembali, karena bisa dikatakan ada beberapa pengintai yang saat ini mengikuti langkah Alice sedari tadi.
Alice tentu tidak menyangka bahwa Zen mengetahui tentang beberapa pihak yang mengikuti keberadaannya itu. Walaupun memang dirinya tidak terlalu terkejut bahwa Zen mengetahui keberadaan mereka, karena kemampuan pria itu yang bisa dikatakan pihak yang bukan manusia pada umumnya.
"Apakah sejelas itu mereka mengikuti diriku, Tuan?" tanya Alice yang entah mengapa langsung merasa murung setelah Zen menemukan beberapa pihak yang sedang mengintai dirinya saat ini.
Zen bisa merasakan bahwa saat ini ada sebuah mobil yang berisi beberapa pihak sedang mengikuti langkah dari Alice. Bahkan bisa diketahui mereka melakukannya sudah sejak lama, karena beberapa kali Zen sempat memperhatikan tindakan Alice dan Kileni dan mobil itu selalu mengikutinya.
Memang Zen tidak mengetahui siapa mereka, namun bisa dikatakan mereka merupakan orang suruhan seorang pihak, karena Zen bisa merasakan bahwa mereka terus melaporkan kondisi Alice kepada pihak yang menugaskan mereka untuk mengikuti Alice.
"Sangat amat jelas. Bahkan aku merasakan niat jahat mereka kepadamu" balas Zen kepada wanita itu.
Memang Zen sebenarnya sama sekali tidak peduli dengan apa yang dialami oleh apa yang dialami oleh Alice. Namun tentu saja dirinya tidak menutup mata juga melihat bahwa saat ini wanita itu sepertinya sedang mengalami sebuah permalasahan, apalagi bisa dikatakan tindakan mereka sangat mengintimidasi bagi Alice.
__ADS_1
Walaupun memang Zen tidak akan ikut campur secara langsung atas permasalahanya, tetapi yang bisa Zen tunjukan kepada dirinya saat ini bahwa Zen berada disisinya jika terjadi sesuatu yang buruk kepada dirinya. Karena memang, tentu saja dirinya tidak mau sosok yang sudah dirinya anggap sebagai putrinya itu, akan sedih jika terjadi sesuatu kepada Ibu kandungnya.
"Pokoknya, jangan membawa putrimu kedalam sebuah masalah yang membuat dirinya sedih."