
Sebuah kepala manusia, saat ini sudah tergeletak di tanah dengan menunjukan ekspresi terkejutnya. Tentu tidak jauh dari sana, tubuhnya yang terus mengeluarkan darah dari tempat dimana kepala tersebut terlepas, saat ini menjadi saksi dari beberapa pihak yang sedang bertahan melawan seorang monster.
Beberapa orang yang hingga saat ini belum tewas, memutuskan untuk membuat nyawa mereka tidak direnggut dari diri mereka. Maka dari itu, saat ini tiga orang yang tersisa yang masih mencoba mempertahankan nyawa mereka, sebisa mungkin untuk melawan seorang monster yang saat ini sedang menyerang mereka membabi-buta.
“Cih... dasar tidak tahu terima kasih” ucap Zen yang sudah sangat kesal dengan perilaku dari musuh yang harus dirinya musnahkan saat ini.
Tentu Zen sudah berbaik hati untuk membunuh mereka tanpa merasakan rasa sakit. Namun saat ini ketiga orang yang tersisa dari lima orang yang ingin menyerangnya, mencoba untuk membela diri mereka agar tidak tewas ditangan Zen saat ini.
Masalahnya, perbuatan mereka yang tidak tahu terima kasih itu, semakin membuat Zen kesal karena dirinya harus menggunakan sedikit kekuatannya untuk membunuh mereka. Dan itulah yang akan dilakukan oleh Zen saat ini, yang bersiap menghabisi mereka ditempat ini.
“Baiklah. Karena kalian yang meminta, jangan salahkan aku yang tidak langsung membunuh kalian saat ini” ucap Zen sambil mengeratkan genggaman tangannya pada pedang yang akan dirinya gunakan.
Tentu melihat aura yang semakin menyeramkan keluar dari musuh mereka, saat ini pria-pria itu mulai menyesal untuk tidak memasrahkan diri mereka untuk tewas saja tadi. Karena bisa dilihat, Zen sepertinya saat ini seperti sebuah predator yang sedang bersenang-senang dengan mangsa yang sedang diburunya.
Aura disekitar mereka juga mulai berubah saat ini. Jika tadi mereka bisa merasakan aura seperti sebuah pemakaman yang akan menyambut mereka. Saat ini auranya seperti diri mereka akan jatuh didalam jurang yang sangat dalam, karena aura tersebut terasa seperti tidak kepastian tentang keselamatan hidup yang dimiliki oleh mereka.
“Sial, apa yang haru-” namun serangan dadakan yang dilakukan oleh Zen, ternyata lebih cepat dari gerakan mulut dari pria yang sedang berbincang dengan rekannya yang tersisa.
“Ahh....”
Tentu suara teriakan kembali terdengar setelah salah satu dari mereka sudah kehilangan sebuah kaki, karena tebasan yang dilakukan oleh Zen. Tentu saja pria itu mulai berteriak kesakitan dan mulai terkapar dibawah tanah, karena sisa kakinya tidak bisa menopang dengan baik tubuhnya saat ini.
Namun tidak cukup sampai di sana. Pria yang sebelumnya sudah kehilangan tangannya akibat serangan Zen sebelumnya, saat ini merasakan bahwa lehernya sedang digenggam oleh seseorang. Tentu tubuhnya saat ini langsung diangkat keatas, dan pria yang melakukan itu sudah memberikan senyum yang sangat menyeramkan saat dirinya menatapnya.
“Baiklah, mari kita mulai penyiksaannya” kata Zen.
Zen mulai menancapkan pedang yang dirinya gunakan tepat disebelah kakinya, lalu menggunakan tangannya yang dirinya gunakan untuk memegang pedangnya tadi, untuk langsung menusuk perut dari pria yang saat ini berada di genggamannya.
Darah mulai keluar dari mulut dan perut tempat Zen menusuk pria yang saat ini sedang dilawannya menggunakan tangannya itu. Tidak sampai di sana tindakan Zen berakhir, karena saat ini dirinya mulai mencari sebuah organ dari dalam tubuh pria yang dirinya tusuk itu. Hingga akhirnya organ yang dirinya cari tersebut sudah berada pada genggamannya saat ini.
__ADS_1
“Karena mungkin kamu kekurangan darah, sepertinya detak jantungmu sedikit menurun. Apakah aku harus membantumu?” tanya Zen yang mulai memompa jantung dari pria yang berada di genggamannya saat ini secara manual, untuk membantu jantung pria itu untuk berdetak dengan normal.
Namun bukanlah darah yang terus terpompa menuju seluruh aliran darah milik pria yang saat ini terlihat sangat mengenaskan itu. Tetapi darahnya malah terpompa menuju mulutnya dan terus keluar dari sana, akibat perbuatan Zen yang mencoba membuat jantungnya untuk berdetak dengan normal.
“Bagaimana, sudah merasa lebih baik bukan?” ucap Zen yang terus melakukan tindakannya, karena merasa perbuatannya membuat kondisi pria yang berada di genggamannya mulai membaik.
Memang pria yang saat ini sedang dibantu oleh Zen itu, saat ini mulai berontak agar Zen menghentikan tindakannya saat ini. Tentu bagi Zen, itu merupakan sebuah hal bagus karena tindakannya itu membuat pria yang berada di genggamannya terlihat mulai bersemangat kembali.
Tentu kedua rekan dari pria tersebut, yang sedang memperhatikan tindakan Zen langsung gemetar ketakutan saat ini. Kelakuannya saat ini seperti sebuah pemangsa yang sedang kenyang, dan hanya ingin mempermainkan mangsanya yang sudah dirinya dapatkan.
Bahkan mereka sangat menyesal tidak mengikuti perkataan dari pria yang masih asik melakukan kegiatannya itu. Karena saat ini, mereka sudah merasakan sebuah teror yang sangat amat nyata. Apalagi hal tersebut sudah terpampang dengan jelas didepan mata mereka, yang biasanya mereka lihat didalam sebuah film horor maupun film dengan genre thriller.
“Ah... sepertinya aku memompa jantungmu terlalu cepat” ucap Zen yang merasakan jantung yang berada di genggamannya saat ini sudah berhenti berdetak.
Tentu tindakan yang dirinya lakukan itu, memang saat ini menyebabkan jantung dari pria yang berada di genggamannya sudah berhenti berdetak. Tetapi sebagai orang yang bertanggung jawab agar jantung pria itu berdetak dengan normal, Zen mau tidak mau harus melakukan sesuatu.
“Sabarlah oke, aku akan membantumu” ucap Zen yang mulai mengeluarkan percikan petir ditangannya dan menyetrum sedikit jantung dari pria tersebut.
“Wahh... ternyata apa yang aku lakukan itu berhasil. Padahal aku hanya mencoba mengikuti tindakan dari sebuah film saja tadi” ucap Zen yang merasa bangga bahwa apa yang dirinya lakukan itu berhasil.
Tentu karena melihat jantung pria didepannya kembali melemah. Zen dengan bergegas kembali memompa jantungnya menggunakan tangannya, hingga akhirnya apa yang dirinya buat itu tidak membuat pria yang berada di genggamannya memiliki sebuah nyawa lagi.
“Hahh.. sepertinya aku memang memompa jantungnya terlalu cepat” ucap Zen yang mulai mencabut tangannya, dan membuang mayat pria yang sudah selesai dirinya berikan tindakan tadi kebawah tanah.
"Maafkan aku karena diriku tidak bisa menyembuhkan kondisi jantungmu" ucap Zen kepada mayat dari pria yang dirinya siksa dengan mengenaskan itu, yang saat ini sudah terbaring di tanah dengan ekspresi teror terukir pada wajahnya.
Karena dirinya sudah menyelesaikan permasalahan dari salah satu pria yang hendak ditolongnya, tentu Zen dengan senyum psikopatnya mulai menatap dua orang yang tersisa yang masih berada di sana, seakan bersiap untuk memulai ronde kedua dalam merawat keadaan jantung mereka.
“Sepertinya jantung kalian sedang bermasalah saat ini. Karena aku bisa merasakan detak jantung kalian berdetak sangat cepat” ucap Zen kemudian, yang entah mengapa membuat suasana yang berada di sana sudah mulai mengarah kearah situasi yang sangat horor.
__ADS_1
Dan begitulah akhir kisah dari tiga orang yang sangat mengenaskan, setelah mereka menolak kematian yang sangat damai, yang dilakukan oleh seseorang yang bisa dikatakan seorang kematian. Tetapi untungnya, ketiga orang tersebut berhasil menyelesaikan permasalahan jantung mereka saat ini.
“Hm... sudah lama aku tidak melakukannya, tetapi tetap saja hal itu cukup menyenangkan” ucap Zen yang saat ini mulai menggunakan kemampuannya, untuk membersihkan dirinya dari bekas-bekas darah yang menempel pada dirinya.
“Ya... anda terlihat sangat menikmatinya tadi Tuan” balas Bari yang sudah mengeluarkan kertas lusuh dan pulpen bulu elang miliknya, dan bersiap mengantarkan nyawa dari korban kekejaman Tuannya.
Bari memang sudah kembali lagi menuju tempat tuannya berada, setelah menyelesaikan urusannya tadi. Saat ini dirinya kembali, karena dia harus mengirimkan jiwa dari orang-orang yang mati secara mengenaskan ditangan tuannya tadi.
“Kalau begitu, selesaikan tugasmu dengan baik, oke” ucap Zen yang memutuskan untuk kembali, karena urusannya ditempat ini sudah dirinya selesaikan.
Tentu Bari dan jiwa kelima orang yang sudah dirinya bangkitkan itu mulai membungkuk kepada Zen, untuk mengantar kepergiannya dari sana. Hingga akhirnya portal yang dibuat oleh Bari, saat ini mulai membawa Zen beranjak dari sana.
“Kalau begitu, selamat karena kalian akan menuju Neraka tingkat 10” ucap Bari kemudian, yang mulai membimbing kelima orang yang akan dipandu olehnya menuju akhirat, setelah Zen sudah beranjak dari sana.
Disisi lain, Zen sudah kembali menuju tempat yang dirinya gunakan untuk berpindah tempat menggunakan portal milik Bari tadi. Memang saat ini dirinya berada diluar wilayah dari perumahan milik Vero, karena dirinya tidak ingin mencari masalah bahwa perilakunya akan terlihat pada kemera pengawas yang memenuhi tempat tersebut.
Bisa saja dirinya menggunakan mode kamuflasenya jika dirinya ingin menghilang dari sana. Namun akan aneh jika dirinya akan muncul secara tiba-tiba dan beberapa pihak akan menyadarinya. Jadi Zen memutuskan untuk mencari area sepi didekat area perumahan Vero dan akan berangkat dari sana.
“Ah... bukankah Bibi Leni berkata dirinya akan memasak makanan yang enak untuk makan malam?” Gumam Zen yang mengingat kembali, bahwa Leni berpesan kepadanya bahwa dirinya akan memasak makanan yang banyak dan enak untuk makan malam hari ini.
“Baiklah kalau begitu mari kembali” ucap Zen kemudian, yang sudah tidak sabar untuk kembali menuju kediaman dari Vero.
Tentu setelah melakukan sebuah penyiksaan yang cukup menyenangkan baginya, acara selanjutnya adalah untuk memakan makanan yang lezat untuk menyempurnakan kebahagiaannya saat ini. Jadi, Zen mulai berjalan dengan perasaan bahagia untuk kembali menuju kediaman milik Vero.
Namun disela-sela perjalanannya untuk kembali, perjalanannya itu terpaksa harus terhenti setelah sebuah mobil mewah berwarna merah, mulai berhenti tepat didepannya. Tentu Zen mulai menghentikan langkahnya, dan menganggap bahwa masih ada orang yang ingin mencari masalah dengannya saat ini.
Namun ternyata prasangkanya itu salah. Karena saat ini seorang wanita langsung keluar secara terburu-buru dari dalam mobil mewah yang dirinya kendarai itu, dan langsung berlari menuju trotoar yang akan dilalui oleh Zen dan mulai muntah di sana.
“Ueekkkk....” dan begitulah Zen menyaksikan sebuah adegan yang sama terulang kembali. Namun memang perbedaannya, wanita yang saat ini muntah didepannya mengeluarkan cairan yang warnanya sangat berupa, tidak seperti orang yang dirinya siksa yang hanya mengeluarkan cairan berwarna merah.
__ADS_1
Wanita itu terus saja muntah, hingga akhirnya isi perutnya sudah benar-benar kosong dan dirinya menghentikan tindakannya. Namun setelah dirinya menyelesaikan urusannya, betapa terkejutnya dirinya melihat seorang pria saat ini sedang menatapnya dengan tatapan aneh.
“Sialan, obat yang aku konsumsi sepertinya mulai bekerja”