
Mendengarkan perkataan dari Zen tentu membuat Alice hanya mengangguk saja. Karena bisa dikatakan siapa yang ingin membawa putri kandungnya sendiri kepada sebuah permalasahan, apalagi saat ini permalasahan yang terjadi bisa dikatakan semakin membuat Alice cukup kesusahan menghadapinya.
Memang keadaan perusahaan Perbankan yang dipimpinnya sudah mulai membaik dan lepas dari bayang-bayang kelompok Vampire yang dulu mencoba memanfaatkannya. Bahkan dirinya mampu membuat perusahaannya itu kembali ke jalan yang tepat.
Namun kali ini, ternyata ada sesuatu yang kembali merepotkan dirinya setelah mengurus perusahaan yang saat ini sedang dipimpin olehnya. Maka dari itu, hal tersebut yang membuatnya sedikit kerepotan dan mau tidak mau harus menyelesaikan semua permasalahan itu.
"Aku tahu, Tuan Zen. Akan aku pastikan Putriku tidak akan terbawa dalam permasalahan yang aku alami" ucap Alice yang membalas perkataan dari Zen itu.
Memang Zen tidak tahu masalah apa yang sedang dialami oleh wanita itu. Tetapi sepertinya permalasahan itu bukanlah permalasahan tentang pemilik kekuatan, jadi Zen memutuskan untuk tidak ikut campur sampai memang benar-benar hal itu membahayakan sosok Kileni yang menjadi permata bagi Istri-istrinya.
"Kami kembali" hingga Kana yang dengan bahagia menggendong Kileni saat ini sudah kembali, setelah mereka baru saja membeli jajanan pinggir jalan untuk mereka santap.
"Kalau begitu, mari kita lanjutkan perjalanan kita" balas Zen yang akhirnya mulai beranjak dari sana untuk kembali menuju kediamannya.
Kana, Alice dan Kileni juga mulai melangkahkan kaki mereka untuk mengikuti langkah Zen untuk kembali. Apalagi sudah tidak ada keperluan apapun lagi mereka berada disana dan saat ini Zen sudah menggandeng tangan Kana, yang sedang menggendong Kileni dan berjalan bersama-sama untuk kembali menuju kediaman mereka.
Alice juga mengikuti langkah mereka saat ini. Bahkan mobil yang ditumpangi beberapa pihak yang memang mengikuti langkahnya akhirnya juga mulai mengikuti keberadaannya yang sudah beranjak dari sana, karena memang mereka masih berniat mengikuti Alice dan mencoba untuk mencari tahu tentang kesehariannya.
Ada rasa takut sebenarnya tentang keberadaannya yang membuat beberapa pihak mengikuti dirinya itu. Namun tidak ada yang bisa dirinya lakukan untuk mencegahnya, karena dirinya takut bahwa hal itu akan memperburuk keadaanya, apalagi sepertinya dirinya mengetahui siapa sebenarnya yang mengirim pihak yang mengintainya itu.
Hingga setelah beberapa langkah mereka melangkah, semua pihak yang memang berada pada area itu dikejutkan dengan sebuah suara ledakan yang keras mulai terdengar. Tentu suara itu langsung menjadi bahan perhatian semua pihak yang berada disana termasuk Alice yang memang terkejut mendengarnya.
Hingga sebuah kenyataan saat ini bisa dirinya lihat, bahwa sumber suara ledakan yang terjadi itu berasal dari sebuah ban yang meledak dari mobil yang mengikuti langkahnya saat ini. Tentu dirinya terkejut melihat hal itu, apalagi mobil yang mengikutinya itu, keempat bannya mulai meledak secara bersamaan dan membuat kendaraan tersebut mulai berhenti tepat ditempatnya berada.
__ADS_1
"Ibu cepatlah!" hingga suara Kileni yang langkahnya sudah menjauh mulai mengejutkan sosok Alice yang masih memperhatikan kejadian itu.
Tentu semua pihak yang berada di sana mulai memperhatikan kejadian tersebut, tak terkecuali Alice yang juga melakukan hal yang sama. Namun yang tidak dirinya ketahui, ternyata sosok Zen, Kana dan Kileni malah tidak menghiraukan kejadian itu dan mulai melangkah menjauh dari lokasi tempat itu berada.
Hingga Kileni yang melihat Ibunya tertinggal dibelakang, tentu saja langsung memanggil dirinya karena memang sosoknya sudah tertinggal cukup jauh. Apalagi Zen dan Kana tidak memperdulikan kejadian yang terjadi itu karena memang bisa dikatakan Zen yang melakukan semua itu.
"Terima kasih, Tuan Zen." Dan begitulah ucapan Alice yang saat ini menyusul langkah dari Zen, karena memang dirinya tahu hal tersebut merupakan ulahnya.
Zen hanya mengangguk saja mendengar perkataannya hingga akhirnya mereka mulai melanjutkan perjalanan mereka, meninggalkan beberapa pihak yang mulai bingung dengan kondisi kendaraan mereka yang terlihat seluruh bannya meledak.
Bahkan yang lebih anehnya lagi bagi orang-orang yang berada di kendaraan tersebut, ban cadangan mereka yang terdapat pada bagasi mobil yang mereka kendarai itu, ternyata juga ikut meledak dan membuat mereka semua kebingungan dengan apa yang sebenarnya sudah terjadi kepada mereka.
"Ibu, kita mampir ke rumah Ayah, oke?" hingga setelah mereka memasuki wilayah dari perumahan tempat tinggal mereka, Alice dikejutkan kembali dengan permintaan Putrinya.
Memang Alice merasa sangat tidak enak dengan sudah merepotkan sosok Zen berkali-kali. Apalagi dirinya merasa segan bahwa pria itu selalu membantunya tetapi dirinya tidak pernah membalas kebaikan dari pria itu. Maka dari itu merasa sungkan untuk terus menerima perilaku baiknya kembali.
"Sudahlah, kamu juga bisa ikut. Apalagi apakah kamu tidak suntuk berada terus pada kediaman milikmu itu?" Ucap Zen yang akhirnya memaksa wanita itu ikut serta agar Putrinya bisa dirinya bawa menuju kediamannya.
Tentu Zen sama sekali tidak peduli apakah Alice ingin ikut atau tidak. Namun dirinya harus memastikan Kileni ikut dengannya menuju kediamannya. Apalagi Kana memaksa ingin mengajak Kileni mampir ke rumah mereka untuk menghabiskan waktu bersama di sana.
Apalagi bisa dikatakan Istrinya yang lain pasti akan senang dengan keberadaan Kileni pada kediaman mereka. Jadi, Zen ingin membuat Kileni bisa ikut dengan dirinya dengan membujuk Alice agar mau ikut dengannya juga, agar Putrinya itu bersedia ikut dengan mereka menuju kediaman tempat tinggal Zen dan Istri-istrinya.
"Iya, Ibu. Apalagi Ibu selama ini hanya sibuk berdiam diri di rumah saja jika tidak bekerja. Jadi, mari kita mengunjungi kediaman Ayah" ucap Putrinya.
__ADS_1
Tentu mendengarkan perkataan Putrinya ada rasa bersalah saat ini kembali Alice rasakan. Karena bisa terlihat Putrinya sebenarnya ingin menghabiskan waktunya keluar atau bermain dengan bebas, tetapi dirinya selalu sibuk dengan pekerjaannya hingga saat ini.
Apalagi disaat dirinya libur, Alice hanya memanfaatkan waktunya berdiam diri pada kediaman mereka untuk beristirahat. Bahkan dirinya masih melakukan pekerjaannya, padahal seharusnya dirinya menghabiskan waktunya bersama dengan Putrinya yang membutuhkan sebuah perhatian.
Hingga akhirnya yang bisa dirinya lakukan hanya mengangguk menjawab perkataan Putrinya itu, karena dirinya tahu bahwa mungkin dirinya sebenarnya bosan terus berada pada kediaman mereka, dan dirinya merasa bersalah jika dirinya terus mengabaikan permintaan Putrinya itu.
Karena memang semenjak mereka masih dikejar oleh para Vampire, Alice sama sekali tidak pernah membawa Kileni untuk sekedar berjalan-jalan keluar dari kediaman mereka untuk sekedar jalan-jalan atau mengajaknya bermain.
Jadi, Alice memutuskan untuk mengiyakan saja permintaan dari Putrinya itu, dan mungkin dengan bertamu pada kediaman Zen dan bercengkrama dengan Istri-istrinya, mungkin dirinya juga dapat menghilangkan perasaan lelahnya sejenak, karena dirinya sudah terlalu capek menjalani kehidupannya beberapa hari ini.
"Asik..." Dan begitulah ucapan bersemangat dari Kileni yang merasa bahagia keinginannya terkabulkan.
Melihat kebahagiaan Putrinya tentu membuat dirinya semakin merasa bersalah. Karena memang walaupun Alice menyempatkan waktunya untuk Putrinya, tetapi waktu itu hanya dirinya gunakan untuk mengantarkan ke sekolah, pergi menuju supermarket, dan setelah itu hanya berdiam diri saja didalam kediaman mereka.
Maka melihat bahwa Putrinya terlihat sangat bahagia hanya karena mengunjungi sebuah kediaman dari sosok yang dirinya anggap sebagai Ayahnya, membuat Alice merasa sangat amat bersalah bahwa selama ini dirinya tidak pernah mengajak Putrinya kemana-maan untuk menghabiskan waktu mereka.
"Wah... rumah Ayah bertambah besar" ucap Kileni tentang kediaman tempat tinggal Zen yang sudah berubah menjadi besar.
"Tentu saja. Apalagi ada ruang yang cocok untuk dirimu didalam kediaman Ayah yang besar ini" hingga begitulah balasan Zen yang saat ini membalas perkataan dari Kileni.
Dan begitulah bagaimana Zen langsung membawa masuk Alice dan Putrinya kedalam kediamannya. Namun satu hal yang membuat Alice terkejut memasuki kediaman dari Zen, yaitu dirinya langsung disambut dengan keberadaan banyak sekali wanita cantik yang bisa dikatakan sebagai Istrinya.
"Ho... Ternyata kamu juga ikut bertamu pada kediamanku ini, Alice?"
__ADS_1