Ex-Harem Lord

Ex-Harem Lord
Lewat Beberapa Waktu


__ADS_3

Hampir dua minggu penuh Vero berada di Kerajaan Suaminya. Dirinya banyak sekali disibukkan dengan berbagai hal, termasuk mempelajari tata Krama para bangsawan besar dari sebuah Kerajaan, yang diajarkan oleh seluruh saudarinya.


Tentu dirinya mempelajari berbagai hal tentang menjadi dan bersikap sebagai seorang bangsawan. Walaupun memang dipastikan dirinya akan jarang menggunakannya, karena bisa dikatakan kehidupannya yang seorang permaisuri akan disembunyikan kepada banyak pihak.


Tetapi tetap saja, dirinya sudah diajari berbagai hal. Bahkan bukan saja dirinya diajari cara bersikap, tetapi semua hal termasuk cara berbisnis dan sebagainya. Karena bisa dikatakan, dirinya akan mengemban beban yang berat untuk mengurus semua harta milik suaminya Zen.


Apalagi saat ini sebuah berkas yang banyak sudah diserahkan kepada dirinya oleh Alfred, dan dirinya diminta untuk menandatangani seluruh berkas yang saat ini dirinya terima itu. Namun tentu saja dirinya seakan tidak mampu melakukannya, karena melihatnya saja membuat Vero sedikit terkejut saat Alfred menunjukan semua berkas itu.


"A-Apakah ini tidak berlebihan, Tuan Alfred?" tanya Vero yang sudah membaca berbagai dokumen yang diberikan oleh Alfred kepada dirinya.


Saat ini Vero sudah berada didalam sebuah ruangan dari Perusahaan pusat Darkness Company pada Kerajaan ini. Pada ruangan itu, bisa dikatakan dirinya sedang melakukan pertemuan dengan Alfred dan seorang pengacara perusahaan itu yang merupakan Lucifer.


Bisa dikatakan pertemuan itu sama sekali tidak diharapkan oleh Vero, karena bisa dikatakan dirinya sedang disudutkan dengan sebuah kenyataan, yang dimana dirinya seakan dipaksa oleh kedua pihak itu untuk menerima keputusan mereka.


"Ini semua wasiat dari Tuan Pride kepada Suami anda, Nyonya Vero. Bahkan dirinya juga menulis, jika Tuan Zen tidak ingin mengelolanya, berikan saja kepada Istrinya yang kompeten jika dirinya memilikinya" begitulah Alfred membacakan wasiat dari Pride yang diserahkan kepadanya.


Memang kerja keras Pride selama ini dirinya tinggalkan seluruhnya kepada salah satu saudaranya, yang mungkin akan selamat dari semua hal yang mereka alami di dunia ini. Dan semua itu akhirnya jatuh ke tangan Zen yang notabennya pihak terakhir yang hidup dari keluarga mereka.


Pride sangat tau watak Kakaknya yang tidak akan mau mengelolanya, jadi dirinya membuat wasiat tambahan yaitu menyerahkan semua hartanya kepada sosok Istrinya jika Zen memilikinya. Tentu dengan persyaratan bahwa wanita itu memang pantas untuk mengelolanya.


Maka dari itu, tidak heran sikap Alfred saat ini seakan sedang memaksa sosok Vero untuk menerima dan menandatangani itu semua, karena memang Alfred hanya ingin mengikuti semua wasiat yang ditinggalkan oleh Pride kepada dirinya.


"T-Tapi, aku yang menjadi pemilik sekaligus CEO Darkness Company sangat berlebihan, Tuan Alfred." ucap Vero yang tentu saja menolak pemberian dari bawahan suaminya itu kepada dirinya.


"Tentu saja tidak berlebihan, Nyonya Vero. Anda dipastikan mampu mengelolanya dengan sangat baik. Apalagi, saya tidak akan lepas tangan sepenuhnya dalam membantu Anda mengelola seluruh aset milik suami anda" ucap Alfred yang meyakinkan Istri atasannya itu agar mau mengambil alih semua hal yang sudah ditinggalkan kepadanya.


Alfred sebenarnya tidak masalah jika terus mengurus harta milik Tuannya. Tetapi tetap saja dirinya harus menjalankan amanat untuk menyerahkan semua yang sudah dititipkan kepada dirinya kepada pihak yang seharusnya memilikinya.


Apalagi hal ini merupakan permintaan terakhir dari salah satu pihak yang paling dirinya hormati. Sehingga saat ini dirinya menginginkan agar semua wasiat yang ditinggalkan kepadanya harus segera berpindah tangan dengan cepat, karena Alfred tidak ingin memegang sepenuhnya peninggalan yang dititipkan kepadanya itu.

__ADS_1


Jadi, Alfred saat ini akan memberikan semua hal yang sudah ditinggalkan oleh atasannya terdahulu kepada pihak yang akan memegang semua hal yang seharusnya miliknya. Maka dari itu, dirinya saat ini bersikeras untuk memberikan aset yang sudah menjadi milik Zen kepada Istrinya.


"Mengapa kamu membuat Nyonya yang harus kamu layani pusing, Alfred." dan begitulah ucapan seorang pria yang baru tiba ditempat itu untuk menjemput Istrinya.


Namun Vero akhirnya bisa bernafas lega, karena penyelamat dirinya yang seakan dipaksa untuk berbuat keputusan akhirnya tiba ditempat ini. Apalagi, dirinya juga bingung harus bertindak seperti apa disaat Alfred seakan menekannya untuk menerima semua aset milik suaminya itu.


"Saya tidak membuatnya pusing, Tuan. Hanya memberitahukan kenyataan yang harus Nyonya Vero miliki disaat dirinya berada disisi anda" Balas Alfred yang membalas perkataan Tuannya.


Zen hanya tersenyum saja mendengar perkataan bawahannya itu. Karena dirinya tahu, dirinya merasa tidak enak untuk terus memegang seluruh harta yang bukan miliknya. Maka dari itu, dirinya ingin dengan segera menyerahkannya pada pihak yang seharusnya memilikinya.


Apalagi penyebab permasalahan ini dikarenakan Zen yang tidak ingin menerima semua peninggalan adiknya itu. Maka dari itu, Alfred terlihat sangat tertekan karena dirinya tidak bisa menepati janji yang ditinggalkan oleh Pride kepada dirinya.


"Sudahlah, terima saja Istriku. Kamu tidak lihat, Alfred sudah sangat kelelahan memegang semua aset ini sendirian" ucap Zen yang mulai duduk di samping Istrinya yang sedang memikirkan berbagai hal.


"Tapi aku belum sanggup untuk memimpin sem-"


"Alfred hanya ingin kamu memegang seluruh aset milikku saja. Perkataannya yang mengatakan kamu akan menjadi CEO juga hanya permintaannya yang tidak harus kamu kabulkan. Yang terpenting, dirimu memegang semua aset milikku, itu saja. Bukan begitu, Alfred?" tanya Zen dan mendapatkan anggukan dari Alfred yang menyetujui perkataannya.


Alfred bisa dikatakan sangat amat berat memegang semua harta yang seharusnya bukan miliknya. Apalagi, Zen yang sebenarnya harus memiliki itu semua malah menolak dengan mentah-mentah memegang semua harta yang seharusnya miliknya.


Maka dari itu, karena akhirnya Zen mempunyai seorang Istri, membuat Alfred akhirnya memutuskan agar semua harta peninggalan adik-adik Zen diberikan kepadanya saja, karena menurutnya Vero adalah orang yang cocok untuk memegangnya.


Namun sepertinya semua itu tidak berjalan dengan lancar. Karena setelah Vero merenungkan sesuatu tentang keputusan apa yang harus dirinya ambil, wanita itu mulai menatap suaminya yang saat ini masih duduk dengan tenang ditempatnya.


Bahkan Zen cukup kebingungan saat ini disaat Istrinya itu tiba-tiba menatapnya dengan tatapan yang menurutnya sedang memikirkan beberapa hal tersebut. Apalagi, biasanya beberapa orang yang menunjukan ekspresi itu kepadanya dipastikan akan membuatnya kerepotan.


"Kalau begitu, cepat tanda tangani dokumen pemindahan aset milikmu, Zen" ucap Vero yang mengejutkan Zen dan juga Alfred yang berada di sana.


"Aku? bukannya Alfred memberikannya kepadamu? Jadi, mengapa aku harus menandatangi dokumen tersebut? tanya Zen yang cukup kebingungan dengan perkataan Istrinya.

__ADS_1


"Keluarga kita akan besar kedepannya, Zen. Jadi, aku sangat tidak pantas memegangnya sendirian. Jadi, lebih baik kamu yang menerimanya dan kita bisa mengelolanya bersama-sama" ucap Vero yang menjelaskan maksudnya untuk menyuruh suaminya mengambil alih semua aset miliknya itu.


Vero sadar bahwa dirinya tidak akan menjadi Istri satu-satunya dari Zen. Maka dari itu, jika dirinya sendiri memegang asetnya, hal itu bisa dikatakan sangat egois bagi seluruh keluarganya kelak. Maka dari itu, dirinya bersikeras agar Zen yang memegang semua asetnya sendiri dan mereka akan mengelolanya bersama-sama.


Apalagi dirinya tidak mau dianggap seakan menjadi pihak yang memonopoli berbagai hal tentang Zen. Jadi, lebih baik semua hal yang menyangkut harta dan sebagainya, akan dipegang oleh Zen dan dirinya bisa mengelolanya atas keinginan dari suaminya tersebut.


"Saya setuju dengan perkataan Istri Anda, Tuan. Lebih baik anda sendirilah yang memegang aset Anda, dan kelak Anda akan mengurusnya bersama dengan seluruh keluarga Anda" ucap Alfred yang menyetujui perkataan Vero tersebut.


Mendengar permintaan mereka, tentu saja Zen hanya menghela nafasnya saat ini. Karena bisa dibilang dirinya sama sekali tidak ingin memegang semua itu. Maka dari itu, dirinya sedari dulu menolak dengan tegas bahwa dirinya harus memegang semua harta yang sebenarnya adalah miliknya tersebut.


Alasan Zen tidak ingin memegang seluruh aset yang seharusnya miliknya, bisa dikatakan karena dirinya tidak ingin direpotkan dengan semua itu. Tetapi karena hal ini merupakan permintaan Istrinya, akhirnya Zen hanya menghela nafasnya dan meminta dokumen tersebut kepada bawahannya.


"Tapi ingat, aku tidak akan berurusan dengan semua ini, oke?" ucap Zen yang mewanti-wanti bahwa dirinya cukup malas mengelola semua hartanya.


"Kamu bisa tenang, Zen. Aku sendiri yang akan mengelolanya bersama Alfred" ucap Vero yang meyakinkan suaminya menerima peninggalan dari semua adiknya yang harusnya berada ditangannya.


Lucifer yang notabennya menjadi Pengacara dan bisa dikatakan merangkap sebagai notaris, saat ini mulai menyerahkan beberapa dokumen yang sudah dipersiapkan untuk ditandatangani oleh Zen, karena akhirnya dirinya mau memegang seluruh hartanya sendiri.


Dengan diawasi oleh Lucifer sendiri yang sudah menyerahkan dan menunjukan tempat dimana Tuannya itu harus menandatangi dokumen yang dirinya serahkan tersebut, saat ini Zen akhirnya mengambil alih semua harta miliknya dan sudah resmi menjadi pemilik tunggal dari semua aset miliknya yang dahulu dipegang oleh Alfred selama ini.


"Baiklah. Sudah beres semua bukan?" tanya Zen yang sudah menandatangani semua berkas untuk kelangsungan keluarganya kelak.


"Sudah, Tuan. Semuanya sudah selesai, dan kami akan memprosesnya" ucap Lucifer yang sudah mengumpulkan semua dokumen itu kembali, dan bersiap mengesahkannya dimata hukum agar semuanya itu akan sah.


Alfred tentu saja merasa senang, karena akhirnya Tuannya sudah mengambil semua hal yang menjadi beban bagi dirinya. Bahkan dirinya sudah merasa lega, karena akhirnya wasiat yang ditinggalkan oleh Pride bisa dirinya selesaikan saat ini.


"Baiklah, karena semuanya sudah selesai, kalau begitu cepat siapkan pesawat. Karena aku akan ke Hawaii bersama Istriku untuk berbulan madu" Ucap Zen yang saat ini mulai meraih tangan Istrinya dan bersiap menghabiskan waktu mereka berdua.


Bisa dikatakan hari yang ditunggu oleh mereka berdua akhirnya tiba. Yang dimana semua urusan mereka yang menyangkut tentang permalasahan Kerajaan semuanya sudah terselesaikan dan dilewati oleh Vero dengan baik beberapa hari belakangan ini.

__ADS_1


Maka dari itu, setelah semuanya selesai, Zen akan mengajak Vero untuk berbulan madu seperti janji yang pernah mereka buat saat akan datang ketempat ini. Apalagi, Hawaii masihlah wilayah kerajaan dari Zen dan membuat mereka bisa dengan leluasa menghabiskan waktu mereka di sana dengan sangat bebas.


"Untuk itu, Kami sudah menyiapkannya, Tuan. Anda bisa langsung berangkat untuk berbulan madu dengan Istri Anda saat ini"


__ADS_2