Ex-Harem Lord

Ex-Harem Lord
Bertindak Kurang Ajar


__ADS_3

Vero masih memproses tentang apa yang baru saja terjadi terhadapnya. Yang dimana, saat ini bisa dikatakan dirinya sedang bingung dengan apa yang sedang terjadi, karena bisa dikatakan bukan inilah yang dirinya harapkan terjadi kepada dirinya saat ini.


Membuat kegaduhan, terancam diusir, lalu dengan terang-terangan memusuhi beberapa pihak berkuasa. Namun saat ini, seseorang pihak yang memegang seluruh aset orang terkaya di dunia, saat ini berinisiatif mengajaknya berbincang secara pribadi.


Jadi, saat ini Vero cukup bingung harus berekspresi seperti apa menanggapi apa yang sedang terjadi kepada dirinya. Dan saat ini mencoba mencubit dirinya sendiri untuk memastikan apakah yang dirinya alami saat ini bukanlah sebuah mimpi.


“T-Tentu saja saya merasa terhormat, untuk menerima undangan Anda, Tuan Alfred” ucap Vero yang merasa senang, karena dirinya diberikan panggung untuk berbincang dengan pihak yang sangat penting saat ini.


Siapa yang tidak terkejut mendengar ajakan yang diberikan Alfred kepada Vero yang dilontarkan oleh Alfred tadi. Apalagi, pria itu sendiri yang berinisiatif untuk melakukan hal tersebut. Tentu hal itu langsung membuat beberapa pihak mulai iri melihatnya.


Penyelenggara acara ini, termasuk salah satunya. Bahkan dirinya yang bersusah payah mengundang pihak tersebut, namun saat ini tamu undangan yang datang dan coba dirinya usir tadi, malah mendapatkan kesempatan yang bagus untuk bisa berbincang dengannya.


Bahkan Presiden negara ini yang meminta pertemuan saja dengannya tadi, bisa dikatakan tidak langsung diberikan jawaban. Bahkan bisa dikatakan pihak Alfred menolak permintaannya. Namun berbeda dengan beberapa pihak yang menyaksikan adegan tersebut tadi.


Karena seperti yang dilihat, Alfred sudah dengan jelas mengatakan bahwa dirinya ingin bertemu Vero dan akan mengajaknya membincangkan sesuatu. Tentu, Vero tidak tahu tentang apa pembicaraan yang akan mereka lakukan, tetapi karena pihak yang mengundangnya adalah orang yang sangat penting, maka dari itu dirinya langsung mengiyakan permintaannya.


“Lalu, kalau begitu mari kita pergi mencari sebuah tempat yang baik untuk berbincang. Karena seperti yang diketahui, anda sudah diusir dari tempat ini, Nona Vero” ucap Alfred yang akan mengajak Vero untuk pergi dari tempat yang sudah mengusir keberadaannya.


“B-Baiklah, Tuan Alfred” ucap Vero yang dengan cepat menarik tangan Zen, agar pria itu dengan cepat ikut bersamanya untuk mengikuti sosok dari Alfred yang akan beranjak dari sana.


Sambil tersenyum setelah melihat tingkah bawahannya itu, Zen yang lengannya mulai ditarik dengan paksa untuk mengikuti Istrinya, akhirnya mulai berjalan berdampingan dengannya untuk mengikuti langkah bawahannya itu yang akan mengajak mereka untuk pergi dari sana.


“Oh... Tuan Bram, senang bertemu dengan anda” ucap Alfred, yang tidak lupa menyapa pihak yang memang melindungi sosok yang penting bagi Alfred ditempat ini tadi.


Mendapatkan perkataan demikian, tentu membuat Bram langsung menyambut dengan perasaan yang senang sapaan dari orang yang penting itu terhadapnya. Bahkan mereka sempat berbincang sejenak tentang kerja sama yang mereka lakukan, sebelum akhirnya Alfred melanjutkan langkahnya.


Memang setelah Zen memberikan kontak dari Alfred kepada Bram secara langsung, kedua orang itu akhirnya sudah membuat kesepakatan kerja sama, yang dimana Bram mendapatkan perusahaan yang bersedia membeli berbagai hasil tambang yang baru saja dirinya hasilkan.


Tetapi disisi lain, seorang pria kembali merasa depresi melihat pemandangan tersebut. Karena bisa dibilang, dua orang yang dirinya coba usir tadi, menjadi pihak yang sangat dipedulikan oleh pria bernama Alfred ditempat ini. Bahkan, dirinya sangat berharap bahwa kejadian yang terjadi saat ini, tidak akan mempengaruhi keadaan dirinya.


“Kalau begitu, sampai jumpa lagi Tuan Bram” ucap Alfred yang akhirnya melanjutkan langkahnya yang akan beranjak dari tempatnya berada saat ini.


Namun melihat keberadaannya akan beranjak dari acara tersebut, Ayah Tristan atau Hendra saat ini tentu saja langsung menghalangi langkahnya. Tentu saja dirinya tidak akan membiarkan pihak yang sangat penting itu pergi, dari acara yang dirinya selenggarakan itu dengan cepat.

__ADS_1


“A-Anda tidak perlu pergi kemanapun, Tuan. Kami akan menyediakan anda dan Nona Vero sebuah ruangan untuk saling berbincang” ucap Hendra yang memang langsung menghalangi kepergian dari Alfred dengan menawarkan sebuah tempat kepada mereka.


“Tetapi, saya ingin berbincang dengan pihak yang baru saja anda usir keberadaanya, Tuan Hendra” ucap Alfred yang menjawab perkataannya itu.


Tentu jika tahu akan menjadi seperti ini, Hendra tidak akan dengan mudah mengeluarkan perkataan yang langsung mengusir pihak Vero tadi. Bahkan, dirinya merasa menyesal karena bisa dikatakan dirinya akan dicap tidak baik oleh pihak yang berada didepannya.


Memang, walaupun bisa dikatakan dirinya merupakan orang terkaya di negara ini. Tetapi Alfred merupakan sesuatu yang berbeda. Karena dirinya merupakan seseorang yang bekerja dibawah orang terkaya di dunia ini, dan menjalankan seluruh bisnis yang dirinya punya.


Maka dari itu, sosoknya akan sangat amat dihormati oleh berbagai pihak yang berada di dunia ini, atas dirinya yang merupakan pemegang seluruh aset milik Zen yang bisa dikatakan sebagai orang terkaya di dunia ini, dan sosoknya tidak pernah diketahui oleh siapapun.


“Maafkan saya karena mau mengusir pihak yang ingin anda temui, Tuan Alfred. Karena bisa dikatakan apa yang terjadi merupakan kesalahpahaman, maka dari itu saya tidak akan melakukannya lagi dan akan meminta maaf secara langsung kepada Nona Vero atas apa yang terjadi” ucap Hendra yang berusaha dengan keras agar pihak itu tidak akan pergi dari tempat ini.


Memang banyak hal yang ingin dirinya diskusikan dengan Alfred. Apalagi, jika memang Alfred bersikeras untuk keluar dari tempat ini, bisa dipastikan namanya akan tercoreng dan dirinya tidak ingin hal tersebut terjadi kepada dirinya.


Dan juga, dirinya berusaha untuk memperbaiki semua hal yang bisa dikatakan bisa menyinggung sosok dari Alfred, jika dirinya tidak segera membereskannya. Karena bisa dikatakan, dirinya akan hancur sepenuhnya jika hal tersebut terjadi.


“Tetapi, saya juga belum menyantap makanan sama sekali sedari tadi. Dan yang saya dengar, bahwa acara ini tidak memperbolehkan tamu yang datang kesini untuk memakan hidangan yang sudah dihidangkan ditempat ini, dengan jumlah yang sangat banyak” ucap Alfred yang saat ini mulai menembak tentang sesuatu yang terjadi ditempat ini tadi.


Memang Alfred sudah mengetahui apa yang terjadi kepada Tuannya yang seakan dipermalukan tadi karena tindakannya yang sedang menyantap makanannya tadi. Jadi, Alfred saat ini mencoba membawa permasalahan itu, untuk memberi pelajaran kepada pihak yang berani-beraninya melakukan hal itu kepada Tuannya.


Sebenarnya dirinya pada awalnya juga tidak mempermasalahkan sikap Zen yang menyantap makanannya tadi. Namun karena perkataan Putranya yang sepertinya menambahkan beberapa bumbu penyedap rasa pada perkataannya, membuat Hendra bertindak impulsif dan terbawa emosi hingga menjalar pengusiran kepada mereka.


“Siapa bilang Tuan Alfred. Kami tentu saja akan membiarkan semua tamu yang datang ketempat ini menyantap semua hidangan yang sudah kami siapkan” ucap Hendra yang masih mencoba menyelamatkan citranya saat ini.


“Benarkah?” balas Alfred kembali, yang mempertanyakan pernyataan itu.


“Tentu saja. Kalau begitu, apakah saya harus menyediakan anda sebuah ruangan, dan beberapa hidangan untuk anda, tuan Alfred?” dan begitulah cara terakhir dari Hendra untuk membuat pria dihadapannya mengurungkan niatnya.


Alfred akhirnya hanya mengangguk saja menjawab perkataannya, menandakan bahwa dirinya setuju dengan perkataannya itu dan tentu saja membuat Hendra langsung bernafas lega. Sehingga pria itu langsung menyuruh beberapa bawahannya untuk menyediakan beberapa hal yang diinginkan oleh Alfred dengan sesegera mungkin.


“Kalau begitu, mari saya hantarkan menuju ruangan yang sudah kami siapkan untuk anda, Tuan Alfred, Nona Vero” ucap Hendra yang mulai menuntun mereka untuk menuju tempat yang yang akan digunakan oleh Vero dan Alfred untuk melakukan pertemuan mereka.


Alfred akhirnya mulai mengikuti langkah dari pria yang sudah menuntunnya, dan sedang bertindak seakan seperti seorang pelayan yang berada ditempat ini. Karena bisa dikatakan, kekayaan yang dipegang oleh Alfred, bisa dikatakan dapat membuat sesosok pihak penting di negara ini harus berperilaku seperti itu untuk menebus kesalahannya.

__ADS_1


Bahkan, Vero yang sedari tadi menyaksikan perdebatan itu, saat ini semakin mengeratkan pelukannya pada lengan dari suaminya, dan mereka berdua juga mulai mengikuti langkah Alfred dan asistennya yang saat ini sudah mengikuti sosok Hendra.


Akhirnya tempat itu hanya dipenuhi dengan suara kaki yang mulai beranjak dari tempatnya. Karena bisa dikatakan, seluruh pihak yang berada di sana hanya diam melihat semua kejadian yang sudah terjadi ditempat tersebut, dan tidak ingin ikut campur lebih lanjut atas kejadian yang membuat mereka terkejut tadi.


“Ini ruangan Anda, Tuan Alfred. Dan untuk hidangannya, kami akan membawanya secara langsung menuju ruangan anda nanti” ucap Hendra yang mulai mempersilahkan Alfred, asisten pribadinya, lalu Vero dan Zen untuk memasuki ruangan tersebut.


Sebuah ruangan mewah mulai menyambut kedatangan keempat orang tersebut, yang dimana pintu ruangan tersebut akhirnya mulai ditutup oleh Hendra saat pihak yang yang diantarnya sudah masuk kedalamnya. Namun anehnya, saat mereka semua sudah masuk kedalamnya, semua pihak yang berada di sana seakan tidak ingin untuk terlebih dahulu mengambil tempat duduk mereka.


Bahkan Vero yang pada awalnya mengkhawatirkan bahwa keberadaan Suaminya tidak diperbolehkan untuk hadir dalam perbincangan tersebut, saat ini mulai teralihkan disaat dirinya melihat sosok Alfred yang seakan sedang menunggu sesuatu.


Tetapi, sebuah kejadian langsung terjadi dan membuat Vero langsung terkejut dibuatnya. karena bisa dibilang, keberadaannya yang masih memeluk lengan Zen dengan erat saat ini mulai ditarik oleh suaminya itu, agar mereka mengambil tempat mereka untuk duduk terlebih dahulu.


“Z-Zen, apa yang kamu lakukan?” ucap Vero panik melihat tingkah dari Suaminya itu.


Tentu karena Alfred merupakan sosok yang sangat besar namanya, maka dari itu Vero menunggu pria itu untuk mengambil tempatnya terlebih dahulu, dan mulai duduk setelah pria itu mempersilahkannya untuk duduk pada tempatnya.


Namun, saat ini sosok suaminya yang paling dirinya cintai itu, mulai berperilaku seenaknya dengan langsung menyeretnya dan mengambil sebuah tempat duduk. Maka dari itu, dirinya cukup panik melihatnya, karena mungkin sosok Alfred akan menganggap mereka tidak sopan atas tindakan mereka.


“Apa yang kamu lakukan, Zen. Tolong jangan mempermalukan diriku” bisik Vero, yang mencoba menghentikan tindakan suaminya yang dirinya anggap sedang bertindak tidak sopan dihadapan Alfred.


“Siapa yang mempermalukan dirimu?” ucap Zen dengan lantang, dan langsung membuat Vero mulai menelan ludahnya atas sikap dari suaminya.


Vero tentu saja langsung memberikan tatapan yang sangat kesal kepada suaminya. Karena bisa dikatakan, sikapnya itu mungkin akan menyinggung sosok yang saat ini sedang memperhatikan mereka. Apalagi, dirinya tidak mau, bahwa akibat kejadian Zen berperilaku seenaknya, mereka mendapatkan sebuah masalah.


Tentu Vero langsung menatap sosok Alfred dan memperhatikan raut wajahnya untuk memastikan apakah pria itu terlihat kesal atau tidak. Namun apa yang dirinya bayangkan tadi, sepertinya tidak terjadi karena bisa dikatakan pria itu hanya menunjukan ekspresi raut wajah yang tersenyum melihat tingkah mereka.


“Ah... kamu bisa duduk Alfred” ucap Zen, yang langsung membuat Vero melotot kearahnya.


Zen dan Vero memang sudah duduk ditempat mereka. Bahkan, Vero yang ditarik dan dipaksa duduk oleh Zen, dengan segera ingin bangkit dari sofa yang sudah dirinya duduki tadi dan ingin segera meminta maaf kepada Alfred atas tindakan dari suaminya.


Namun belumlah sempat dirinya melakukannya, perkataan yang keluar dari mulut suaminya itu, semakin membuatnya merasa jantungan. Karena selain mereka sudah bersikap tidak sopan dihadapannya, suaminya saat ini memanggil pihak yang penting itu dengan namanya secara langsung.


Maka dari itu, Vero cukup bingung bagaimana cara mensiasati kejadian ini, jika Alfred benar-benar marah atas sikap suaminya tersebut. Namun, apa yang dipikirkan oleh Vero itu sepertinya tidak akan terjadi. Bahkan bisa dikatakan, dirinya langsung terkejut, dengan jawaban yang diberikan Alfred atas perkataan yang dilontarkan oleh Zen kepadanya.

__ADS_1


“Baiklah Tuan”


__ADS_2