
Entah apa yang membuat para Vampire yang merupakan sekelompok mahluk mistik, akan terang-terangan mencoba mengacaukan tatanan dunia menggunakan kekuatan mereka. Bahkan hingga saat ini rencana mereka bisa dikatakan cukup berhasil, karena perbuatan mereka cukup membuat kacau keadaan dunia saat ini.
Hampir semua wilayah di dunia ini, dipastikan memiliki sekelompok Vampire yang berada ditempat tersebut, untuk menjalankan rencana mereka untuk menguasai seluruh dunia. Dan itulah yang sedang dicoba untuk dihalangi oleh para Dewa Shinto saat ini
“Menguasai dunia?” tanya Zen sekali lagi mencoba memastikan perkataan yang dikatakan seorang Dewi yang berbicara dengannya saat ini.
“Iya. Bahkan rencana yang mereka lakukan itu, sudah berjalan selama ratusan tahun lamanya” balas Amaterasu yang saat ini sedang berbincang dengan Zen.
Memang Zen membiarkan saja pihak Dewa yang bersamanya berada di lokasi bekas pertempuran ini, untuk menyelesaikan urusan mereka ditempat ini. Saat ini, beberapa bawahan yang dibawa oleh Amaterasu dan masih hidup, mencoba mencari beberapa informasi yang mereka butuhkan, untuk mencari informasi tentang keberadaan seluruh markas dari Vampire yang berada di dunia ini.
Apalagi, siapa yang tidak senang jika ada sebuah pihak yang akan membantunya untuk membereskan masalahnya, tanpa harus ikut repot menyelesaikan permasalahan tersebut. Jadi Zen dengan senang hati membiarkan mereka melakukan apapun yang mereka mau ditempat ini.
“Lalu, bukankah pihak Dewa akan mudah menemukan mereka? Karena setahuku, setiap mahluk mistik yang berada di dunia ini akan diawasi langsung oleh seluruh Dewa yang berada di dunia ini bukan?” tanya Zen kemudian.
“Memang benar Tuan Sloth, tetapi entah mengapa mereka bisa melarikan diri dari pengawasan kami.” Kata Amaterasu yang membuat Zen langsung mengerutkan keningnya mendengar jawaban yang diberikan olehnya.
“Tunggu... katamu mereka bisa menyembunyikan keberadaan mereka dari para Dewa?” tanya Zen yang kebingungan, setelah dirinya mendengar perkataan dari Amaterasu tadi.
Tentu perkataan Amaterasu membuat Zen merasa aneh, karena dirinya tahu seberapa kuat kekuatan Dewa. Namun perkataan Amaterasu tadi, seakan mengisyaratkan bahwa seorang mahluk rendahan bisa menyembunyikan diri mereka dari pengawasan para Dewa, yang menurut Zen sangatlah aneh bagi dirinya.
“Benar Tuan Sloth. Bahkan kami masih mencoba menyelidikinya hingga saat ini, mengapa mereka bisa menyembunyikan keberadaan mereka dari pandangan kami” balas Dewi itu kembali.
Zen sebenarnya mempunyai sebuah hipotesa mengapa para Vampire bisa menyembunyikan dirinya dari pihak Dewa. Namun dirinya memutuskan untuk menyimpan pemikirannya itu untuk dirinya sendiri, karena memang jika dirinya mengutarakan apa yang dirinya pikirkan itu sekarang, pasti pihak Dewa didepannya akan menuntutnya untuk membeberkannya dan hal itu akan sangat merepotkan menurut Zen.
Tentu Amaterasu mengetahui bahwa pria yang sedang dirinya ajak bicara mungkin mengetahui sedikit beberapa informasi tentang para Vampire. Apalagi Zen bisa mengetahui tempat ini dengan mudah, jadi dirinya dipastikan mengetahui beberapa hal tentang mereka.
Tetapi tetap saja dirinya tidak bisa menanyakan hal tersebut secara langsung kepada Zen, karena dirinya tahu bahwa pria didepannya akan bertindak jika dirinya ingin dan tidak akan langsung menanggapi perkataan seseorang jika memang dirinya tidak ingin melakukannya.
“Lalu, mengapa anda ingin membantai para Vampire yang berada disini Tuan Sloth?” tanya Amaterasu kembali, yang mencoba menggali sedikit informasi dari pria yang berada dihadapannya.
__ADS_1
Tentu Zen langsung mengutarakan maksud pembantaian yang dirinya lakukan, dan membuat Amaterasu hanya tercengang saja mendengar alasannya. Tentu siapa yang menyangka, sekelompok terorganisir seperti para Vampire yang berada ditempat ini, akan musnah hanya karena mengacaukan kediaman dari orang yang salah.
“Begitulah... makanya aku sangat kesal dengan keberadaan mereka” ucap Zen yang mengakhiri monolog yang dilakukan oleh dirinya.
Amaterasu hanya mengangguk saja mendengar alasan yang diberikan oleh Zen, yang menjadi penyebab para Vampire ditempat ini musnah. Apalagi dirinya mulai memutuskan sesuatu didalam benaknya, untuk setidaknya tidak mencari masalah yang sama dengan para Vampire yang sudah menjadi korban ditempat ini.
Akhirnya perbincangan mereka berakhir setelah seluruh anak buah Amaterasu sudah keluar dari reruntuhan bekas sebuah kastil dari Vampire yang tinggal ditempat ini. Namun naas, seperti markas yang pernah mereka hancurkan dahulu, markas ditempat ini juga tidak mempunyai informasi apapun tentang keberadaan markas yang lainnya, maupun markas utama dari para kelompok Vampire.
“Hahh... aku kira tempat ini akan berbeda” gumam Amaterasu yang menyayangkan tempat yang hampir membuatnya celaka tadi, tidak membuahkan atau memberi informasi yang dirinya butuhkan.
Dengan menyelesaikan tugas mereka, akhirnya Amaterasu langsung menghancurkan seluruh tempat ini menjadi abu. Karena dirinya sudah berjanji kepada Zen untuk melenyapkan seluruh bangunan yang berada didalam goa tempatnya berada, setelah dirinya selesai menyelesaikan urusannya ditempat ini.
Dan akhirnya, sebuah markas yang megah yang berada didalam goa, saat ini sudah rata dengan tanah. Dengan hal itu, dipastikan kegiatan para Vampire yang meresahkan negara ini bisa dikatakan berakhir, setelah tempat mereka berlindung dan bersembunyi bisa dikatakan sudah musnah sepenuhnya.
“Yap... akhirnya selesai” ucap Zen yang melihat seluruh area tempatnya berada sudah rata menjadi tanah.
Mendengar permintaannya, Zen langsung menatap Bari dan menyuruhnya melepaskan barier yang masih mengurung mereka ditempat ini. Setelah melihat bahwa barier yang dibuat oleh Bari sudah menghilang, akhirnya pihak Dewi Amaterasu langsung berpamitan kepada Zen dan mulai beranjak dari sana.
“Lalu, apakah kita langsung kembali Tuan?” tanya Bari setelah melihat Dewi Amaterasu dengan bawahannya sudah beranjak dari tempatnya menggunakan sebuah portal teleportasi.
“Yap... karena urusan kita sudah selesai disini, mari kita kembali” ucap Zen.
Tentu Bari langsung membuka sebuah kabut portal untuk membawa dirinya bersama Tuannya pergi dari sana, karena memang urusan mereka di Goa yang sudah rata dengan tanah ini sudah selesai.
Tetapi setelah Zen dan Bari sudah beranjak dari sana dan menghilang, beberapa bayangan mulai memasuki goa yang sudah hancur itu, yang dimana salah satu dari mereka terlihat sangat marah melihat kejadian yang terjadi ditempat ini.
“Kami bisa merasakan aura kedewaan dari Dewa Shinto Tuan” ucap salah satu orang dari rombongan orang yang datang ketempat tersebut.
Tentu pemimpin mereka yang mendengar hal itu langsung terlihat emosi dibuatnya, karena pihak Dewa Shinto berhasil menemukan salah satu markas cabang dari organisasinya ditempat ini. Tentu yang membuat dirinya emosi, karena markas ini merupakan salah satu markas yang paling berharga dari organisasinya
__ADS_1
Jadi, saat melihat tempat itu hancur, dirinya merasakan perasan yang sangat amat emosi, karena memang hancurnya tempat ini akan sangat berdampak dengan kelangsungan kegiatan organisasi miliknya.
“Tetapi, artefak apa yang digunakan para Dewa tersebut untuk menghalangi visi kita melihat sesuatu yang berada ditempat ini” ucap pemimpin mereka kepada bawahannya.
Tentu yang mereka maksud sebenarnya bukan sebuah artefak. Karena memang barier yang diciptakan oleh Bari benar-benar mengisolasi apapun yang berada didalamnya. Jadi apapun yang terjadi didalam barier tersebut, tidak akan pernah bisa diketahui oleh orang-orang yang berada diluar area barier milik Bari.
“Itu dia yang kami tidak tahu Tuan. Apalagi, segel jiwa yang kita tempatkan pada seluruh Vampire yang berada ditempat ini, sepenuhnya tidak kembali kepada kita” ucap salah satu bawahannya.
Memang segel jiwa yang mereka maksud, adalah sebuah segel yang mereka pelajari dari pihak yang berhasil mengajarkan cara menyembunyikan keberadaan mereka dari pihak Dewa, agar mengetahui siapa yang membunuh seluruh rekan mereka yang mereka tanamkan segel tersebut.
Namun anehnya, hanya sebagian segel jiwa saja yang berhasil kembali saat beberapa Vampire ditempat ini meninggal. Dan jiwa tersebut tentu menunjukan bahwa Dewi Amaterasu yang membunuh mereka beserta anak buahnya.
“Tetapi yang disayangkan, Pedang Ame no Ohabari juga sepertinya telah hilang Tuan. Karena saat ini aku tidak bisa merasakan keberadaannya ditempat ini” ucap salah satu bawahannya kembali.
Mendengar itu, tentu pemimpin mereka langsung memukul dinding Goa tempat dirinya berada, untuk melepaskan kemarahan yang sedari tadi sudah terkumpul didalam dirinya. Apalagi salah satu senjata yang sangat berharga milik organisasinya saat ini sudah hilang.
“Siapa yang memutuskan untuk meminjamkan senjata itu kepada mereka!” teriak pemimpin mereka yang merasa sangat marah.
“Maafkan saya Tuan, tetapi memang senjata itu dipinjamkan oleh Tuan Loki kepada mereka” balas salah satu dari bawahannya kembali.
Dan sekali lagi, kemarahan terus muncul didalam dirinya setelah mendengar seorang yang suka ikut campur permasalahan organisasi yang dibentuknya, kembali bertindak dengan seenak hatinya dan menyebabkan kerugian yang sangat besar bagi dirinya.
Memang benar, bekerja sama dengan dirinya sangat menguntungkan. Tetapi tetap saja, dirinya merasa rugi saat ini karena keputusan yang dibuat oleh orang yang bekerja sama dengannya itu.
“Lalu, apa yang harus kita lakukan pada tempat ini Tuan?” tanya bawahannya kembali.
Tentu pemimpin yang saat ini dibutuhkan keputusannya oleh para bawahannya mencoba untuk meredakan emosinya, untuk memikirkan solusi yang terbaik untuk menyelesaikan permasalahan yang terjadi ditempat ini.
“Kita tidak boleh meninggalkan Negara yang kaya ini. Kirimkan yang lainnya dan buatlah markas yang baru”
__ADS_1