
Sebuah lorong rumah sakit pada sebuah bangsal VIP, saat ini dipenuhi oleh suara tangisan dari seorang wanita. Tentu jika ada orang yang mendengar tangisannya, akan langsung berempati dengan dirinya. Karena memang tangisannya itu mencerminkan rasa keterpurukannya tentang apa yang baru saja terjadi dengan salah satu anggota keluarganya.
Tangisannya itu hingga saat ini tidak terhenti, karena memang dirinya menyaksikan sendiri bahwa putra satu-satunya mengalami sebuah musibah yang sangat mengenaskan. Bahkan dirinya tidak sanggup melihat keadaannya saat ini, karena merasa sangat terpukul jika dirinya melihat keadaan putranya itu.
Kedua tangan dan kakinya patah, bahkan saat ini putranya itu tidak sadarkan diri dan membuatnya semakin khawatir dengan kondisi dari putranya tersebut. Apalagi, sebuah rumah sakit ternama di kota ini, menolak merawat kondisi putranya tersebut.
“Mengapa Rumah Sakit Light Hope menolak merawat putra kita, Suamiku?” tanya sang wanita kepada suaminya, karena dirinya memang ingin putranya mendapatkan sebuah penanganan yang baik untuk kesembuhan kondisinya.
“Aku juga tidak tahu sayang. Bahkan aku sudah menghubungi secara langsung asisten pribadi dari Nona Amelia, tetapi mereka tetap menolak mengijinkan putra kita dirawat di sana” balas sang suami kepada istrinya yang masih terlihat sedih itu.
Tentu siapa yang tidak ingin salah satu anggota keluarga mereka yang sedang sakit, menerima perawatan yang baik dari sebuah rumah sakit terbaik. Namun anehnya, perawatan putra mereka ditolak penanganannya oleh salah satu rumah sakit terbaik di wilayah ini bahkan di Negara ini.
“Apakah hubungan perusahaan kita dengan Darkness Company sedang memburuk sayang?” tanya sang istri kembali, karena tidak seperti biasanya rumah sakit terbesar yang cabangnya terletak di seluruh dunia itu, menolak seorang pasien apalagi seorang dari kalangan konglomerat seperti mereka.
“Tentu saja tidak Sayang. Aku tidak pernah mencari masalah dengan perusahaan sebesar itu” balas Suami dari wanita itu kemudian.
Memang mereka sebenarnya ingin agar putra semata wayang mereka dirawat pada sebuah rumah sakit terbesar yang ada di Jakarta. Namun anehnya, perawatan putra mereka ditolak dari pihak rumah sakit tersebut dan membuat mereka kebingungan.
Apalagi mereka tidak pernah mencari masalah dengan perusahaan yang menaungi salah satu cabang rumah sakit, dari sebuah rantai bisnis rumah sakit terbesar di dunia saat ini, yang berada dibawah naungan Darkness Company itu.
“Lalu Xin Wei, mengapa semua ini bisa terjadi? Apakah kamu tidak bisa mengalahkan seseorang yang menyerang Putraku itu?” ucap pria yang langsung menatap bawahan, yang sedari tadi hanya berdiam ditempatnya saja.
Xin Wei memang masih setia menunggu dan menjaga keberadaan dari anak Tuannya. Karena memang dirinyalah yang membawanya ketempat ini, dan langsung menghubungi kedua orang tuannya sambil menjaga dirinya hingga kedua orang tuanya tiba ditempat ini.
“Maaf Tuan, tetapi sepertinya Tuan Muda mencari masalah dengan orang yang salah” balas Xin Wei kepada majikannya itu.
“Apa maksudmu orang yang salah? Apakah seorang kultivator seperti dirimu tidak mampu melawannya?” tanya pria itu kembali.
Xin Wei merupakan salah satu kultivator dari Kerajaan Cina. Dirinya merupakan salah satu kultivator yang biasa disewa oleh beberapa pihak yang mengetahui keberadaan dari mereka.
__ADS_1
Memang keluarga Richard merupakan keluarga yang sudah sukses secara turun temurun, dan mereka tentu saja mengetahui sebuah kebenaran tentang keberadaan beberapa orang dengan kemampuan khusus yang berada di dunia ini.
Apalagi, keluarga mereka sudah menyewa jasa para kultivator selama bertahun-tahun dan salah satunya Xin Wei, yang menjadi pelindung dari keluarga mereka saat ini.
“Maafkan aku Tuan. Tetapi orang yang melukai Tuan Muda merupakan seseorang yang sepertinya menekuni aliran kekuatan seperti kami” Balas Xin Wei kepada Tuannya itu.
“Aku tidak mau tahu. Pria yang melakukan semua ini kepada Putraku, harus menerima balasan yang setimpal” ucap istri dari pria yang sedang berbincang dengan bawahannya itu.
“Tapi Nyony-”
“Aku tidak mau tahu. Aku akan menyewa jasa dari seluruh orangmu, dan aku ingin pria itu harus berada di hadapanku secepat mungkin, dengan keadaan yang lebih parah dari apa yang dirinya lakukan kepada putraku” balasnya lagi, yang dimana kesedihannya saat ini sudah berubah menjadi emosi.
Tentu karena itu adalah permintaan istrinya, mau tidak mau suami dari wanita itu harus menuruti kemauannya. Apalagi dirinya sebenarnya juga merasa sangat marah dengan apa yang dialami oleh putranya, yang merupakan seorang pewaris utama dari keluarganya.
Hingga akhirnya mereka sudah memutuskan, bahwa orang yang melakukan itu semua kepada putra mereka, harus mengalami hal yang sama atau bisa dikatakan lebih parah, untuk membalaskan semua hal yang pernah dirinya lakukan.
Disisi lain, seorang pria entah mengapa telinganya sedari tadi terasa sangat amat gatal. Bahkan dirinya mencoba menghilangkan rasa gatal itu sedari tadi, namun tetap saja rasa itu tidak hilang dari telinganya hingga saat ini.
Hingga akhirnya, rasa gatal itu mulai berkurang sedikit demi sedikit dan membuat Zen akhirnya bisa bernafas lega dan bersiap untuk beristirahat, pada sebuah tempat tidur yang akan ditidurinya di kamar hotel yang sudah disewa oleh Vero dan dirinya.
“Zen, bisakah aku hari ini tidur di tempat tidur? karena keesokan harinya aku harus mengurus sesuatu yang amat sangat penting” tanya Vero yang melihat Zen sudah siap untuk tidur di atas tempat tidur dari kamar yang mereka sewa.
“Oh... silahkan. Siapa yang melarang dirimu tidur di atas tempat tidur” balas Zen yang mulai menepuk bagian sisi yang kosong dari tempat tidur tempat dirinya berbaring saat ini.
“Maksudku, bisakah hari ini kamu tidur di sofa?” balas Vero yang mencoba untuk membuat sebuah permintaan kepada Zen dengan cara baik-baik.
Tentu Vero masih tidak ingin tidur seranjang dengan Zen. Karena dirinya masih tidak menyukai dengan yang namanya laki-laki. Apalagi karena traumanya dahulu, dirinya masih belum bisa untuk menerima sosok laki-laki didalam kehidupannya.
Namun anehnya, dirinya masih bisa berinteraksi dengan normal dengan Zen, walaupun bisa dibilang hubungan mereka seperti anjing dan kucing yang selalu saja meributkan sesuatu yang sangat tidak penting, bahkan hingga saat ini.
__ADS_1
“Maafkan aku, tetapi aku tidak akan tidur di atas sebuah sofa” balas Zen dan langsung menarik selimut dan mulai mengenakannya.
Bagi seorang Sloth, memang dirinya bisa tidur dimana saja. Namun tempat tidur adalah tempat yang sangat sakral baginya. Jadi mau tidak mau, jika dirinya menemukan sebuah tempat tidur, dirinya harus tidur diatasnya dan keputusan itu tidak bisa diganggu gugat oleh siapapun.
“Cih... bisakah kamu mengalah sekali saja!” teriak Vero sudah mulai kesal dengan perilaku dari Zen.
Memang Vero sedari tadi menahan untuk setidaknya tidak emosi. Karena mungkin jika dirinya melakukan itu, dirinya bisa membujuk Zen untuk selalu mengikuti perkataannya. Namun nyatanya apa yang dirinya lakukan sia-sia, karena Zen tetap keras kepala dan tidak ingin menuruti perkataannya.
“Sudah kubilang, tempat tidur ini cukup besar. Jika kamu mau kamu bisa beristirahat di sebelahku.” Ucap Zen yang mulai membaringkan kepalanya di atas bantal yang empuk dan siap untuk terlelap.
Vero tidak bisa melakukan apa-apa lagi, karena memang dirinya tidak bisa meyakinkan Zen untuk tidur di atas sebuah sofa. Dirinya bimbang saat ini, karena dirinya besok harus tampil maksimal dan tidak ingin terjadi sesuatu yang membuatnya akan gagal dalam memperbaiki keadaan perusahannya besok.
“Apakah aku harus tidur seranjang dengannya?” gumam Vero yang masih bimbang, apakah dirinya harus tidur seranjang dengan Zen, karena memang dirinya tidak bisa terlelap dengan nyaman di atas sebuah sofa.
Apalagi besok adalah sebuah hari yang penting baginya, dan tentu Vero tidak ingin sesuatu menghambat apa yang ingin dirinya lakukan besok. Apalagi sampai dirinya terlihat sangat tidak profesional, hanya karena dirinya tidak bisa berkonsentrasi karena merasa kelelahan.
Karena memang, pengalaman pertamanya tidur di sofa karena terpaksa tempo hari, membuatnya terjaga semalaman dan membuatnya cukup kelelahan keesokan harinya. Jadi dirinya tidak ingin melihat dirinya tidak tampil maksimal besok.
“Cih... demi perusahaan” ucap Vero yang akhirnya memutuskan untuk tidur seranjang yang sama dengan Zen, karena dirinya tahu bahwa jika Zen sudah menguasai tempat tidurnya, dirinya tidak bisa melakukan apa-apa lagi.
Vero yang sudah mengenakan piyama berwarna hitam polosnya, langsung mengambil selimut tambahan yang memang di sediakan oleh pihak hotel dan bersiap naik keatas tempat tidurnya. Dengan perasaan terpaksa, akhirnya dirinya mulai membaringkan dirinya disebelah Zen dan bersiap untuk terlelap.
Memang benar yang dikatakan oleh Zen tadi, bahwa tempat tidur tempat mereka berada cukup besar dan terlihat mereka berdua saat ini tidur dengan jarak yang tidak terlalu dekat. Apalagi Vero sudah membatasi tempat tidur mereka dengan sebuah bantal guling diantara mereka.
"Baiklah, kamu harus beristirahat Vero." ucap Vero yang sudah bertekad untuk tidak memperdulikan keberadaan Zen yang tidur disampingnya.
Tentu sebelum dirinya terlelap, Vero tidak sengaja melihat Zen yang sudah terlelap dengan nayaman disebelahnya, seakan tidak terjadi sesuatu kepadanya. Bahkan yang Vero tidak tahu, bahwa Zen saat ini sudah masuk didalam alam mimpinya dan sedang bermain bersama dengan semua keponakannya.
“Hahh... Baiklah, aku harus bisa besok”
__ADS_1