
Rasa kekecewaan saat ini mulai memenuhi diri Vero, yang dimana dirinya saat ini seperti dipermainkan. Dirinya sudah disuruh menunggu selama hampir dua jam lamanya ditempat dirinya berada, dan hasil yang dirinya terima hanya sebuah penolakan tanpa alasan yang jelas.
Ingin rasanya memukul pihak didepannya dengan membabi-buta, karena sepertinya pihak didepannya dengan sengaja mempermainkan dirinya. Apalagi Vero baru menyadari sesuatu atas apa yang baru saja dirinya dengar dari pihak tersebut.
“Wah... ternyata kamu dan suamimu sama saja, Nyonya Dewi” ucap Santi sebelum dirinya keluar dari ruangan wanita tersebut, karena sudah merasa emosi dengan permainan yang dilakukan oleh wanita tersebut kepada dirinya.
Ya, saat ini dirinya sudah mengadakan pertemuan dengan pemimpin perusahaan Nusantara Kosmetik, untuk mendiskusikan tentang permasalahan mereka menarik diri dari projek yang sedang dikerjakan oleh Vero, yang dimana pihak mereka masih bersedia untuk bernegosiasi kepada dirinya.
Namun apa yang dirinya dapati saat ini, ternyata hanya mendapati seorang wanita yang berada didepannya dengan sengaja melakukan hal tersebut, dan saat ini juga sedang mengerjai Vero dengan memaksanya untuk datang menuju Ibukota Jakarta, hanya untuk membuat wanita itu membalas dendam atas perbuatan Vero kepada suaminya.
Karena ternyata, suami dari pemimpin Nusantara Kosmetik yang barusan ditemui oleh Vero, adalah salah satu direksi dan pemegang saham dari perusahaan miliknya yang dirinya penjarakan sebelumnya. Tentu Vero baru tahu hal tersebut, dan membuatnya cukup tercengang dengan kenyataan yang baru dirinya dengar itu.
Apalagi wanita yang ditemui Vero itu merasa kesal dengan sikap Vero yang memenjarakan suaminya, dan dirinya memutuskan untuk membalaskan dendam suaminya, yang saat ini sedang terkurung didalam penjara akibat perbuatannya.
“Seharusnya aku mendengar perkataan dirimu tadi, Zen” ucapan Vero yang menyesal tidak mempercayai perkataan suami bayarannya, yang sudah memperingati dirinya tentang apa yang terjadi.
“Sudahlah, semua sudah berlalu” ucap Zen yang masih setia menemani Vero saat ini.
Memang Zen dan Vero datang berdua menuju pabrik dari perusahaan itu. Disaat mereka disuruh menunggu, memang Zen sudah memperingatkan Vero bahwa pertemuan mereka itu adalah sebuah akal-akalan saja dari pemilik perusahaan ini.
Namun karena Zen yang memperingati Vero tanpa adanya bukti yang kuat, membuat wanita itu tidak mempercayai perkataannya dan memutuskan tidak mendengarkan peringatannya itu. Namun naas, ternyata apa yang dikatakan oleh Zen adalah sebuah kebenaran.
Karena memang, mereka sudah menempuh perjalanan yang cukup panjang ketempat ini, lalu disuruh menunggu dengan waktu yang cukup lama dan malah membuat Vero hanya mendapatkan sebuah penolakan yang tegas, saat dirinya meminta kerja sama kembali dengan pihak yang dirinya temui tadi.
“Lalu, apa yang harus aku lakukan sekarang, Zen?” tanya Vero kemudian, yang entah mengapa dirinya mulai menanyakan sebuah saran kepada suami bayarannya itu.
“Aku tidak tahu.” Balas Zen jujur, yang memang tidak mempunyai saran apapun kepada wanita tersebut.
Memang awalnya Zen sudah merasakan gelagat aneh yang dikeluarkan oleh beberapa karyawan dari perusahaan tempat mereka berada saat ini, melalui aura mereka yang mengeluarkan aura negatif saat mereka melihat keberadaan Vero dan dirinya ditempat ini.
Tentu dirinya langsung memberi tahu Vero, namun sayangnya perkataannya tidak dipercaya olehnya. Namun saat ini, entah mengapa Vero merasa suami bayarannya itu akan sekali lagi memberikan sebuah saran yang bagus, namun naasnya Zen seakan mulai acuh seperti kebiasaan dirinya yang selalu dirinya tunjukan selama ini.
__ADS_1
“Hahh... baiklah. Lalu, kalau begitu mari kita kembali” ucap Vero yang terlihat mulai tidak bersemangat mengingat kejadian yang baru saja dirinya alami tadi, dan mulai mengajak Zen untuk beranjak dari sana.
Zen akhirnya mulai mengikuti langkah dari Vero yang membimbingnya keluar dari area tempat mereka berada, yang dimana mereka menuju area parkir dari pabrik yang mereka datangi tadi. Dengan menaiki sebuah mobil, akhirnya mereka berdua mulai beranjak dari sana.
“Sepertinya aku harus membuat proposal untuk mencari sponsor baru” ucap Vero kemudian disela-sela perjalanan mereka, karena memang dirinya mulai memikirkan langkah selanjutnya dalam menangani situasi yang sedang dirinya alami.
Zen memutuskan hanya diam saja ditempatnya, karena memang saat ini dirinya yang sedang mengemudikan mobil yang sedang mereka tumpangi. Apalagi karena sifat hemat Vero yang dirinya berlakukan mulai saat ini, mengharuskan Zen yang mengendarai kendaraan yang mereka sewa, karena Vero tidak menyewa seorang supir untuk kebutuhan perjalanan mereka.
Jadi, saat ini Zen lah yang menjadi supir untuk Vero, dan mulai mengendarai mobil tersebut menuju arah hotel tempat mereka menginap di kota ini. Namun satu hal yang membuat Zen kesal saat ini, karena mereka akan menempuh perjalanan yang cukup jauh untuk kembali ke sana.
Walaupun memang jalan yang mereka lalui cukup sepi, karena memang mereka sedang berada dipinggiran kota. Tetapi tetap saja, hal itu tidak memendekkan jarak perjalanan mereka untuk kembali menuju hotel tempat mereka menginap.
Karena memang, sebelumnya pihak Nusantara Kosmetik mengusulkan menggelar pertemuan antara mereka dan Vero pada pabrik milik mereka yang sangat jauh dari daerah pemukiman. Tentu karena Vero sangat membutuhkan kerja sama mereka kembali, dirinya menerimanya saja usul yang mereka berikan itu.
Namun naas, perjalanan jauh yang mereka tempuh dan disaat mereka sampai malah disuruh untuk menunggu untuk bertemu dengan pemimpin perusahaan itu, ternyata hanya sebuah siasat agar wanita yang dirinya temui tadi, untuk bisa membalaskan dendam suaminya kepada Vero.
“Cih... Tenanglah, aku yakin kamu pasti bisa melewatinya” ucap Zen, yang mulai menyemangati wanita yang berada disebelahnya, karena terlihat dirinya seakan sudah sedikit hilang keyakinan tentang menyelesaikan permasalahan perusahaannya.
Karena memang, dirinya tentu tidak boleh menyerah untuk bisa menyelesaikan semua permasalahan yang terjadi di perusahaannya. Apalagi perusahaan itu, adalah satu-satunya peninggalan dari orang yang paling dirinya cintai yang harus dirinya lindungi.
“Terima kasih, Zen” ucapnya.
Zen hanya mengangguk mendengar perkataan wanita itu. Namun setelah dirinya mengangguk, Zen yang masih menghadap kearah depan, langsung menatap kearah Vero saat itu juga. Mereka berdua saat ini mulai saling menatap, dan entah bagaimana, tangan dari Zen saat ini mulai meraih tubuh dari Vero.
Tentu Vero cukup bingung dengan tindakan yang dilakukan oleh Zen. Apalagi pria itu sudah melepaskan sabuk pengaman miliknya. Awalnya Vero masih terbawa dengan tindakan Zen itu, namun sesaat kemudian dirinya akhirnya mulai sadar dengan perbuatan Zen, setelah dirinya melanjutkan tindakan yang sedang dirinya lakukan itu kepadanya.
“Apa yang kamu lakukan!” teriak wanita Vero, yang mulai panik dengan tindakan Zen yang bisa dikatakan cukup kurang ajar menurut Vero.
Zen saat ini langsung menarik tubuh Vero kedalam pelukannya dan memeluknya dengan erat. Bahkan Vero mulai meronta atas sikap dari Zen itu, karena menurutnya hal itu sangat tidak pantas. Tetapi sesaat kemudian, netra matanya saat ini tidak sengaja menatap sebuah mobil truk mulai menghampiri mobil yang ditumpangi olehnya.
Disisi lain, Zen yang sudah mengamankan Vero juga mulai melanjutkan aksinya. Dirinya juga mulai melepaskan sabuk pengamannya dan langsung membawa Vero yang berada di pelukannya, untuk bersiap melompat dari kendaraan yang sedang mereka tumpangi.
__ADS_1
“Tutup matamu, jika kamu takut” ucap Zen.
Tentu Vero yang mendengar perkataannya, langsung memeluk Zen dengan erat. Bahkan saat ini kepalanya yang dirinya sembunyikan pada dada milik Zen, mulai menutup matanya dengan rapat, sebelum dirinya merasa bahwa tubuhnya sedang dibawa melayang oleh Zen.
Memang Zen langsung membuka pintu kendaraan yang dikendarainya, dan mulai melompat dari dalamnya bersama Vero, setelah dirinya memastikan bahwa rem dari kendaraan yang dikendarainya sudah tidak berfungsi lagi. Apalagi kendaraan yang melaju dengan cepat kearahnya, sudah semakin mendekat.
Jadi, dirinya dengan bergegas langsung keluar dari dalamnya dengan melompat, untuk menyelamatkan Vero dari beberapa pihak yang sedang berusaha mencelakai dirinya. Hingga akhirnya dirinya mulai berguling bersama Vero pada aspal yang cukup panas tempat mereka mendarat, setelah Zen berhasil menyelamatkan Vero dari kecelakaan yang akan dialami oleh mereka tadi.
“Hahh... ternyata mereka yang melakukannya” gumam Zen kemudian, setelah dirinya menghentikan momentum jatuhnya dirinya dari dalam mobil yang dirinya kendarai.
Suara mobil saling bertabrakan saat ini mulai terdengar. Dimana Vero yang masih berada pada pelukan dari Zen dan menutup matanya, sempat ketakutan mendengar suara tersebut. Tetapi ternyata tidak sampai disitu saja kejadian yang mereka alami, karena setelah suara yang mereka dengar itu sedang berlangsung, akhirnya sebuah suara tembakan saat ini mulai mengikutinya.
“Sial” ucap Zen yang saat ini terkena tembakan pada bagian punggungnya saat melindungi Vero.
“A-Apa itu Zen. I-Itu suara t-tembakan, bukan?” kata Vero panik, dan mulai mencoba mengintip dari kelopak matanya, yang sedikit dirinya buka untuk memeriksa keadaan sekitarnya.
Namun apa yang dirinya lihat setelah dirinya memutuskan untuk mengintip, bukanlah sesuatu yang dirinya harapkan. Dengan mata kepalanya sendiri, suara rentetan peluru tadi saat ini malah mulai mengenai Zen yang sedang melindungi dirinya.
“Z-Zen...!” teriaknya panik, setelah melihat seorang pria yang sedang melindungi dirinya menggunakan tubuhnya, yang dimana Vero sudah berurai air mata saat dirinya melihatnya.
Namun yang tidak disadari oleh Vero karena kepanikannya, pria yang sedang melindunginya saat ini seakan bersikap seperti biasa saja. Bahkan saat ini dirinya mulai merangkul tubuh Vero dan mulai melarikan diri dari tempatnya, untuk menghindari peluru yang terus menghujani mereka.
Hingga akhirnya kedua insan tersebut memutuskan untuk bersembunyi dibalik gundukan disebelah jalan raya tempat mereka lewat tadi. Tentu karena keberadaan mereka sudah tersembunyi dengan baik dibalik gundukan tersebut, saat ini semua tembakan yang dilontarkan kepada Zen akhirnya mulai terhenti saat mereka berhasil menyembunyikan diri mereka.
“A-Apakah d-dirimu tidak apa-apa Z-Zen?” tanya Vero yang sudah berurai air mata, dan sangat takut apalagi mulai panik melihat kejadian tadi.
Tentu Zen hanya tersenyum saja menjawab kekhawatiran dari wanita yang masih merasa terkejut itu. Bahkan saat ini Zen mulai melepaskan jas yang dirinya gunakan, bahkan kemeja yang berada dibalik jas yang dirinya gunakan, untuk menunjukan sesuatu yang berada dibalik apa yang dirinya kenakan sedari tadi.
Vero cukup terkejut dengan apa yang dirinya lihat dari balik kemeja yang dikenakan oleh pria tersebut. Bahkan Zen mulai melepaskan benda yang menurut Vero merupakan benda yang melindungi dirinya dari tembakan, dan menyerahkannya kepada Vero untuk dirinya gunakan.
“Untung saja, aku memakai rompi anti peluru.”
__ADS_1