
Peperangan yang terjadi pada semenanjung Korea bisa dikatakan semakin intens pergerakannya. Kedua kubu yang bertikai itu, entah mengapa semakin gencar melakukan serangan setelah negara lain akhirnya juga ikut campur dalam peperangan tersebut.
Tentu hal ini sangatlah aneh menurut Zen, karena masalah utama pihak yang memulai peperangan itu bisa dikatakan sudah dibereskan olehnya. Tetapi tetap saja perang itu semakin bertambah parah intensitasnya saat ini. Bahkan Zen sama sekali tidak menyangka bahwa peperangan itu semakin meninggi intensitasnya.
Memang bukan hal inilah yang diharapkan oleh dirinya beserta adiknya. Karena seharusnya peperangan itu sudah rampung setelah kejadian pecahnya peperangan itu sudah terjadi beberapa hari ini. Maka dari itu, Zen saat ini mulai memikirkan berbagai hal, apakah ada penyebab lain yang menyebabkan peperangan itu masih berlanjut.
"Cih... apakah ada sesuatu yang aku lewatkan setelah mengalahkan sosok Loki?" ucap Zen yang sedang menyaksikan pemberitaan tentang jalannya peperangan itu dari layar televisi yang sedang dirinya saksikan.
Masalahnya bisa terlihat Zen memang sedang menyaksikan pemberitaan itu dengan kondisi yang terlihat bahwa kedua tangannya dipenuhi dengan darah. Maka dari itu, dengan melihat kondisi peperangan yang sedang terjadi itu, bisa dikatakan Zen juga sedang melakukan tugasnya dengan baik.
Sebagai dokter panggilan yang baik, saat ini Zen memang sedang bersenang-senang merawat pasien yang coba untuk dirinya ringankan masalah keadaan tubuhnya. Masalahnya, disaat dirinya sedang asik merawat beberapa pihak, sebuah suara televisi saat ini mulai mengganggu aktivitasnya yang sedang fokus untuk melakukan penyembuhan kepada pasiennya yang sedang dirawatnya.
Tentu pemberitaan itu sangatlah membingungkan bagi Zen, karena semua yang sudah terjadi itu memang diluar dari apa yang dirinya prediksikan. Apalagi bukan hal itulah yang memang dirinya dan seluruh adiknya harapkan, karena sepertinya peperangan itu terus berlanjut dan tidak terlihat tanda-tanda akan usai.
Zen tentu saja berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Karena setahunya para Pemimpin Korea Utara yang saat ini memulai perang, bisa dikatakan tindakannya terpengaruhi dengan ulah Loki, yang memang menghasutnya menggunakan kekuatan Dewa miliknya agar mampu membuat wilayah persembunyiannya ditempat tersebut.
Masalahnya disaat Loki menghilang, seharusnya semua itu sudah berlalu dan pihak yang memulai perang itu mulai sadar akan perbuatannya. Namun naasnya, peperangan itu tetap berlanjut dan saat ini tidak ada tanda-tanda untuk berhenti apalagi beberapa pihak mulai ikut campur dalam permalasahan tersebut.
"Dan dari keterangan yang kami terima, Kekaisaran Cina dan Pihak Amerika Serikat juga saat ini akhirnya sudah berada di sekutu mereka masing-masing dan mulai saling mendukung dalam peperangan semenanjung Korea yang semakin intens intensitasnya, Pemirsa." dan begitulah suara Perwara berita yang membacakan narasinya, sambil menunjukkan hasil rekaman dari jalannya peperangan yang sedang terjadi.
Zen semakin bingung dengan apa yang terjadi. Karena seharusnya, memang peperangan itu akan tetap berlangsung apapun yang terjadi. Namun bisa dipastikan peperangan itu tidak bertahan dengan lama karena penyebab peperangan itu yang sudah terhasut oleh seseorang sudah sadar sepenuhnya.
Namun masuknya negara-negara sekutu kedua belah pihak itu memang mengacaukan rencananya. Apalagi Zen cukup kebingungan mengapa kedua Negara itu malah ikut campur. Karena setahunya, Pihak Amerika pada awalnya tidak akan ikut campur atas permasalahan tersebut.
Tetapi bisa dikatakan ada variabel lain yang saat ini membuat peperangan itu berlanjut, yang dimana pihak Kekaisaran China akhirnya ikut serta dan membuat Amerika mau tidak mau juga ikut serta membantu sekutunya dalam menghadapi peperangan itu.
Namun tetap saja, hal itu semakin membuat Zen kebingungan. Karena setahunya tidak ada sesuatu yang membuat pihak Kekaisaran China harus ikut serta dalam peperangan tersebut. Memang pihak China merupakan sekutu dari Korea Utara, namun setahu Zen tidak ada alasan apapun yang membuat Kekaisaran itu ikut berperang.
Apalagi pihak Amerika yang notabennya merupakan musuhnya dalam peperangan tersebut pada awalnya bertindak sangat pasif. Bahkan pihak Amerika bergerak karena pergerakan Kekaisaran China yang mulai bergerak. Jadi, hal itulah yang harus diselidiki oleh Zen, karena hal itu sangatlah aneh.
Tetapi Zen yang mulai memikirkan semua hal yang sedang terjadi itu, membuat dirinya lupa bahwa saat ini pada tangannya masih ada darah yang terus menetes karena aksinya yang masih berusaha bersenang-senang dengan merawat pasien yang saat ini sedang dirinya rawat kondisinya hingga saat ini.
"M-Maafkan aku, T-tuan Zen. A-Aku berjanji tidak akan m-mengulanginya la-lagi" Hingga lamunan Zen yang sedang memikirkan permasalahan itu mulai terhenti, karena Daniel yang saat ini bisa terlihat kondisinya sudah sangat mengenaskan karena ulahnya, memohon kepada dirinya untuk menghentikan tindakan penyiksaan yang dirinya lakukan.
__ADS_1
Sesuai janjinya, Zen memang mulai berurusan dengan pihak yang sudah mencari masalah dengan Istrinya. Maka dari itu, pada sebuah ruangan pada sebuah lapas tempat mereka sedang ditahan, Zen saat ini mulai menyiksa mereka ditempat tersebut.
Tentu memanfaatkan kemampuannya yang juga bisa memanipulasi beberapa pihak, saat ini dirinya sudah melakukan aksinya kepada beberapa pihak yang bekerja ditempat ini, agar menyediakan dirinya tempat dan membuatnya bisa melakukan apapun yang dirinya inginkan ditempat ini.
Bahkan pasiennya seharusnya merasa bersyukur atas keadaan dari tempat dimana mereka sedang dirawat, karena ruangan yang dingin karena AC, lalu terlihat sangat bersih dan luas, menjadi tempat mereka dirawat oleh Zen yang dengan senang hati mencoba menghilangkan kelainan pada tubuh mereka.
Karena seperti yang diketahui, selama ini pasien yang lain dirawat pada tempat yang tidak terbayangkan, apalagi menurut Zen cukup menyenangkan bahwa tempat yang bagus ini menjadi tempat perawatan bagi mereka, karena tempat yang sangat bagus ini seakan menjadi sebuah Neraka bagi mereka yang sedang dirawat olehnya di sana.
Maka dari itu, Zen sedari tadi sangat amat senang merawat mereka, apalagi teriakan yang terus mereka keluarkan ditempat ini, membuat Zen sangat bahagia karena teriak-teriakan itu memang sangat diharapkan olehnya dari pihak-pihak yang selama ini mencari masalah dengan Istrinya.
"Aku akan melaporkan semua tindakanmu ini, brengsek. Tunggu saja disaat kami keluar dari sini" Hingga suara Thomas yang bisa dikatakan sangat lemah dan lemas, saat ini seakan ingin mengancam Zen ditempat ini.
"Ho... memangnya kalian bisa keluar dari tempat ini?" hingga saat ini Zen dengan darah yang memenuhi beberapa bagian tubuhnya mulai menatap mereka semua yang berada di sana dengan tatapan mata yang sangat menyeramkan.
Melihat sosoknya yang seperti itu, semua pihak yang berada di sana langsung merinding memperhatikan sosoknya. Apalagi mereka mulai ketakutan dengan sosoknya itu setelah mengingat apa yang sudah dilakukan oleh pria itu kepada mereka ditempat ini.
Maka dari itu, mereka semua mulai bungkam dan tidak berusaha lagi melawannya setelah Zen menatap mereka. Apalagi mereka berusaha untuk tidak menatap sosoknya yang sedang menatap mereka, karena mereka seakan mulai terintimidasi dengan keberadaannya yang sangat menyeramkan tersebut.
Suara teriakan mulai kembali bergema disaat Zen saat ini kembali memulai aksinya. Bahkan saat ini suara teriakan kesakitan itu seakan tidak dipedulikan oleh beberapa pihak yang mendengarnya, dan mereka memutuskan untuk membiarkan saja kejadian itu terjadi.
Hingga beberapa waktu kemudian, suara teriakan yang tidak kunjung berhenti itu akhirnya mulai mereda dengan perlahan. Tentu saja karena pria yang menyebabkan suara teriakan itu terus terdengar mulai menghentikan aksinya yang membuat suara-suara itu terhenti.
Dan begitulah bagaimana saat ini semua pihak yang mencari masalah dengan Istrinya sudah tergeletak dilantai dengan kondisi yang sangat mengenaskan. Apalagi beberapa dari mereka masih merasakan efek dari perawatan yang mereka terima sedari tadi.
"Ya... Maafkan aku, tetapi penjara adalah tempat terakhir kalian menghabiskan waktu di dunia ini." Hingga begitulah akhir dari ucapan Zen kepada semua pihak yang berada di sana, setelah dirinya mulai membereskan semua peralatan medisnya yang dirinya gunakan untuk merawat mereka semua.
Zen memastikan bahwa mereka tidak akan lagi pernah keluar dari tempat ini, bahkan dirinya akan memastikan kehidupan mereka sangat tersiksa didalamnya. Apalagi perbuatan yang baru saja dilakukan oleh Zen kepada mereka semua, ternyata sudah membuat beberapa dari mereka mulai depresi akan kehidupan mereka ditempat ini.
Maka dari itu Zen tidak akan membuat kehidupan mereka akan tenang, karena dirinya akan memastikan kehidupan mereka akan sangat tersiksa sehingga mereka sendiri mengharapkan sebuah kematian. Namun tetap saja, Zen tidak akan mengabulkan harapan itu, karena Zen juga akan memastikan bahwa mereka tidak akan mati apapun yang terjadi.
Zen juga sudah mempersiapkan berbagai hal agar kehidupan mereka terus berlangsung dan tersiksa ditempat ini. Apalagi dirinya sudah mempengaruhi para napi, penjaga lapas dan berbagai pihak yang berada ditempat ini, agar mereka terus melakukan penyiksaan dan memperlakukan mereka secara tidak adil selama mereka berada disini.
Jadi, bisa dilihat wajah yang ditampilkan oleh mereka saat ini, bisa dikatakan adalah raut-raut wajah yang meminta pengampunan, namun pengampunan tersebut seakan tidak akan pernah mereka dapatkan lagi karena mereka sudah menyinggung pihak yang sangat amat salah.
__ADS_1
"Kalau begitu, akan aku sudahi sesi perawatan kalian saat ini. Karena aku akan menjemput Putriku terlebih dahulu" ucap Zen yang memang sudah puas menyiksa kelima pihak yang terlihat ketakutan itu, dan mulai akan beranjak dari sana.
Zen hanya tersenyum saja melihat ekspresi mereka dan mulai keluar dari ruangan tersebut. Namun sebelum dirinya meninggalkan lembaga permasyarakatan ini, terlebih dahulu Zen mulai membersihkan dirinya dari bekas-bekas darah yang saat ini memenuhi beberapa bagian tubuhnya.
Tentu dirinya tidak akan menjemput seorang gadis kecil yang menganggap dirinya sebagai Ayahnya, dengan kondisi yang dipenuhi dengan bercak darah. Maka dari itu, Zen mamastikan bahwa dirinya harus menghilangkan seluruh bekas darah yang menempel dan bau-bau amis dari darah yang menempel pada dirinya tersebut.
"Baiklah, mari kita jemput gadis kecil yang mengganggu itu" Dan begitulah ucapan Zen setelah memastikan bahwa tubuhnya tidak ada bekas darah lagi yang berceceran dan menempel pada tubuhnya.
Dengan langsung masuk kedalam mobil yang memang dikemudikan oleh dirinya, saat ini Zen langsung bergegas meninggalkan lapas tempat dimana dirinya merawat pasiennya, untuk menuju kesebuah tempat dan menjemput seseorang di sana.
Hingga akhirnya Zen sudah berdiri tepat didepan sebuah gedung taman kanak-kanak untuk menjemput seorang gadis kecil di sana. Dengan berkumpul dengan beberapa Ibu-ibu yang juga menunggu anak mereka, akhirnya Zen dengan terus menghela nafasnya mulai memasrahkan diri untuk menepati janji yang sudah dirinya buat sebelumnya.
Memang Zen merasa menyesal bahwa dirinya membuat janji dengan Ibu dari gadis kecil itu, bahkan dengan gadis kecil yang dirinya panggil pengganggu itu, karena dirinya harus menghadapi situasi yang sebenarnya tidak dirinya harapkan untuk dirinya lakukan ditempat ini.
Namun mau bagaimana lagi, nasi sudah menjadi bubur dan Zen saat ini sudah berada ditempat ini dan mulai menantikan saja kemunculan gadis kecil yang ditunggunya untuk keluar dari dalam gedung taman kanak-kanak tempat dimana dirinya sedang belajar.
"Ayah...!" hingga seorang gadis kecil saat ini sudah berlari mengarah menuju ketempat dirinya berada, dengan ekspresinya yang terlihat sangat bahagia melihat keberadaannya.
"Baiklah, mari kita pulang gadis pengganggu" ucap Zen yang mulai meraih tangan gadis kecil itu dan mulai mengajaknya beranjak dari sana.
Gadis kecil yang masih merasa bahagia karena dijemput oleh pihak yang dirinya panggil Ayah itu, saat ini dengan perasaan yang sangat senang mulai mengikuti langkahnya. Apalagi hari ini Ayahnya itu sudah berjanji akan menemani dirinya seharian karena Ibunya menitipkannya kepada dirinya.
"Lalu, kita akan kemana Ayah?" Tanya gadis kecil itu yang mulai penasaran, setelah mereka akan masuk kedalam kendaraan yang akan ditumpangi mereka untuk beranjak dari sana.
"Istri Ayah akan pergi menuju Jakarta hari ini. Jadi, Ayah ingin mengantarkannya menuju Bandara terlebih dahulu. Setelah itu, barulah setelah itu baru kita berjalan-jalan, oke" ucap Zen membalas pertanyaan gadis kecil itu.
"Baiklah, Ayah" balas Gadis kecil itu yang bersemangat.
Mendengarkan perkataan Zen gadis kecil itu tentu merasa semakin bersemangat. Apalagi karena dirinya bisa menghabiskan waktu dengan sosok yang dirinya anggap sebagai Ayah seharian penuh, dan juga Zen sudah berjanji kepada dirinya dan Ibunya untuk menjalankan permintaan yang mereka lakukan terhadapnya.
Maka dari itu dengan perasaan yang bahagia, gadis kecil itu mulai memasuki mobil yang dibawa oleh Zen dan mulai duduk dengan tenang pada bangkunya. Tentu Zen mulai memindahkan barang bawaan gadis kecil itu dan menaruhnya pada bangku belakang dari kendaraannya lalu mulai mengencangkan sabuk pengaman untuk gadis kecil tersebut.
"Tapi Ayah, apakah aku boleh memanggil Istri Ayah sebagai Ibuku?"
__ADS_1