Ex-Harem Lord

Ex-Harem Lord
Solusi


__ADS_3

Pada sebuah tempat yang sangat panas, saat ini terlihat seseorang pria sedang duduk pada sebuah mimbar untuk menghakimi beberapa orang yang datang ketempat ini. Pada tempat tersebut, saat ini dipenuhi dengan berbagai jiwa, yang dimana satu persatu dari jiwa tersebut sedang disidang atas kesalahan mereka.


“Korupsi dan melakukan pelecehan seksual. Atas nama utusan kematian yang menghakimi dirimu, dengan ini jiwamu akan ditempatkan didalam Neraka tingkat 9 dengan durasi waktu satu kali lingkaran reinkarnasi. Dan kehidupanmu selanjutnya akan terlahir kembali menjadi seekor tikus” ucap pria yang terdapat sebuah tanduk pada kepalanya, setelah selesai membacakan putusan kepada pria yang sedang dirinya sidang.


“Malaikat maut yang mendampinginya, silahkan bawa dirinya menuju tempat yang semestinya. Lalu Selanjutnya!” teriak pria bertanduk itu kembali, setelah seorang malaikat maut yang membawa jiwa yang dia bawa itu, mulai menyeretnya pada tingkat neraka tempat jiwa itu berada.


“Yo.. Kaecilius. Aku ingin meminta sesuatu kepadamu” ucap seorang pria yang masuk kedalam mimbar persidangan, dimana dirinya saat ini sedang membawa seekor rubah yang bertengger di atas kepalanya.


“T-Tuan Zen!” ucap pria itu yang langsung berdiri dari tempatnya dan membungkuk hormat kepada pria yang menerobos masuk tersebut.


“Ya.. ya... terima kasih atas sambutannya. Bukalah jalan untukku untuk menuju Neraka tingkat sepuluh” ucap Zen kepada pria tersebut.


“T-Tapi tuan, tingkatan Neraka sangat berbeda saat Tuan tinggal di Neraka dahulu. Saat ini kekuatan setiap lantai penyiksaan yang sudah dibagi menjadi tingkat, sudah berevolusi menjadi dua kali lipat dari tingkat yang terdahulu. Dan dipastikan mahluk yang bertengger di atas kepala anda tidak akan kuat berada didalamnya” ucap pria yang dipanggil Kaecilius itu.


“Sudah... bukakanlah saja jalannya untukku” ucap Zen tidak menghiraukan perkataan bawahannya tersebut.


Tentu karena dirinya tidak bisa menolak perintah tuannya, pria itu langsung membuka sebuah jalan yang dikhususkan untuk menjadi jalan masuk sebuah lantai penyiksaan yang paling berat yang ada di Neraka, yaitu tingkat 10.


“Terima kasih Kaecillius” ucap Zen yang sudah berjalan mengikuti jalan yang sudah dibukakan untuknya, bersama seekor rubah yang setia bertengger di atas kepalanya.


“Tunggu tuan, apakah anda akan pergi ke sana bersama tiga jiwa yang bersamamu itu?” ucap Kaecilius kembali.


“Ah... kejahatan mereka membuatku kesal karena tidak menjawab pertanyaan dariku, jadi aku sendiri yang akan menghakimi jiwa mereka” ucap Zen dan dibalas anggukan oleh Kaecilius.


Memang tiga jiwa yang melepaskan segel dari Kana secara paksa, saat ini sudah dibimbing secara langsung oleh Zen untuk menuju Neraka secara langsung. Dan setelah diberi izin untuk lewat, akhirnya Zen membimbing mereka menuju arah tempat mereka sepatutnya berada.


Diperjalanan, banyak sekali mahluk yang merupakan iblis yang menjaga setiap tempat yang dilewati Zen, dan mereka mulai membungkuk kepada Zen setelah dirinya melewati mereka.

__ADS_1


“Yo.. Kin. Sudah lama aku tidak bertemu denganmu, dan ternyata kamu sudah besar sekarang” ucap Zen yang menyapa seorang Iblis yang dikenalnya.


“Higanhhnaur qilliniji aznggariu mahuti qinor Zen” ucap iblis tersebut.


“Ya.. Ya... bekerjalah dengan giat. Nanti aku akan menemui dirimu lagi” ucap Zen kemudian yang melanjutkan perjalanannya.


“Ki qinor Zen” balas iblis tersebut sambil membungkuk.


Zen cukup senang bisa bertemu kembali dengan beberapa bawahan yang dikenalnya. Sambil berjalan menuju tujuannya, Zen menyempatkan menyapa mereka satu persatu hingga mereka akhirnya tiba di pintu dari neraka tingkat 10.


“Atas perintah kematian, bukalah gerbang yang akan menghakimi jiwa kematian yang sedang aku bimbing” ucap Zen dan membuat pintu besar didepannya mulai terbuka.


Namun saat dirinya akan memasuki tempat yang sangat amat panas tersebut, seorang malaikat maut mulai keluar dari sana, karena dirinya sebelumnya membimbing jiwa yang dibimbingnya tadi memasuki tempat ini.


“Yo.. Tenma lama tidak bertemu” ucap Zen yang melihat orang yang melayaninya dulu di kota Malet berada ditempat ini.


“Jenis jiwa apa yang kamu bimbing sehingga kamu berada disini?” tanya Zen kemudian.


“Jiwa yang melakukan pemerkosaan dan pembunuhan sebanyak 21 korban” ucap Tenma.


“Hm... dirinya memang pantas berada disini. Lalu bisakah kamu membimbing tiga jiwa yang datang bersamaku ini, karena Aku ingin menuju pusat dari tingkat Neraka ini untuk membantu Istriku” ucap Zen.


Mendengar dirinya dipanggil istri, memang Kana yang masih bertengger di atas kepala dari Zen hanya menggerakkan ekornya yang menandakan bahwa dirinya sedang senang dipanggil seperti itu.


“Tapi tuan, jiwa mereka belum mendapatkan keputusan” balas Tenma.


“Ah... aku lupa. Karena membuatku kesal. Atas nama kematian sendiri, dengan ini jiwa kalian akan ditempatkan didalam Neraka tingkat 10 dengan durasi waktu tujuh kali lingkaran reinkarnasi. Dan kehidupan kalian selanjutnya akan terlahir kembali menjadi kutu anjing dengan ingatan hukuman kalian yang utuh” ucap Zen dan sebuah aura hitam langsung merasuki ketiga jiwa yang mengikutinya.

__ADS_1


“Kalau begitu aku akan membimbing mereka Tuan” ucap Tenma yang sudah menuntun ketiga jiwa yang dibawa tuannya menuju tempat mereka seharusnya berada.


Zen akhirnya mulai beranjak dari tempatnya dan menuju area pusat dari tingkat neraka yang dimasukinya. Tetapi saat dirinya masuk ketempat itu semakin dalam, ternyata apa yang dikatakan bawahannya adalah benar, karena memang aura ditempat ini lebih pekat dua kali lipat dari yang dia pernah dirinya rasakan dahulu.


“Apakah kamu tidak apa-apa Kana?” tanya Zen kepada rubah yang berada di kepalanya.


“S-Selama aku bersama suamiku, aku akan baik-baik saja” balas Kana yang saat ini berusaha menahan aura kegelapan yang sangat pekat dari tempat ini.


“Hm... kalau begitu bertahanlah” ucap Zen yang saat ini terus melanjutkan perjalanannya.


Suara kebencian, ejekan, bahan bullyan dan sebagainya bisa didengar oleh Kana, setelah dirinya memasuki tempat ini semakin dalam. Berbagai siksaan mental terus dirasakan olehnya, namun Kana sebisa mungkin menahannya.


Berbeda dengan Zen, yang dimana apa yang dirinya dengar merupakan sapaan dan penghormatan. Namun mereka terus melanjutkan perjalanan mereka hingga mereka sampai dipusat dari tempat mereka berada, yang mempunyai aura kegelapan yang sangat pekat dan murni.


“Cepat keluarkan inti mutiaramu. Jika semakin lama kamu disini, dipastikan kamu akan gila sebentar lagi” ucap Zen.


“Baiklah suamiku” ucap Kana yang lalu membuka mulutnya dan saat itu juga sebuah cahaya kecil lalu mulai membentuk sebuah mutiara mulai muncul diujung moncongnya.


“Ambilah suamiku, dan sampai bertemu lagi saat kekuatanku sepenuhnya sudah pulih” balas Kana.


Memang, seorang rubah bisa dikatakan akan tertidur jika inti mutiara mereka diambil dari dalam tubuhnya. Namun karena Kana membutuhkan kekuatan untuk mengembalikan kekuatannya dan wujudnya, dirinya mau tidak mau harus melakukannya.


“Baiklah, kalau begitu sampai jumpa” ucap Zen yang mengambil mutiara rubah dari Kana dan membuat beberapa segel pada mutiaranya agar mutiaranya itu bisa menyerap kekuatan yang dikeluarkan dari tempat ini.


Setelah memastikan semuanya selesai, Zen langsung meletakan mutiara tersebut disebuah altar yang dirinya buat ditempat itu, lalu mengurung tubuh rubah dari Kana didalam sebuah kristal pengurung dan Zen taruh didalam ruang hampa miliknya.


“Sampai jumpa lagi Kana”

__ADS_1


__ADS_2