Ex-Harem Lord

Ex-Harem Lord
Kecoa Lagi


__ADS_3

Zen tentu langsung menghubungi Bari melalui kemampuan telepati yang dimilikinya, untuk mencoba memerintahkan dirinya menangani terlebih dahulu orang-orang yang mengikuti dirinya sedari tadi. Karena memang dirinya masih bersama dengan Vero saat ini, sehingga dirinya tidak bisa langsung untuk meladeni orang-orang tersebut terlebih dahulu.


Tentu Zen sangat senang hati untuk meladeni, niat mereka yang akan mereka lakukan terhadap dirinya sebentar lagi. Namun sebelum itu, dirinya harus memastikan Vero saat ini kembali dengan selamat menuju kediamannya, barulah dirinya akan meladeni mereka.


"Mengapa ekspresi wajahmu seperti itu Zen?" tanya Vero yang saat ini tidak sengaja, melihat ekspresi wajah suami bayarannya yang duduk disebelahnya terlihat cukup aneh.


Raut wajah Zen memang menunjukan raut wajah dari seseorang yang sedang tersenyum. Namun anehnya, senyum yang Zen keluarkan kadang-kadang senyum yang menandakan bahwa dirinya sudah tidak sabar menantikan sesuatu yang membuatnya senang, lalu berubah menjadi senyuman yang aneh untuk dilihat.


"Ah... aku hanya sedang membayangkan sesuatu saja saat ini" balas Zen, yang saat ini mengembalikan ekspresi wajahnya seperti semula.


"Hmm... tetapi pastikan jangan sering melamun kan sesuatu saat dirimu sedang berkendara" balas Vero yang memberi peringatan kepada Zen, sebelum akhirnya dirinya mulai kembali mengotak-atik ponsel pintarnya.


Tidak ada perbincangan tambahan dari mereka berdua, hingga Zen kembali menunjukan senyumnya dikala Bari sudah melakukan tugasnya dengan baik. Mobil yang sedari tadi mengikutinya dan membawa beberapa orang yang mempunyai niat jahat kepadanya, saat ini sudah berhenti mengikutinya, karena Bari sudah memindahkan mereka menuju kesebuah tempat.


Hingga akhirnya, saat ini mobil yang sedang dikendarai oleh Zen sudah masuk menuju wilayah kediaman dari Vero dengan selamat. Dengan perlahan, akhirnya mobil mewah milik Vero yang dikendarai oleh Zen, dengan mulus mulai masuk kedalam garasi mobil dari kediamannya.


“Vero, aku akan keluar sebentar oke.” Ucap Zen yang saat ini tiba-tiba langsung menyerahkan kunci mobil yang dikendarainya tadi, tepat menuju telapak tangan dari Vero.


“Mau kemana dirimu?” tanya Vero kemudian, yang cukup aneh dengan permintaan dari suami bayarannya itu.


“Aku ada urusan sebentar” ucap Zen, dan langsung meninggalkan wanita itu di sana, yang masih mematung menatap kepergian dari suami bayarannya itu.


Tentu Vero cukup bingung kemana pria itu akan pergi, apalagi dirinya pergi keluar dengan berjalan kaki. Seharusnya jika dirinya memang ada keperluan sesuatu, dirinya bisa singgah saat mereka masih berada diperjalanan tadi. Apalagi bisa dipastikan Zen tidak pergi jauh saat ini, karena dirinya keluar tanpa mengendarai kendaraan apapun.


Vero bukanlah orang yang sekejam itu yang tidak memperbolehkan dirinya meminjam kendaraannya, atau sekedar untuk menunggunya sebentar menyelesaikan urusannya, jika memang mereka singgah disaat mereka masih berada diperjalanan tadi. Tetapi ternyata pria itu saat ini sudah menghilang dari pandangannya dan entah pergi kemana.


“Hahh... kemana lagi pria itu menghilang” ucap Vero yang masih tidak mengerti dengan perilaku dari Zen.


Memang suami bayarannya itu sering sekali menghilang atau pergi entah kemana secara tiba-tiba. Namun karena dirinya masih tidak terlalu memperdulikan keberadaan pria itu, jadi selama dirinya masih mengingat tugasnya dengan baik, tentu Vero tidak mempermasalahkan perilakunya saat ini.

__ADS_1


"Hahh... sudah lah. Lebih baik aku masuk dan beristirahat saat ini" ucap Vero, yang mulai memasuki kediamannya.


Disisi lain, Zen yang sudah beranjak dari wilayah perumahan yang dimana Vero tinggal, mulai menuju kesebuah area yang cukup sepi. Setelah merasa tempat itu memang benar-benar sepi, akhirnya dirinya mulai menghubungi bawahannya kembali, untuk membukakan dirinya sebuah portal menuju tempat area dimana orang-orang yang mengikuti dirinya tadi berada.


“Tentu saja Tuan Malaikat Maut. Tetapi bukankah anda harus mengembalikan kami ketempat semula, dimana kami berada sebelumnya?” begitulah kalimat pertama yang Zen dengar setelah dirinya keluar dari sebuah portal ciptaan dari Bari.


“Mengapa kalian ingin pergi dari sini, ketika seseorang yang kalian cari sudah berada ditempat ini?” tanya Zen kepada mereka.


Tentu kelima orang yang sedari tadi mengikuti Zen dan hendak mengawasinya, cukup terkejut saat mendengar sebuah suara yang tiba-tiba muncul dari arah belakang mereka. Karena memang saat ini mereka tidak merasakan aura kedatangan siapapun, yang akan mendatangi tempat dimana mereka berada saat ini.


Namun saat mereka mulai menghadap kebelakang untuk melihat siapa yang sedang berbicara itu, mereka langsung terkejut melihat sosok Zen yang saat ini sudah menatap mereka, dengan tatapan seperti seorang pemangsa yang bersedia menyergap mangsanya.


“Jadi Tuan-Tuan, ada perlu apa kalian mencari diriku?” tanya Zen kemudian, yang saat ini mulai mendekat kearah lima orang tersebut.


Tentu aura yang dikelurkan oleh Zen saat ini cukup membuat lima pihak didepannya cukup ketakutan. Bahkan Xin Wei saat ini mulai cemas, karena perilaku Zen saat ini sangat berbeda dengan perilakunya saat pertama kali dirinya bertemu dengannya.


Tentu Zen saat itu tidak serta merta mengeluarkan auranya secara penuh, karena memang dirinya masih bersama Vero dan Kelly. Namun berbeda dengan saat ini yang dimana tidak ada siapapun yang berada ditempat ini, kecuali dirinya bersama bawahannya.


Apalagi saat ini mereka masih belum menyadari identitas dari Zen yang sebenarnya, karena memang auranya sendiri hanya bisa dikenali oleh saudaranya dan para Dewa yang merasakan auranya secara langsung. Jadi mereka masih belum mengetahui identitas asli dari Zen, yang saat ini sedang menunjukan tatapan predatornya kepada mereka.


“Mengapa kalian diam saja saat ini?” tanya Zen kembali, karena memang dirinya tidak mendapatkan jawaban, dari pihak yang saat ini sedang menatap dirinya dengan tatapan kewaspadaan.


“Kata mereka tadi, mereka ingin menyelesaikan sebuah permasalahan dengan seseorang, Tuan Zen” ucap Bari yang menimpali perkataan Zen, karena memang pertanyaan yang dari tadi dirinya lontarkan tidak kunjung dijawab.


Tentu pihak kultivator yang mendengar percakapan dari Zen dan Bari semakin tertekan. Karena memang saat ini mereka seakan sedang menghadapi situasi yang menurut mereka aneh. Apalagi, mereka merasa Pria yang saat ini sedang menatap mereka, bisa saja menghabisi mereka kapan saja.


Bahkan Xin Wei tahu tentang itu saat dirinya menghadapi pria itu pertama kali. Namun dirinya cukup percaya diri saat beberapa saudara seperguruannya juga ikut membantunya melawan orang tersebut. Maka dari itu, dirinya masih menganggap bahwa kemenangan masih berada pada pihaknya.


Namun sayangnya, saat ini terlihat bahwa pihak didepannya lebih kuat dari mereka, karena auranya saja bisa membuat mereka merasakan ancaman dan teror yang sangat amat menakutkan. Bahkan jika mereka salah mengambil tindakan saja saat ini, mereka merasa akan langsung mati ditempat karena perbuatan mereka itu.

__ADS_1


“Hmm... biar aku tebak. Pihak itu adalah diriku bukan?” tanya Zen kemudian, yang saat ini mulai menatap Xin Wei, karena dirinya masih mengingat pria tersebut.


Tentu Xin Wei yang mendapatkan tatapan seperti itu, langsung mulai gemetaran. Karena memang tatapan yang diberikan oleh Zen kepadanya, mengingatkan dirinya dengan tatapan yang diberikan oleh Zen saat pertama kali dirinya mencoba melanggar kata-katanya dahulu.


Bahkan perasaan ketakutan yang pernah dirinya rasakan saat itu, sekarang jauh lebih menyeramkan dari perasaan yang pernah dirinya rasakan dulu. Karena saat ini Zen mengeluarkan aura yang tidak dirinya keluarkan dulu, saat mereka bertemu di hotel saat Tuannya ingin menyerangnya.


“Baiklah, karena kalian tidak menjawab dan aku sudah sangat kelelahan, jadi mari kita akhiri” ucap Zen yang semakin menambah kekuatan auranya.


Walaupun dirinya belum membuka segel yang menyegel kekuatannya. Tetapi berkat aura yang dikeluarkan oleh Angel dan Kana yang dirinya simpan dan belum dirinya gunakan, hal tersebut sudah dapat membuat pria-pria yang berada didepannya mulai panik ketakutan.


“J-Jangan berani-beraninya mencari masalah dengan kami Tuan. K-Karena kelompok kami tidak akan tinggal diam, jika terjadi sesuatu dengan kami” ucap salah satu dari mereka, yang mencoba menakuti pihak didepannya agar tidak menyerang mereka.


Namun setelah pria itu menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba saja kepalanya langsung terlepas dari lehernya dan membuat terkejut seluruh orang yang berada di sana. Tentu mereka tidak menyangka hidup salah satu rekan mereka saat ini sudah hilang hanya hitungan detik saja.


Apalagi pria yang melakukan hal tersebut, melakukannya dengan sangat cepat. Bahkan mereka semakin ketakutan saat ini, karena memang mereka sama sekali tidak bisa melihat serangan yang tadi dirinya lakukan kepada salah satu rekan mereka.


“Lalu? Apa yang bisa kelompok kalian lakukan saat ini?” ucap Zen yang saat ini sudah berada diarea belakang dari pria-pria tersebut, setelah dirinya melancarkan sebuah serangan yang sangat amat cepat.


“A-A..Ame no Ohabari” ucap Xin Wei kemudian, yang mengenali pedang yang digunakan Zen untuk membunuh rekan mereka.


“Oh... kamu mengetahui pedangku?” tanya Zen kemudian yang mulai menebas orang kedua yang berada didekatnya.


Teror, itulah yang mereka rasakan saat ini. Pedang yang seharusnya digunakan untuk memusnahkan keberadaan para Dewa, saat ini menjadi pemutus takdir mereka di dunia ini oleh seseorang yang seharusnya mereka tidak singgung.


Tentu siapa yang menyangka, bahwa pria yang seharusnya mereka jadikan target dan harus mereka musnahkan, malah menjadi sebuah bumerang bagi mereka. Karena memang saat ini terlihat merekalah yang malah dijadikan sebuah target oleh dirinya.


“Ahhhhhh” dan begitulah suara teriakan kesakitan dari orang ketiga yang tidak langsung dibunuh oleh Zen, karena dirinya meleset membidik lehernya.


“Mengapa kamu menangkis seranganku? Aku memberikan kematian tanpa rasa sakit kepadamu, namun dirimu malah menggerakkan tubuhmu dan menyebabkan aku hanya bisa menebas tanganmu saat ini” ucap Zen yang memang tidak sengaja menebas tangan dari pria yang baru saja dirinya serang.

__ADS_1


Tentu awalnya Zen ingin langsung menghabisinya dengan mengincar bagian lehernya. Namun karena pria yang akan diserang Zen ingin hidup lebih lama, maka dari itu dirinya mencoba menangkis serangan dari Zen. Namun sayangnya, pedang yang bisa memotong apapun itu dengan mulus memutuskan tangannya dengan cepat.


“Lain kali jangan mencoba melawan oke, jika kalian tidak ingin merasakan rasa sakit sebelum kematian”


__ADS_2